El Cuento by Elle Dudina
Aku keluar dari rumah mas Rivan lalu berlari menjauh sambil berurai air mata. Hatiku benar-benar hancur dan terluka. Lariku kian kencang dibawah rintik hujan yang perlahan menjadi deras sederas air mataku. Suasana sekitar yang remang-remang karena pengaruh hujan tak menyurutkan kakiku untuk terus berlari.
Sebuah mobil melaju pelan dari kejauhan. Aku menghentikan lariku dan mulai berjalan. Lampu sorot mobil tersebut makin lama menyinariku. Aku berhenti sejenak ketika mobil itu melewatiku lalu kembali melanjutkan langkahku.
“Dena?” sentuhan tangan menahan langkahku. Aku berbalik kaget dan menatap dengan jelas pria yang baru saja menyentuh bahuku.
“Mas Kembara?” Kembara menatapku bingung. Sementara arimataku tak juga surut malah semakin deras mengalir saat aku tahu pria yang ada dihadapanku saat ini adalah Kembara. Aku menunduk sambil menyeka airmataku sementara Kembara menyentuh pundakku, menuntunku masuk ke dalam mobilnya.
“Kamu ikut kerumahku saja.” Aku pasrah saja. Saat ini pikiranku kacau. Kembara nampakanya maklum akan keadaanku. Sepanjang jalan menuju rumahnya, pria itu tak berkomentar apapun. Aku masih terisak dan menyusut airmataku dengan tanganku.
“Turunlah.” Kembara berkata sesaat sebelum dia membuka pintu mobil. Kami telah tiba di garasi rumahnya. Aku membuka pintu mobil perlahan lalu mengikutinya. Kembara membuka pintu lalu berjalan terus menuju ruang tengah, meletakkan kunci mobil di atas meja kemudian kedapur membuka lemari es..
Aku duduk di sofa, menyandarkan tubuhku dengan pipi yang masih dialiri airmata. Kembara meletakkan dua botol minuman di depanku lalu dia melangkah menuju pintu, menutupnya kemudian mendekatiku. Dia duduk disebelahku, tetap tak ada komentar. Hanya isakku yang terdengar di antara gemericik suara pancuran mini yang ada disudut ruangan.
Kembara meneguk minumannya, meletakkannya kembali lalu melihatku.
“Ada apa? Keadaanmu tentu tidak sedang baik-baik saja,kan?” tebaknya sambil berbalik menghadapku.
Pertanyaan Kembara makin menambah sedih dalam hatiku. Aku hanya bisa menunduk sambil menangis. Perlahan tangan Kembara terulur, menyentuh daguku, memalingkan wajahku menghadapnya. Kemudian jemarinya menghapus air mataku, lembut sangat lembut.
Aku hanya terdiam menerima setiap sentuhannya tanpa berani untuk menatapnya. Sejauh ini yang ada dalam pikiranku, adalah sikap Kembara sebagai wujud perhatian seorang sahabat. Aku pernah menemaninya saat dia terluka dan mungkin ini adalah bentuk balas jasa yang dia berikan atas bantuan kecilku saat itu.
Kembara menarik tubuhku kedalam pelukannya, aku terhenyak kaget namun tak berniat untuk melepaskan diri. Kubiarkan pria ini mendekapku, mengelus rambutku dengan penuh sayang. Kurasakan hatiku tenang dalam pelukannya. Tak ada kata-kata hanya nafasnya yang terasa hangat menyentuh tubuhku. Aku baru tahu jika Kembara juga bisa bersikap lembut dan penuh perhatian.
Entah berapa lama kami berdua larut dalam diam.
“Perasaanmu sudah tenang?” Kembara bertanya, aku mengangguk lalu dia melepaskan pelukannya namun tangannya tetap melekat dibahuku.
“Aku siap mendengarkan tapi kalau kamu tidak mau bercerita juga tidak apa-apa. Aku tadi khawatir jika melepasmu keluar dengan kondisimu yang drop.”
“Aku udah baikan mas.” Kataku sembari menyusut airmataku dengan tissu yang kuambil di atas meja. Bertemu Kembara malam ini benar-benar anugerah bagiku. Aku tidak bisa membayangkan jika dengan kondisi yang kacau seperti tadi aku tiba di rumah. Orang-orang rumah seketika akan heboh. Dan ujung-ujungnya mas Damar akan mencecarku dengan pertanyaan.
Jika aku menceritakan tentang mas Rivan, reaksi mas Damar tentu saja seperti yang aku pikirkan. Kakakku itu kemungkinan akan melabarak mas Rivan karena merasa ditipu. Aku tidak ingin hal itu terjadi. Jika kemudian tak ada kabar dari mas Rivan lagi, biarlah aku yang akan menjelaskan dengan caraku. Mas Rivan kini bukan lagi impianku, dia naik status jadi kenangan. Kenangan yang tak mungkin dapat aku lupakan.
“Bagaimana keadaanmu? Masih ingin tinggal atau aku antar pulang sekarang?”
“Nasib kita sama, mas..” Aku tak menjawab pertanyaan Kembara.
“Aku masih ingat saat mas mengatakan, betapa bodohnya mas karena terus terkungkung dengan masa lalu. Mas mengira cinta mas masih setia seperti masa lalu. Ternyata yang terjadi tidak seperti yang mas angankan.”
Kembara menyimak ucapanku.
“Aku baru saja lepas dari jeratan masa lalu yang selama ini menjadi penopang hatiku. Aku memendam asa selama bertahun-tahun. Ternyata aku salah besar menantinya. Menanti seseorang yang sama sekali tak pernah mengingatku kecuali hanya untuk menyelesaikan masalahnya. Nasibku sangat menyedihkan bukan?”
Kembara menyodorkan botol minuman. Aku menerima lalu menyeruput sedikit saja.
“Aku tidak akan memberimu nasehat, hanya lihatlah diriku sekarang. Aku baik-baik saja. Semua memang butuh proses dan karena aku sudah melalui semuanya dengan susah payah, aku tahu tahu kamu juga akan demikian. Tapi jangan khawatir, Dena. Semua akan indah pada waktunya.”
“Terima kasih, mas. Aku beruntung banget bertemu mas Kembara. Seandainya aku langsung pulang tadi, aku tidak bisa membayangkan respon keluargaku saat melihatku. Mereka pasti akan sangat khawatir.”
“Aku hanya penasaran mengapa kamu berada di kompleks ini. Sebenarnya kamu darimana?”
Mendadak aku teringat pernah melihat mas Kembara di kantor mas Rivan. Berarti keduanya saling mengenal.
“Aku dari rumah mas Rivan..”
“Rivan? Rivan siapa?”
“Rivandi Setiawan..”
Kembara terpaku menatapku.
“Apa dia yang telah menyakitimu? Benar dia?” sorot mata Kembara penuh kemarahan.
“Aku pernah melihat mas Kembara di kantor mas Rivan, karena itu aku mengira kalian berteman.”
“Dia bukan hanya teman, Dena tapi dia adalah sepupuku. Sepupuku yang selalu membuatku naik darah.”
“Aku kerja di kantornya.”
“Jawab dulu pertanyaanku, apa dia yang telah menyakitimu?”
“Mas Rivan tidak salah, akulah yang salah menafsirkan sikapnya..”
“Berarti benar dia yang telah membuatmu menangis tadi, lelaki itu benar-benar membuatku muak. Aku akan kerumahnya sekarang.”
Kembara beranjak berdiri membuatku terkejut. Aku mengejarnya, memegang lengannya.
“Jangan mas, aku tidak ingin ada pertengkaran lagi. Sudah cukup kejadian tadi membuatku terluka.”
“Aku benar-benar kesal padanya, Dena. Selama ini aku tetap menghormati privacy dia dengan tidak mendatangi rumahnya. Aku tidak ingin urusan kantor diselesaikan dirumahnya. Karena kemungkinan kami akan ribut dan pengaruhnya tidak akan baik bagi istrinya..”
“Mas Kembara tahu mas Rivan memiliki istri?” mataku membelalak kaget.
“Jelas saja aku tahu, akukan sepupunya. Dan aku juga tahu dia bisa mencapai posisi seperti sekarang karena pengaruh istrinya itu. Rivan sangat marah dan membenciku ketika tahu paman mewariskan seluruh hartanya hanya padaku padahal masih ada beberapa ponakan yang statusnya sama denganku. Tapi tak ada yang bisa dia lakukan untuk merubah keputusan paman. Hingga akhirnya aku bertemu kembali dengannya dalam satu tender proyek. Aku kaget melihat dirinya yang telah jadi direktur. Perubahan yang sangat cepat untuk dia raih dengan kondisi ekonomi yang aku tahu biasa saja. Bagaimana mungkin dia bisa meraih semua itu dalam tempo singkat. Ternyata perusahaan itu milik istrinya. Dia menjalankan perusahaan mewakili istrinya.”
“Mas Kembara pernah bertemu dengan istrinya?” Kembara mengangguk.
“Namanya Tiara. Dia wanita yang cantik hanya sayang kedua kakinya diamputasi karena kecelakaan....” Kembara menghentikan ucapannya lalu menatapku lekat-lekat. Tatapannya serasa menghujam ke mataku.
“Apa lelaki dari masa lalumu itu si Rivan?” sorot mata Kembara penuh selidik. Aku tak menjawab. Diamku malah membuat Kembara makin yakin.
“Jadi benar si Rivan? Astaga, mengapa serba kebetulan begini. Kenapa kita bisa berurusan dengan pria yang sama. Aku benar-benar kesal padanya karena selalu mengambil alih tender yang sudah aku dapatkan. Sepupuku itu selalu memancing kemarahanku. Aku tahu dia sengaja melakukannya untuk balas dendam. Dia ingin menghancurkan usahaku. Tidak punya hati. Keterlaluan..”
Aku hanya termangu melihat Kembara menumpahkan kekesalannya.
“Tapi kenapa kamu bisa bekerja di kantornya?”
“Kakakku mengenalnya dan berencana menjodohkan kami. Untuk lebih mendekatkan kami, mas Damar memintaku mewakili perusahaannya dan berkantor di tempat mas Rivan.”
“Astaga sampai sejauh itu Si Rivan bertindak? Dia bahkan tidak mengaku jika sudah menikah. Terlalu. Benar-benar terlalu...”
“Sudahlah, mas. Jangan membicarakan mas Rivan lagi. Hatiku terlalu sakit untuk mengingatnya.”
“Lalu apa yang akan kamu lakukan selanjutnya? Tetap ingin berkantor di tempatnya?”
Aku mengangguk pelan.
“Meski berat tapi aku tidak boleh mencampurkan urusan kerja dengan perasaan. Mas Damar akan semakin curiga jika mendadak aku berhenti. Aku harus profesional meski bekerja pada kakak sendiri.”
“Good. Keputusan yang tepat. Aku setuju tindakan yang kamu pilih...”
“Mulai sekarang tidak ada lagi mas Rivan dalam hatiku. Aku harus mulai babak baru..”
Kembara menatapku dengan wajah sumringah. Ternyata ucapanku membuatnya senang hingga tangannya terentang lalu memelukku. Jika tadi aku merasa biasa-biasa saja tak merasakan getar-getar saat dalam pelukannya, kini seperti ada desiran halus yang menyeruak dalam hatiku terus menjalar hingga ke seluruh tubuhku. Lama-lama aku gugup dan tak sanggup berada dalam dekapannya.
Aku melepaskan diri perlahan. Kembara juga terlihat kikuk. Kami berdua salah tingkah dan hanya bisa saling senyum.
“Mas Kembara bisa mengantarkan aku pulang?”
Kembara mengangguk cepat lalu mengambil kunci mobilnya. Aku melangkah lebih dulu menuju teras.
“Yuk?” ajak Kembara lalu mendekati mobil, membuka pintunya.
Aku membuka pintu mobil lalu duduk di jok mobil yang terasa hangat. Kembara menanyakan alamat rumahku lalu suasana menjadi hening. Kami hanya terdiam mendengarkan suara Astrid yang mengalun merdu dari tape mobil.
“Sejak kapan Dena keluar dari tempat kerja yang di toko itu?” Kembara membuka percakapan.
“Belum lama mas, kakakku menawarkan kerjaan di kantornya.”
“Begitu ya. Padahal aku juga lagi butuh asisten. Awalnya aku kepikiran mau tawarin ke kamu, tapi ternyata kamu udah kerja di tempat kakakmu.”
“Sayang sekali ya, mas. Aku tidak mungkin keluar dari kantor kakakku.”
“Iya. Seandainya...ini seandainya,, ya Dena nggak betah atau mungkin ingin coba situasi baru, lowongan di tempatku masih terbuka. Aku merasa yang pas untuk posisi itu hanya Dena.”
Aku memikirkan ucapan mas Kembara. Sebenarnya andai aku diberi pilihan, aku tidak ingin lagi berkantor di tempat mas Rivan. Ingin melupakannya tapi terus menerus bertemu dengannya bukankah usahaku akan sia-sia? Bagaimana aku bisa melupakan jika lelaki itu selalu tampak di mataku? Tapi untuk mengambil keputusan saat ini sepertinya kurang tepat karena mas Damar akan memasang antena curiga setinggi-tingginya dan pasti dia kan menghubungkannya dengan mas Rivan. Ini tentu akan merembet pada tender proyek yang telah mereka sepakati bersama. Memikirkan itu kepalaku makin puyeng. Aku baru saja menjalin hubungan yang baik dengan mas Damar. Aku tidak ingin menimbulkan masalah lagi seperti waktu-waktu yang lalu.
“Kok melamun? Bersikaplah biasa saja saat bertemu dengan Rivan. Anggap tidak pernah terjadi sesuatu yang membuatmu terluka. Tak ada pilihan bagi orang-orang yang terluka selain menerima luka itu sendiri. Semakin kita menyalahkan keadaan, menyalahkan orang lain, menyalahkan diri kita sendiri, itu justru kian memperparah luka kita. Cobalah ikhlas, lepaskan satu persatu. Yakin deh, Dena akan tenang dan akhirnya akan berpikir, ternyata hidup tak sesulit yang Dena pikirkan.”
“Contohnya aku. Dena masih ingatkan bagaimana hancurnya aku saat mengetahui keadaan Siska. Rasanya aku ingin mengulang kembali masa lalu dan mengumpulkan serpihan waktu yang telah terbuang sia-sia karena terus mengharapkannya. Padahal itu sesuatu yang mustahil untuk aku lakukan. Bagaimana aku bisa kembali ke masa lalu dan mengulangi langkahku dari awal? Karena keikhlasan maka semuanya bisa aku lalui.
Aku tak akan bisa hidup tenang jika tak berdamai dengan masa lalu. Karena seperih apapun yang aku terima, tetap perjalanan yang telah aku lewati adalah pelajaran penting untukku di masa depan. Banyak hal yang bisa jadi pembelajaran untuk mengambil langkah-langkah selanjutnya. Dibanding jika aku terus menyesali akibat yang ditimbulkan karena keputusanku di masa lalu. Tetap yang terpenting adalah masa sekarang dan masa depan.”
Aku menyimak ulasan Kembara yang panjang. Apa yang dikatakannya memang benar. Berdamai dengan luka agar aku tidak lebih terluka lagi. Aku tersenyum sambil menatapnya, saat bersamaan Kembara juga melihatku. Aku mengalihkan pandanganku ke depan karena desiran halus itu hadirkan debar-debar dijantungku. Aku tak tahu apakah rasa ini hadir karena sikap lembut Kembara padaku ataukah aku memang memiliki perasaan khusus padanya? Namun yang bisa aku akui saat ini adalah rasa terpesona itu sepertinya ada. Berbeda saat pertemuan kami di waktu yang lalu.
****
Pagi hari saat aku berniat mencegat taksi, mendadak sebuah mobil menyalip taksi tersebut dan tepat berhenti di depanku. Aku mengenalnya, itu mobil Kembara. Aku merasa aneh. Ada apa hingga Kembara muncul pagi-pagi dan tidak menelponku terlebih dahulu?
Pria itu turun dari mobilnya, menghampiriku dengan senyum yang sangat manis.
“Aku belum terlambatkan?” sapanya. Aku hanya bisa bengong melihatnya.
“Ada apa mas Kembara kemari?”
“Menjemputmu. Kebetulan aku akan ke kantor Rivan. Sekalian aja kita bareng. Tujuan kita kan sama?” Kembara tak memberiku kesempatan untuk menerima alasannya, pria itu menuntunku masuk ke dalam mobilnya.
“Anggap saja jemputanku ini karena aku tidak ingin sendirian datang kesana.” Ucapnya lagi sembari menyetir.
“Bagaimana tidurmu? Nyenyak?” aku mengangguk.
“Makasih mas, perasaanku semalam benar-benar tenang hingga aku bisa tidur dengan nyenyak tanpa terbebani perasaan sedih.”
“Baguslah kalau seperti itu..”
Sepanjang jalan kami berbincang tentang banyak hal. Kami tertawa karena terkadang obrolan kami terasa lucu. Namun Kembara tak tahu jika aku terus mengamati perubahan sikapnya. Jika dulu saat bertemu dengannya pertama kali kesan yang tampak dia sangat kaku dan tak tahu cara memperlakukan wanita. Sekarang sikapnya sangat lembut. Wajar jika Siska jatuh cinta padanya. Kesedihannya waktu itu mungkin yang menyebabkan dirinya kehilangan rasa empati pada orang lain.
Kami tiba di kantor Rivan. Kembara terburu-buru turun dari mobil lalu membukakan pintu mobil untukku. Aku terkesima. Perhatian yang nyaris menerbangkan diriku ke awan-awan putih yang menghiasi langit. Aku mengucapkan terima kasih lalu kami beriiringan masuk ke dalam kantor. Aku berhenti di ruanganku sementara Kembara menuju ke ruangan mas Rivan.
Rasa penasaran membuatku gelisah dalam ruangan. Sesekali aku membuka pintu lalu mengamati ruangan mas Rivan. Apakah Kembara masih berada di sana ataukah pria itu sudah keluar dan meninggalkan kantor ini? Aku akhirnya menelpon Kembara, aku khawatir karena semalam pria itu tampaknya sangat marah pada mas Rivan.
“Halo..” suara datar Kembara terdengar.
“Mas..”
“Ntar telponnya ya Dena, aku masih di ruangan direktur. Sabar ya, ntar aku telpon balik.”
Telpon di tutup. Aku tertegun mendengar suara Kembara yang sangat lembut. Apakah Kembara tak tahu jika aku berdebar-debar mendengar suaranya? Kuletakkan handphone lalu buru-buru membuka komputer di depanku. Aku tidak boleh terbuai dengan pesona yang dihadirkan Kembara. Sikapnya yang penuh perhatian serta suaranya yang lembut menggetarkan, mungkin saja karena aku sedang terluka. Kehadiran Kembara seperti oase di tengah padang yang tandus.
Aku menghentikan kegiatanku. Mendadak aku teringat Farhan. Sejak sms nya yang terakhir kemarin tak ada lagi pesan atau telpon darinya. Biasanya dia akan menghubungiku sebelum tidur malam hari, tapi semalam tak ada ucapan selamat tidur darinya. Apakah Farhan marah padaku?
Aku menelponnya. Tak diangkat. Mungkin dia sibuk, pikirku. Kuletakkan kembali handphone dan mulai menyibukkan diri menyelesaikan pekerjaanku. Aku tak ingin memikirkan pertemuan kembara dengan Rivan. Biarlah mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri. Saat ini aku sedang bekerja dan aku harus konsentrasi demi nama baik mas Damar.
Terlalu asyik di depan komputer aku tidak menyadari seseorang ternyata telah membuka pintu dan berdiri di hadapanku.
“Sudah saatnya makan siang? Tidak ingin keluar makan bersamaku?”
Aku mendongak kaget. Kembara tersenyum dengan sangat manisnya.
“Mas Kembara, kapan masuknya?” Kembara tertawa melihatku ekspresi kaget di wajahku.
“Baru saja. Bagaimana? Tawaran makan siang masih berlaku.”
Aku mengangguk cepat, kebetulan perutku sudah menjerit minta di isi. Ku matikan komputer, merapikan dokumen lalu meraih tasku. Kami berdua keluar dari ruanganku. Kembara benar-benar membuatku terkejut. Saat masuk ke dalam lift, pria itu merangkulku. Aku hanya bisa mendelik kaget. Ada apa dengan pria ini? aku terus bertanya-tanya dalam hati.
Saat dalam perjalanan, handphoneku berdering nada panggil. Dari Farhan. Aku menerimanya,
“Halo..”
“Tadi menelponku. Ada apa?” suara Farhan dari seberang terdengar datar.
“Oh, aku cuma mau menanyakan kabarmu. Maaf kemarin aku sibuk banget.”
“Iya. Aku tahu.” Masih tetap datar dan terkesan dingin.
“Kamu baik-baik saja?” aku mulai cemas.
“Baik.”
“Kamu tidak apa-apa kan?”
“Aku tutup dulu ya, ada kerjaan..” Farhan menutup pembicaraan.
Kupandangi handphone dengan layar yang tak tagi menampilkan nama Farhan. Jantungku tiba-tiba berdebar dan perasaanku tak nyaman. Tak biasanya sikap Farhan seperti ini. Sangat dingin dan tak peduli padaku.
“Dari siapa?” Suara Kembara membuyarkan lamunanku.
“Dari teman.”
“Oww..” Sahut Kembara. Pria itu tak bertanya lagi hingga kami singgah di sebuah rumah makan.
Sikap penuh perhatian kembali ditunjukkan Kembara saat kami makan bersama. Beberapa pasang mata bahkan memperhatikan kami hingga aku merasa kikuk. Jantungku kian berdebar cepat saat Kembara menyentuh ujung bibirku, ternyata dia hendak menyingkirkan nasi yang numpang narsis di sudut bibirku. Aku hanya bisa tersipu malu. Kurasakan wajahku merona Seharusnya Kembara memberi isyarat tidak lantas bertindak sesuai keinginannya.
“Pertemuan dengan mas Rivan bagaimana mas?” tanyaku saat kami selesai makan dan tengah menikmati jus alpukat.
“Tidak berjalan mulus tapi tidak sampai bertengkar hebat apalagi adu jotos.”
Aku menarik nafas lega.
“Syukurlah. Aku cemas sampai tidak konsentrasi tadi.”
“Cemas memikirkan siapa? Aku atau si Rivan?’ Kembara melihatku dengan tatapan menggoda. Aku tergagap.
“Tentu saja mencemaskan mas Kembara.”jawabku.
“Sebenarnya kamu khawatir aku membuatnya terluka. Iya,kan?”
“Bukan begitu. Sumpah mas, aku benar-benar cemas..”
“Iya, aku percaya. Artinya aku harus bahagia karena ada seorang gadis yang mengkhawatirkan diriku.”
Kembara menyeruput jus alpukatnya, aku juga tapi sambil curi-curi pandang aku meliriknya. Apakah yang tadi ekspresi cemburu dari Kembara atau untuk mencari tahu apakah aku masih memikirkan mas Rivan? Aku memejamkan mataku. Pikiranku makin kacau saja. Kuhabiskan jus alpukatku lalu mendorong gelasnya agak ke tengah meja.
“Kita balik sekarang ya, aku khawatir Rivan mencarimu.” Aku memasang wajah cemberut, Kembara hanya tertawa.
***
Tiga hari berlalu, aku melakukan rutinitas yang biasa. Tetap dengan pekerjaanku di kantor mas Rivan. Kesibukanku tidak membuatku lengah dengan sikap acuh Farhan. Selama tiga hari itu meski sibuk tak lepas-lepas mataku menatap layar handphoneku. Berharap dia menelpon atau mengirim pesan padaku. Akhirnya kesabaranku habis, aku menelponnya.
“Kita bisa bertemu kan?” tanyaku.
“Bisa.” Singkat dan datar.
“Dimana baiknya ya? Apa di tempat biasa aja?” usulku berusaha bersikap riang.
“Terserah kamu.” Aku menghela nafas mencoba bersabar.
“Kamu kenapa sih, Farhan? Kamu nggak senang ya aku telpon?”
“Aku senang.”
“Tapi kenapa jawaban kamu seperti itu?”
“Kita masih pacaran ya, Dena?” Farhan malah balas bertanya.
“Maksudmu apa?” aku diliputi kecemasan. Farhan seolah menyembunyikan sesuatu.
“Sebaiknya kita putus saja. Aku terus bersabar memberimu kesempatan dan membiarkan diriku seperti pemain sepak bola yang pasrah duduk di bangku cadangan. Aku harus sabar melihat jalannya bertandingan sambil berharap pada pemain yang mungkin saja akan digantikan olehku. Tapi aku sedih, karena bukan aku yang terpilih. Aku malah hanya duduk bengong. Karena itu aku putuskan tak akan sabar lagi menjadi pemain cadangan. Lebih baik aku berhenti. Aku tidak akan memberi kesempatan diriku menanti hingga peluit panjang berbunyi dan aku sama sekali tak melakukan apapun. Kita putus.”
(Bersambung)
Desa Rangkat adalah komunitas yang terbentuk
berdasarkan kesamaan minat dalam dunia tulis menulis fiksi. Jika
berkenan silahkan berkunjung, berkenalan, dan bermain peran dan fiksi
bersama kami di Desa Rangkat, klik logo kami.


0 komentar:
Posting Komentar