Sabtu, 26 November 2011

Hani,Pulanglah...

0


Pesan itu masuk di handphoneku tadi pagi. Waktu itu Kak Sandy, suamiku baru saja berangkat ke kantor dan Tesya anakku baru saja ke sekolah. Pesan itu dari adikku Marni.

“Kak Hani, mama sakit kak. Pulanglah….”

Aku membaca pesan itu berulang-ulang. Sebenarnya bukan kalimatnya yang ingin aku baca. Aku hanya sedang mencari pelarian dari apa yang seharusnya aku lakukan. Aku seharusnya mengirim pesan balik ke adikku. Pesan tentang kepastian dari keputusanku. Apakah aku akan kembali ke rumah untuk menengok mama yang sedang sakit atau tidak. Rasanya kabar ini terlalu tiba-tiba. Aku belum mempersiapkan batinku. Dan aku memang sejak dulu tidak pernah berusaha untuk mempersiapkan mentalku jika sekiranya tiba-tiba aku di panggil pulang oleh mama dan papa.

Aku sangat merindukan mama dan papa sampai hari ini. Bahkan sejak aku meninggalkan rumah tujuh tahun yang lalu. Aku sangat ingin bertemu papa dan mama. Tapi bayangan ketakutan selalu menghantuiku. Bayangan kemurkaan di wajah papa yang tidak sanggup aku lihat. Juga wajah pucat mama yang membuatku tidak pernah tega untuk melihatnya. Malam saat aku mengambil keputusan untuk pergi, saat itu juga aku tahu akan sulit bagiku untuk kembali. Cinta yang telah menggerakkan hatiku untuk pergi meninggalkan mama dan papa di malam itu hanya dengan meninggalkan sepucuk surat…

“Mama dan Papa, maafkan Hani yang telah membuat mama dan papa terluka. Tapi beban ini sudah di luar kuasa Hani.. Andai Hani bisa menanggungnya..maka Hani tidak akan pergi dengan cara seperti ini. Tapi Hani sudah tidak bisa bertahan…terlalu lama untuk menanggung beban ini sendirian..kecuali kalau Hani adalah raga tanpa jiwa……..”

Aku masih ingat kata-kata yang aku tuliskan dalam surat untuk mama dan papa.Aku tidak tahu lagi apa yang terjadi di rumah setelah aku pergi. Aku mencoba melupakan masalah yang ada. Aku coba mengejar mimpiku. Mimpi yang di bawa pergi oleh kak Sandy. Kak Sandy lebih dulu pergi meninggalkanku karena kecewa dengan keputusanku yang tidak ingin ikut bersamanya melarikan diri. Aku sudah putus harapan waktu itu. Tapi kemudian kak Sandy mengirim pesan di handphoneku. Memberiku kesempatan kedua untuk membina cinta kami. Tapi dengan syarat, akulah yang harus menyusulnya. Pantang bagi kak Sandy datang ke rumah lagi setelah menerima penolakan yang keras dari papa dan mama. Akhirnya aku pergi meninggalkan orang-orang tercinta. Meninggalkan mama, papa, kak Firman, mbak Tya, adikku Eka dan Marni. Mereka adalah orang-orang terkasih yang akhirnya harus aku tinggalkan karena sebuah kata CINTA. Aku meninggalkan cinta karena cinta.

Ingatanku kembali ke masa lalu. Saat semuanya masih murni. Tidak ada masalah. Kami sekeluarga hidup damai dalam satu lingkungan keluarga besar papa. Aku merasa sangat beruntung waktu itu. Di kelilingi sepupu-sepupu yang begitu banyak. Rasanya setiap hari terlewati hanya dengan kegembiraan.Kami bermain dalam keindahan masa kecil kami.

Memasuki usia belasan aku mulai mengerti kata-kata yang dulu sering diucapkan papa dan mama.Kata-kata itu sering aku dengarkan waktu aku kecil tapi itu tidaklah bermakna dalam pikiran masa kecilku. Papa dan mama sering mengatakan kalau anak-anaknya tidak boleh menikah dengan sepupu mereka. Anak dari saudara kandung papa atau mama. Karena anak dari saudara kandung papa dan mama berarti saudara kami juga. Jadi tidak boleh terjadi pernikahan. Sepertinya itu adalah keputusan keluarga besar papa dan mama. Waktu itu kami patuh dengan aturan itu. Aku memang menganggap semua sepupuku yang laki-laki adalah saudaraku. Kami bergaul tanpa beban. Bahkan saat kami menginjak remaja.

Tapi masalah itu mulai ada sejak aku satu sekolah dengan kak Sandy sepupuku. Setiap pagi kak Sandy dan aku berangkat bersama ke sekolah. Dengan mengendarai motornya kami menembus dinginnya pagi. Menempuh perjalanan pulang pergi yang jaraknya berkilo-kilo meter.Terkadang kala kantuk menyerangku di tengah perjalanan aku melingkarkan tanganku di pinggangnya. Demi menjaga agar aku tidak terjatuh. Biasanya kalau lelah kami singgah di suatu tempat, kadang di warung, di bawah pohon atau di sebuah taman bermain. Di tempat itulah kami berbincang, bercanda bahkan saling mencurahkan masalah kami masing-masing. Dari setiap hari kesekolah, berlanjut ke kegiatan les yang aku ikuti dengan kak Sandy. Aku dan kak Sandy juga mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yaitu pencinta alam. Semua kegiatanku dari pagi hari sampai malam hari aku lalui hanya dengan kak Sandy. Selama itu aku sama sekali tidak merasakan sesuatu yang lain di hatiku. Aku menganggap karena dia sepupuku, maka lebih baik aku bersamanya daripada harus bersama dengan teman laki-lakiku yang lain.

Sampai suatu hari saat kami mendaki gunung. Waktu itu kami kelas tiga sma. Itu adalah kegiatan terakhir dari ekstrakurikuler. Karena kami sebentar lagi akan memusatkan perhatian pada ujian akhir. Aku dan kak Sandy tersesat di dalam hutan. Sore menjelang malam. Aku mulai ketakutan. Sejak siang tadi perasaanku sudah tidak nyaman. Dengan gugup kupegang tangan kak Sandy. Kami berusaha mencari jalan untuk kembali. Kak Sandy dan aku berteriak memanggil rekan kami yang lain. Kami berharap dengan teriakan kami mudah-mudahan terdengar oleh mereka. Tapi sampai malam berubah pekat. Dan keadaan menjadi sunyi. Yang terdengar hanya suara-suara alam yang menakutkan. Aku dan kak Sandy tetap terjebak tidak bisa menemukan jalan untuk pulang.

“ Tenanglah, Hani. Lebih baik kita istrahat saja…” kata kak Sandy waktu itu. Kami berdua kemudian berteduh di bawah pohon yang lumayan rindang. Dengan beralaskan tikar tipis yang aku bawa, kami berdua berbaring diatasnya. Karena tikarnya lumayan kecil, akhirnya aku dan kak Sandy tidur dengan posisi sangat dekat sekali. Tidak ada hal lain yang aku pikirkan waktu itu selain rasa takut dengan kondisi hutan yang sangat gelap.

Tapi kemudian kak Sandy memegang tanganku. Semula aku merasa mungkin dia kedinginan. Tapi kemudian dia makin mempererat pegangan tangannya. Dalam kegelapan aku masih bisa melihat kalau saat itu wajahnya begitu dekat menatapku.

“ Hani, aku suka sama kamu..” kata kak Sandy yang membuat jantungku tiba-tiba berdetak semakin cepat. Tapi bukan itu saja yang membuatku terkejut. Aku mendengar kak Sandy seperti berusaha menahan tangis. Refleks aku menyentuh wajahnya. Benar saja dia menangis. Kak Sandy langsung memegang tanganku yang menyentuh pipinya.

“ Kamu juga suka sama aku kan, Hani? “ aku terdiam. Aku bingung dengan perasaanku.

“ Kita jangan membohongi diri kita lagi. Sampai kapan kita begini terus?”

“ Tapi kita tak tidak boleh..,” aku belum selesai dengan kata-kataku..

“ Terserah. Aku rasanya mau mati kalau ingat peraturan itu. Aku tidak bisa hidup dengan menahan beban di hatiku. Kalau memang kamu tidak bisa menerimaku, lebih baik mulai sekarang kita jangan bersama-sama lagi. Aku tidak mau tersiksa setiap hari berada di dekatmu.” aku langsung tersentak. Kaka-kata kak Sandy seperti ketukan palu hakim yang mensahkan suatu keputusan. Aku tidak siap jika harus berpisah secara tiba-tiba dengan kak Sandy. Membayangkan menjalani hari-hari di sekolah dan di semua kegiatan tanpa kak Sandy disampingku. Aku tidak sanggup.

“ Kita jangan berpisah..” akhirnya aku bersuara. Kak Sandy membalikkan badan menghadapku. Tangannya masih erat menggenggam tanganku.

“ Kita jangan menyiksa diri. Aku tidak memintamu menikah denganku sekarang. Aku hanya tidak ingin tersiksa dengan perasaanku sendiri. Menjalani hidup seperti ini sama sekali tidak nyaman. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Mungkin kita berjodoh, mungkin juga tidak.Tapi untuk sekarang, cukuplah kita seperti ini. Seperti orang lain. Seperti teman-teman kita yang berpacaran…”

Aku terdiam. Kupandangi kak Sandy. Dia Mengelus rambutku. Aku tahu keputusanku ini bermasalah tapi kalau harus kehilangan kak Sandy saat ini rasanya aku tidak sanggup.

Pagi harinya, saat sinar matahari belum menghiasi hutan. Kami terbangun karena suara-suara yang memanggil nama kami. Aku dan kak Sandy bergegas berdiri. Kurapikan tikar yang semalam kami pakai. Kami yakin kalau itu adalah teman-teman kami. Aku dan kak Sandy kemudian berteriak juga membalas panggilan mereka yang semakin dekat. Akhirnya kami bisa bergabung lagi dengan kelompok.Suasana haru dan gembira saat itu karena kekhawatiran telah lenyap.

Saat melangkah pulang. Di tengah hutan yang demikian rapat dengan pepohonan. Kak Sandy tiba-tiba memegang tanganku. Sejak tadi aku memang berjalan sendiri di belakang kelompok. Saat dia memegang tanganku aku menatap wajahnya. Dia tersenyum. Aku tahu arti senyumnya. Aku balas dengan senyuman juga. Kami lalu berjalan sambil berpegangan tangan. Aku merasakan suasana hatiku berbeda di bandingkan hari-hari sebelumnya. Apakah ini yang namanya jatuh cinta. Alam sekitar terasa seperti berwarna warni membuat semua yang ada terlihat indah. Akhirnya dengan disaksikan hutan dan segala hal yang ada di dalam hutan, aku dan kak Sandy resmi menjadi sepasang kekasih.

*

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan tahun. Tidak terasa sudah tiga tahun aku dan kak Sandy menjalin kasih. Kami sudah masuk ke lingkungan kampus. Kak Sandy dan aku sama-sama sudah semester enam. Tentu saja tidak ada seorangpun dari keluarga kami yang mengatahui hal tersebut. Kami menyimpan rapat-rapat kisah yang sedang kami jalani. Sikap kak Sandy dan aku jika berada di rumah sangat berbeda jika kami sedang berada di luar. Aku tidak mau menimbulkan kecurigaan. Karena kami sendiri belum tahu masa depan kami seperti apa.

Suatu hari keluarga dari pihak sepupu ayah datang berkunjung. Sebelumnya mereka menelpon akan datang dengan anak lelaki mereka. Keluargaku sudah heboh. Sudah jadi kebiasaan apabila ada keluarga yang datang dengan membawa anak perempuan atau anak lelaki mereka berarti mereka bermaksud melihat calon istri atau calon suami anaknya. Tentu saja yang jadi pemeran utama wanita adalah aku. Karena mbak Tya, kakakku sudah menikah. Sementara Marni adikku, masih kelas satu sma. Akhirnya hari itu aku di persiapkan laksana menyambut pangeran yang akan menilaiku. Layak atau tidakkah aku menjadi istrinya.

Kami sekeluarga menyambut kedatangan sepupu papaku dengan senyum kegembiraan. Tak terkecuali aku. Apalagi saat aku bersalaman dengan Finza, putra dari pamanku. Semua mata memandang kami.Bahkan paman dan istrinya tiba-tiba berdehem. Aku langsung melepas tanganku, sambil tersipu malu aku melangkah ke sudut ruangan dan memilih duduk di kursi yang ada di situ. Baru saja aku duduk, handphoneku berbunyi. Sebuah pesan dari kak Sandy.Aku membacanya..

Bisakah senyum tidak selebar itu? Aku cemburu. Hatiku panas melihatmu...

Begitu bunyi sms yang aku terima

Aku kaget. Kak Sandy bisa melihat aku. Sebenarnya dia sedang berada di mana?

Aku membalas

kamu dimana, kenapa bisa melihatku? Apa aku tidak boleh tersenyum, mereka kan tamu..

Balasan dari kak Sandy

Kamu tidak perlu tahu aku ada dimana. Boleh saja kamu tersenyum tapi jangan seperti itu. Seadanya saja. Apalagi sinar matamu seperti sinar matahari pagi.Begitu ceria. Kamu terlihat seperti baru saja bertemu dengan seseorang yang bertahun-tahun kamu rindukan. Apa itu betul? Jangan-jangan selama ini kamu memang merindukan dia…

tidak seperti itu..aku hanya ingin terlihat baik…

oh, begitu? Supaya mereka memilihmu jadi menantu? Aku betul-betul cemburu Hani. Aku tidak segan-segan keluar untuk memberitahu paman tentang hubungan kita, kalau kamu macam-macam…

Tidak ada sms lagi.

Aku hanya termenung di tempatku. Aku jadi bingung untuk bersikap. Akhirnya aku hanya duduk sambil mendengarkan pembicaraan orang tuaku dan orang tua Finza.

Malamnya papa dan mama meminta pendapatku tentang Finza. Belum ada keputusan resmi dari keluarga Finza. Mama dan papa hanya ingin tahu pendapatku sekiranya nanti keluarga mereka berniat untuk melamarku. Aku bingung untuk menjawab. Menceritakan hubunganku dengan kak Sandy itu sama saja mencelakakan diriku sendiri. Tapi kalau alasan kuliah. Kakak-kakakku juga menikah saat masih kuliah. Terbayang-bayang di mataku wajah kak Sandy yang sedang di bakar api cemburu. Aku tahu kondisinya sekarang. Pasti anak itu sedang stress di kamarnya.

“ Hani sudah punya pacar, ma, pa..” jawabku setelah terdiam. Mama dan papa langsung tertegun menatapku.

“ Benarkah? Kenapa kamu tidak pernah mengenalkan ke papa dan mama?”

“ Dia masih kuliah, ma, pa. Katanya kalau dia sudah selesai dan bekerja baru dia akan datang untuk melamar Hani” aku tidak tahu jawabanku ini masuk dalam kategori berbohong atau tidak. Aku hanya tidak ingin menyebutkan nama kak Sandy. Akan terjadi keributan kalau namanya aku sebutkan. Papa dan mama ingin tahu lebih banyak tentang pacarku, tapi aku jawab saja nanti dia akan datang mengenalkan dirinya kalau sudah waktunya.

*

Acara syukuran wisuda aku dan Kak Sandy baru saja selesai di gelar. Tamu-tamu sudah pulang. Tapi rumah masih ramai dengan keluarga yang masih asyik berbincang dengan anggota keluarga yang lain. Aku baru hendak melangkah ke kamarku ketika kak Sandy memanggilku. Dia mengajakku ke teras. Aku sudah bisa menerka apa yang akan dikatakannya..

“ Bagaimana, Hani? Apa malam ini aku bicara dengan paman tentang hubungan kita? Kita berdua sudah selesai kuliah. Apa lagi yang akan kita tunggu..” Aku tertunduk. Sejujurnya aku takut kalau harus berdua menghadapi papa dan mama. Apa nanti yang akan terjadi. Penyakit mama apakah tidak akan kambuh?

“ Kalau kamu belum siap. Lebih baik aku tunda saja sampai besok. Tapi ini bukan masalah waktu. Kapanpun itu kita tetap akan menghadapi banyak masalah. Jadi aku harap kita jangan menunda lagi.Lebih cepat kita mengatakan tentang hubungan kita, maka hati kita akan semakin lega. Kita akan terus bersembunyi, selama kita belum berterus terang sama papa dan mamamu. Dan itu situasi yang tidak menyenangkan..”

Malamnya aku tidak bisa tidur. Aku memejamkan mata tapi aku tidak tidur. Menunggu esok hari terasa sangat panjang. Aku sedang menunggu hari di mana keputusan hidupku sedang di pertaruhkan. Akankah esok pertaruhan itu aku menangkan atau aku malah tidak memenangkan apapun selain menimbulkan rasa sedih. Akhirnya aku tertidur dalam rasa bimbang yang makin dalam merasuk ke dalam pikiranku.

Siang itu aku dan kak Sandy sambil berpegangan tangan menemui papa di ruang tengah. Papa sedang asyik membaca surat kabar di temani mama. Dari raut wajah papa dan mama terlihat mereka sangat bingung melihat aku dengan kak Sandy berpegangan tangan. Papa langsung meletakkan surat kabar yang di pegangnya di atas meja. Mereka menatap kami. Kak Sandy memegang tanganku lebih erat lagi sebelum akhirnya berbicara. Kak Sandy meminta maaf ke papa dan mama karena telah berani mencintai aku. Kak Sandy mengatakan kalau kami saling mencintai dan tak mungkin di pisahkan lagi. Karena itu Kak sandy meminta ijin ke papa dan mama untuk menjadikan aku istrinya. Wajah mama langsung pucat. Mama tidak bisa berkata-kata selain menatapku dengan pandangan tidak mengerti. Papa langsung berdiri. Jelas terlihat amarah di wajah papa. Akhirnya apa yang aku takutkan terjadi juga. Dengan suara yang nyaris berteriak papa menolak kak Sandy. Papa sama sekali tidak mengerti mengapa kami bisa lupa dengan aturan yang ada dalam keluarga. Aku berdiri dengan gemetar sewaktu papa menatapku dengan pandangan tajam. Kedua tanganku memegang lengan kak Sandy. Aku tidak pernah melihat papa marah demikian hebat sampai wajahnya memerah karena amarah. Kemudian papa meninggalkan kami. Mama menyusul papa. Sama sekali mama tidak menyentuhku. Aku tahu aku sudah melakukan kesalahan. Dan kesalahanku ini mungkin tidak akan pernah termaafkan.

Aku jatuh terduduk di lantai. Peganganku di lengan kak Sandy terlepas. Kak Sandy menatapku sambil mengusap air mata di pipiku.Tiba-tiba kak Sandy mengucapkan kata-kata yang membuatku merinding. Kak Sandy mengajakku untuk  ikut bersamanya meninggalkan rumah. Kak Sandy sadar kalau sebentar lagi pasti dia akan jadi sasaran kemarahan orang tuanya. Sepertinya tidak ada jalan keluar bagi kami selain terpaksa pergi bersama. Tapi aku masih bimbang. Apakah tidak ada jalan damai yang bisa kami tempuh?

Sampai malam aku berdiam diri di kamar. Pesan-pesan kak Sandy terus masuk di handphoneku. Tapi tidak ada satupun yang aku balas. Aku bingung harus menjawab apa. Sejak tadi kak Sandy hanya mengirim pesan yang isinya mengajakku untuk ikut bersamanya malam ini juga. Akhirnya handphone aku off kan. Aku keluar dari kamarku menuju kamar papa dan mama. Sampai di depan pintu aku mendengar papa dan mama berbicara. . Aku mengira amarah papa sudah mereda ternyata papa masih menyimpan bara itu. Aku dengar mama menangis. Hatiku langsung luluh. Aku kembali ke kamarku sambil menangis. Berbaring di tempat tidur. Benarkah yang telah aku lakukan?. Saat memulai hubungan dengan kak Sandy, aku tidak pernah menyangka hubungan kami akan sejauh ini. Setiap waktu yang kami lewati bersama tanpa kami sadari mengikat hati kami hingga kami tidak bisa terpisahkan lagi. Lalu mengapa sekarang tak satupun sms dari kak Sandy aku balas? Apa yang nanti kak Sandy pikirkan. Pasti hatinya akan terluka. Tapi biarlah untuk malam ini aku ingin menenangkan diri. Aku akan menemuinya esok hari dan semoga saja masih ada jalan keluar yang bisa kami tempuh tanpa harus melarikan diri.

Tapi ternyata harapanku tinggal harapan. Begitu bangun keesokan harinya aku langsung meng ON kan handphoneku. Pesan singkat masuk tanpa henti. Aku bahkan belum sempat membacanya. Dan ketika bunyi pesan itu berhenti aku membaca pesan terakhir. Dari kak Sandy..

Malam ini aku pergi. Sendiri tanpamu. Semoga keputusanmu adalah pilihan yang tidak membuatmu menyesal…..

Aku tidak sadar kalau aku masih mengenakan pakaian tidur. Rambutku juga masih acak-akan. Aku berlari menuju rumah kak Sandy. Rumahnya berjarak tiga rumah dari rumahku. Hari masih agak gelap dan lampu-lampu  sebagian besar masih menyala di setiap rumah yang aku lewati. Ku ketuk pintu rumah kak Sandy. Pembantunya yang menyambutku. Aku menanyakan tentang kak Sandy tapi pembantunya tidak tahu apa-apa. Aku berlari masuk ke dalam rumah dan terus ke kamar kak Sandy. Kubuka pintu kamarnya dengan panik. Kamarnya kosong. Ternyata benar. Kak Sandy telah pergi. Jadi benar pesan-pesan yang dikirimkannya. Aku kira itu hanya pesan-pesan yang biasa dia kirim kalau lagi ada masalah.Tapi aku tidak pernah membayangkan dia akan melakukan apa yang ada di pesannya.

Aku kembali ke kamarku. Mengurung diri di kamarku sambil menangis. Entah apa yang ada dipikiranku. Rasanya saat ini aku bukan diriku lagi. Aku bahkan merasa mungkin aku sudah stress berat sampai cenderung gila karena frustasi dengan keputusan yang aku buat. Aku menyesal. Sangat menyesal. Tapi penyesalan sudah terlambat. Handphone kak Sandy sama sekali tidak pernah aktif padahal aku menelponnya setiap menit, setiap jam, setiap hari bahkan setiap minggu. Sampai dua bulan tidak ada kabar dari kak Sandy. Selama itu aku sakit. Aku sakit karena tidak ada keinginan apapun dalam pikiranku. Aku sakit karena beban rindu yang terpendam di dasar hatiku. Aku sakit sampai ke sum-sum tulangku hingga aku hanya bisa berbaring di tempat tidur.

Di tengah malam saat aku menangisi diri. Handphoneku berbunyi. Dengan cepat ku raih handphoneku. Padahal tubuhku sangat lemah. Tapi kekuatan itu tiba-tiba datang. Aku selalu berkhayal kalau tiba-tiba suatu saat handphoneku berbunyi dan itu dari kak Sandy. Tanganku terhenti. Aku belum membuka pesan yang masuk. Aku gugup, tanganku gemetar. Sebelum membuka pesan itu aku berdoa semoga saja ini pesan dari kak sandy. Airmataku langsung menetes begitu melihat nama yang mengirim pesan kak Sandy. Aku membaca pesannya sambil menangis. Kak Sandy menungguku di sebuah penginapan. Dia mengatakan ada taksi yang sedang menungguku di depan rumah. Ini kesempatan terakhir yang dia berikan kalau aku benar-benar ingin ikut bersamanya. Aku langsung bangkit dari pembaringan. Tanpa berganti baju, aku membuka lemariku. Aku mengeluarkan pakaian dan memasukkannya kedalam tas tanpa merapikannya lagi. Aku keluar dari kamarku setelah sebelumnya menulis surat untuk papa dan mama. Setengah berlari aku keluar dari rumah. Benar saja sudah ada taksi yang menungguku. Aku masuk ke dalam taksi. Jantungku berdetak dengan cepat. Secepat taksi yang melaju di kegelapan malam. Malam itu dengan sinar bulan yang redup dan hanya sedikit bintang yang tampak. Aku mengikuti kata hatiku. Mengikuti cintaku yang ternyata tak sanggup aku tinggalkan.

*

Bunyi pesan masuk membuyarkan lamunanku..

Kak Hani pulanglah, papa dan mama sangat merindukanmu.Terlebih mama. Sakitnya makin parah sejak kak Hani pergi..

Benarkah isi pesan ini? Apa ini hanya lelucon yang di buat Marni agar aku bersedia pulang?. Aku masih ragu untuk mengirim sms balasan. Aku bingung kata-kata apa yang harus aku kirimkan ke Marni. Dalam kebingunganku Handphoneku berbunyi nada panggil. Kulihat nama Marni yang memanggil. Agak ragu aku menekan tombol terima. Tapi akhirnya aku menekannya juga dan mendekatkan handphone di telingaku. Aku menunggu suara Marni. Rasanya rindu mendengar suara adikku itu. Dia satu-satunya yang tahu nomor handphoneku karena melacaknya di facebook.

“ Hani…ini mama sayang..” aku langsung menangis begitu mendengar suara itu. Itu suara mama. Tanganku makin gemetar memegang handphone. Aku bahkan nyaris menjatuhkannya karena tanganku yang begitu kaku karena rasa dingin yang tiba-tiba menyerangku.Mama menangis. Aku juga. Kami berdua berbicara dengan tangis kami masing-masing. Mama memanggilku pulang. Kalaupun aku tidak bisa menetap tapi setidaknya aku kembali karena mama sangat merindukan aku, merindukan kak Sandy dan terutama merindukan Tesya anakku yang bahkan tidak pernah dilihatnya sejak lahir. Airmataku makin deras mengalir saat aku teringat beberapa hari yang lalu Tesya menanyakan kepadaku. Kenapa dia tidak mempunyai nenek dan kakek, seperti teman-temannya. Tenanglah anakku. Sebentar lagi kamu akan menemui dua kakek dan dua nenek yang kamu miliki.******

0 komentar:

Posting Komentar