Kembara tinggal
di kawasan perumahan pinggiran kota. Suasana perumahan yang hijau makin
menambah sejuk suasana. Rumahnya tidak memiliki pagar hingga aku bisa
langsung mengetuk pintu.
Rupanya Kembara
telah menunggu kedatanganku. Ketukan pertama, pintu langsung terbuka.
Aku membayangkan seandainya aku tidak jadi datang. Bagaimana reaksi
Kembara? Tentu dia akan kecewa. Meski menemuinya membuat hati Farhan
kecewa. Aku hanya merasa jika saat ini Kembara lebih membutuhkan aku
dari pada Farhan.
“Masuklah, Dena.”
Ucapnya lalu terus melangkah menuju ruang tengah. Ruangan ini hanya
terdiri dari satu sofa dan tivi layar datar yang memberi kesan santai
untuk penghuninya. Aku memilih duduk di kursi kecil dekat tembok. Tidak
mungkin aku duduk berdua dengan Kembara di sofa.
“Bisakah kamu
duduk di sini? Terlalu jauh jika di situ. Aku duduk di situ jika ingin
membaca koran.” Katanya sambil menepuk sofa di sampingnya. Aku berdiri
mendekat lalu duduk di sebelahnya. Duduk di sofa memang nyaman.
Kembara
menghidupkan tivi lalu mencari channel. Agak lama dia mencari siaran
hingga harus berpindah-pindah channel. Entah siaran apa yang ingin di
tontonnya. Akhirnya dia berhenti pada siaran berita di salah satu
stasiun yang khusus menyiarkan berita.
“Mas Kembara tinggal sama siapa di sini?” tanyaku saat dia meletakkan remote tivi.
“Aku tinggal sendiri. Ada pembantu tapi hanya saat pagi dia datang dan sesekali jika ada pekerjaan tambahan.”
“Maaf sudah merepotkanmu. Aku baru ingat kalau malam ini malam minggu.”
“Tidak apa-apa mas. Besok aku libur. Kami bergiliran tugas setiap hari minggu.”
Kembara berdiri lalu menuju kulkas.
“Mau minum apa, Dena?”tanyanya sambil membuka kulkas.
“Air putih saja,mas.”
Sebotol aqua dingin dan dua gelas di letakkan di atas meja. Dia menuangkan air ke dalam dua gelas tersebut.
“Silahkan diminum.”
“Makasih.”
Sambil minum aku
terus berpikir. Sejak datang dan berada sekitar lima belas menit dalam
rumahnya, belum ada pembicaraan tentang Siska atau hal-hal yang
menyangkut hubungan mereka. Apakah Kembara mengundangku bukan untuk
membicarakan masalah tersebut?
“Mas, boleh tahu sebenarnya alasan mas mengundangku itu apa ya? Sejak tadi aku memikirkan soal Siska. Apa benar pikiranku itu?”
Kembara menyandarkan tubuhnya di sofa.
“Terus terang aku
kecewa dengan Siska. Kecewa karena harapanku tidak sesuai kenyataan.
Siska juga tidak menceritakan soal kehamilannya padahal kami hampir
menikah. Aku terus mencarinya karena rasa bersalah telah mengabaikannya
di masa lalu tapi ternyata dia memanfaatkan rasa cintaku untuk
kepentingannya sendiri. Aku benar-benar kecewa..”
“Siska sedang tertekan mas, dia tidak tahu harus mengambil keputusan seperti apa untuk mengatasi masalahnya.”
“Tapi jangan memanfaatkan aku..”
“Dia sudah menyadari. Sepertinya Siska dan Gilang sudah membuka komunikasi lagi tentang masalah mereka.”
“Oh, ya. Syukurlah jika demikian. Aku tidak ingin dianggap tak punya perasaan karena meninggalkannya.”
Kembara meraih
gelas berisi minuman. Dalam sekali tegukan gelas itu langsung kosong.
Dia menuangkan lagi air kedalam gelasnya. Kulihat ada perasaan gelisah
yang tersirat di wajahnya. Kegelisahan yang berusaha dia tutupi dariku.
Setelah meneguk air untuk kedua kalinya. Dia meletakkan gelas itu lalu
duduk tegak. Matanya menatap layar tivi tapi aku tahu dia sedang
memikirkan sesuatu, entah apa.
“Padahal aku sangat mencintainya, seharusnya dia bisa menjaga diri..”
Suara Kembara terdengar getir.
“Kalian berpisah
lama dan mas juga tak ada kabar berita. Apa yang terjadi sekarang
mungkin sudah takdir kalian. Bukan jodoh untuk terikat tali pernikahan.”
“Benar. Aku yang tidak menyadari sejak lama kalau ikatan cinta kami tidak akan langgeng seperti impian kami.”
Tiba-tiba Kembara
melempar tembok dengan gelas yang ada di atas meja. Aku terkesima.
Kaget dengan sikapnya yang diluar dugaanku. Pecahan gelas itu
berhamburan, berjatuhan seperti kristal-kristal bening. Sejenak suasana
hening hanya helaan nafas berat dari Kembara.
Aku bingung dan
hanya bisa duduk terpaku. Kembara lalu menyandarkan tubuhnya ke sofa.
Meraih bantal sofa lalu menutup wajahnya. Aku kemudian berdiri bermaksud
merapikan pecahan gelas tersebut. Tapi saat hendak melewatinya, Kembara
memegang tanganku.
“Biarkan saja. Nanti pembantu yang membereskan.”
Ucapannya
membuatku duduk kembali. Kami berdua lalu terdiam. Aku merasa tidak
nyaman dengan situasi seperti ini. Kupandangi Kembara bermaksud untuk
mohon pamit tapi saat ingin mengucapkan kata-kata tersebut, Kembara
mengangkat bantal yang menutupi wajahnya.
Aku urung
mengucapkan pamit saat kulihat mata Kembara merah dan bulir-bulir air
mata mengalir di pipinya. Kembara menangis. Aku takjub melihatnya.
“Tolong katakan
pada Siska. Kelak jika menikah, jangan pernah menghianati suaminya.
Jangan lagi memikirkan aku. Sekarang tidak ada lagi Kembara yang akan
menjadi sandarannya. Kembara yang dulu sudah hilang.”
“Mas, mewakili Siska, aku minta maaf kalau dia telah menyakiti mas Kembara. Maafkan dia.”
“Tidak ada yang
perlu di maafkan. Seharusnya aku tidak lagi memikirkan masa lalu. Hingga
kemarin aku masih terkurung. Hidup dalam rasa penyesalan dan selalu
ingin mengembalikan masa lalu. Kejadian ini membuatku sadar, aku telah
membuang-buang waktuku.”
“Tidak ada yang sia-sia, mas Kembara. Setiap masalah pasti ada hikmah di baliknya. Ini semua sudah digariskan yang Maha Kuasa.”
Kembara menatapku.
“Dena, boleh aku minta tolong padamu?”
“Ya. Ada apa, mas?”
“Malam ini temani
aku, ya. Aku ingin jalan-jalan tapi tidak ingin sendiri. Aku tidak
ingin bersama orang lain, masalahku ini cukup kamu saja yang tahu.”
Aku belum memberi
jawaban tapi Kembara sudah beranjak dari sofa dan menuju kamarnya.
Tidak lama dia muncul dengan jaket dan kunci di tangannya.
“Ayo, kita keliling naik mobilku.” Ajaknya lalu meraih tanganku.
Kembara sama
sekali tidak menanti jawabanku. Aku teringat diriku. Apakah Kembara
merasakan seperti yang aku rasakan dulu ketika bermasalah dengan papa?
Saat itu aku sangat ingin bersama seseorang yang mengerti keadaanku.
Farhan hadir pada saat yang tepat. Aku tidak punya pilihan lain selain
ingin bersamanya melepaskan beban masalah yang menumpuk di kepalaku kala
itu.
Sepanjang
perjalanan Kembara memutar lagu-lagu pop slow. Dia tidak berbicara hanya
menatap lurus ke jalan raya. Perasaan orang terluka mungkin seperti
ini. Kehadiran kita di sampingnya meski tak berbicara adalah pengobat
rasa luka.
“Kamu pernah
jatuh cinta, Dena?” pertanyaan Kembara membuat lamunanku buyar berganti
dengan perasaan kaget. Sekian lama dia diam, sekali berucap bikin
jantungku nyaris copot.
“Jatuh cinta?”
aku balik bertanya. Apakah cinta bertepuk sebelah tangan, bisa
dikategorikan jatuh cinta juga? Aku sendiri tidak yakin apakah itu jatuh
cinta atau hanya perasaan simpati pada seseorang.
“Iya. Jatuh cinta. Kamu mustahil tidak pernah pacaran. Iya, kan?”
Rasanya aku ingin
melompat turun dari mobil ini. Bagaimana mungkin aku mengatakan dengan
jujur kalau aku tidak pernah pacaran. Jatuh cinta saja masih meragukan
apalagi pacaran?
“Kamu ada pacar ya, sekarang?”
Pertanyaan Kembara makin menjurus dan membuatku makin terpojok. Aku harus menjawab apa?
“Untuk saat ini aku tidak punya pacar, mas.”
Farhan maafkan aku, bukan maksudku mengabaikanmu. Tapi bukankah kita memang tidak sedang pacaran?
“Syukurlah, berarti malam ini kita kencan ya..” Kembara tertawa.
“Semoga kamu
tidak sedang patah hati seperti diriku. Dua orang yang patah hati akan
sangat berbahaya. Tidak ada yang berpikir normal. Saat ini kamu adalah
pengawasku. Jangan memperhatikan yang lain selain aku.”
Aku termangu.
Sekarang aku pengawas? Kenapa bukan sekalian pengawal pribadi atau
istilah kerennya bodyquard? Aku memang tidak sedang patah hati tapi
bukan berarti aku tidak punya masalah. Apakah lelaki ini tahu kalau
pikiranku saat ini sedang kalut?
“Kita mau kemana, mas?” tanyaku karena mobil perlahan-lahan memasuki pusat keramaian kota.
“Jangan khawatir.
Saat aku sedang kalut, aku tidak suka mendatangi tempat ramai. Kita
hanya lewat di tempat ini. Selanjutnya kamu akan lihat sendiri, kemana
aku akan membawamu.”
( Bersambung )
0 komentar:
Posting Komentar