Perjalanan
ini bukan pengobat luka, namun menghadirkan rindu yang baru. Jejak-jejak masa
lalu hadirkan getar dalam hati, aku lupa kini tak ada dirimu di sana. Masih
saja aku berpikir, sosokmu melihatku dari jauh seperti masa lalu kala aku
termenung, kau akan hadir menyentuh lembut bahuku, menyadarkanku hari telah
beranjak sore.
Entah
mengapa, aku selalu mengulang hal yang sama, berpikir yang sama sedang terjadi,
padahal ada yang berubah sejak kehilanganmu. Batinku seolah mengingkari
kesendirianku, merasa ada seseorang disisiku. Aku tak tahu, mengapa aku harus
menutupi rasa kehilangan ini dan terus terkungkung dengan perasaan dimiliki
olehmu, padahal nyata tak ada dirimu. Kehilangan itu tak semudah saat aku
memutuskannya.
Menjalani
waktu yang terus bergulir maju, aku malah semakin jauh terperosok ke lembah
masa lalu. Mengais serpihan yang mungkin aku atau kita berdua telah
menghancurkannya. Serpihan kenangan itu hadir bagai bunga yang tak lagi wangi
dalam mimpiku selain hadirkan tangis saat aku terjaga di ujung lelapku.
Benar-benar tak ada dirimu disampingku. Kesedihan itu ternyata menyelimutiku
sepanjang waktu. Aku tak bisa lari bahkan ketika tertidur.
“Kapan
kau datang?” tanyamu saat senja kita bertemu, bukan sengaja, aku yang memintamu
untuk menguji rasaku, masihkah sama getaran yang tak pernah hilang ketika jauh
darimu.
Aku
tersenyum sambil memperhatikan dirimu yang tampak segar. Wajahmu terlihat
sangat bercahaya tak ada gurat-gurat kesedihan, apakah dirimu bisa melihat itu
di wajahku? Aku malu, sekuat hati kutahan kesedihan demi ego yang tak ingin
mengalah didepanmu.
“Sejak
kemarin.” Jawabku, detak jantungku berpacu dengan suaraku. Aku tak tahu mana
yang harus aku jaga dengan baik saat ini. Keduanya seperti hendak menghempasku
dari kursi.
“Lama
kita tidak bertemu. Bagaimana kabarmu? Sudah menikah?”
“Belum..”
jawabku terbata. Sekilas kulihat cincin yang melingkar di jemarimu. Kurasakan
airan darah dalam tubuhku menghangat, terus menjalar hingga ke mataku. Aku
sengaja mengalihkan pandanganku pada deretan kursi yang masih kosong di cafe
ini sekedar menghalau rasa sedih yang menyeruak, siap meledak di kedua mataku.
“Ada
apa? Biasanya setiap kita bertemu, pasti ada sesuatu yang ingin kamu
bicarakan.”
“Tidak
ada. Aku hanya ingin bertemu denganmu. Kebetulan ke kota ini, bagaimana mungkin
aku menganggap seolah tak ada kamu disini. Tapi seandainya kamu sibuk, aku juga
tidak apa-apa. Undangan ini bisa kamu abaikan.”
Kamu
tertawa sambil menatapku.
“Rena,
Rena, kamu masih saja sama seperti dulu. Selalu tak ingin mengakui perasaan
yang ada dalam hatimu. Kenapa ada orang seperti kamu yang betah bersandiwara?
Apa tidak capek?”
“Maksudmu?”
“Cukup
sudah. Sebaiknya aku pergi saja. Aku sengaja membatalkan meeting hari ini demi
melihat dirimu. Berharap apa yang aku rasakan, kamu juga merasakannya, tapi
ternyata aku salah. Salah total menilaimu. Maaf, aku permisi.”
Suara
tarikan kursi menyadarkanku dari lamunan. Di cafe ini tak ada siapa-siapa
selain karyawan cafe yang sedang merapikan kursi dan meja. Ternyata kenangan
bersamamu saat terakhir kali kita bertemu kembali hadir. Pertemuan terakhir
yang membuatku terluka. Tidakkah kau tahu, bagaimana aku bisa mengutarakan
perasaan rindu yang menguasai raga saat melihat di jemari manismu telah
melingkar serupa cincin pernikahan? bukankah itu tanda yang ingin dirimu
perlihatkan padaku? Mengapa aku begitu bodoh hendak mempermalukan diriku?
Kini
setahun telah berlalu dan aku kembali ke kota ini. Aku tahu dirimu masih berada
disini tapi aku tak ingin menghubungimu seperti biasa setiap kali aku datang
berkunjung. Cukup hari itu aku nyaris mempermalukan diriku. Membayangkan
ekspresi wajahmu saat aku mengatakan rindu sementara dirimu telah berdua, masih
bisakah kutahan kesedihanku? Padahal aku tak ingin seperti itu. Aku ingin tegar
didepanmu walau seluruh tubuhku kurasakan rapuh sejak kehilanganmu.
“Maaf,
bu. Mau pesan apa?” karyawan cafe kembali mendatangiku. Pertanyaan yang membuat
hatiku teriris. Seperti menyadarkanku akan usiaku yang tak lagi muda. Dulu saat
datang ke kota ini, panggilan lazim untukku adalah mbak. Tapi kini semua telah
berubah. Aku tak bisa menahan hadirnya tanda-tanda pertambahan umur yang
membuat panggilan untukku berubah.
“Jus
sirsak saja.” Jawabku. Gadis itu kemudian meninggalkanku.
Aku
kembali larut dalam lamunan. Andai dirimu mendengar panggilan dari karyawan
cafe itu, tentu kamu akan tahu alasan mengapa aku menolakmu, tak pernah memberi
kesempatan meski dirimu berulang-ulang menyatakan perasaan suka padaku.
Perbedaan umur, tidakkah kau melihat itu? tiga belas tahun bukan jarak yang
dekat, bagaimana bisa pemuda usia dua puluh tahun sepertimu jatuh cinta padaku? Meski dirimu terus
bertanya tentang usiaku, tak sekalipun aku menjawabnya. Kau hanya selalu
menebak-nebak, memaksaku untuk menjawab jujur.
“Aku
dua puluh, andai usiamu dua puluh tujuh, aku masih bisa tolerir. Benarkan,
usiamu dua puluh tujuh?” aku tertawa pedih. Haruskah aku mengatakan saat itu
usiaku tiga puluh tiga tahun? Apakah dirimu masih akan tegar berdiri dan terus
bertahan sementara diluar sana masih banyak gadis-gadis seusiamu yang berada
disekitarmu demi agar terlihat olehmu?
Kehidupan
kita makin lama seperti dalam pusaran air, terus berputar tanpa seorangpun dari
kita berniat untuk menjauh. Aku dengan kesadaran terbatas pada keadaanku,
sementara dirimu terus bertahan dengan rasa yang menurutmu adalah cinta tulus
tanpa memandang usia. Benarkah?
Hingga
akhirnya kesabaranmu tak lagi menjadi penyangga cintamu. Dirimu lelah dan
membiarkan semuanya menghilang sedikit demi sedikit hingga tak lagi menyisakan
rasa bahkan untuk sebuah kata persahabatan. Komunikasi kita terputus, dirimu
hilang, kita berdua saling melepas nomor handphone yang sekian tahun menjadi
pengikat jarak antara kita. Kamu tak tahu, hatiku masih sama seperti dulu tak
pernah berubah sedikitpun.
Hari terakhir di bulan September kali ini, aku hadir kembali di cafe ini dengan usiaku yang kini berkepala empat. Empat puluh,
usia yang menurut sebagian orang adalah fase terlahir kembali menjadi jiwa yang
baru. Tapi bagiku tidak. Bagaimana aku bisa merasakan terlahir sebagai pribadi
yang baru, dengan pikiran masih terbelenggu bayang masa lalu bersama dirimu?
“Ini
pesanannya, bu.” Aku menoleh kaget ketika mendengar suara yang tak asing lagi
ditelingaku. Beberapa saat aku hanya bisa terpaku melihatmu meletakkan jus
sirsak di atas meja, meletakkan nampan lalu menarik kursi kemudian duduk
berhadapan denganku. Aku mengerjapkan mata berharap ini adalah halusinasi yang
mungkin saja hadir karena aku terlalu asyik melamun. Namun sosokmu tak juga
menghilang.
“Kenapa
kamu bisa ada di sini?” tanyaku benar-benar tak percaya dengan apa yang aku lihat.
“Apanya
yang aneh? Cafe ini milikku, aku membelinya enam bulan lalu.”
“Benarkah?”
“Pemiliknya
kesulitan uang lalu menawarkan cafe ini, aku tentu saja menerimanya, karena
cafe ini menyimpan banyak kenangan. Sayang kalau harus hilang begitu saja
karena pemiliknya menjualnya pada orang lain.”
Aku
hanya bisa termangu mendengar ucapanmu. Separuh hatiku menyesal mengapa
mendatangi cafe ini. Andai aku tahu dirimu adalah pemiliknya, tentu aku akan
memilih tempat lain, bukan disini dan bertemu denganmu. Entah apa yang ada di
benakmu saat ini, apakah diriku yang melamun sejak tadi terlihat juga olehmu.
Mendadak aku ingin pergi dan berlari menjauh menyembunyikan rasa malu.
“Mengapa
tidak memberitahu aku kalau kamu kembali ke kota ini?” tanyamu dengan sinar
mata yang lembut. Aku berusaha menahan debaran jantung yang tiba-tiba berdetak
cepat saat kehadiranmu.
“Aku
tidak ingin mengganggumu.” Jawabku cepat lalu meraih gelas berisi jus sirsak,
menyeruput sedikit lalu meletakkannya lagi sekedar menghalau perasaan gugup.
Suara hatiku menjerit memintaku untuk bersikap tenang seolah tak ada lagi rasa.
Tapi sanggupkah aku membohongi kata hati?
“Mengapa
sikapmu selalu sama? Tidak bisakah dirimu mengakui kalau kehadiranmu di cafe
ini karena rindu padaku?” kerongkonganku tercekat. Aku berusaha tesenyum tapi
mungkin terlihat aneh di matamu.
“Siapa
yang rindu? Karena tugas, aku berkunjung ke sini. Tempat ini menjadi alasan
karena aku terbiasa ke sini. Butuh alasan apalagi?”
“Bisakah
kau sedikit saja jujur pada dirimu? Tak ingin jujur padaku, itu masalahmu. Tapi
berbohong pada diri sendiri itu keterlaluan Rena. Apa hidupmu tenang dengan
sikap seperti ini?”
“Apa
bedanya jujur dan tidak jujur saat ini? Tidak akan ada pengaruhnya bukan?” aku
teringat dengan statusmu. Cincin yang melingkar di jemarimu, bukankah itu yang
akhirnya membatasi kita?
“Jelas
saja ada. Kejujuran tentu akan membawa perubahan?”
“Maksudmu?”
“Aku
sejak dulu menunggu pengakuan darimu. Menunggu dirimu mengakui rasa yang ada di
hatimu. Tapi tetap saja dirimu menghindar dan tidak mengakui kalau kamu juga
merindukan aku. Benar begitu kan, Rena?”
“Untuk
apa pengakuanku? Apa yang yang akan kamu lakukan kalau aku mengakui bahwa aku
menyukaimu? Apakah kemudian kamu akan melamarku? Yang ada malah mungkin kamu
akan menertawaiku.”
Kamu
terdiam. Aku menjadi kikuk karena tatapanmu yang tepat di mataku.
“Yah,
aku akan melamarmu. Aku telah menunggu sekian lama untuk mendengar ini dari
mulutmu sendiri.”
Aku
terperangah.
“Jelas
saja kita tidak bisa menikah!” balasku. Pikiranku masih terbayang cincin yang
menghias jemarimu.
“Kenapa
lagi? Bukankah sudah jelas kita saling menyukai? Atau... apakah kamu sudah
menikah?”
“Aku
belum menikah. Yang sudah menikah itu dirimu.”
“Aku?
Sejak kapan aku menikah?” Aku tak menjawab. Kubiarkan dirimu berpikir untuk menemukan jawabannya. Tiba-tiba tawamu lepas
sambil memperhatikan jemarimu.
“Rena,
Rena, kamu selalu saja membuat kesimpulan sendiri tanpa peduli pada perasaanku.
Ini bukan cincin pernikahan, aku masih bujangan. Coba saja tanyakan pada
karyawanku atau kalau butuh yang lebih jelas lagi, silahkan bertanya pada pak
RT di lingkungan rumahku. Aku belum menikah, nyaris lapuk andai dirimu tak juga
menerimaku menjadi suamimu.”
Aku
terdiam. Hatiku belum siap menerima kejutan mendadak ini. Ada perasaan ragu
mendengar ucapanmu. Pelan-pelan kuberanikan diri menatapmu. Aku ingin mencari
kejujuran disana tapi tatapanmu malah berbalik tajam padaku.
“Ada
apa lagi? Apa dirimu masih ragu? Pasti soal umur lagi yang akan kamu bahas.
Peduli amat dengan umur, aku tidak mau mati penasaran karena memendam cinta
padamu. Terserah umurmu berapa aku tidak peduli, yang jelas sekarang juga kita
ke penghulu. Menghadap dulu, ntar surat-suratnya menyusul.”
======================
0 komentar:
Posting Komentar