Kamis, 13 Maret 2014

Benarkah Kau Mencintaiku?

0





 




Ririn terpaku menatap novel berjudul Mencintaimu Karena Allah. Sejenak gadis itu mengeja kalimat judul seraya bergumam lirih. Hatinya bergetar teringat seseorang yang pernah mengucapkan kalimat tersebut. Luka lama seolah berdarah kembali.

 

Apakah itu artinya dirimu tidak mencintaiku? Batinnya sedih. Matanya yang hitam bening nampak mulai berkaca-kaca.

 

Ririn tersadar sedang berada di toko buku yang ramai oleh pembeli. Dia melirik pengunjung disebelahnya yang tengah asyik membaca, begitu juga yang berada agak jauh darinya. Sepertinya semua sedang asyik dengan kegiatan masing-masing.

 

Kembali arah matanya tertuju pada deretan novel. Perlahan jemarinya terangkat nyaris menyentuh buku tersebut namun kemudian batal. Hanya helaan nafas yang terdengar sebelum akhirnya dia melangkah keluar meninggalkan toko buku.

 

Kenangan pahit itu kembali membayang. Kisah yang ingin dilupakannya mendadak hadir saat melihat kembali novel itu di antara deretan buku-buku. Wajah lelaki yang pernah menyentuh hatinya seolah hadir di depannya.

 

Memory menyakitkan enam bulan yang lalu terekam jelas dalam pikirannya...

 

Malam telah melewati angka sebelas namun dikamarnya yang remang-remang dengan hanya lamput tidur sebagai penerang, Ririn duduk menghadap meja belajarnya. Sebuah buku dan bungkusan kado berwarna pink tergeletak di atas meja. Tatapannya tak lepas melihat kedua benda tersebut secara bergantian.

 

Novel berjudul Mencintaimu Karena Allah akhirnya terbeli juga tadi siang. Dua hari gadis itu berpikir, menimbang-nimbang sebelum akhirnya langkahnya pasti menuju toko buku. Sayangnya, meski buku itu telah berada didalam kamarnya, berada dekat dengan dirinya, tak selembarpun sempat dia baca.

 

Hanya judul novel itu yang terus menerus di ulangnya. Ririn enggan membuka apalagi membacanya meski rasa penasaran terus menggelayut dan mengingatkan dirinya.

 

“Haruskah aku membacanya?” gumamnya sambil menyentuh cover novel tersebut. Ada rasa takut yang hinggap di benaknya. Gadis itu selalu saja terngiang akan ucapan seseorang padanya.

 

“Aku menyukaimu, mbak. Maukah menikah denganku?” suara lelaki yang dikenalnya beberapa bulan yang lalu. Lelaki yang dengan berani menyatakan perasaannya.

 

“Kita baru saja bertemu. Bagaimana mas bisa menyukaiku secepat itu?” tanya Ririn kala itu. Dan senyuman menggetarkan kembali dihadirkan lelaki itu.

 

“Aku mencintaimu karena Allah. Tidak ada alasan lain. Allah yang telah menggerakkan hatiku.”

 

Ririn hanya bisa tertegun tak percaya. Seorang lelaki tampan datang padanya tanpa isyarat mimpi sekalipun. Melamarnya padahal mereka belum pernah bertemu.

 

“Mas bisa menunggu? Saya harus berpikir dulu. Ini telalu mendadak.” Katanya kemudian dengan debaran jantung berpacu cepat. Lelaki itu mengangguk sambil tersenyum seolah paham apa yang diinginkan Ririn.

 

Waktu berlalu, gadis itu akhirnya menerima niat baik lelaki yang kemudian diketahuinya bernama Heru. Sikapnya yang santun serta tutur katanya yang sopan makin melengkapi kepercayaan Ririn padanya.

 

“Besok ulang tahunnya, hadiah yang mana yang akan aku berikan? Novel ini ataukah ini?” gumam Ririn lagi sembari menyentuh kedua benda di atas meja.

 

Hatinya kemudian mantap. Dibukanya bungkus kado warna pink lalu memasukkan novel itu bersamaan kemudian membungkusnya kembali. Dia tak perlu membaca buku itu, biarlah itu menjadi hadiah bagi lelaki yang telah meminangnya.

 

***

 

“Assalamu Alaikum.” Sapa Ririn ketika langkahnya tepat di depan pintu sebuah pondokan. Seorang gadis manis tersenyum menyambutnya.

 

“Wa Alaikum Salam.” Balas gadis itu.

 

“Mas Heru ada?”

 

“Mbak teman mas Heru? Kamarnya di atas, lantai dua nomor 5. Ketuk aja. Orangnya ada kok, tadi aku lihat.”

 

Ririn melangkah masuk. Dia memang sengaja tak memberitahukan kedatangannya di minggu siang ini. Pertama kali dia datang ke tempat kost Heru untuk memberi kejutan ulang tahun. Ada rasa gugup dan kikuk karena Ririn tak biasa berkunjung ke tempat lelaki.

 

Jemarinya mengetuk pintu, sengaja dia tak mengucapkan salam agar tak langsung ketahuan. Diulangnya kembali mengetuk pintu namun tetap tak dibuka. Ketukan ketiga dan keempat, pintu akhirnya terbuka.

 

Nampak Heru dengan keringat di wajahnya yang kemerahan. Lelaki itu terkejut dan tak sempat berkata-kata ketika kemudian Ririn tanpa sengaja mengintip kedalam dan melihat seorang gadis tengah merapikan pakaian yang dikenakannya. Gadis itu kemudian berlari menyingkir masuk ke dalam kamar mandi.

 

“Mbak Ririn..kenapa nggak bilang-bilang mau kemari?” tanya Heru panik. Lelaki itu bahkan tak sempat mempersilahkan Ririn untuk masuk ke dalam kamar kostnya.

 

Dia terlupa jika Ririn bukan anak kecil yang tak paham situasi. Gadis yang tengah berdiri dihadapannya berusia 24 tahun yang tak perlu penjelasan saat melihat kejadian seperti tadi. Ririn paham. Hatinya terluka dan  hanya bisa menatap dengan tangis yang tertahan.

 

“Selamat ulang tahun mas. Ini kado dan kue ulang tahun untuk mas. Tolong jangan permainkan gadis itu. Aku yang akan mengalah. Assalamu Alaikum.”

 

Selesai berkata, Ririn berjalan pelan, menjauh meninggalkan Heru yang hanya bisa terpaku pasrah. Langkah kaki Ririn kian cepat saat Heru tak lagi nampak dalam pandangannya. Di dalam taksi, tangisnya meledak. Hatinya sakit bagai tersayat sembilu.

 

“Mencintaiku karena Allah, apa itu artinya dirimu tidak mencintaiku mas?” batinnya pedih dengan air mata berlinang.

 



 


 

0 komentar:

Posting Komentar