Kamis, 03 Oktober 2013

Aku Akan Jadi Malaikatmu, Ayah

0



 

Namanya Sarah, anak bungsu dari keluarga Haryoko. Satu-satunya pengusaha mobil yang ada di ibukota kabupaten ini. Merintis bisnis dari sejak kota ini masih sunyi, sepi dan senyap, kini usaha itu telah berkembang pesat dan menjadikan keluarga Haryoko tergolong kaya di daerah ini.

Sarah sangat beruntung, bukan saja karena dia adalah anak bungsu dalam keluarganya tapi juga karena keempat saudaranya adalah laki-laki. Wajar jika Sarah mendapat perhatian dan kasih sayang yang berlebih dari keluarganya. Kehidupan yang sempurna untuk merasa bahagia. Memiliki wajah yang cantik, terpandang dan mendapat curahan kasih dari orang-orang tercinta.

Meski begitu kedua orang tua Sarah terutama ayahnya, sangat menjaga moral dari seluruh anak-anaknya. Mereka harus tetap rendah hati dan tidak boleh bersikap sombong meski mereka bergelimang harta. Hal yang sangat ditekankan oleh kedua orang tuanya, adalah kedermawanan. Mungkin karena latar belakang kehidupan mereka sebelumnya yang sangat susah bahkan boleh dikatakan miskin.

Seringkali selepas sholat berjamaah, ayahnya memberikan ceramah singkat. Sarah mendengarkan dan terkadang bosan dengan tema yang terus menerus di ulang oleh ayahnya. Dalam benak anak perempuan berusia sebelas tahun seperti dirinya, hal-hal yang diceritakan ayahnya sudah merasuk dan menjadi bagian hidupnya, tidak perlu lagi diulang-ulang. Namun Sarah tidak berani protes, dia hanya bisa memandang ke empat saudaranya yang terlihat serius mendengarkan nasehat ayahnya.

Menjadi princess dalam keluarga, wajar jika ayahnya sangat menyayangi Sarah. Hubungan ayah dan anak itu sangat dekat. Sarah sering berlama-lama menemani ayahnya di ruang kerja. Sambil mengerjakan tugas sekolah, dia seringkali membaca buku-buku yang tertata rapi di lemari. Sesekali ayahnya menceritakan kisah masa lalu yang getir hingga Sarah paham mengapa ayahnya selalu menangis saat berdoa.

Suatu hari, mereka kedatangan seorang lelaki paruh baya. Sarah belum pernah bertemu dengannya demikian juga dengan kakak-kakaknya. Ayahnya mengenalkan jika lelaki itu adalah paman mereka. Sarah memanggilnya dengan sebutan om Hadi. Paman yang ramah, begitu Sarah menilai si paman yang baru dikenalnya. Perhatian paman itu pada Sarah membuat Sarah serasa memiliki ayah yang lain.

Hari ke lima sejak kehadiran lelaki itu, Sarah di panggil ayahnya. Mereka berdua saja di dalam ruang kerja ayahnya. Sarah tidak merasa aneh, dia biasa menemani ayahnya bekerja sambil belajar di ruangan itu. Namun kali ini berbeda. Wajah ayahnya nampak serius cenderung tegang membuatnya bertanya-tanya.

Sambil duduk berhadapan di depan meja kerja, ayahnya mengeluarkan beberapa lembar foto dari lipatan buku. Sarah masih belum mengerti maksud ayahnya dan hanya diam menunggu. Ayahnya menghela nafas berat sebelum berbicara,

“Sarah, boleh ayah minta tolong padamu?” Sarah tertegun mendengar pertanyaan ayahnya.

“Ayah kenapa?” tanyanya bingung. Sarah makin tak mengerti.

Ayahnya lalu memperlihatkan lembaran foto. Ada foto lelaki dan perempuan yang tengah menggendong anak kecil. Makin di lihat lelaki dalam foto itu mirip dengan tamu yang saat ini menginap di rumahnya.

“Ini foto om Hadi yang ada dirumah kita sekarang. Ini istrinya, tante Ratna dan ini anaknya, Risya” Tunjuk ayahnya sebelum melanjutkan ke lembar foto berikutnya.

Sarah memperhatikan, wajah lelaki dan wanita dalam foto tersebut tetap saja sama, hanya yang berbeda tak ada bayi melainkan anak perempuan berusia sekitar lima tahunan.

“Ini Risya waktu umur enam tahun.” Tunjuk ayahnya lagi.

Kemudian ayahnya memperlihatkan lembaran foto yang ketiga, lelaki dan wanita yang ada dalam foto tersebut tetap sama tapi kali ini bersama seorang anak perempuan yang sebaya dirinya.

“Di foto ini Risya udah besar, umurnya sama dengan Sarah.”

Ayahnya lalu mengambil foto-foto itu dan meletakkan kembali di dalam lipatan buku.

“Sarah, ayah boleh minta tolong kan sama Sarah?” ayahnya bertanya lagi.

“Boleh ayah...”

“Anak pintar. Tapi Sarah janji, jangan menolak, karena ayah yang minta tolong..”

“Iya, ayah..”

“Begini, tante Ratna sekarang sedang sakit dan hanya Sarah yang bisa menolongnya.”

“Kok Sarah, ayah? Sarah kan bukan dokter.” Jawabnya kebingungan. Ayahnya menggenggam jemarinya.

“Dulu, sewaktu ayah masih miskin, om Hadi yang membantu ayah. Dia memberi ayah uang untuk usaha.  Uang yang sangat banyak dan ayah tidak perlu mengembalikannya karena itu hidup kita tidak miskin lagi. Sarah bisa membeli apa saja yang Sarah mau, kemana-mana Sarah diantar sopir. Hidup Sarah tidak menderita karena dulu ayah di tolong om Hadi.” Sengaja ayahnya melambat-lambatkan penjelasan agar Sarah mengerti.

“Nah, karena dulu om Hadi yang membantu ayah, sekarang om Hadi lagi kesulitan dan butuh bantuan ayah.”

“Om Hadi butuh duit ayah?”

“Bukan duit sayang, om Hadi udah kaya banget melebihi ayah. Om Hadi butuh Sarah untuk menemani istrinya yang sakit.”

Sarah tidak bertanya tapi ekspresi wajahnya seperti hendak memprotes ucapan ayahnya.

“Tante Ratna sakit karena putrinya, Risya meninggal, anakku. Jiwanya terganggu, apalagi tantemu itu tidak bisa lagi hamil karena alasan kesehatannya.”

“Jadi tante Ratna udah nggak bisa punya anak lagi?” ayahnya menggiyakkan. Sarah seolah menyadari sesuatu. Matanya berkaca-kaca dan perlahan air matanya menetes.

“Maksud ayah, Sarah harus pergi dan tinggal bersama tante dan om itu?” tanyanya sambil terisak. Ayahnya tak bisa lagi membendung air mata. Dia turut menangis bersama putrinya. Kedua tangannya menggengam erat jemari putrinya yang menatapnya dengan berlinang air mata.

“Kenapa harus Sarah, ayah? kenapa bukan orang lain?”

“Karena itu permintaan om Hadi sayang, om Hadi sudah mempertimbangkan. Wajah kalian terlihat mirip, jika nanti melihatmu, tante Ratna akan merasa putrinya tidak meninggal.”

“Tapi kenapa harus Sarah?”

“Karena om Hadi malaikat bagi ayah, sayang. Kalau bukan om Hadi yang menolong, hidup kita tidak akan seperti sekarang ini. Sarah mau jadi malaikat untuk om Hadi dan tante Ratna?”

Sarah menatap ayahnya dengan mata yang basah.

“Sarah ingin menjadi malaikat seperti om Hadi? yang memberikan kabahagiaan kepada orang lain? Ayah mohon, hanya Sarah harapan ayah. Tidak ada hal lain yang dibutuhkan om Hadi dan tante Ratna selain dirimu, anakku. Ayah yakin, jika ayah yang mengalami hal itu, pasti om Hadi akan menolong ayah. Dia rela berkorban untuk kehidupan kita, sayang. Meski ayah juga merasa berat berpisah denganmu tapi setidaknya ayah yakin, Sarah akan baik-baik saja di sana.”

Genggaman tangan ayahnya semakin erat.

“Ibu bagaimana, ayah?”

“Ibumu ikhlas anakku. Dia tahu betapa beratnya hidup kita dulu. Bahkan seandainya om Hadi ingin menukar nyawa, ayah rela sayang. Om Hadi terlalu baik. Tiap kali ayah ingat jaman susah dulu,  ayah selalu menangis mengingat kebaikan om Hadi.”

Sarah menangis sesunggukan. Dia mengerti ucapan ayahnya meski usianya masih sangat muda. Sering berbincang dengan ayahnya menjadikannya paham akan banyak hal termasuk memahami keinginan om Hadi.

Malam itu, Sarah tidur dikamar orang tuanya. Diapit ayah dan ibunya, Sarah tak bisa memejamkan mata. Dia hanya menatap kedua orang tuanya secara bergantian dengan air mata berlinang.

Dua hari kemudian, Sarah meninggalkan rumahnya bersama om Hadi. Lelaki ini sangat terharu menerima kebaikan dari keluarga Sarah. Sambil menitikkan air mata, dia berjanji akan menjaga dan menyayangi Sarah seperti anaknya sendiri. Dan kedua orang tua Sarah yakin akan hal itu. Mereka percaya sepenuhnya.

Dalam perjalanan menuju rumah om Hadi, Sarah terus memperhatikan sikap om Hadi padanya. Sarah mulai merasakan, jika om Hadi dan ayahnya ada kemiripan, Sarah merasa nyaman berada di dekat lelaki itu. Perlahan-lahan Sarah mulai bisa menepiskan rasa sedih karena harus berpisah dengan orang tuanya. Kata-kata ayahnya terus terngiang dalam ingatannya dan membuatnya bersemangat untuk menjalani kehidupan di keluarga Om Hadi.

“Aku akan jadi malaikatmu, ayah.” Batinnya.


**** 

 

0 komentar:

Posting Komentar