Kamis, 22 Januari 2015

Cecil

0




Teruntuk Devin,

Saat dirimu membaca surat ini, aku mungkin sudah tidak ada lagi di dunia ini. Aku harap dirimu tidak terkejut apalagi merasa bersalah. Kita belum pernah bertemu untuk saling mengenal apalagi untuk menyisakan rasa bersalah.

Aku bukan penggemarmu bahkan sebenarnya aku sangat membencimu. Jangan tersinggung, ini hanyalah curahan hati. Jika wanita yang kamu cintai memilih orang lain, bagaimana sikapmu pada lelaki yang dicintainya? Tentu perasaanmu sama denganku. Ada rasa cemburu seperti belati yang terus mengiris hati.

Tapi apa dayaku jika dia memilihmu, walau tak suka aku harus rela. Aku harus rela berkorban untuknya dengan cara mengirim surat ini karena menurutnya, hingga kini surat yang dia kirimkan padamu tidak mendapatkan balasan.

Aku harap dirimu tidak mengabaikan surat ini karena ini adalah permintaan pertama dan terakhir dariku demi wanita yang sangat aku cintai. Demi dia, aku harap dirimu bersedia menjadi kekasihnya walau cuma sesaat. Jika permintaanku ini terlalu berat, jadilah temannya meski mungkin cuma sehari, setidaknya dia pernah bertemu, bersama denganmu dalam kehidupannya...”

Randi tercenung membaca surat itu, surat yang berisi tulisan tangannya. Surat yang susah payah akhirnya berhasil dia temukan setelah membongkar kotak-kotak surat dalam kamar Devin, artis idola remaja yang selama ini membuatnya cemburu karena gadis yang selama ini dia cintai, Cecil lebih memilih Devin daripada dirinya.

Ada aliran hangat yang mengalir dari kedua matanya terus meresap hingga ke pembuluh darahnya. Hatinya bergetar pilu. Hingga tak sadar dia terisak membayangkan Cecil yang tengah menunggu balasan surat dari Devin. Menanti penuh kesabaran padahal surat-suratnya tak pernah sekalipun dibuka apalagi dibaca oleh Devin.

“Cecil yang malang..” gumamnya seraya mengusap bulir bening di kedua matanya.

“Devin!” pintu terbuka bersamaan dengan kehadiran seorang pria. Randi berbalik kaget menatap ke arah pria itu.

“Kamu menangis? Ada apa?” tegur pria itu seraya mendekati Randi. Randi buru-buru menyeka airmatanya namun beragam tanya hadir dalam benaknya.

“Ada apa Devin? Sejam yang lalu kamu baik-baik saja. Apa terjadi sesuatu?”

Devin? Mengapa lelaki ini memanggilnya Devin? Bukankah dia adalah Randi? Tapi mengapa dia bisa tiba-tiba berada dalam kamar Devin?


Pria itu menyentuh kedua bahunya.

“Maafkan aku. Aku lupa kalau hari ini adalah peringatan kematian ibumu. Wajar jika kamu menangis. Tapi tolong kendalikan dirimu.  Ada jadwal pemotretan hari ini. Jika kamu tidak siap, sebaiknya kita tunda saja. Bagaimana?”

“Pemotretan?” Tanya Randi dengan ekspresi bingung. Wajah lelaki didepannya nampak cemas.

“Ya Allah, Devin... mungkin sebaiknya kita tunda saja pemotretannya. Kondisimu tidak fit untuk aktivitas hari ini. Aku akan hubungi mbak Yanti, semoga dia maklum..” ujarnya lalu keluar kamar.

Randi bergegas mencari cermin setelah menyadari hal aneh mungkin terjadi pada dirinya. Namun tak ada satupun cermin dalam ruangan itu. Kemudian langkahnya menuju kamar mandi. Ada cermin disana. Pemuda itu mendekati cermin perlahan-lahan, semakin lama semakin dekat.

Randi menutup matanya lalu membukanya pelan-pelan.  Wajah seseorang di dalam cermin nyaris membuatnya terkulai lemas. Seharusnya yang ada didalam cermin adalah dirinya bukan wajah Devin!

Tiba-tiba muncul seseorang di dalam cermin. Posisinya tepat berada dibelakang Randi. Seketika pemuda itu berbalik namun tak ada siapapun dibelakangnya. Dia menatap cermin kembali. Orang itu masih ada disana. Lelaki tua berbaju putih nampak tersenyum melihatnya.

“Kau terkejut? Bukankah ini permintaanmu?” suaranya tenang namun membuat Randi merinding.

“Kapan aku meminta sesuatu padamu?”

“Semalam. Saat ini kamu sedang koma dirumah sakit. Hanya mujizat yang bisa menyadarkanmu kembali. Keinginanmu agar bisa bertemu dan membahagiakan seseorang dikabulkan namun itu hanya berlangsung tiga hari, tidak lebih. Sekarang adalah hari pertama. Aku datang untuk mengingatkan, agar dirimu tidak membuang-buang waktu.”

“Mengapa aku tidak ingat sama sekali?”

“Karena kamu baru saja memasuki tubuh orang lain. Wajar jika kamu lupa. Semalam kamu menyebutkan nama seseorang. Kamu ingin menemuinya untuk terakhir kali. Membahagiaakannya dengan masuk ke tubuh orang ini. Bukankah itu yang kau katakan semalam?”

“Benarkah? Lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku bingung.”

“Pergilah ke rumah sakit. Gadis itu berada disana. Meratapi dirimu yang terbaring koma..”

Sosok lelaki tua itu kemudian menghilang. Randi bergegas keluar dari kamar.

“Devin, mau kemana?”tegur pria yang tadi pagi menemuinya.

“Mau ke rumah sakit.”

“Siapa yang sakit? kamu?”

“Bukan aku, tapi temanku. Semalam dia kecelakaan.”

Pria itu mengernyitkan keningnya.

“Kok tidak ada berita di tivi? Biasanya kalo artis kecelakaan, pasti stasiun tivi sudah ramai-ramai memberitakan.”

“Dia bukan artis.”

“Pantas saja aku tidak tahu. Tapi akan jadi berita saat kamu hadir disana. Pasti setelah ini media akan meliputnya. Apa kamu benar-benar ingin menjenguknya?”

“Tentu saja. Apa aku tidak boleh melihat temanku yang sakit?”

“Boleh. Hanya saja jika kamu ke rumah sakit, mungkin akan ada kehebohan..”

“Itu terserah nanti. Aku akan kesana sekarang.”

“Eitsss..." Pria itu menghadang langkahnya.

"Baiklah. Karena aku managermu, aku akan menemanimu.” Ucapnya lalu melangkah mendahului Randi.

Randi mengikuti manager yang belum dia ketahui namanya. Syukurlah saat sopir mendatangi mereka, dia menyebut nama pria itu. Randi akhirnya tahu.

“Pak Rahmat, kita ke rumah sakit.”

“Baik mas Dicky..”

Randi mulai mengingat-ingat nama kedua orang ini. Dia sangat berhati-hati karena tak ingin mereka mencurigai dirinya.

“Apa karena ini kamu terlihat sedih tadi?” tanya Dicky saat mereka dalam perjalanan. Randi menggiyakkan.

“Aku paham. Aku mengira karena ibumu kamu jadi sedih. Oh, iya tadi ada telepon dari kakakmu, mbak Laras. Kalian sekeluarga sebentar sore akan ke makam ibumu. Dia memintaku mengosongkan jadwalmu. Aku pastikan hari ini tak ada jadwal apapun. Kamu free.”

Mbak Laras? Randi membatin.

Bertambah lagi satu nama yang harus Randi ingat. Padahal saat ini dia hanya memikirkan Cecil, tak ada yang lain. Waktu untuknya sangat sempit, kenapa harus ada kegiatan keluarga? Haruskah dia kabur saja bersama Cecil?

“Selama tiga hari ini, apakah aku bisa libur?”

Dicky menoleh kaget saat mendengar pertanyaan dari Randi.

“Besok jadwal kamu penuh. Dari pagi sampai malam. Lusa juga demikian hingga seterusnya karena kamu ada syuting FTV. Ada apa? Kenapa kamu ingin libur? Apakah karena temanmu yang dirumah sakit itu?”

“Benar..”

“Kamu cukup menengoknya hari ini. Keluarga temanmu pasti maklum karena jadwalmu sangat padat.”

“Baca ini...” Randi mengeluarkan selembar kertas dari saku bajunya. Walau bingung, Dicky menerima dan membacanya.

“Inikan surat fansmu, Devin? Untuk apa kamu ladeni? Fans memang seperti itu,mereka pasti berharap bisa ketemu idolanya. Tapi apakah semua permintaan mereka harus kamu turuti?”

“Tapi yang ini beda, pengirim surat itu sekarang koma dirumah sakit.”

“Ternyata dia pengirim surat ini? kamu yakin kehadiranmu tidak sia-sia? Bukankah dia sedang koma? Dia nggak bakalan tahu kamu datang atau tidak.” Dicky masih bertahan dengan argumennya.

“Tapi gadis itu ada disana, mas Dicky. Dia memintaku menemani gadis itu..”

Dicky terperanjat.

“Apa? Kamu membatalkan semua jadwal hari ini hanya karena gadis itu? kamu sadar nggak Devin? Kamu itu artis terkenal. Muncul di rumah sakit, menemui seorang gadis, itu akan menimbulkan kehebohan. Tidak perlu menunggu besok, ntar sore kamu sudah masuk infotainment. Devin, artis idola remaja ternyata diam-diam telah memiliki kekasih.”

“Emang salah jika aku punya kekasih?”

“Tidak ada yang salah. Apa kamu lupa minggu lalu kamu baru saja putus dari Bianca? Dan saat  kamu diwawancarai infotainment, kamu katakan masih menyayangi Bianca dan ingin kembali menjalin kasih. Kata-katamu saat itu akan jadi bumerang jika saat ini kamu tidak menahan diri.”

“ Aku belum pernah bertemu dengan gadis itu. Lagipula dia hanya teman..”

“Tapi gadis itu menyukai kamu. Ini jelas-jelas disampaikan dalam suratnya.”

“Apakah aku salah membahagiakan seseorang?”

“Aku heran sama kamu, Vin? Aku merasa kamu mendadak berubah. Apakah karena selembar surat ini kamu jadi peduli dengan hal-hal seperti ini? biasanya kamu mendahulukan kerjaan. Apapun kamu abaikan. Kalau aku membatalkan semua jadwalmu, alasannya apa? Mereka bakal tahu saat berita tentangmu muncul di tivi. Ini mempertaruhkan namamu, Vin.”

“Bagaimana kalau pak Rahmat saja yang menemui gadis itu untuk menyampaikan pesanku? Dengan begitu semua aman terkendali.”

Mata Dicky membelalak lalu senyumnya mengembang.

“Aha! Itu ide yang brilian. Kamu bisa menjalankan rencanamu, disisi lain namamu tetap aman.”

Randi tersenyum.



( Bersambung) Part 2  3  4  5

Sumber gambar Disini

0 komentar:

Posting Komentar