El Cuento by Elle Dudina
“Farhan, ke...ke..napa ucapanmu seperti ini?”
“Jangan bertanya padaku! bukankah yang lebih tahu adalah dirimu sendiri? Aku sudah muak dengan permintaanmu agar aku mengerti. Keinginanmu untuk terus mencari kepastian dari cinta masa lalu sangat melukaiku. Apa yang akan kamu lakukan seandainya aku juga terus mencari kepastian pada cintaku di masa lalu? Apakah kamu akan baik-baik saja? Baiklah aku juga akan sepertimu. Seseorang di masa lalu sangat merindukanku dan masih mencintaiku. Untuk apa aku menghabiskan waktu mengejar seseorang yang sama sekali tak peduli dan mungkin saja memang benar tidak mencintaiku.”
Telpon ditutup dan aku hanya bisa terpaku. Apakah benar yang baru saja berbicara adalah Farhan? Bagaimana sikapnya bisa ketus seperti itu? Dan permintaan putus darinya, benarkah itu yang baru saja aku dengar? Apakah aku tidak salah mendengar tadi?
Karena panik aku kembali menghubungi Farhan. Kali ini aku tak lagi bisa duduk. Aku berdiri menghadap jendela. Kubiarkan tirainya terbuka agar aku bisa leluasa melihat pemandangan di luar. Batinku tidak tenang. Namun berkali-kali kutelpon, Farhan tetap tak menerimanya.
Aku mengirim pesan sms..
Farhan maafkan aku, banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu. Apakah aku masih memiliki kesempatan itu? Jika masih ada tolong balas pesanku ini
Aku terus menanti dengan harap-harap cemas. Namun tetap tak ada balasan sms dari Farhan, yang ada malah Kembara menelponku, mengajak makan siang. Aneh, ada apa dengan Kembara. Sejak pertemuan kami beberapa hari yang lalu, setiap hari dia mengajakkku makan siang.
Namun kali ini aku menolaknya, aku beralasan masih banyak pekerjaan yang akan aku selesaikan. Pria itu sepertinya kecewa, terdengar dari nada suaranya yang tak lagi riang seperti di awal obrolan. Tapi aku tak boleh larut dalam perhatiaannya. Menurutku sikap Kembara sudah berlebihan.
Setiap pagi pria itu menjemputku, saat istrahat mengajakku makan siang dan ketika jam pulang, dia telah menunggu dengan manis di dekat pintu gerbang untuk mengantarku pulang. Perhatian yang awalnya kusambut baik lama kelamaan seperti mengikatku. Perhatian Kembara sangat menyanjungku. Aku takut terbuai dan melupakan hubunganku dengan Farhan.
Semuanya kini terbukti. Farhan mengucapkan kalimat yang menyesakkan dadaku. Kalimat putus yang membuat pikiranku berkecamuk. Aku hanya bisa menanti hingga jam kantor usai. Ingin rasanya aku segera menemui Farhan dan meminta penjelasan atas ucapannya. Namun waktu seperti enggan beranjak cepat. Kurasakan demi detik sangat lama berlalu.
“Halo, Dena. Kamu dimana?” suara Kembara terdengar dari seberang. Aku tengah duduk dalam taksi yang segera melaju menuju tempat kerja Farhan. Aku sengaja keluar lebih awal dari kantor agar tak bertemu dengan Kembara. Saat ini hubunganku dengan Farhan sedang gawat, aku tidak ingin melibatkan Kembara dalam masalah kami.
“Aku ada urusan mas.” Jawabku.
“Beritahu dimana lokasinya, nanti aku jemput.”
Ya ampun, pekikku dalam hati. Aku hanya bisa melongo mendengar perkataan Kembara.
“Nggak usah, mas. Aku bisa pulang naik taksi.” Aku masih mengelak.
“Baiklah. Hati-hati di jalan..” sahut Kembara sebelum menutup telpon. Aku bernafas lega. Akhirnya pria itu menyerah juga. Aku sangat panik mendengar rencananya untuk menjemputku. Apa yang ada dalam benak Farhan jika Kembara tiba-tiba hadir di tempat kerjanya untuk menjemputku pulang. Akan ada bencana besar. Aku merinding memikirkannya.
Setelah membayar ongkos taksi, aku berlari menuju toko. Beberapa rekan kerja nampak gembira menyambutku walau hanya sebentar kami dapat saling melepaskan rindu, kesibukan mereka membuatku maklum. Setelah menitip pesan pada teman-teman, aku akhirnya menunggu Farhan di warung makan depan toko.
Aku terus menunggunya namun Farhan belum juga muncul. Langit yang mulai menampakkan sinar keemasannya membuatku makin gelisah. Pesan sms kembali terkirim. Tetap tak ada balasan. Dari perasaan khawatir berubah menjadi kesal. Aku mulai marah.
Aku beranjak berdiri lalu mendekati jendela, melihat orang-orang yang lalu lalang keluar masuk toko, namun sosok Farhan tak terlihat. Apakah dia sangat sibuk hingga mengabaikan pesanku ataukah dia benar-benar marah hingga tak mau menemuiku? Aku menebak-nebak tanpa melepaskan pandanganku.
Hampir saja aku lengah dan bermaksud kembali duduk ketika kulihat Farhan keluar dari toko. Dia berjalan menuju parkiran motornya. Aku telah siap untuk keluar dan mendekatinya ketika tiba-tiba Margaretha atau Etha, nampak berjalan kearahnya. Farhan seperti sengaja menunggu gadis itu.
Aku memaksa diriku keluar. Farhan harus melihatku agar dia tahu kehadiranku. Aku berdiri sambil terus mengarahkan pandanganku padanya. Rupanya Farhan melihatku, dia nampak tertegun demikian pula dengan Etha. Keduanya secara bersamaan menatapku. Tapi Farhan tak bereaksi melihatku. Pemuda itu malah memasang helmnya lalu duduk di motor. Etha meski terlihat ragu namun akhirnya duduk manis dibelakang Farhan.
Api cemburu menyeruak dalam hatiku. Mataku panas melihat mereka. Aku teringat dengan ucapan Farhan, jika cinta masa lalunya masih mengharapkannya. Apakah yang dia maksud adalah Etha? Bukankah mereka dulunya adalah sepasang kekasih? Jika benar berarti Farhan benar-benar membuktikan ucapannya untuk bersikap seperti diriku. Kembali pada cinta masa lalu.
Namun keberuntungan rupanya belum berpihak padaku. Jantungku nyaris copot saat mobil Kembara tiba-tiba berhenti tepat didepanku. Pria itu keluar sambil menyunggingkan senyumnya. Aku hanya bisa pasrah melihatnya mendekatiku sementara di depanku melintas Farhan dan Etha. Tatapan Farhan sangat dingin. Aku tak bisa menebak apa yang ada dalam pikirannya saat melihatku berdua dengan Kembara.
Aku menjerit dalam hati, rasanya ingin berteriak memaki Kembara yang tiba-tiba saja muncul merusak rencanaku. Darimana pria ini tahu aku berada di depan warung ini?!? susah payah aku menghindarinya, malah dia muncul di saat yang tidak tepat. Tersenyum manis lagi. Aku tak tahan lagi meredam emosiku hingga aku hanya bisa menangis melihatnya. Makianku hanya terpendam dalam hati.
Aku berjalan menuju jalan raya, Kembara rupanya tak menduga aku akan meninggalkannya. Pria itu mengejarku lalu memegang lenganku.
“Ada apa, Dena? Kenapa kamu menangis?” Kembara berdiri di depanku. Menahan langkahku.
Airmataku kian deras. Hatiku sakit. Perasaan luka berbaur jadi satu. Sementara Kembara menatapku tanpa rasa berdosa. Aku tak tahu haruskah aku menyalahkan dirinya ataukah menyalahkan diriku yang begitu bodoh untuk datang ke tempat ini dan melihat sendiri Farhan dan Etha berboncengan berdua.
“Kenapa mas Kembara menyusulku?” tanyaku disela isakku.
“Menyusulmu? Siapa yang menyusulmu? Aku malah kaget bertemu denganmu di tempat ini. Tadinya aku bermaksud makan di warung itu. Eh, malah bertemu kamu. Karena itu aku sangat gembira, kebetulan yang menyenangkan.”
Bukan kebetulan yang menyenangkan! Batinku kesal. Ku seka airmataku. Kembara tampaknya sangat gembira bertemu denganku. Mungkin baginya serasa mendapat durian runtuh . Aku yang malang. Bagaimana caranya aku menjelaskan pada Farhan sementara jelas dan nyata dia melihatku dengan Kembara? Pikiranku mendadak buntu.
“Kamu kenapa Dena? Apa ada yang membuatmu sedih? Aku minta maaf, tapi aku benar-benar tidak tahu kamu ada disini. Apakah kehadiranku membuatmu menangis?”
Aku terdiam. Aku bingung menjelaskan pada Kembara.
“Aku ingin pulang mas.”
“Aku antar ya?”
“Loh, kata mas Kembara mau makan di warung? Mas makan aja biar aku pulang sendiri.”
“Makannya batal... aku antar kamu pulang aja.” Kembara memegang bahuku lalu menuntunku masuk ke dalam mobilnya. Setelah itu dengan berlari dia menuju pintu samping, membuka pintu mobil lalu duduk di depan, di sampingku.
Aku menyandarkan tubuhku pada jok mobil, tatapan dingin Farhan masih membekas jelas. Aku cemburu melihatnya begitu juga dengannya. Tentu dia akan berpikiran jika Kembara sengaja menjemputku. Kehancuran yang sempurna, mungkin ini sebutan yang pas untuk keadaanku saat ini. Sepertinya kemarahan Farhan kian menjadi-jadi dan aku tidak tahu lagi bagaimana cara menjelaskan padanya.
“Sejak kita bertemu malam itu, ini kali kedua aku melihatmu menangis. Apakah penyebabnya sama ataukah berbeda?” Suara Kembara membuatku menoleh melihatnya.
“Berbeda mas.”
“Apakah urusan asmara juga?”
“Iya.”
“Ya, Tuhan. Ada denganmu, Dena? Dalam waktu singkat, kamu menangis karena urusan cinta? Bukankah aku sudah katakan untuk melupakan masa lalumu?”
Kata-kata Kembara kembali mengalirkan bening embun dari kedua mataku.
“Aku sudah melakukannya mas, tapi ini kasusnya berbeda meski saling berkaitan.”
Kembara menghentikan kendaran di tepi jalan.
“kenapa berhenti mas?” tanyaku heran. Kembara mengubah posisi duduknya menghadapku.
“Aku tidak akan membiarkanmu balik kerumah dengan kondisi hati yang tidak tenang. Aku sudah pernah melakukannya dan kali ini aku akan melakukannya lagi.”
Aku menyimak perkataan Kembara.
“Jika Dena tidak keberatan untuk bercerita, aku akan mendengarkan.”
Kupandangi Kembara dengan wajahnya yang serius menanti kisahku. Aku menghela nafas, berusaha menyusun kata agar tak membingungkan Kembara.
“Aku punya pacar, namanya Farhan. Namun saat menerimanya menjadi kekasihku, hatiku masih terikat dengan seseorang di masa lalu. Namanya mas Rivan. Saat mas Rivan hadir kembali, aku bimbang. Aku tidak mungkin menjalani kisah dengan Farhan sementara hatiku masih menyimpan nama lain. Disisi lain, aku juga penasaran dengan rasa ragu yang selalu muncul dalam hatiku. Rasa ragu yang menuntut penjelasan. Karena itu aku minta Farhan untuk sabar menantiku menuntaskan masalahku dengan mas Rivan. Tapi ternyata Farhan tak sabar dan merasa jika aku hanya mempermainkannya saja. Tak benar-benar menginginkan dia menjadi pacarku.” Airmataku menetes.
“Keraguanmu pada Rivan kenapa bisa hadir?”
“Karena sesuatu dalam hatiku seolah menahanku untuk percaya pada ucapannya. Berulangkali aku mencoba melupakan, namum perasaan ragu itu tetap saja selalu muncul. Hingga akhirnya terbukti jika mas Rivan tak pernah mencintaiku dan juga tak pernah mengharapkan aku untuk bersamanya kecuali jika keadaan terpaksa.”
“Karena perasaan ragu dalam hatimu sudah terjawab, sekarang kamu ingin menemui Farhan untuk menyampaikan jika kamu sudah siap bersamanya. Begitu?”
Aku menggiyakkan.
“Lalu reaksi Farhan bagaimana?”
“Dia kembali pada pacar lamanya untuk membalas tindakanku. Sama sekali tak memberiku kesempatan untuk menjelaskan.”
“Kamu benar-benar ingin kembali padanya?”
“Maksud mas Kembara?”
“Begini, Dena. Seandainya hatimu seratus persen mencintai Farhan dan benar-benar ingin kembali padanya, aku akan membantumu menjelaskan pada Farhan tentang situasi yang terjadi. Namun jika hatimu juga tidak sepenuhnya mencintai Farhan atau malah mungkin kamu sama sekali belum mencintainya, aku akan menahanmu disini.”
Aku menatap bingung.
“Kenapa mas Kembara ingin menahanku?”
“Karena aku merasa, aku mulai jatuh cinta padamu, Dena. Aku tidak ingin kehilangan kesempatan dengan membiarkanmu pergi mengejar seseorang yang tidak kamu cintai dan juga mengabaikanmu.”
Ucapan Kembara membuat jantungku serasa terhenti. Aku terkejut dan hanya bisa menatapnya tanpa berkedip. Kembara meraih tanganku yang kurasa dingin saat ini. Tangannya serasa hangat menggenggam erat jemariku.
“Pilihanmu yang mana? Aku mencari Farhan untuk menjelaskan? Ataukah ingin aku menahanmu disini?” Kembara menunjuk dadanya. Lidahku terasa kelu. Aku bingung mendengar ungkapan hatinya yang mendadak. Debar jantungku kian kencang. Andai Kembara bisa mendengar degupnya, entah apa yang akan hadir dalam benaknya.
Kutarik tanganku dari genggamannya namun Kembara menahannya.
“Aku akan menanti jawabanmu, tolong jangan kelamaan karena aku sudah pernah merasakan penantian yang sangat lama dan itu melelahkan. Seandainya bisa aku ingin mendengar jawabanmu sekarang agar aku tak penasaran detik berikutnya.”
Suara Kembara sangat lembut, aku menunduk. Pikiranku langsung tertuju pada Farhan. Aku akui beberapa hari terakhir bukan hanya hari-hariku yang dipenuhi sosok Kembara namun juga fikiranku. Sakit hati yang kurasakan setelah melepaskan mas Rivan terobati dengan hadirnya Kembara.
Terkadang dalam hatiku melintas hayalan seandainya Kembara adalah kekasihku. Namun hayalan itu segera kutepiskan setelah sosok Farhan membayang dimataku. Aku tak ingin menghadirkan masalah baru diantara aku dan Farhan. Sudah cukup kehadiran mas Rivan membuatnya cemburu.
Sekarang, di dekatku, Kembara baru saja mengungkapkan perasaan cintanya dan menanti jawabanku. Aku merasa diriku terhempas dari ketinggian, limbung. Bingung seketika menggelayut dalam hatiku. Terlebih saat ini kemarahan Farhan makin bertambah setelah melihat Kembara.
“Maafkan aku mas, aku memilih yang pertama..” jawabku. Susah payah kutahan agar air mataku tak menetes. Keputusan yang sangat berat aku ucapkan. Aku tahu saat ini hatiku lebih memilihnya tapi aku tak bisa mengabaikan Farhan. Aku merasa bersalah padanya.
Kembara tak melepaskan pegangan tangannya namun kurasakan genggamannya tak lagi erat seperti sebelumnya. Lama dia terdiam menatapku sebelum akhirnya kudengar suaranya,
“Baiklah, aku akan mengantarmu padanya. Kamu tenang saja, semua akan kembali normal. Berikan nomor hape Farhan. Aku akan menelponnya.”
Aku meraih handphoneku lalu memberikannya pada Kembara.
“Aku akan menghubunginya, sekarang aku akan mengantarmu ke rumah. Nanti setelah Farhan bersedia bertemu denganku, aku akan menjemputmu.” Ucapnya lalu mengemudikan mobil. Entah mengapa aku merasa perasaanku benar-benar hampa.
***
Langit sore ini sangat cerah, aku duduk dengan Kembara di dalam mobil. Setengah jam yang lalu kami tiba di tepi pantai ini. Kami menanti Farhan yang berjanji akan bertemu Kembara sore ini. Aku belum mengerti mengapa Kembara mengajakku. Kuiikuti saja rencananya walau masih membingungkan. Selang beberapa menit kemudian, Farhan muncul. Dia memarkir motornya lalu berdiri mengahadap ke arah pantai, memandangi debur ombak yang nampak tenang.
“Kamu tunggu disini, ya. Perhatkan saja kami, jangan kemana-mana..” ucap kembara sebelum membuka pintu lalu keluar dari mobil. Aku memandanginya hingga saat dia berbincang dengan Farhan. Sikap Farhan berbeda dengan beberapa hari yang lalu, tak ada kesan emosi atau sikap yang dingin. Aku takjub melihatnya. Apakah Kembara telah membuka fikirannya hingga ia bisa bersikap tenang?
Mereka berdua menuju tembok batu yang ada di sekitar pantai. Keduanya lalu duduk. Entah apa yang mereka bicarakan. Hampir satu jam aku menunggu di dalam mobil dan diliputi perasaan cemas mekihat mereka berdua. Aku khawatir jika tiba-tiba saja Farhan marah dan mungkin akan terjadi keributan di antara mereka.
Namun yang aku khawatirkan tak terbukti. Kembara berdiri lalu bergegas melangkah ke arahku. Pria itu membuka pintu mobil.
“Turunlah. Sekarang masalahmu sudah selesai, giliranmu untuk menata kembali yang sudah aku bereskan.”
“Benarkah Farhan tidak marah?” tanyaku cemas.
Kembara tersenyum.
“Tidak, untuk apa aku turun tangan kalau pemuda itu masih marah padamu.” katanya sembari memegang tanganku.
“Dena, aku berterima kasih atas hari-hari yang kita lewati bersama. Mungkin ini perpisahan tapi aku berat mengatakannya. Kita akan jarang bertemu tapi seandainya kamu membutuhkan bantuanku, aku akan siap membantu. Jangan sungkan menghubungiku ya?”
“Makasih mas, untuk hari-hari yang membuatku bisa pulih dan kembali menikmati kehidupanku.” Aku kemudian keluar dari mobil. Kutunggu hingga Kembara menjalankan mobilnya, perlahan lalu semakin jauh meninggalkan diriku yang mematung. Hatiku serasa terkoyak melepasnya pergi.
Aku berjalan menuju tembok batu, menghampiri Farhan yang masih duduk memandangi laut.
“Farhan.”panggilku. Dia menoleh sambil tersenyum menatapku.
“Duduklah. Sepertinya kita belum pernah ya duduk berdua seperti ini sambil memandangi laut.” Aku mengikuti ucapan Farhan lalu duduk di sebelahnya. Rasa penasaran dalam benakku membuatku bingung hendak berkata-kata.
“Farhan, aku minta maaf..”
“Mas Kembara sudah menjelaskan semuanya. Kamu jangan khawatir lagi.”
“Bukan soal itu, aku benar-benar ingin minta maaf padamu..”
“Soal apa lagi? bukankah urusan dengan mas Rivan telah kelar? Kamu juga kan tidak ada hubungan apa-apa dengan mas Kembara? Lalu kenapa masih minta maaf. Aku juga tidak sepenuhnya benar. Jadi bukan hanya dirimu yang harus minta maaf, aku juga.”
“Aku...aku ..sebenarnya belum jujur padamu...” kataku terbata.
Farhan menatapku. Aku menunduk tak kuasa melihat tatapannya.
“Aku tidak ingin terus membohongimu. Sebenarnya sejak awal aku tidak pernah mencintaimu. Aku tidak ingin memendam perasaan ini lebih lama lagi. Aku tidak ingin menambah daftar kesalahanku padamu setelah kejadian mas Rivan. Berpura-pura mencintaimu sama saja dengan terus berbohong. Aku berusaha untuk menghadirkan perasaan itu tapi tetap saja tidak bisa. Yang ada dalam hatiku hanya rasa kasihan dan rasa bersalah. Aku tidak ingin melukai hatimu. Tapi menyembunyikan kenyataan bukankah sama saja dengan tetap melukai hatimu?”
“Apa kehadiran mas Kembara membuatmu berubah?”
Aku menggeleng cepat.
“Bukan. Bukan karena dia saja tapi kehadirannya justru membuatku sadar jika sikap saling terbuka dan jujur harus ada di antara kita. Aku tahu kamu mencintaiku tapi perasanku bagaimana? Bukan hanya karena mas Rivan atau mas Kembara, tapi perasaan cinta itu memang tak ada. Dan aku ingin kamu tahu, sampai sekarang aku belum bisa mencintaimu. Maafkan aku..”
Mataku berkaca-kaca lalu pecah mengalir di pipiku. Farhan menarik nafas panjang. Desah nafasnya terdengar berat seolah hendak membuang beban yang ada dalam dadanya.
“Aku ingin jujur padamu, jika aku telah jatuh cinta pada mas Kembara. Aku berusaha melupakan perasaan itu. Menahannya tiap kali mengingatmu lalu kemudian ada perasaan menyesakkan yang hadir, membuatku tidak tenang. Kali ini aku merasa yakin dengan perasaanku, bahkan untuk mas Rivan aku tidak seyakin ini, Farhan. Tadinya kupikir, kehilangan mas Rivan akan membuatku mencintaimu ternyata tidak. Aku tidak ingin terus berada dalam rasa bersalah karena memilihmu, ini tidak adil untuk dirimu, Farhan.”
Farhan masih terdiam, lalu..
“Aku tahu, karena itu aku mengatakan padamu sebaiknya kita putus. Sebenarnya aku meilhatmu setiap hari saat bersama mas Kembara. Aku melihat binar matamu saat menatapnya. Matamu tak pernah seperti itu saat menatapku. Aku mulai mempersipakan hatiku untuk kehilanganmu sewaktu-waktu. Aku yakin itu akan terjadi. Karena itu saat mas Kembara menelponku, aku menganggap ini hanya intermezzo. Sedikit jeda sebelum akhirnya aku benar-benar kehilanganmu. Apa yang aku katakan tempo hari tentang cinta masa laluku, benar adanya. Etha ingin kembali bersamaku. Kupikir membahagiakan seseorang yang sangat mencintaiku, bukan hal yang buruk. Aku pernah mencintainya dan kurasa belajar untuk mencintainya lagi bukan hal yang sulit.”
“Kamu mau memaafkan aku?”
“Kita saling memaafkan. Sejak awal aku sebenarnya tahu perasaanmu, hanya saja aku terus bertahan berharap suatu saat cinta akan hadir dalam hatimu. Tapi ternyata tidak. Dan yang bisa aku lakukan sekarang adalah melepasmu, menahanmu bersamaku tanpa rasa cinta, sama saja aku menyakiti hatimu dan membohongi kata hatiku. Itu kebahagiaan yang semu. Aku tidak ingin merasakan hal itu. Melihatmu berbahagia menjalani cinta yang ada dalam hatimu, adalah keikhlasan yang terbaik yang bisa aku berikan.”
Kuseka airmataku. Ucapan Farhan membuatku terharu. Aku tak mengira, pertama kali duduk bersamanya menikmati keindahan laut, kami malah membicarakan soal perpisahan. Meski sedih aku merasa lega. Hatiku terasa lapang dan tak lagi cemas seperti hari-hari sebelumnya.
“Terima kasih Farhan, terima kasih sudah melepasku. Maafkan jika selama ini ada hal-hal yang aku lakukan yang menyakiti hatimu.”
Farhan meraih jemariku.
“Maafkan aku juga, jangan lupakan aku ya..”
Aku lalu beranjak berdiri lalu pamit padanya. Langkahku pelan menjauh darinya. Kucegat taksi yang lewat. Masih sempat kupandangi Farhan yang melihatku sambil tersenyum. Pemuda itu melambaikan tangannya tanda perpisahan. Aku membalas lambaian tangannya dengan mataku yang basah. Selamat tinggal Farhan, maafkan aku.
Taksi kemudian melaju. Tujuanku hanya satu, menuju rumah Kembara. Perjalanan terasa sangat lambat, aku tak sabar ingin mengungkapkan perasaanku pada Kembara. Semoga saat ini dia ada di rumahnya. Aku tidak sanggup untuk menelponnya dan memberi tahu keputusan hatiku. Perasaan ini terlalu indah untuk diungkapkan melalui telepon.
Saat tiba di depan rumah Kembara, hatiku terlonjak gembira melihat mobilnya terparkir di depan garasi. Aku berlari menuju pintu lalu memencet bel. Namun beberapa menit berlalu, pintu tak juga terbuka. Kupencet bel lagi, tetap tak ada.
Aku terpaksa meraih handphone dan menelpon Kembara.
“Halo... “ suara Kembara terdengar parau.
Hatiku bergetar mendengar suaranya.
“Mas Kembara ada dimana?”
“Aku di rumah. Ada apa?”
“Aku lagi menunggu di depan pintu rumah mas...”
Tak ada jawaban namun beberapa saat kemudian pintu terbuka. Kembara menatapku tak berkedip. Aku mematikan handphoneku. Kembara menarik tubuhku masuk ke dalam rumah lalu menutup pintu.
Kedua bahuku di pegangnya sementara matanya menatap mataku. Aku memaksa diriku untuk membalas tatapannya. Baru aku sadari ternyata mata Kembara merah seperti baru saja menangis. Apakah tangisnya karena aku?
“Aku meralat ucapanku, aku memilih yang kedua..”
Tak ada ucapan seketika Kembara meraih tubuhku ke dalam pelukannya. Memeluk erat, sangat erat. Tanganku terulur lalu membalas pelukannya. Akhirnya aku merasakan hatiku dipenuhi cinta. Rasa yang belum pernah aku rasakan kini benar-benar menjadi milikku.
“Terima kasih sayang, terima kasih.” Ucap Kembara masih memelukku erat.
“Terima kasih juga mas karena sudah jatuh cinta padaku..” balasku. Pelukan kami semakin erat dan semoga kebahagiaan itu akan terus hadir dalam kehidupan kami selamanya.
== TAMAT==
Terima kasih bagi pembaca yang setia mengikuti serial Impian Dena hingga selesai.
Kisah sebelumnya :
Part 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27 28
Desa Rangkat adalah komunitas yang terbentuk
berdasarkan kesamaan minat dalam dunia tulis menulis fiksi. Jika
berkenan silahkan berkunjung, berkenalan, dan bermain peran dan fiksi
bersama kami di Desa Rangkat, klik logo kami.


0 komentar:
Posting Komentar