Aku terbatuk-batuk mencoba memecah keakraban Niar
dan mas Idham. Walau terkesan baik, sikap mas Idham belum sepantasnya
seperti itu. Kami baru saja mengenalnya, seharusnya dia masih menjaga
sikap. Aku juga menyesalkan sikap Niar. Saat mas Idham berada begitu
dekat dibelakangnya seharusnya dia menyingkir. Tapi bagaimana lagi.
Semua ketemu pada saat yang tidak tepat. Niar lagi tulalit, mas Idham
lagi ingin berakrab ria, Jen lagi kasmaran. Yang muncul di permukaan
adalah kecemburuan.
Aku berdiri. Kususul Jen ke kamar. Dia sedang duduk di pembaringan memeluk guling.
" Kamu kenapa?" Jen menunduk. Wajahnya begitu murung. Aku duduk disampingnya.
" Karena mas Idham, ya?" tebakku. Jen menatapku.Dia tidak menangis hanya wajahnya terlihat sendu.
" Kenapa setiap ada cowok yang mendekati kita,
pasti Niar yang selalu jadi perhatian. Apa karena dia tulalit?" aku
tersenyum walau cuma sesaat.
" Jangan bawa-bawa tulalit, kamu pikir Niar senang dengan penyakitnya itu?Dia stress"
" Lalu kenapa setiap cowok yang melihatnya
langsung suka?" aku terdiam. Aku juga tidak tahu. Mungkin Niar memang
memiliki kelebihan yang tidak kami ketahui. Dan yang bisa melihat itu
hanya lelaki. Entahlah.
" Kamu benar suka dengan mas Idham?" Jen mengangguk.
" Pikirkan lagi. Aku takut ini hanya rasa sesaat. Kamu kan sudah punya Ardi, kog masih mengejar mas Idham?"
" Aku masih belum yakin dengan Ardi" Aku menghela
nafas. Entah saat ini aku harus membela siapa. Mungkin sebaiknya aku
netral saja.
" Aku tidak ingin membela siapapun diantara
kalian. Karena status kalian sama. Sama-sama punya kekasih. Kalau
kemudian mas Idham menyukai Niar dan Niar menerimanya. Kamu harus
menerima kenyataan."
Aku kemudian keluar kamar. Kulihat mas Idham
tengah menuntun Niar mencari sesuatu di depan laptopnya. Tingkah mereka
seperti sepasang kekasih. Aku melangkah mendekati mereka.
" Niar" panggilku. Niar mendongak.
" Jen memanggilmu" kataku sambil duduk. Niar
segera berdiri. Dia melangkah masuk ke kamar. Mas Idham kembali
menyandarkan tubuhnya di kursi sambil memandangi Niar.
Aku kembali menulis.
" Mbak nggak suka ya dengan saya?" tiba-tiba mas Idham menatapku. Aku merasa aneh dengan pertanyaannya.
" Nggak kog mas, kenapa mas bicara seperti itu?" mas Idham tersenyum.
" Hanya menebak. Temanmu lebih dulu masuk, lalu
menyusul satu lagi. Apa kamu yang menyuruh mereka" Aku menyandarkan
tubuhku di sofa.
" Itu hanya perasaan mas Idham saja. " kataku
sambil tersenyum. Pandangan mas Idham masih terlihat ragu. Apa yang dia
katakan ada benarnya. Jen sama sekali tidak memanggil Niar. Akulah yang
tiba-tiba mendapat ide itu saat kulihat tingkah mereka sudah
berlebihan.Aku menghentikan menulisku. Atau jangan-jangan aku yang
merasa cemburu? Akh, buru-buru kutepiskan pikiran seperti itu.
***
Tengah malam aku terbangun karena perasaan ingin
buang air kecil yang tiba-tiba datang. Aku melihat ke samping ke arah
Jen dan Niar. Mereka terlihat lelap dalap tidurnya. Tidak tega rasanya
membangunkan mereka. Aku beringsut turun dari tempat tidur, lalu
melangkah sempoyongan menuju pintu. Sengaja tidak kunyalakan lampu
kamar, takut mengganggu lelapnya tidur mereka. Begitu juga saat membuka
pintu. Aku membukanya dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan
bunyi.
Saat pintu terbuka dan baru kepalaku yang bisa
melewati pintu, kulihat sekelebat bayangan menuju ke belakang. Bayangan
itu melintas melewati lorong menuju dapur. Kututup pintu dengan cepat.
Aku terdiam beberapa saat, mencoba mengembalikan kesadaranku karena
pengaruh kantuk yang masih tersisa. Bayangan apa itu? Apakah bayangan
orang ataukah hantu? Apakah aku tetap akan kebelakang? Bagaimana kalau
bayangan yang aku lihat itu bayangan hantu? Ihh. Bulu kudukku merinding.
Tapi rasa penasaranku lebih besar. Tak ada lagi
keinginan untuk buang air kecil. Rasa itu hilang saat aku melihat
sekelebat bayangan itu. Keberanianku tiba-tiba muncul. Mungkin bukan
keberanian tapi lebih tepatnya perasaan nekad. Kubuka lagi pintu dengan
perlahan lalu aku keluar. Kakiku melangkah pelan seolah enggan menyentuh
lantai. Kususuri lorong menuju dapur dengan degup jantung berpacu
dengan cepat. Mataku kurasakan tak berkedip menatap ke depan. Makin
dekat ke dapur, makin terdengar suara-suara aneh. Tapi suara itu tidak
membuatku takut justru membuatku makin penasaran.
Diujung lorong aku berhenti. Aku memajukan
kepalaku sedikit untuk mengintip di balik tembok. Arah suara itu dari
kamar kosong yang ada dekat dapur. Kutajamkan pandanganku karena lampu
dapur menyilaukan mataku yang baru saja dari ruang gelap. Suara itu
terdengar makin jelas dan arahnya benar dari kamar kosong. Setelah
beberapa menit berdiri. Aku melangkah mendekati kamar kosong itu.
Rasanya aku ingin berhenti tapi kakiku terus berjalan. Tiba dekat pintu
aku berhenti. Sekilas kadang muncul cahaya dari dalam ruangan seperti
cahaya senter.
Aku mengintip ke dalam ruangan. Mataku
membelalak. Kulihat mas Idham tengah mencari sesuatu. Dia meneranginya
dengan senter yang ada di tangannya. Sesekali senter itu tak terarah
karena mas Idham sibuk dengan tangan yang satunya. Aneh. Apa yang dicari
mas Idham dalam ruangan kosong ini? Bukankah dia baru datang tadi pagi?
Apa yang dia cari di rumah yang baru saja dia datangi? Kalau dia
membutuhkan sesuatu kenapa tidak menunggu esok hari saat hari terang,
bukannya tengah malam seperti ini? Kudengar mas Idham berbicara sendiri.
" Dimana dia menaruhnya? gadis sialan. Awas kalau tidak ketemu"
Aku memasang telingaku baik-baik. Masih terdengar
suara mas Idham yang berbicara sendiri. Memang benar mas Idham mencari
sesuatu. Apa mas Idham tidak takut berada dalam ruangan itu? Rasa curiga
memenuhi pikiranku. Kenapa mas idham seolah sudah terbiasa dengan rumah
ini? Dia bahkan tidak takut untuk memasuki ruangan yang dia tahu
angker. Tiba-tiba mas Idham berbalik. Dia mengarahkan senternya ke arah
pintu. Mungkin dia curiga atau dia merasa ada sesuatu di dekat pintu.
Aku secepatnya berlari dengan menahan kaki agar
tak terlalu menghentak lantai. Aku kembali ke kamarku. Kututup pintu
dengan cepat. Nafasku tidak beraturan. Kulihat Jen dan Niar masih
terlelap. Kuatur nafasku. Malam ini terasa lebih menyeramkan dari pada
malam kemarin. Karena malam ini yang aku hadapi adalah manusia. Manusia
yang datang dengan senyuman dan tatapan yang manis. Sama sekali tidak
mengundang kecurigaan.
Aku membuka pintu sedikit. Nampak bayangan
mendekat, muncul di lorong dari dapur. Kututup pintu. Lewat lubang pintu
aku mengintip. Langkah kaki mas Idham nyaris tak terdengar. Mungkin dia
menjaga langkahnya agar kami tidak terbangun.Kudengar pintu kamar
terbuka lalu menutup kembali. Aku baru saja hendak naik ketempat tidur
ketika terdengar suara mengagetkanku.
" Tin, kamu bangun ya? Anterin aku buang air kecil" suara Niar membuat jantungku nyaris lepas.***
Bersambung....
0 komentar:
Posting Komentar