Aku
seringkali bermimpi tentangnya hingga menghadirkan hayalan dalam kenyataan. Mimpiku
makin melambung ketika kami lebih sering bersama. Berdekatan, berdiskusi, saling
pandang dan tersenyum. Debaran di dada kian cepat membuatku merasa gugup. Aku
jatuh cinta. Aku yakin kami saling menyukai. Aku percaya diriku tak bertepuk
sebelah tangan.
“Sekarang sudah waktunya, aku tidak ingin diam
saja. Dia harus tahu kalau aku menyukainya.”
Kulangkahkan
kaki menuju kamarnya. Meski telah larut malam namun aku tahu dia belum tidur. Cahaya
lampu yang terlihat jelas dari ventilasi kamarnya pertanda pemilik kamar masih
beraktivitas. Kebiasaannya memadamkan lampu saat tidur membuatku yakin akan hal
itu.
“Ada apa?” sambutnya saat membuka pintu. Jantungku berdetak cepat.
Aku gugup hingga tak mampu berkata-kata.
“Kenapa diam
saja, Veren? Apa ada pasien?”
Aku tahu dia menebaknya karena seringkali ada pasien yang datang
saat larut malam seperti ini dan aku terpaksa harus membangunkannya.
Aku makin
gugup. Entah kemana hilangnya semangatku yang membara saat berada dikamarku. Kini tatapan mata indah itu seolah mengikat lidahku hingga mulutku hanya
bisa terkatup rapat.
“Kamu
kenapa? Apa ada yang ingin kamu sampaikan? Kamu ada masalah?”
Suara
lembutnya membuat telingaku terasa berdengung.
“Benar..”
akhirnya meluncur kata-kata dariku.
Aku kemudian
masuk kedalam kamarnya. Sentuhan tangannya saat menuntunku masuk dan duduk di
sofa makin menambah rasa percaya diriku. Aku tak boleh menundanya. Sekarang
saat yang tepat.
“Aku ingin
jujur tentang perasaanku. Maafkan kelancanganku ini. Aku hanya tak bisa
menahannya lagi. Aku ingin ingin dokter tahu kalau aku jatuh cinta. Aku
mencintaimu, dok.”
Helaan nafasnya
terdengar jelas.
“Sejak kapan
kamu jatuh cinta padaku? Bukankah kamu tahu di antara kita tidak boleh ada
perasaan cinta. Itu terlarang bagi kita.”
“Aku tahu
itu, dok. Tapi perasaan ini terus hadir dan tak bisa lagi aku cegah...”
Airmataku
berderai. Aku tak sanggup lagi mengungkapkan betapa berat beban kerinduan yang
harus aku rasakan seorang diri. Aku tak ingin sendirian memikul rasa cinta ini.
Dia, sebagai pemilik kerinduan, harus ikut bertanggung jawab. Dia harus tahu
jika sosoknya yang penuh pesona telah menebarkan jaring-jaring cinta yang tak
sengaja menjeratku.
“Aku paham
perasaanmu, tapi aku hanya bisa mendengarkan saja. Aku tak bisa membalasnya.
Kamu tentu lebih tahu akan hal itu.”
Aku terdiam
tapi hatiku sakit. Bukan sikap seperti ini yang aku harapkan. Bukan penolakan.
Seolah hanya aku sendiri yang merasakan cinta, sementara dirinya tidak sama
sekali. Lalu sikapnya selama beberapa bulan ini? bagaimana bisa dia mengabaikan
perasaanku dan bersikap biasa saja setelah menghadirkan getar-getar dalam
hatiku?
“Tidak
bisakah kita menjalaninya?”tanyaku berharap ada ruang dalam hatinya yang
terbuka untukku meski hanya sedikit.
“Maafkan aku
jika sikapku membuatmu salah paham. Aku merasa tidak ada yang salah dalam
caraku bersikap. Jika kemudian kamu jatuh cinta, aku tidak bisa melarangnya.
Hanya saja, aku juga harus jujur dan terbuka padamu. Aku sama sekali tidak
merasakan sesuatu seperti yang kamu rasakan selain perasaan suka sebagai seorang
teman. Kita tim kerja. Aku dokter dan kamu perawat yang bertugas disini. Aku
tidak menyalahkanmu. Mungkin kebersamaan kita selama ini terlalu dekat hingga hadir
perasaan cinta dalam hatimu.”
Suaranya
terdengar lembut namun kian menyakitkan. Apakah dia tidak tahu betapa besar
pengorbananku demi datang kekamarnya membuat pengakuan? Aku telah memutuskan jalinan kasihku dengan Abdi, pria yang selama ini menjadi kekasihku.
Aku juga telah menghianati kepercayaan sahabatku
sendiri karena aku yakin perasaanku sama dengannya. Aku yakin kami memiliki
cinta yang sama. Dan sekarang yang kudengar justru bertolak belakang dengan
sikapnya yang lembut dan penuh perhatian.
“Kembalilah
kekamarmu. Ini sudah larut. Percakapan kita malam ini, aku anggap tak pernah
ada. Besok dan hari-hari selanjutnya, bersikaplah seperti biasa. Seolah tak
pernah ada ungkapan dan aku tak pernah mengetahui perasaanmu. Itu lebih baik
untuk kita, karena aku tidak ingin merusak hubungan kerja yang kita bina selama
ini.”
Kembali
tangannya merengkuh bahuku menuntunku keluar dari kamarnya.
“Maafkan
aku...” ucapnya seraya mengecup keningku.
Aku hanya
bisa terdiam menatapnya. Mataku masih basah dan hatiku terluka parah. Aku
berlari kekamarku lalu menumpahkan kesedihanku. Perasaanku bercampur aduk. Aku
sedih, malu, kecewa dan sakit hati. Perasaan terluka ini membuatku sulit
memejamkan mata. Aku tak tahu kapan tepatnya aku tertidur. Aku baru terbangun
saat terdengar ketukan di pintu kamarku.
Masih dalam
keadaan sempoyongan dan kepala pening, aku melangkah membuka pintu.
“Siapa?”
tanyaku dengan suara parau. Tak ada jawaban. Mendadak aku teringat kejadian
semalam saat aku nekad mengungkapkan perasaanku. Apakah dia datang untuk meralat
ucapannya semalam?
“Maaf membangunkanmu.”
Suaranya
yang lembut membuatku tak menyesal terbangun dan harus membuka pintu. Mimpiku
yang terberai seolah mendapatkan mujizat untuk terangkai kembali.
“Aku minta
maaf soal semalam. Tidak seharusnya aku mengucapkan kalimat seperti itu. Aku tak
sabar untuk bertemu denganmu dan meralat kata-kataku. Karena itu aku
membangunkanmu pagi ini.”
Aku terpana mendengar
ucapannya. Kepalaku yang masih pening membuat tubuhku oleng dan nyaris terjatuh
andai lengan kokohnya tak menahanku. Saat itulah mataku menangkap sosok Tania.
Semua berlangsung sangat cepat sebelum aku menyadari, aku bahkan belum
menyapa Tania, ketika gadis itu menatapku sinis cenderung menangis lalu
berbalik, hilang dibalik pintu.
“Tania!!!!!" Teriakku panik ketika kulihat tubuhnya berlari menuruni anak tangga.
Sekuat tenaga aku mengejarnya dan berhasil memegang tangannya. Gadis itu
berusaha melepaskan tanganku namun aku terus bertahan.
“Lepaskan aku!!! Kau bukan sahabat yang baik, aku tidak percaya padamu!!!!”
Plakkk. Aku menamparnya dengan perasaan sedih. Ucapannya seperti belati
yang menghujam jantungku. Tamparanku malah membuat tatapan Tania makin sinis.
“Satu hal yang aku tidak suka mendengar dari mulutmu....adalah...kau tidak
percaya padaku...”kataku sambil terisak.
“Itu sama saja dengan membuangku ke tempat sampah. Apa aku sehina itu? Apa
kau pikir aku akan menghianatimu?!?”
“Lalu apa yang kau lakukan sekarang? Sejak awal aku sudah memperingatkanmu,
tapi dirimu tidak peduli..”
“Jadi kau percaya dengan apa yang kau lihat? Baguslah, itu artinya aku benar-benar
berhasil membuat orang terkecoh. Jika sahabatku sendiri percaya, apalagi orang
lain?”
Tania terpaku menatapku.
“Tania, seharusnya kau lebih memahamiku. Bertahun-tahun kita bersama, aneh
kalau dirimu masih tidak mengenal pribadiku yang terdalam.”
Aku berbalik lalu melangkah pelan menjauhinya. Ekor mataku menangkap bayang
tubuhnya yang tak jua bergerak. Langkahku terus menjauh namun kini mataku
memanas lalu perlahan bening embun itu mengaburkan pandanganku.
“Kau benar Tania, aku memang telah berubah. Aku jatuh cinta pada
Chirst, hal yang tak pernah aku bayangkan akan terjadi...”
Sumpahku saat itu sekarang menjadi bumerang bagiku. Aku membenci Christ
tanpa pernah mengenalnya dan hanya mendengar hal-hal buruk tentangnya dari
Tania. Niatku untuk membalas sakit hati sahabatku seolah belati yang menikam
diriku sendiri.
Kini kejadian yang sama terulang kembali. Beberapa tahun yang lalu, aku berniat
balas dendam pada Abdi, mantan kekasih sahabatku, Leni. Rencana balas dendamku
berantakan karena akhirnya Abdi membuatku jatuh cinta dan menjadi kekasihnya. *****
Aku
seringkali bermimpi tentangnya hingga menghadirkan hayalan dalam kenyataan. Mimpiku
makin melambung ketika kami lebih sering bersama. Berdekatan, berdiskusi, saling
pandang dan tersenyum. Debaran di dada kian cepat membuatku merasa gugup. Aku
jatuh cinta. Aku yakin kami saling menyukai. Aku percaya diriku tak bertepuk
sebelah tangan.
“Sekarang sudah waktunya, aku tidak ingin diam
saja. Dia harus tahu kalau aku menyukainya.”
Kulangkahkan
kaki menuju kamarnya. Meski telah larut malam namun aku tahu dia belum tidur. Cahaya
lampu yang terlihat jelas dari ventilasi kamarnya pertanda pemilik kamar masih
beraktivitas. Kebiasaannya memadamkan lampu saat tidur membuatku yakin akan hal
itu.
“Ada apa?” sambutnya saat membuka pintu. Jantungku berdetak cepat.
Aku gugup hingga tak mampu berkata-kata.
“Kenapa diam
saja, Veren? Apa ada pasien?”
Aku tahu dia menebaknya karena seringkali ada pasien yang datang saat larut malam seperti ini dan aku terpaksa harus membangunkannya.
Aku tahu dia menebaknya karena seringkali ada pasien yang datang saat larut malam seperti ini dan aku terpaksa harus membangunkannya.
Aku makin
gugup. Entah kemana hilangnya semangatku yang membara saat berada dikamarku. Kini tatapan mata indah itu seolah mengikat lidahku hingga mulutku hanya
bisa terkatup rapat.
“Kamu kenapa? Apa ada yang ingin kamu sampaikan? Kamu ada masalah?”
Suara
lembutnya membuat telingaku terasa berdengung.
“Benar..”
akhirnya meluncur kata-kata dariku.
Aku kemudian
masuk kedalam kamarnya. Sentuhan tangannya saat menuntunku masuk dan duduk di
sofa makin menambah rasa percaya diriku. Aku tak boleh menundanya. Sekarang
saat yang tepat.
“Aku ingin
jujur tentang perasaanku. Maafkan kelancanganku ini. Aku hanya tak bisa
menahannya lagi. Aku ingin ingin dokter tahu kalau aku jatuh cinta. Aku
mencintaimu, dok.”
Helaan nafasnya
terdengar jelas.
“Sejak kapan
kamu jatuh cinta padaku? Bukankah kamu tahu di antara kita tidak boleh ada
perasaan cinta. Itu terlarang bagi kita.”
“Aku tahu
itu, dok. Tapi perasaan ini terus hadir dan tak bisa lagi aku cegah...”
Airmataku
berderai. Aku tak sanggup lagi mengungkapkan betapa berat beban kerinduan yang
harus aku rasakan seorang diri. Aku tak ingin sendirian memikul rasa cinta ini.
Dia, sebagai pemilik kerinduan, harus ikut bertanggung jawab. Dia harus tahu
jika sosoknya yang penuh pesona telah menebarkan jaring-jaring cinta yang tak
sengaja menjeratku.
“Aku paham
perasaanmu, tapi aku hanya bisa mendengarkan saja. Aku tak bisa membalasnya.
Kamu tentu lebih tahu akan hal itu.”
Aku terdiam
tapi hatiku sakit. Bukan sikap seperti ini yang aku harapkan. Bukan penolakan.
Seolah hanya aku sendiri yang merasakan cinta, sementara dirinya tidak sama
sekali. Lalu sikapnya selama beberapa bulan ini? bagaimana bisa dia mengabaikan
perasaanku dan bersikap biasa saja setelah menghadirkan getar-getar dalam
hatiku?
“Tidak
bisakah kita menjalaninya?”tanyaku berharap ada ruang dalam hatinya yang
terbuka untukku meski hanya sedikit.
“Maafkan aku
jika sikapku membuatmu salah paham. Aku merasa tidak ada yang salah dalam
caraku bersikap. Jika kemudian kamu jatuh cinta, aku tidak bisa melarangnya.
Hanya saja, aku juga harus jujur dan terbuka padamu. Aku sama sekali tidak
merasakan sesuatu seperti yang kamu rasakan selain perasaan suka sebagai seorang
teman. Kita tim kerja. Aku dokter dan kamu perawat yang bertugas disini. Aku
tidak menyalahkanmu. Mungkin kebersamaan kita selama ini terlalu dekat hingga hadir
perasaan cinta dalam hatimu.”
Suaranya
terdengar lembut namun kian menyakitkan. Apakah dia tidak tahu betapa besar
pengorbananku demi datang kekamarnya membuat pengakuan? Aku telah memutuskan jalinan kasihku dengan Abdi, pria yang selama ini menjadi kekasihku.
Aku juga telah menghianati kepercayaan sahabatku
sendiri karena aku yakin perasaanku sama dengannya. Aku yakin kami memiliki
cinta yang sama. Dan sekarang yang kudengar justru bertolak belakang dengan
sikapnya yang lembut dan penuh perhatian.
“Kembalilah
kekamarmu. Ini sudah larut. Percakapan kita malam ini, aku anggap tak pernah
ada. Besok dan hari-hari selanjutnya, bersikaplah seperti biasa. Seolah tak
pernah ada ungkapan dan aku tak pernah mengetahui perasaanmu. Itu lebih baik
untuk kita, karena aku tidak ingin merusak hubungan kerja yang kita bina selama
ini.”
Kembali
tangannya merengkuh bahuku menuntunku keluar dari kamarnya.
“Maafkan
aku...” ucapnya seraya mengecup keningku.
Aku hanya
bisa terdiam menatapnya. Mataku masih basah dan hatiku terluka parah. Aku
berlari kekamarku lalu menumpahkan kesedihanku. Perasaanku bercampur aduk. Aku
sedih, malu, kecewa dan sakit hati. Perasaan terluka ini membuatku sulit
memejamkan mata. Aku tak tahu kapan tepatnya aku tertidur. Aku baru terbangun
saat terdengar ketukan di pintu kamarku.
Masih dalam
keadaan sempoyongan dan kepala pening, aku melangkah membuka pintu.
“Siapa?”
tanyaku dengan suara parau. Tak ada jawaban. Mendadak aku teringat kejadian
semalam saat aku nekad mengungkapkan perasaanku. Apakah dia datang untuk meralat
ucapannya semalam?
“Maaf membangunkanmu.”
Suaranya
yang lembut membuatku tak menyesal terbangun dan harus membuka pintu. Mimpiku
yang terberai seolah mendapatkan mujizat untuk terangkai kembali.
“Aku minta
maaf soal semalam. Tidak seharusnya aku mengucapkan kalimat seperti itu. Aku tak
sabar untuk bertemu denganmu dan meralat kata-kataku. Karena itu aku
membangunkanmu pagi ini.”
Aku terpana mendengar
ucapannya. Kepalaku yang masih pening membuat tubuhku oleng dan nyaris terjatuh
andai lengan kokohnya tak menahanku. Saat itulah mataku menangkap sosok Tania.
Semua berlangsung sangat cepat sebelum aku menyadari, aku bahkan belum
menyapa Tania, ketika gadis itu menatapku sinis cenderung menangis lalu
berbalik, hilang dibalik pintu.
“Tania!!!!!" Teriakku panik ketika kulihat tubuhnya berlari menuruni anak tangga.
Sekuat tenaga aku mengejarnya dan berhasil memegang tangannya. Gadis itu
berusaha melepaskan tanganku namun aku terus bertahan.
“Lepaskan aku!!! Kau bukan sahabat yang baik, aku tidak percaya padamu!!!!”
Plakkk. Aku menamparnya dengan perasaan sedih. Ucapannya seperti belati
yang menghujam jantungku. Tamparanku malah membuat tatapan Tania makin sinis.
“Satu hal yang aku tidak suka mendengar dari mulutmu....adalah...kau tidak
percaya padaku...”kataku sambil terisak.
“Itu sama saja dengan membuangku ke tempat sampah. Apa aku sehina itu? Apa
kau pikir aku akan menghianatimu?!?”
“Lalu apa yang kau lakukan sekarang? Sejak awal aku sudah memperingatkanmu,
tapi dirimu tidak peduli..”
“Jadi kau percaya dengan apa yang kau lihat? Baguslah, itu artinya aku benar-benar
berhasil membuat orang terkecoh. Jika sahabatku sendiri percaya, apalagi orang
lain?”
Tania terpaku menatapku.
“Tania, seharusnya kau lebih memahamiku. Bertahun-tahun kita bersama, aneh
kalau dirimu masih tidak mengenal pribadiku yang terdalam.”
Aku berbalik lalu melangkah pelan menjauhinya. Ekor mataku menangkap bayang
tubuhnya yang tak jua bergerak. Langkahku terus menjauh namun kini mataku
memanas lalu perlahan bening embun itu mengaburkan pandanganku.
“Kau benar Tania, aku memang telah berubah. Aku jatuh cinta pada
Chirst, hal yang tak pernah aku bayangkan akan terjadi...”
Sumpahku saat itu sekarang menjadi bumerang bagiku. Aku membenci Christ
tanpa pernah mengenalnya dan hanya mendengar hal-hal buruk tentangnya dari
Tania. Niatku untuk membalas sakit hati sahabatku seolah belati yang menikam
diriku sendiri.
Kini kejadian yang sama terulang kembali. Beberapa tahun yang lalu, aku berniat
balas dendam pada Abdi, mantan kekasih sahabatku, Leni. Rencana balas dendamku
berantakan karena akhirnya Abdi membuatku jatuh cinta dan menjadi kekasihnya. *****



0 komentar:
Posting Komentar