Risa menatap handphonenya yang diletakkan di atas meja. Dia menanti benda mungil itu mengeluarkan bunyi dan getarnya yang indah. Tapi kembali tatapan Risa berubah kelam. Dia menarik nafas panjang lalu meraih handphone itu dan menaruhnya di laci meja. Tak ada gunanya menanti. Dalam hitungan yang tak lagi Risa sanggup untuk mengingatnya, kembali dia harus menelan kekecewaan.
Jeritan hatinya untuk mendapatkan perhatian dari Wisnu, lelaki yang sejak dua tahun lalu memenuhi hatinya dengan janji-janji manis, sama sekali tak mendapatkan balasan. Handphone itu tak pernah lagi berbunyi. Tak ada lagi kalimat-kalimat penuh cinta dengan suara penuh kelembutan. Pesan-pesan indah dan puisi-puisi yang membuat malam-malam Risa yang semula sepi menjadi begitu penuh warna, kini tak lagi menghiasi handphone Risa.
Risa lupa kapan terakhir dia menghapus semua sms-sms yang masuk di handphonenya. Rasa marah, benci dan sedih membuatnya tak lagi berbelas kasih untuk menyimpan semua hal yang ditinggalkan Wisnu. Dia tidak ingin handphone itu menemani malam-malamnya seperti dulu saat Wisnu masih hadir dengan setia. Namun Risa masih menyimpan setitik harap dalam hatinya yang kini penuh dengan kesedihan. Dia berharap handphone itu bisa membuat senyumnya hadir kembali dengan mendengarkan suara dari Wisnu. Andai bukan suara Wisnu yang terdengar setidaknya ada balasan pesan singkat yang membuat harapannya yang sempat menghilang kembali hadir.
Tapi malam ini dengan lesu Risa bangkit. Diseretnya langkah menuju pembaringan. Badannya yang dulu begitu montok, kini mulai menyusut hingga tak ada lagi baju yang pas ditubuhnya. Semua menjadi kedodoran saat dia kenakan. Dasternya yang menjuntai hampir menyentuh lantai seperti merasakan kegalauan hati Risa. Pelan-pelan Risa meletakkan kepalanya di atas bantal. Dalam beberapa detik airmata mengalir dipipinya yang indah. Pandangan matanya sendu menyapu langit-langit kamar. Sampai kapan aku menantimu, mas Wisnu? Batin Risa pedih.
Sejak tiga bulan lalu, Wisnu, suaminya tak lagi terdengar kabarnya. Wisnu pergi meninggalkan Risa di sebuah rumah kontrakan yang telah mereka sewa selama tiga tahun. Rumah itu kini tak lagi memberikan ketenangan. Batin Risa makin bergolak saat jemarinya menyentuh lembut perutnya yang terlihat membuncit. Usia kehamilannya kini genap empat bulan. Batin Risa makin sakit saat menyadari tak ada balasan sms dari Wisnu saat dia memberitahukan tentang kehamilannya.
Saat hampir memejamkan mata, tiba-tiba handphone Risa berdering. Laci meja tempat Risa meletakkan hanpdhone itu seolah tak sanggup menahan suara dan getarannya. Dengan cepat Risa bangkit berdiri. Tenaganya seperti hadir kembali. Tak sabar dibukanya laci meja dan meraih handphone itu.
Tangan Risa makin gemetar dan matanya berkaca-kaca saat melihat nama di layar handphone. Mas Wisnu!
Risa menarik kursi lalu duduk sejenak sambil menenangkan diri sebelum akhirnya menekan tombol terima.
“ Hallo.” Suara Risa tercekat. Kerongkongannya terasa kering.
“ Maaf, ini dengan siapa ya? Kok selalu kirim sms? Mbak juga suka nelpon ya?” Risa terperanjat. Kenapa suara wanita yang menerima telponnya?
“ Maaf..tapi benarkan ini handphone mas Wisnu?”
“ Iya benar. Tapi sekarang mas Wisnu lagi koma dirumah sakit. Boleh tahu, mbak ini siapa ya? Apa rekanan bisnis mas Wisnu?”
“ Ko..ko..ma? dirumah sakit? Sejak kapan?” wajah Risa berubah pucat.
“ Sejak tiga bulan lalu. Mas Wisnu kecelakaan. Mbak siapa? Kalau ada urusan kerja atau sangkutan dengan mas Wisnu, mbak bisa datang ke kantor. Walau mas Wisnu koma tapi akivitas perusahaan tetap jalan kok. Saya adiknya yang mewakili untuk sementara segala tanggung jawab perusahaan.”
“ Maaf. Saya nggak tahu. Semoga mas Wisnu cepat sembuh.”
Risa menutup telpon dengan pikiran berkecamuk. Wanita itu adik Wisnu. Lalu bagaimana dengan pernikahan Wisnu? Apakah dia telah menikah dengan tunangannya? Ini kenyataan yang telah lama Risa ketahui. Dia tahu Wisnu telah dijodohkan orang tuanya sejak sma. Walau Wisnu menolak, orang tuanya tetap memaksanya untuk menerima perjodohan itu. Niat Wisnu menemui orang tuanya, selain ingin menyampaikan kabar pernikahannya dengan Risa. Dia juga ingin membatalkan perjodohan yang telah diatur orang tuanya. Malang bagi Wisnu, dalam perjalanan pulang dia malah kecelakaan dan koma.
Sekarang, haruskah dia menjenguk mas Wisnu? apakah tidak menimbulkan masalah sekiranya dia muncul disana? Tapi bagaimana dengan dirinya? Dia tidak bisa tenang sebelum melihat sendiri keadaan Wisnu.
“ Pergilah, bu. Tapi jangan sampai ketahuan keluarga Pak Wisnu.” Saran mbok Nirah pembantu mereka saat Risa curhat keesokan harinya. Risa hanya memandang mbok Nirah.
“ Aku cuma ingin melihat sebentar saja. Asal sudah melihat mas Wisnu, hatiku akan tenang.” Ucap Risa. Tatapan matanya menerawang. Seolah sedang menjelajah ketempat yang sangat jauh.
~~
Taksi yang Risa tumpangi berhenti di sebuah rumah sakit yang sangat besar. Risa turun lalu berjalan ke pos satpam. Pertama kalinya Risa berkunjung ke kota ini. Dia bahkan baru pertama kali melihat rumah sakit sebesar ini. Dikotanya yang ada hanya rumah sakit kecil. Itupun yang biasa Risa datangi hanya puskesmas. Kadang kalau hanya batuk-batuk ringan dia memilih untuk membeli obat saja di apotik.
Setelah mendapat informasi dari satpam, Risa segera masuk ke ruang informasi. Satpam telah memberi tahu jalur-jalur yang harus dia lalui.
“ Maaf, bu. Pak Wisnu yang mana? Karena di data kami ada dua nama Wisnu. Tadinya ada tiga, tapi pasien yang satunya sudah dipindahkan keluarganya ke Singpura. Ehm, boleh tahu nama lengkap pasiennya siapa bu?”
Petugas itu bertanya dengan ramah. Jantung Risa berdegup kencang. Batinnya tidak tenang saat mendengar kabar salah seorang pasien telah dipindahkan ke Singapura. Dia berdoa semoga itu bukan Wisnu, suaminya.
“ Namanya Wisnu Dewantara, mbak.” Jawab Risa gugup. Petugas itu mengecek sekilas lalu memandang Risa sambil tersenyum.
“ Maaf, bu. Pasien ini tadi pagi telah dipindahkan ke Singapura.”
“ Apa istrinya ikut?” tanya Risa tanpa sadar.
“ Istri? Tuan Wisnu belum menikah.”
Aliran darah ditubuh Risa serasa berhenti. Dia bahkan tak kuat lagi berdiri. Tanpa melihat petugas itu, Risa mencari tempat untuk duduk. Keringat dingin mengucur dari sela-sela rambutnya. Salah seorang perawat yang kebetulan lewat melihatnya dengan heran.
“ Ibu kenapa? Sakit ya?” tanya perawat itu dengan ramah. Risa tersenyum sambil menggeleng.
“ Nggak apa-apa hanya kelelahan, mbak?”
“ Oh, begitu. Silahkan duduk saja bu.”
Setelah perawat berlalu, Risa mengeluarkan saputangan dari dalam tasnya. Matanya mulai dipenuhi embun. Pikirannya di penuhi bayangan Wisnu. Dia tiba-tiba merasa ketakutan. Dia takut tidak akan pernah lagi bertemu dengan Wisnu. Bayangan-bayangan buruk melintas dalam pikirannya. Bagaimana kalau Wisnu tak sadar selamanya atau bahkan meninggal?
Dengan tubuh gemetar, Risa bangkit berdiri. Dia berjalan sempoyongan keluar dari rumah sakit menuju pos keamanan. Dengan suara lemah dia minta security memanggil taksi untuknya. Sore yang kelabu. Dalam pandangannya yang kabur karena air mata. Risa menatap lewat jendela taksi. Risa tak putus berdoa, semoga Wisnu bisa segera sembuh dan bisa melihat kelahiran anaknya.
~~
Beberapa tahun kemudian…
“ Ibu, ini kuburan siapa?” tanya seorang anak yang berusia sekitar 8 tahun pada ibunya yang tengah menaburkan bunga diatas pusara. Si ibu yang memakai kerudung hitam hanya tersenyum. Setelah menaburkan bunga, dia menarik anaknya mendekat disampingnya. Mereka lalu duduk bersimpuh di pinggir makam.
“ Wisnu, ini kuburan ayah kamu. Selama ini ayah tinggal disini. Jadi ayah nggak bisa menemani Wisnu kemana-mana. Mengerti sayang? Jadi jangan ngambek lagi ya, bertanya tentang ayah.” Ucap si ibu dengan mata berkaca-kaca. Tangannya memegang nisan yang bertuliskan nama Wisnu Dewantara. Si ibu menangis. Sementara anaknya hanya menatap makam itu tanpa berkedip.
“ Mas Wisnu, ini aku Risa datang menengokmu. Ini anakmu, mas. Wisnu sudah besar. Dia terus bertanya tentangmu. Sekarang dia sudah sekolah. Maaf baru sekarang kami bisa datang berkunjung. Kami baru pindah ke kota ini. Mas jangan khawatir, mulai sekarang kami akan sering berkunjung.” Ucap si ibu lalu menyeka airmatanya.**
0 komentar:
Posting Komentar