“ Gimana, Nin? Kita jadi menikah?” tanya mas Gunawan siang itu saat kami makan bersama di cafe dekat kantor. Aku memandangnya sekilas lalu mengaduk-aduk jus wortel yang tinggal setengah. Aku terdiam beberapa lama. Mas Gunawan nampak sabar menanti jawabanku.
“ Kita tunda dulu, mas.” Helaan panjang terdengar dari mas Gunawan. Dia menyandarkan tubuhnya di kursi.
“ Lalu sampai kapan kita pacaran seperti ini? Apa kamu nggak pengen kita menikah?” Mas Gunawan menatapku dengan lembut.
“ Aku pengen kita putus, mas.” Jawabku ringan. Aku memang sudah tidak punya perasaan lagi. Entah sejak kapan. Rutinitas yang aku lakukan dengan mas Gunawan seperti tak ada getarnya lagi.
Mas Gunawan menatapku kaget lalu tertawa.
“ Kamu bercanda, kan? Aku tahu kamu lagi marah karena kemarin aku nggak ingat hari ulang tahunmu. Tapi masak sih sampai segitu marahnya.”
Tawa mas Gunawan terhenti karena aku sama sekali tak merespon tawanya. Aku tetap tenang bahkan mungkin dingin menghadapi ucapannya.
“ Kita putus saja mas. Aku tidak bisa menjalani hubungan rumah tangga yang sekarang saja sudah nggak ada rasanya.” Wajah mas Gunawan mulai terlihat serius.
“ Tunggu dulu. Rasa gimana maksud kamu? Kamu nggak cinta lagi sama mas?”
“ Iya. Tapi bukan aku saja. Coba tanya hati mas dengan jujur. Mas masih cinta sama aku atau nggak?”
Mas Gunawan terdiam. Dia seperti bingung menjawab pertanyaanku.
“ Aku tahu kita sama-sama telah kehilangan rasa cinta. Kita bertahan hanya karena orang tua kita. Benarkan? Jadi sekarang aku ingin kita mengakhiri saja hubungan yang tidak sehat ini. Sebelum kita berdua sama-sama terluka.” Aku berdiri.
“ Aku duluan ke kantor, mas.” Ucapku pelan.
Mas Gunawan memegang tanganku saat aku lewat disampingnya.
“ Tunggu aku dirumahmu ntar malam.”
Aku hanya diam hingga akhirnya mas Gunawan melepaskan pegangannya. Aku berjalan tanpa berbalik melihatnya. Aku terus berjalan meninggalkan cafe. Terus menuju kantor. Melewati ruanganku, masuk ke toilet wanita.
Aku masuk lalu mengunci pintu. Kusandarkan tubuhku di pintu. Pertahananku runtuh. Airmataku mengalir deras. Rasanya sakit saat harus mengucapkan kata putus. Aku berusaha menahan air mataku dan bersikap tegas padahal dalan hatiku hancur.
Aku memang tak mencintai mas Gunawan lagi. Aku tak ingat kapan perasaan itu hadir. Tapi tetap saja rasa sakit dikhianati itu ada. Sekarang yang tersisa hanya itu. Tak ada lagi cinta. Seharusnya tadi aku mengatakan semuanya. Tapi biarlah mas Gunawan yang menjawab semuanya. Tentang hubungannya dengan dengan Sita, teman kerjanya sendiri. Mereka telah tinggal bersama, bahkan Sita telah hamil dan menggugurkan kandungannya. Aku bukan mendengar dari orang lain, aku menyaksikan sendiri. Butuh waktu dua bulan untuk meyakinkan diriku bahwa kenyataan yang aku lihat adalah benar adanya.
Aku ingin melepaskan mas Gunawan. Aku tak peduli lagi dengan janji orang tua kami. Aku juga manusia yang butuh cinta dan kepercayaan akan cinta itu sendiri. Apa gunanya kami menikah sementara hati mas Gunawan telah terpikat pada wanita lain. Semua bertahan karena ikatan bisnis. Ikatan yang mungkin salah dari awal. Sejak awal tak ada cinta diantara kami. Kami yang berusaha menciptakannya. Akhirnya yang ada adalah gunung es yang makin lama mencair dan tak meninggalkan sisa selain kesedihan.****
0 komentar:
Posting Komentar