Namanya Sarah, anak
bungsu dari keluarga Haryoko. Satu-satunya pengusaha mobil yang ada di ibukota
kabupaten ini. Merintis bisnis dari sejak kota ini masih sunyi, sepi dan
senyap, kini usaha itu telah berkembang pesat dan menjadikan keluarga Haryoko
tergolong kaya di daerah ini.
Sarah sangat
beruntung, bukan saja karena dia adalah anak bungsu dalam keluarganya tapi juga
karena keempat saudaranya adalah laki-laki. Wajar jika Sarah mendapat perhatian
dan kasih sayang yang berlebih dari keluarganya. Kehidupan yang sempurna untuk
merasa bahagia. Memiliki wajah yang cantik, terpandang dan mendapat curahan
kasih dari orang-orang tercinta.
Meski begitu kedua
orang tua Sarah terutama ayahnya, sangat menjaga moral dari seluruh
anak-anaknya. Mereka harus tetap rendah hati dan tidak boleh bersikap sombong
meski mereka bergelimang harta. Hal yang sangat ditekankan oleh kedua orang
tuanya, adalah kedermawanan. Mungkin karena latar belakang kehidupan mereka
sebelumnya yang sangat susah bahkan boleh dikatakan miskin.
Seringkali selepas
sholat berjamaah, ayahnya memberikan ceramah singkat. Sarah mendengarkan dan
terkadang bosan dengan tema yang terus menerus di ulang oleh ayahnya. Dalam
benak anak perempuan berusia sebelas tahun seperti dirinya, hal-hal yang
diceritakan ayahnya sudah merasuk dan menjadi bagian hidupnya, tidak perlu lagi
diulang-ulang. Namun Sarah tidak berani protes, dia hanya bisa memandang ke
empat saudaranya yang terlihat serius mendengarkan nasehat ayahnya.
Menjadi princess
dalam keluarga, wajar jika ayahnya sangat menyayangi Sarah. Hubungan ayah dan
anak itu sangat dekat. Sarah sering berlama-lama menemani ayahnya di ruang
kerja. Sambil mengerjakan tugas sekolah, dia seringkali membaca buku-buku yang
tertata rapi di lemari. Sesekali ayahnya menceritakan kisah masa lalu yang
getir hingga Sarah paham mengapa ayahnya selalu menangis saat berdoa.
Suatu hari, mereka
kedatangan seorang lelaki paruh baya. Sarah belum pernah bertemu dengannya
demikian juga dengan kakak-kakaknya. Ayahnya mengenalkan jika lelaki itu adalah
paman mereka. Sarah memanggilnya dengan sebutan om Hadi. Paman yang ramah,
begitu Sarah menilai si paman yang baru dikenalnya. Perhatian paman itu pada
Sarah membuat Sarah serasa memiliki ayah yang lain.
Hari ke lima sejak
kehadiran lelaki itu, Sarah di panggil ayahnya. Mereka berdua saja di dalam
ruang kerja ayahnya. Sarah tidak merasa aneh, dia biasa menemani ayahnya
bekerja sambil belajar di ruangan itu. Namun kali ini berbeda. Wajah ayahnya
nampak serius cenderung tegang membuatnya bertanya-tanya.
Sambil duduk
berhadapan di depan meja kerja, ayahnya mengeluarkan beberapa lembar foto dari
lipatan buku. Sarah masih belum mengerti maksud ayahnya dan hanya diam
menunggu. Ayahnya menghela nafas berat sebelum berbicara,
“Sarah, boleh ayah
minta tolong padamu?” Sarah tertegun mendengar pertanyaan ayahnya.
“Ayah kenapa?”
tanyanya bingung. Sarah makin tak mengerti.
Ayahnya lalu
memperlihatkan lembaran foto. Ada foto lelaki dan perempuan yang tengah
menggendong anak kecil. Makin di lihat lelaki dalam foto itu mirip dengan tamu
yang saat ini menginap di rumahnya.
“Ini foto om Hadi yang
ada dirumah kita sekarang. Ini istrinya, tante Ratna dan ini anaknya, Risya”
Tunjuk ayahnya sebelum melanjutkan ke lembar foto berikutnya.
Sarah
memperhatikan, wajah lelaki dan wanita dalam foto tersebut tetap saja sama,
hanya yang berbeda tak ada bayi melainkan anak perempuan berusia sekitar lima
tahunan.
“Ini Risya waktu
umur enam tahun.” Tunjuk ayahnya lagi.
Kemudian ayahnya
memperlihatkan lembaran foto yang ketiga, lelaki dan wanita yang ada dalam foto
tersebut tetap sama tapi kali ini bersama seorang anak perempuan yang sebaya
dirinya.
“Di foto ini Risya
udah besar, umurnya sama dengan Sarah.”
Ayahnya lalu
mengambil foto-foto itu dan meletakkan kembali di dalam lipatan buku.
“Sarah, ayah boleh
minta tolong kan sama Sarah?” ayahnya bertanya lagi.
“Boleh ayah...”
“Anak pintar. Tapi
Sarah janji, jangan menolak, karena ayah yang minta tolong..”
“Iya, ayah..”
“Begini, tante Ratna
sekarang sedang sakit dan hanya Sarah yang bisa menolongnya.”
“Kok Sarah, ayah?
Sarah kan bukan dokter.” Jawabnya kebingungan. Ayahnya menggenggam jemarinya.
“Dulu, sewaktu
ayah masih miskin, om Hadi yang membantu ayah. Dia memberi ayah uang untuk
usaha. Uang yang sangat banyak dan ayah
tidak perlu mengembalikannya karena itu hidup kita tidak miskin lagi. Sarah
bisa membeli apa saja yang Sarah mau, kemana-mana Sarah diantar sopir. Hidup
Sarah tidak menderita karena dulu ayah di tolong om Hadi.” Sengaja ayahnya
melambat-lambatkan penjelasan agar Sarah mengerti.
“Nah, karena dulu
om Hadi yang membantu ayah, sekarang om Hadi lagi kesulitan dan butuh bantuan
ayah.”
“Om Hadi butuh
duit ayah?”
“Bukan duit
sayang, om Hadi udah kaya banget melebihi ayah. Om Hadi butuh Sarah untuk
menemani istrinya yang sakit.”
Sarah tidak
bertanya tapi ekspresi wajahnya seperti hendak memprotes ucapan ayahnya.
“Tante Ratna sakit
karena putrinya, Risya meninggal, anakku. Jiwanya terganggu, apalagi tantemu
itu tidak bisa lagi hamil karena alasan kesehatannya.”
“Jadi tante Ratna udah
nggak bisa punya anak lagi?” ayahnya menggiyakkan. Sarah seolah menyadari
sesuatu. Matanya berkaca-kaca dan perlahan air matanya menetes.
“Maksud ayah,
Sarah harus pergi dan tinggal bersama tante dan om itu?” tanyanya sambil terisak.
Ayahnya tak bisa lagi membendung air mata. Dia turut menangis bersama putrinya.
Kedua tangannya menggengam erat jemari putrinya yang menatapnya dengan
berlinang air mata.
“Kenapa harus
Sarah, ayah? kenapa bukan orang lain?”
“Karena itu
permintaan om Hadi sayang, om Hadi sudah mempertimbangkan. Wajah kalian
terlihat mirip, jika nanti melihatmu, tante Ratna akan merasa putrinya tidak
meninggal.”
“Tapi kenapa harus
Sarah?”
“Karena om Hadi malaikat
bagi ayah, sayang. Kalau bukan om Hadi yang menolong, hidup kita tidak akan
seperti sekarang ini. Sarah mau jadi malaikat untuk om Hadi dan tante Ratna?”
Sarah menatap
ayahnya dengan mata yang basah.
“Sarah ingin
menjadi malaikat seperti om Hadi? yang memberikan kabahagiaan kepada orang
lain? Ayah mohon, hanya Sarah harapan ayah. Tidak ada hal lain yang dibutuhkan
om Hadi dan tante Ratna selain dirimu, anakku. Ayah yakin, jika ayah yang
mengalami hal itu, pasti om Hadi akan menolong ayah. Dia rela berkorban untuk
kehidupan kita, sayang. Meski ayah juga merasa berat berpisah denganmu tapi
setidaknya ayah yakin, Sarah akan baik-baik saja di sana.”
Genggaman tangan
ayahnya semakin erat.
“Ibu bagaimana,
ayah?”
“Ibumu ikhlas
anakku. Dia tahu betapa beratnya hidup kita dulu. Bahkan seandainya om Hadi
ingin menukar nyawa, ayah rela sayang. Om Hadi terlalu baik. Tiap kali ayah
ingat jaman susah dulu, ayah selalu
menangis mengingat kebaikan om Hadi.”
Sarah menangis
sesunggukan. Dia mengerti ucapan ayahnya meski usianya masih sangat muda.
Sering berbincang dengan ayahnya menjadikannya paham akan banyak hal termasuk
memahami keinginan om Hadi.
Malam itu, Sarah
tidur dikamar orang tuanya. Diapit ayah dan ibunya, Sarah tak bisa memejamkan
mata. Dia hanya menatap kedua orang tuanya secara bergantian dengan air mata
berlinang.
Dua hari kemudian,
Sarah meninggalkan rumahnya bersama om Hadi. Lelaki ini sangat terharu menerima
kebaikan dari keluarga Sarah. Sambil menitikkan air mata, dia berjanji akan
menjaga dan menyayangi Sarah seperti anaknya sendiri. Dan kedua orang tua Sarah
yakin akan hal itu. Mereka percaya sepenuhnya.
Dalam perjalanan
menuju rumah om Hadi, Sarah terus memperhatikan sikap om Hadi padanya. Sarah
mulai merasakan, jika om Hadi dan ayahnya ada kemiripan, Sarah merasa nyaman
berada di dekat lelaki itu. Perlahan-lahan Sarah mulai bisa menepiskan rasa
sedih karena harus berpisah dengan orang tuanya. Kata-kata ayahnya terus
terngiang dalam ingatannya dan membuatnya bersemangat untuk menjalani kehidupan
di keluarga Om Hadi.
“Aku akan jadi
malaikatmu, ayah.” Batinnya.
****
0 komentar:
Posting Komentar