
Ririn terpaku menatap novel berjudul
Mencintaimu Karena Allah. Sejenak gadis itu mengeja kalimat judul seraya
bergumam lirih. Hatinya bergetar teringat seseorang yang pernah mengucapkan
kalimat tersebut. Luka lama seolah berdarah kembali.
Apakah itu artinya dirimu tidak
mencintaiku? Batinnya sedih. Matanya yang hitam bening nampak
mulai berkaca-kaca.
Ririn tersadar sedang berada di toko buku
yang ramai oleh pembeli. Dia melirik pengunjung disebelahnya yang tengah asyik
membaca, begitu juga yang berada agak jauh darinya. Sepertinya semua sedang asyik
dengan kegiatan masing-masing.
Kembali arah matanya tertuju pada deretan
novel. Perlahan jemarinya terangkat nyaris menyentuh buku tersebut namun
kemudian batal. Hanya helaan nafas yang terdengar sebelum akhirnya dia
melangkah keluar meninggalkan toko buku.
Kenangan pahit itu kembali membayang. Kisah
yang ingin dilupakannya mendadak hadir saat melihat kembali novel itu di antara
deretan buku-buku. Wajah lelaki yang pernah menyentuh hatinya seolah hadir di
depannya.
Memory menyakitkan enam bulan yang lalu terekam jelas
dalam pikirannya...
Malam
telah melewati angka sebelas namun dikamarnya yang remang-remang dengan hanya
lamput tidur sebagai penerang, Ririn duduk menghadap meja belajarnya. Sebuah
buku dan bungkusan kado berwarna pink tergeletak di atas meja. Tatapannya tak
lepas melihat kedua benda tersebut secara bergantian.
Novel
berjudul Mencintaimu Karena Allah akhirnya terbeli juga tadi siang. Dua hari
gadis itu berpikir, menimbang-nimbang sebelum akhirnya langkahnya pasti menuju
toko buku. Sayangnya, meski buku itu telah berada didalam kamarnya, berada
dekat dengan dirinya, tak selembarpun sempat dia baca.
Hanya
judul novel itu yang terus menerus di ulangnya. Ririn enggan membuka apalagi
membacanya meski rasa penasaran terus menggelayut dan mengingatkan dirinya.
“Haruskah
aku membacanya?” gumamnya sambil menyentuh cover novel tersebut. Ada rasa takut
yang hinggap di benaknya. Gadis itu selalu saja terngiang akan ucapan seseorang
padanya.
“Aku
menyukaimu, mbak. Maukah menikah denganku?” suara lelaki yang
dikenalnya beberapa bulan yang lalu. Lelaki yang dengan berani menyatakan
perasaannya.
“Kita
baru saja bertemu. Bagaimana mas bisa menyukaiku secepat itu?”
tanya Ririn kala itu. Dan senyuman menggetarkan kembali dihadirkan lelaki itu.
“Aku
mencintaimu karena Allah. Tidak ada alasan lain. Allah yang telah menggerakkan
hatiku.”
Ririn
hanya bisa tertegun tak percaya. Seorang lelaki tampan datang padanya tanpa
isyarat mimpi sekalipun. Melamarnya padahal mereka belum pernah bertemu.
“Mas
bisa menunggu? Saya harus berpikir dulu. Ini telalu mendadak.” Katanya
kemudian dengan debaran jantung berpacu cepat. Lelaki itu mengangguk sambil
tersenyum seolah paham apa yang diinginkan Ririn.
Waktu
berlalu, gadis itu akhirnya menerima niat baik lelaki yang kemudian
diketahuinya bernama Heru. Sikapnya yang santun serta tutur katanya yang sopan
makin melengkapi kepercayaan Ririn padanya.
“Besok
ulang tahunnya, hadiah yang mana yang akan aku berikan? Novel ini ataukah ini?”
gumam Ririn lagi sembari menyentuh kedua benda di atas meja.
Hatinya
kemudian mantap. Dibukanya bungkus kado warna pink lalu memasukkan novel itu
bersamaan kemudian membungkusnya kembali. Dia tak perlu membaca buku itu,
biarlah itu menjadi hadiah bagi lelaki yang telah meminangnya.
***
“Assalamu
Alaikum.” Sapa Ririn ketika langkahnya tepat di depan pintu sebuah pondokan.
Seorang gadis manis tersenyum menyambutnya.
“Wa
Alaikum Salam.” Balas gadis itu.
“Mas
Heru ada?”
“Mbak
teman mas Heru? Kamarnya di atas, lantai dua nomor 5. Ketuk aja. Orangnya ada
kok, tadi aku lihat.”
Ririn melangkah masuk. Dia memang sengaja tak
memberitahukan kedatangannya di minggu siang ini. Pertama kali dia datang ke
tempat kost Heru untuk memberi kejutan ulang tahun. Ada rasa gugup dan kikuk
karena Ririn tak biasa berkunjung ke tempat lelaki.
Jemarinya mengetuk pintu, sengaja dia tak
mengucapkan salam agar tak langsung ketahuan. Diulangnya kembali mengetuk pintu
namun tetap tak dibuka. Ketukan ketiga dan keempat, pintu akhirnya terbuka.
Nampak Heru dengan keringat di wajahnya yang
kemerahan. Lelaki itu terkejut dan tak sempat berkata-kata ketika kemudian
Ririn tanpa sengaja mengintip kedalam dan melihat seorang gadis tengah
merapikan pakaian yang dikenakannya. Gadis itu kemudian berlari menyingkir
masuk ke dalam kamar mandi.
“Mbak Ririn..kenapa nggak bilang-bilang mau
kemari?” tanya Heru panik. Lelaki itu bahkan tak sempat mempersilahkan Ririn
untuk masuk ke dalam kamar kostnya.
Dia terlupa jika Ririn bukan anak kecil yang
tak paham situasi. Gadis yang tengah berdiri dihadapannya berusia 24 tahun yang
tak perlu penjelasan saat melihat kejadian seperti tadi. Ririn paham. Hatinya
terluka dan hanya bisa menatap dengan tangis yang tertahan.
“Selamat ulang tahun mas. Ini kado dan kue
ulang tahun untuk mas. Tolong jangan permainkan gadis itu. Aku yang akan
mengalah. Assalamu Alaikum.”
Selesai berkata, Ririn berjalan pelan,
menjauh meninggalkan Heru yang hanya bisa terpaku pasrah. Langkah kaki Ririn
kian cepat saat Heru tak lagi nampak dalam pandangannya. Di dalam taksi, tangisnya
meledak. Hatinya sakit bagai tersayat sembilu.
“Mencintaiku karena Allah, apa itu artinya
dirimu tidak mencintaiku mas?” batinnya pedih dengan air mata berlinang.

0 komentar:
Posting Komentar