Kamis, 22 Januari 2015

Dejavu

0



Aku seringkali bermimpi tentangnya hingga menghadirkan hayalan dalam kenyataan. Mimpiku makin melambung ketika kami lebih sering bersama. Berdekatan, berdiskusi, saling pandang dan tersenyum. Debaran di dada kian cepat membuatku merasa gugup. Aku jatuh cinta. Aku yakin kami saling menyukai. Aku percaya diriku tak bertepuk sebelah tangan.

 “Sekarang sudah waktunya, aku tidak ingin diam saja. Dia harus tahu kalau aku menyukainya.”

Kulangkahkan kaki menuju kamarnya. Meski telah larut malam namun aku tahu dia belum tidur. Cahaya lampu yang terlihat jelas dari ventilasi kamarnya pertanda pemilik kamar masih beraktivitas. Kebiasaannya memadamkan lampu saat tidur membuatku yakin akan hal itu.

“Ada apa?” sambutnya saat membuka pintu. Jantungku berdetak cepat. Aku gugup hingga tak mampu berkata-kata.

“Kenapa diam saja, Veren? Apa ada pasien?” 

Aku tahu dia menebaknya karena seringkali ada pasien yang datang saat larut malam seperti ini dan aku terpaksa harus membangunkannya.

Aku makin gugup. Entah kemana hilangnya semangatku yang membara saat berada dikamarku. Kini tatapan mata indah itu seolah mengikat lidahku hingga mulutku hanya bisa terkatup rapat.


“Kamu kenapa? Apa ada yang ingin kamu sampaikan? Kamu ada masalah?”

Suara lembutnya membuat telingaku terasa berdengung.

“Benar..” akhirnya meluncur kata-kata dariku.

Aku kemudian masuk kedalam kamarnya. Sentuhan tangannya saat menuntunku masuk dan duduk di sofa makin menambah rasa percaya diriku. Aku tak boleh menundanya. Sekarang saat yang tepat.

“Aku ingin jujur tentang perasaanku. Maafkan kelancanganku ini. Aku hanya tak bisa menahannya lagi. Aku ingin ingin dokter tahu kalau aku jatuh cinta. Aku mencintaimu, dok.”

Helaan nafasnya terdengar jelas.

“Sejak kapan kamu jatuh cinta padaku? Bukankah kamu tahu di antara kita tidak boleh ada perasaan cinta. Itu terlarang bagi kita.”

“Aku tahu itu, dok. Tapi perasaan ini terus hadir dan tak bisa lagi aku cegah...”

Airmataku berderai. Aku tak sanggup lagi mengungkapkan betapa berat beban kerinduan yang harus aku rasakan seorang diri. Aku tak ingin sendirian memikul rasa cinta ini. Dia, sebagai pemilik kerinduan, harus ikut bertanggung jawab. Dia harus tahu jika sosoknya yang penuh pesona telah menebarkan jaring-jaring cinta yang tak sengaja menjeratku.

“Aku paham perasaanmu, tapi aku hanya bisa mendengarkan saja. Aku tak bisa membalasnya. Kamu tentu lebih tahu akan hal itu.”

Aku terdiam tapi hatiku sakit. Bukan sikap seperti ini yang aku harapkan. Bukan penolakan. Seolah hanya aku sendiri yang merasakan cinta, sementara dirinya tidak sama sekali. Lalu sikapnya selama beberapa bulan ini? bagaimana bisa dia mengabaikan perasaanku dan bersikap biasa saja setelah menghadirkan getar-getar dalam hatiku?

“Tidak bisakah kita menjalaninya?”tanyaku berharap ada ruang dalam hatinya yang terbuka untukku meski hanya sedikit.

“Maafkan aku jika sikapku membuatmu salah paham. Aku merasa tidak ada yang salah dalam caraku bersikap. Jika kemudian kamu jatuh cinta, aku tidak bisa melarangnya. Hanya saja, aku juga harus jujur dan terbuka padamu. Aku sama sekali tidak merasakan sesuatu seperti yang kamu rasakan selain perasaan suka sebagai seorang teman. Kita tim kerja. Aku dokter dan kamu perawat yang bertugas disini. Aku tidak menyalahkanmu. Mungkin kebersamaan kita selama ini terlalu dekat hingga hadir perasaan cinta dalam hatimu.”

Suaranya terdengar lembut namun kian menyakitkan. Apakah dia tidak tahu betapa besar pengorbananku demi datang kekamarnya membuat pengakuan? Aku telah memutuskan  jalinan kasihku dengan Abdi, pria  yang selama ini menjadi kekasihku.

Aku juga telah menghianati kepercayaan sahabatku sendiri karena aku yakin perasaanku sama dengannya. Aku yakin kami memiliki cinta yang sama. Dan sekarang yang kudengar justru bertolak belakang dengan sikapnya yang lembut dan penuh perhatian.

“Kembalilah kekamarmu. Ini sudah larut. Percakapan kita malam ini, aku anggap tak pernah ada. Besok dan hari-hari selanjutnya, bersikaplah seperti biasa. Seolah tak pernah ada ungkapan dan aku tak pernah mengetahui perasaanmu. Itu lebih baik untuk kita, karena aku tidak ingin merusak hubungan kerja yang kita bina selama ini.”

Kembali tangannya merengkuh bahuku menuntunku keluar dari kamarnya.

“Maafkan aku...” ucapnya seraya mengecup keningku.

Aku hanya bisa terdiam menatapnya. Mataku masih basah dan hatiku terluka parah. Aku berlari kekamarku lalu menumpahkan kesedihanku. Perasaanku bercampur aduk. Aku sedih, malu, kecewa dan sakit hati. Perasaan terluka ini membuatku sulit memejamkan mata. Aku tak tahu kapan tepatnya aku tertidur. Aku baru terbangun saat terdengar ketukan di pintu kamarku.

Masih dalam keadaan sempoyongan dan kepala pening, aku melangkah membuka pintu.

“Siapa?” tanyaku dengan suara parau. Tak ada jawaban. Mendadak aku teringat kejadian semalam saat aku nekad mengungkapkan perasaanku. Apakah dia datang untuk meralat ucapannya semalam?

“Maaf membangunkanmu.”

Suaranya yang lembut membuatku tak menyesal terbangun dan harus membuka pintu. Mimpiku yang terberai seolah mendapatkan mujizat untuk terangkai kembali.

“Aku minta maaf soal semalam. Tidak seharusnya aku mengucapkan kalimat seperti itu. Aku tak sabar untuk bertemu denganmu dan meralat kata-kataku. Karena itu aku membangunkanmu pagi ini.”

Aku terpana mendengar ucapannya. Kepalaku yang masih pening membuat tubuhku oleng dan nyaris terjatuh andai lengan kokohnya tak menahanku. Saat itulah mataku menangkap sosok Tania.

Semua berlangsung sangat cepat sebelum aku menyadari, aku bahkan belum menyapa Tania, ketika gadis itu  menatapku sinis cenderung menangis lalu berbalik, hilang dibalik pintu.

“Tania!!!!!" Teriakku panik ketika kulihat tubuhnya berlari menuruni anak tangga. Sekuat tenaga aku mengejarnya dan berhasil memegang tangannya. Gadis itu berusaha melepaskan tanganku namun aku terus bertahan.

“Lepaskan aku!!! Kau bukan sahabat yang baik, aku tidak percaya padamu!!!!”

Plakkk. Aku menamparnya dengan perasaan sedih. Ucapannya seperti belati yang menghujam jantungku. Tamparanku malah membuat tatapan Tania makin sinis.

“Satu hal yang aku tidak suka mendengar dari mulutmu....adalah...kau tidak percaya padaku...”kataku sambil terisak.

“Itu sama saja dengan membuangku ke tempat sampah. Apa aku sehina itu? Apa kau pikir aku akan menghianatimu?!?”

“Lalu apa yang kau lakukan sekarang? Sejak awal aku sudah memperingatkanmu, tapi dirimu tidak peduli..”

“Jadi kau percaya dengan apa yang kau lihat? Baguslah, itu artinya aku benar-benar berhasil membuat orang terkecoh. Jika sahabatku sendiri percaya, apalagi orang lain?”

Tania terpaku menatapku.

“Tania, seharusnya kau lebih memahamiku. Bertahun-tahun kita bersama, aneh kalau dirimu masih tidak mengenal pribadiku yang terdalam.”

Aku berbalik lalu melangkah pelan menjauhinya. Ekor mataku menangkap bayang tubuhnya yang tak jua bergerak. Langkahku terus menjauh namun kini mataku memanas lalu perlahan bening embun itu mengaburkan pandanganku.

“Kau benar Tania, aku memang telah berubah. Aku jatuh cinta pada Chirst, hal yang tak pernah aku bayangkan akan terjadi...”

Sumpahku saat itu sekarang menjadi bumerang bagiku. Aku membenci Christ tanpa pernah mengenalnya dan hanya mendengar hal-hal buruk tentangnya dari Tania. Niatku untuk membalas sakit hati sahabatku seolah belati yang menikam diriku sendiri.

Kini kejadian yang sama terulang kembali. Beberapa tahun yang lalu, aku berniat balas dendam pada Abdi, mantan kekasih sahabatku, Leni. Rencana balas dendamku berantakan karena akhirnya Abdi membuatku jatuh cinta dan menjadi kekasihnya. *****



0 komentar:

Posting Komentar