Teruntuk
Devin,
Saat
dirimu membaca surat ini, aku mungkin sudah tidak ada lagi di dunia ini. Aku
harap dirimu tidak terkejut apalagi merasa bersalah. Kita belum pernah bertemu
untuk saling mengenal apalagi untuk menyisakan rasa bersalah.
Aku
bukan penggemarmu bahkan sebenarnya aku sangat membencimu. Jangan tersinggung,
ini hanyalah curahan hati. Jika wanita yang kamu cintai memilih orang lain,
bagaimana sikapmu pada lelaki yang dicintainya? Tentu perasaanmu sama denganku.
Ada rasa cemburu seperti belati yang terus mengiris hati.
Tapi
apa dayaku jika dia memilihmu, walau tak suka aku harus rela. Aku harus rela
berkorban untuknya dengan cara mengirim surat ini karena menurutnya, hingga
kini surat yang dia kirimkan padamu tidak mendapatkan balasan.
Aku
harap dirimu tidak mengabaikan surat ini karena ini adalah permintaan pertama
dan terakhir dariku demi wanita yang sangat aku cintai. Demi dia, aku harap
dirimu bersedia menjadi kekasihnya walau cuma sesaat. Jika permintaanku ini
terlalu berat, jadilah temannya meski mungkin cuma sehari, setidaknya dia
pernah bertemu, bersama denganmu dalam kehidupannya...”
Randi tercenung membaca surat
itu, surat yang berisi tulisan tangannya. Surat yang susah payah akhirnya
berhasil dia temukan setelah membongkar kotak-kotak surat dalam kamar Devin,
artis idola remaja yang selama ini membuatnya cemburu karena gadis yang selama
ini dia cintai, Cecil lebih memilih Devin daripada dirinya.
Ada aliran hangat yang mengalir
dari kedua matanya terus meresap hingga ke pembuluh darahnya. Hatinya bergetar
pilu. Hingga tak sadar dia terisak membayangkan Cecil yang tengah menunggu
balasan surat dari Devin. Menanti penuh kesabaran padahal surat-suratnya tak pernah
sekalipun dibuka apalagi dibaca oleh Devin.
“Cecil yang malang..” gumamnya
seraya mengusap bulir bening di kedua matanya.
“Devin!” pintu terbuka bersamaan
dengan kehadiran seorang pria. Randi berbalik kaget menatap ke arah pria itu.
“Kamu menangis? Ada apa?” tegur
pria itu seraya mendekati Randi. Randi buru-buru menyeka airmatanya namun
beragam tanya hadir dalam benaknya.
“Ada apa Devin? Sejam yang lalu
kamu baik-baik saja. Apa terjadi sesuatu?”
Devin? Mengapa lelaki ini
memanggilnya Devin? Bukankah dia adalah Randi? Tapi mengapa dia bisa tiba-tiba
berada dalam kamar Devin?
Pria itu menyentuh kedua bahunya.
“Maafkan aku. Aku lupa kalau hari
ini adalah peringatan kematian ibumu. Wajar jika kamu menangis. Tapi tolong
kendalikan dirimu. Ada jadwal pemotretan
hari ini. Jika kamu tidak siap, sebaiknya kita tunda saja. Bagaimana?”
“Pemotretan?” Tanya Randi dengan
ekspresi bingung. Wajah lelaki didepannya nampak cemas.
“Ya Allah, Devin... mungkin
sebaiknya kita tunda saja pemotretannya. Kondisimu tidak fit untuk aktivitas
hari ini. Aku akan hubungi mbak Yanti, semoga dia maklum..” ujarnya lalu keluar
kamar.
Randi bergegas mencari cermin
setelah menyadari hal aneh mungkin terjadi pada dirinya. Namun tak ada satupun
cermin dalam ruangan itu. Kemudian langkahnya menuju kamar mandi. Ada cermin
disana. Pemuda itu mendekati cermin perlahan-lahan, semakin lama semakin dekat.
Randi menutup matanya lalu membukanya
pelan-pelan. Wajah seseorang di dalam
cermin nyaris membuatnya terkulai lemas. Seharusnya yang ada didalam cermin adalah
dirinya bukan wajah Devin!
Tiba-tiba muncul seseorang di
dalam cermin. Posisinya tepat berada dibelakang Randi. Seketika pemuda itu
berbalik namun tak ada siapapun dibelakangnya. Dia menatap cermin kembali.
Orang itu masih ada disana. Lelaki tua berbaju putih nampak tersenyum
melihatnya.
“Kau terkejut? Bukankah ini
permintaanmu?” suaranya tenang namun membuat Randi merinding.
“Kapan aku meminta sesuatu
padamu?”
“Semalam. Saat ini kamu sedang
koma dirumah sakit. Hanya mujizat yang bisa menyadarkanmu kembali. Keinginanmu
agar bisa bertemu dan membahagiakan seseorang dikabulkan namun itu hanya
berlangsung tiga hari, tidak lebih. Sekarang adalah hari pertama. Aku datang
untuk mengingatkan, agar dirimu tidak membuang-buang waktu.”
“Mengapa aku tidak ingat sama
sekali?”
“Karena kamu baru saja memasuki
tubuh orang lain. Wajar jika kamu lupa. Semalam kamu menyebutkan nama
seseorang. Kamu ingin menemuinya untuk terakhir kali. Membahagiaakannya dengan
masuk ke tubuh orang ini. Bukankah itu yang kau katakan semalam?”
“Benarkah? Lalu, apa yang harus
aku lakukan sekarang? Aku bingung.”
“Pergilah ke rumah sakit. Gadis
itu berada disana. Meratapi dirimu yang terbaring koma..”
Sosok lelaki tua itu kemudian
menghilang. Randi bergegas keluar dari kamar.
“Devin, mau kemana?”tegur pria
yang tadi pagi menemuinya.
“Mau ke rumah sakit.”
“Siapa yang sakit? kamu?”
“Bukan aku, tapi temanku. Semalam
dia kecelakaan.”
Pria itu mengernyitkan keningnya.
“Kok tidak ada berita di tivi?
Biasanya kalo artis kecelakaan, pasti stasiun tivi sudah ramai-ramai
memberitakan.”
“Dia bukan artis.”
“Pantas saja aku tidak tahu. Tapi
akan jadi berita saat kamu hadir disana. Pasti setelah ini media akan
meliputnya. Apa kamu benar-benar ingin menjenguknya?”
“Tentu saja. Apa aku tidak boleh
melihat temanku yang sakit?”
“Boleh. Hanya saja jika kamu
ke rumah sakit, mungkin akan ada kehebohan..”
“Itu terserah nanti. Aku akan
kesana sekarang.”
“Eitsss..." Pria itu menghadang langkahnya.
"Baiklah. Karena aku managermu, aku akan menemanimu.” Ucapnya lalu melangkah mendahului Randi.
"Baiklah. Karena aku managermu, aku akan menemanimu.” Ucapnya lalu melangkah mendahului Randi.
Randi mengikuti manager yang belum
dia ketahui namanya. Syukurlah saat sopir mendatangi mereka, dia menyebut nama
pria itu. Randi akhirnya tahu.
“Pak Rahmat, kita ke rumah sakit.”
“Baik mas Dicky..”
Randi mulai mengingat-ingat nama
kedua orang ini. Dia sangat berhati-hati karena tak ingin mereka mencurigai
dirinya.
“Apa karena ini kamu terlihat
sedih tadi?” tanya Dicky saat mereka dalam perjalanan. Randi menggiyakkan.
“Aku paham. Aku mengira karena
ibumu kamu jadi sedih. Oh, iya tadi ada telepon dari kakakmu, mbak Laras. Kalian
sekeluarga sebentar sore akan ke makam ibumu. Dia memintaku mengosongkan
jadwalmu. Aku pastikan hari ini tak ada jadwal apapun. Kamu free.”
Mbak
Laras? Randi membatin.
Bertambah lagi satu nama yang
harus Randi ingat. Padahal saat ini dia hanya memikirkan Cecil, tak ada yang
lain. Waktu untuknya sangat sempit, kenapa harus ada kegiatan keluarga?
Haruskah dia kabur saja bersama Cecil?
“Selama tiga hari ini, apakah aku
bisa libur?”
Dicky menoleh kaget saat
mendengar pertanyaan dari Randi.
“Besok jadwal kamu penuh. Dari
pagi sampai malam. Lusa juga demikian hingga seterusnya karena kamu ada syuting
FTV. Ada apa? Kenapa kamu ingin libur? Apakah karena temanmu yang dirumah sakit
itu?”
“Benar..”
“Kamu cukup menengoknya hari ini.
Keluarga temanmu pasti maklum karena jadwalmu sangat padat.”
“Baca ini...” Randi mengeluarkan
selembar kertas dari saku bajunya. Walau bingung, Dicky menerima dan
membacanya.
“Inikan surat fansmu, Devin?
Untuk apa kamu ladeni? Fans memang seperti itu,mereka pasti berharap bisa
ketemu idolanya. Tapi apakah semua permintaan mereka harus kamu turuti?”
“Tapi yang ini beda, pengirim
surat itu sekarang koma dirumah sakit.”
“Ternyata dia pengirim surat ini?
kamu yakin kehadiranmu tidak sia-sia? Bukankah dia sedang koma? Dia nggak bakalan
tahu kamu datang atau tidak.” Dicky masih bertahan dengan argumennya.
“Tapi gadis itu ada disana, mas
Dicky. Dia memintaku menemani gadis itu..”
Dicky terperanjat.
“Apa? Kamu membatalkan semua
jadwal hari ini hanya karena gadis itu? kamu sadar nggak Devin? Kamu itu artis
terkenal. Muncul di rumah sakit, menemui seorang gadis, itu akan menimbulkan
kehebohan. Tidak perlu menunggu besok, ntar sore kamu sudah masuk infotainment.
Devin, artis idola remaja ternyata diam-diam telah memiliki kekasih.”
“Emang salah jika aku punya
kekasih?”
“Tidak ada yang salah. Apa kamu
lupa minggu lalu kamu baru saja putus dari Bianca? Dan saat kamu diwawancarai infotainment, kamu katakan
masih menyayangi Bianca dan ingin kembali menjalin kasih. Kata-katamu saat itu
akan jadi bumerang jika saat ini kamu tidak menahan diri.”
“ Aku belum pernah bertemu dengan
gadis itu. Lagipula dia hanya teman..”
“Tapi gadis itu menyukai kamu.
Ini jelas-jelas disampaikan dalam suratnya.”
“Apakah aku salah membahagiakan
seseorang?”
“Aku heran sama kamu, Vin? Aku
merasa kamu mendadak berubah. Apakah karena selembar surat ini kamu jadi peduli
dengan hal-hal seperti ini? biasanya kamu mendahulukan kerjaan. Apapun kamu
abaikan. Kalau aku membatalkan semua jadwalmu, alasannya apa? Mereka bakal tahu
saat berita tentangmu muncul di tivi. Ini mempertaruhkan namamu, Vin.”
“Bagaimana kalau pak Rahmat saja
yang menemui gadis itu untuk menyampaikan pesanku? Dengan begitu semua aman
terkendali.”
Mata Dicky membelalak lalu
senyumnya mengembang.
“Aha! Itu ide yang brilian. Kamu
bisa menjalankan rencanamu, disisi lain namamu tetap aman.”
Randi tersenyum.



0 komentar:
Posting Komentar