Sabtu, 06 Agustus 2011

Maafkan Aku Sahabatku

0

131099272694448535

Aku memarkir motorku dihalaman rumah seorang sahabat. Sudah lama aku tidak mengunjunginya. Kalau aku menghitung, mungkin sekitar enam tahun kami tidak pernah berjumpa. Komunikasi melalui handphone nyaris tak pernah karena aku kehilangan nomornya saat handphoneku mengalami kerusakan dan harus di servis.

Kupandangi sekeliling rumah. Halaman yang penuh tanaman liar. Bunga-bunga yang tak lagi terawat. Rumahnya juga terkesan tak ada penghuni. Aku mulai ragu. Benarkah ini rumah sahabatku atau jangan-jangan dia telah pindah dan mengontrakkan rumah ini?

Aku masih berdiri dekat motorku. Sesekali kupandangi tetangga yang mungkin saja muncul dari balik tembok. Tapi tak ada orang yang lewat. Akhirnya aku melangkah mendekati pintu rumah. Sayup-sayup terdengar tangisan anak kecil dan omelan seorang wanita. Aku jadi lega. Ada orang dalam rumah. Walau bukan sahabatku setidaknya dari dia aku bisa mendapatkan informasi.

Kuketuk pintu perlahan. Tak ada jawaban apalagi suara langkah yang menuju pintu. Kuketuk pintu lagi, kali ini dengan tekanan agak kuat biar suaranya terdengar. Benar saja. Kudengar suara seorang wanita mendekati pintu. Aku sudah menyiapkan senyum di wajahku sekiranya itu sahabatku.

Pintu terbuka. Wajah yang sangat aku kenal muncul dari balik pintu. Aku tersenyum bahagia melihat sahabatku itu. Teriakan gembira siap meluncur dari mulutku, namun urung saat mataku melihat sinar kebencian dari matanya.. Dia sama sekali tak tersenyum apalagi menyambut kedatanganku dengan gembira.

“ Narti?” tegurku saat melihat sikapnya yang dingin. Dia juga siap-siap menutup kembali pintu rumahnya. Aku segera menahan pintu dengan tanganku.

“ Narti. Kamu kenapa? Ini aku Bella. Apa kamu sudah lupa sama aku?” tanyaku dengan rasa cemas. Aku tak menyangka sambutan yang aku terima seperti ini. Setelah terpisah enam tahun lamanya, yang terbayang adalah pertemuan dengan keharuan. Aku tidak pernah membayangkan akan menerima perlakuan begitu dingin dari sahabatku.

“ Pulanglah! Aku tidak suka melihatmu!” Ucapnya ketus.

“ Tapi kenapa? Apa salahku? Kenapa sikapmu jadi berubah seperti ini?” tak sadar mataku berkaca-kaca. Aku sedih sekali diperlakukan seperti ini oleh sahabatku sendiri.

“ Pulanglah! Dan jangan pernah kemari lagi. Kita bukan sahabat lagi.”

Brakkk! Narti menutup pintu dengan keras persis di depanku. Kulit wajahku terasa gemetar merasakan getarannya. Aku masih berdiri di depan pintu. Rasanya tak percaya apa yang baru saja aku alami. Apakah aku sedang bermimpi? Semoga saja ini mimpi, batinku. Merasakan kepedihan yang teramat sangat membuatku tak siap menerimanya dalam dunia nyata.

“ Narti kamu kenapa?kenapa membenciku? Apa salahku?” teriakku sambil menggedor-gedor pintu.Tak ada sahutan dari dalam rumah. Berulang kali aku berteriak, tak ada respon dari Narti. Orang-orang yang lewat depan rumah, semuanya menoleh melihatku. Tapi aku tidak peduli. Aku terus saja berteriak memanggil nama Narti.

Namun semuanya sia-sia. Dua jam menunggu di teras rumahnya, Narti tidak juga keluar menjumpaiku. Akhirnya aku pulang. Dalam perjalanan tak henti air mataku menetes. Kesalahan apa yang telah aku perbuat, hingga sahabatku sendiri begitu marah dan membenciku. Apakah aku memang telah melakukan kesalahan? Tapi apa?

**

Pagi ini aku datang lagi kerumah Narti. Aku penasaran mengapa dia begitu membenciku. Sepanjang malam aku tidak bisa tidur membayangkan tatapan matanya yang begitu sinis menatapku. Benarkah dia Narti? Kalau benar mengapa dia begitu membenciku? Aku benar-benar tidak tahu kesalahan apa yang telah aku lakukan hingga dia berubah drastis terhadapku.

Tiba dirumahnya kulihat Narti sedang ada diteras. Dia langsung menarik anaknya masuk ke dalam rumah dan menutup pintu begitu melihatku. Aku yang tak bisa langsung mengejar karena harus memarkir motor hanya bisa pasrah melihatnya. Dengan berlari aku menuju pintu. Kuketuk pintu rumahnya dengan kuat.

“ Narti. Kita harus bicara. Apa salahku? Aku nggak ngerti kenapa kamu begitu membenciku.” Kataku dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Tak ada jawaban. Aku akhirnya memilih duduk di teras. Tidak seperti kemarin, sekarang aku malas untuk berteriak. Aku sudah capek. Apalagi orang-orang bakal memandang ke arah rumah ini jika aku terus berteriak.

Satu jam aku duduk merenung di teras Sesekali aku berbalik melihat ke arah pintu atau jendela. Namun tak ada gerakan atau suara. Didalam rumah tak terdengar suara anak-anak atau suara Narti. Aku mulai malas. Rasanya kesal juga mendapat perlakuan seperti ini dari sahabat sendiri. Akhirnya aku bangkit berdiri. Tapi sesuatu yang keluar dari bawah pintu menghentikan langkahku.

Aku mendekati pintu dan mengambil selembar kertas yang bentuknya seperti surat. Aku mengenal tulisan ini. Ini tulisan Narti. Aku langsung membacanya.

Bella, mengapa dulu kamu tidak mengatakan kalau Gilang adalah pacarmu. Aku mengira kamu hanya berteman dengannya. Aku tidak tahu kalau kalian pernah menjalin hubungan. Dua tahun setelah kamu pergi merantau, aku menerima lamarannya menjadi suamiku. Aku baru tahu setelah setahun kemudian aku melihat foto-fotomu di dompet suamiku, handphonenya, komputer bahkan di memori kameranya. Pantas selama ini dia begitu menjaga barang-barangnya seolah takut aku melihatnya.

Kamu tahu mengapa aku membencimu? Karena dia telah menceraikan aku. Dia berniat menyusulmu. Aku sakit hati, Bella.Aku harap kamu jangan menemui aku lagi. Aku membenci Gilang, juga membencimu.

Narti

Badanku seketika lemas selesai membaca surat dari Narti. Inikah alasan Narti hingga dia begitu membenciku? Aku bahkan tidak tahu dia telah menikah dengan Gilang. Aku tidak tahu apa-apa. Selama enam tahun aku kehilangan kontak dari teman-teman dan sahabatku. Tinggal di daerah terpencil yang minim sarana dan prasarana. Walau ada akses internet di kota tapi aku malas mengakses. Selain karena tugas yang banyak, aku memang tidak punya waktu untuk itu. Aku jarang pulang ke rumah. Setahuku hanya dua kali aku cuti. Itu juga cuma sebentar dan tak ada kesempatan mengunjungi teman-temanku. Bagaimana aku bisa mendapatkan kabar tentang mereka?

Aku menangis sambil meremas-remas surat Narti. Andai bisa ingin ku ulang semua waktu. Aku ingin semuanya kembali seperti semula agar Narti tidak membenciku. Sekarang bagaimana aku menyampaikan undangan pernikahanku pada Narti jika yang tertera dalam undangan adalah namaku dan nama Gilang, mantan suaminya? ***

0 komentar:

Posting Komentar