Senin, 20 Agustus 2012

Impian Dena #11

0

 

Pagi-pagi sekali aku menemui Siska di kamarnya. Keadaannya benar-benar mengenaskan. Aku miris melihat tubuhnya yang makin kurus. Ku raih selimut untuk menutupi tubuhnya.

Baru saja aku berbalik hendak menuju pintu, suara Siska yang lemah memanggilku. Aku mendekat dan duduk di sampingnya.

 “Dena, semalam ada sms dari Gilang. Dia memintaku memberi kesempatan padanya. Menurutmu, apa sebaiknya aku menerima permintaannya?”

Mata Siska mulai berair membuatku ikut sedih dan menangis. Aku mengangguk terharu.

“Saat ini orang yang seharusnya bertanggung jawab adalah Gilang bukan Kembara, Sis. Terlepas dari kau mencintainya atau tidak, tapi dia dulu adalah kekasihmu dan ayah dari anakmu. Memilih dan memaksa Kembara, itu hanya akan menambah masalah baru. Pernikahan bukan waktu yang singkat. Walau saat ini dia sangat mencintaimu dan merasa bersalah akan masa lalu kalian tapi hati seseorang juga bisa berubah. Jika Kembara menikah dengan rasa terpaksa dan kecewa mungkin saja di kemudian hari itu akan jadi bumerang buatmu.”

Siska menangis. Matanya sembab. Mungkin karena menangis semalaman hingga kantung hitam tampak jelas di bawah matanya.

“Baiklah. Aku juga tidak boleh egois dan hanya memikirkan diriku sendiri. Kasihan Kembara jika harus bertanggung jawab sementara bukan dia yang melakukannya. Hanya saja aku tidak bisa menerima Gilang dengan sepenuh hati. “

Aku menghela nafas. Kuraih tangannya mencoba memberi semangat agar dia tetap sabar.

“Kamu sabar saja ya, Sis. Pasrahkan semuanya pada Yang Kuasa. Bukan maksudku menghakimi atau mengkritik. Kamu sudah melakukan kesalahan, jangan menambah kesalahan baru lagi dengan memilih Kembara. Kecuali dia sendiri yang meminta. Tata hidupmu satu persatu. Kita belum tahu apa yang akan terjadi nanti, bisa saja Gilang berubah menjadi laki-laki yang sesuai harapanmu. Semua masih mungkin untuk terjadi.”

Siska terlihat makin sedih mendengar ucapanku. Tidak ada pilihan baginya selain menerima Gilang kembali pasca putus beberapa waktu yang lalu. Kehamilan Siska membuat mereka menyatu kembali.

Hari ini Siska tidak masuk kerja. Melihat kondisinya yang tidak bisa bangun dari tempat tidur membuatku ingin ijin dari tempat kerja tapi Siska melarangnya. Dia tidak ingin merepotkan karena beberapa hari ini aku lembur. Aku  juga belum menceritakan pada Siska tentang masalahku, biarlah itu menjadi bebanku.

Kedatanganku di sambut Farhan yang seperti sengaja menungguku di gerbang. Dari atas angkot aku lihat dia celingak-celinguk mencari seseorang.

“Nunggu siapa, Farhan?” tanyaku.

“Tunggu kamu. Aku cemas karena semalam telponmu sibuk melulu.” Jawab Farhan. Kami berjalan masuk ke toko. Di dalam teman-teman sudah sibuk membereskan barang-barang di gudang.

“Oh, aku lagi teponan dengan teman.” Kuletakkan tas di dalam lemari karyawan.

“Bener teman? Kok ngobrolnya sampai tengah malam?”

“Bener. Dia temanku. Kalo kamu nggak percaya, nih telpon sendiri orangnya.” Kuserahkan hape, refleks Farhan menolak.

“Aku percaya. Tapi rasanya tidak tenang melepasmu kemarin. Takut terjadi sesuatu...”

Farhan terkekeh. Aku juga ikut tersenyum.

“Nanti malam kamu ada acara nggak?” tanya Farhan kemudian ketika aku membuka laci mencari nota. Dia bersandar pada rak barang.

Aku berpikir sesaat.

“Sepertinya nggak ada. Mungkin aku akan ke rumah sakit melihat  papa. Itu saja.”

“Oke. Gimana kalo kita  sama-sama menengok papamu?”

Aku mengangguk. Farhan terlihat senang lalu meninggalkanku sambil bersiul riang. Semakin hari aku merasa dia adalah teman yang baik. Mungkinkah suatu saat dia menjadi kekasihku. Pikiran ini membuatku tersenyum sendiri.

Saat hendak mengambil dos di deretan rak, tiba-tiba hapeku berdering. Ku lihat layar handphone, nama mas Damar yang tertera di sana.

“Halo, Assalamu Alaikum..” jantungku berdebar kencang. Teringat suara dingin mas Damar sewaktu mengusirku dari rumah sakit.

“Wa Alaikum Salam. Dena, ini aku mas Damar.” Suara mas Damar terdengar tenang.

“Iya, mas. Ada apa?”

“Kapan kamu kembali ke rumah? Kami ingin saat papa keluar dari rumah sakit, kamu juga sudah tinggal bersama kami. Jika tidak, itu sama saja dengan membuat papa sakit kembali. Selama ini papa tenang dan berangsur-angsur membaik karena kami mengatakan kamu akan pulang.”

Kerongkonganku terasa kering. Aku tak mampu bersuara. Selama ini aku sangat takut jika ada yang menanyakan kapan aku akan pulang. Aku rindu papa dan mama, tapi apa aku sanggup menjalani kehidupan bersama mereka? Lain jika kami hanya tinggal bertiga seperti dulu. Aku merasa tidak nyaman. Meski mbak Mia sudah menjamin tidak akan ada sikap seperti dulu lagi, tapi batinku tetap tidak tenang.

“Dena. Kamu bersedia pulang kan?” suara mas Damar mengagetkanku.

“Iya, mas.” Akhirnya aku menjawab dengan wajah miris. Jawaban yang masih aku ragukan tapi tidak mungkin aku mengatakan tidak. Mas Damar akan tersinggung dan itu bisa saja memicu kemarahannya. Kalau tidak ingat pesan mbak Mia agar aku patuh saja pada ucapan mas Damar, tentu aku akan menolak keinginannya. Sekarang kami sedang dalam tahap saling mengoreksi diri masing-masing. Jika mengikuti ego maka tidak akan ada penyelesaian. Kami satu keluarga, meski saling benci, tetap ada ikatan darah yang membuat kasih sayang itu tetap ada.

Mas Damar kemudian menutup pembicaraan. Sekarang aku yang duduk terpaku menatap lantai. Seharusnya aku senang karena akhirnya bisa kumpul kembali dengan keluarga, tapi mengapa batinku masih tidak tenang?

“Dena! Ada permintaan barang dari depan!” aku berdiri kaget mendengar namaku di sebut. Buru-buru ku raih gagang telpon paralel yang menghubungkan dengan karyawan yang bertugas di bagian pemesanan. Karena asyik melamun aku terlupa dengan tugasku.

“Lain kali jangan melamun.” Tegur Rifat yang lewat di sampingku sambil tersenyum. Aku memasang wajah cemberut membuatnya menjauh sambil tertawa.

Lepas istrahat siang pemesanan barang kian banyak. Kami makin sibuk. Menurut pengalaman karyawan yang lain, setiap pertengahan tahun, toko sangat ramai. Banyak pelanggan dari luar daerah yang memesan barang hingga kami harus lembur untuk mengantisipasi permintaan keesokan harinya.

“Malam ini sepertinya kita  lembur, Dena.” Farhan sudah berada di belakangku.

“Benarkah? Bukankah dua hari ini kita tidak lembur?”

“Iya, tapi tadi bos memberitahu, akan ada kiriman barang jam sembilan malam nanti. Kalau tidak dibereskan malam ini juga, besok pasti kita keteteran.”

Aku terdiam. Teringat masalah Siska dan masalahku sendiri.

“Kenapa? Kamu tidak suka kerja di tempat ini? Kalau kamu nggak bisa lembur, jangan dipaksa, nanti aku cari orang yang akan menggantikanmu.”

“Bukan itu. Aku senang kok bekerja di tempat ini. Jangan khawatir aku akan baik-baik saja.”

“Tapi kamu terdiam, Itu pertanda kecewa atau ada hal lain? Papamu sudah membaik kan?”

Aku mengangguk.

“Lalu masalah apa? Jangan segan berbagi denganku.” Farhan rupanya masih penasaran.

“Kamu tenang saja. Bukan masalah besar kok.” Kataku lalu melanjutkan pekerjaan.

Namun rupanya perkiraanku akan bisa lembur malam ini terpaksa harus kubatalkan. Telpon dari Kembara memintaku ke rumahnya membuatku tak bisa menolak. Suaranya sangat frustasi dan sedih. Aku penasaran ingin tahu keadaannya setelah semalam kami hanya ngobrol lewat handphone.

“Pengganti? Bukankah tadi kamu bersedia untuk lembur?” Farhan tampak tak percaya dengan ucapanku. Ada gurat kekecewaan di wajahnya.

“Tadinya kupikir biar lembur di kantor asal kita berdua bisa menikmati malam minggu bersama-sama, itu saja sudah membahagiakan. Sekarang kamu malah meminta aku untuk mencari pengganti. Kamu mau kemana sih? Kencan ya?” Farhan menatapku lekat penuh selidik. Kulihat sinar kecemburuan di matanya.

“Ada urusan penting yang harus aku selesaikan. Ini mendadak, aku baru tahu tadi.” Kataku. Farhan menghela nafas sambil memainkan pulpen di jemarinya.

“Baiklah malam ini aku lembur dengan Etha.”

“Apa??”

“Siapa lagi yang bisa di ajak lembur selain dia? Semua punya jadwal masing-masing. Karena Etha lowong, terpaksa dia yang menggantikanmu.”

Farhan kemudian berlalu. Meninggalkanku dengan perasaan aneh yang tiba-tiba saja muncul. Mengapa saat dia menyebutkan nama Etha, ada perasaan tidak suka yang hadir dalam hatiku. Apakah aku cemburu? Aku bergidik. Ngeri membayangkan jika ternyata Etha dan Farhan kembali menjadi sepasang kekasih. Apakah itu artinya aku mulai menyukai Farhan?

Lalu aku harus bersikap bagaimana tidak mungkin aku mengabaikan permintaan Kembara. Saat ini dia dan Siska sedang terpuruk. Jika dibandingkan dengan Siska yang masih memiliki Gilang, Kembara tak memiliki siapapun untuk dijadikan teman bicara. Setidaknya ini yang aku tahu. Jika dia memiliki seseorang yang bisa di jadikan teman curhat untuk apa dia menghubungiku? Sebagai sahabat Siska, mungkin aku bisa membantunya.

( Bersambung )



0 komentar:

Posting Komentar