Senin, 07 Mei 2012

[Tiga Wanita] Siapa Dia? #6#

0

gambar www.google.com

Aku terbatuk-batuk mencoba memecah keakraban Niar dan mas Idham. Walau terkesan baik, sikap mas Idham belum sepantasnya seperti itu. Kami baru saja mengenalnya, seharusnya dia masih menjaga sikap. Aku juga menyesalkan sikap Niar. Saat mas Idham berada begitu dekat dibelakangnya seharusnya dia menyingkir. Tapi bagaimana lagi. Semua ketemu pada saat yang tidak tepat. Niar lagi tulalit, mas Idham lagi ingin berakrab ria, Jen lagi kasmaran. Yang muncul di permukaan adalah kecemburuan.

Aku berdiri. Kususul Jen ke kamar. Dia sedang duduk di pembaringan memeluk guling.

" Kamu kenapa?" Jen menunduk. Wajahnya begitu murung. Aku duduk disampingnya.

" Karena mas Idham, ya?" tebakku. Jen menatapku.Dia tidak menangis hanya wajahnya terlihat sendu.

" Kenapa setiap ada cowok yang mendekati kita, pasti Niar yang selalu jadi perhatian. Apa karena dia tulalit?" aku tersenyum walau cuma sesaat.

" Jangan bawa-bawa tulalit, kamu pikir Niar senang dengan penyakitnya itu?Dia stress"

" Lalu kenapa setiap cowok yang melihatnya langsung suka?" aku terdiam. Aku juga tidak tahu. Mungkin Niar memang memiliki kelebihan yang tidak kami ketahui. Dan yang bisa melihat itu hanya lelaki. Entahlah.

" Kamu benar suka dengan mas Idham?" Jen mengangguk.

" Pikirkan lagi. Aku takut ini hanya rasa sesaat. Kamu kan sudah punya Ardi, kog masih mengejar mas Idham?"

" Aku masih belum yakin dengan Ardi" Aku menghela nafas. Entah saat ini aku harus membela siapa. Mungkin sebaiknya aku netral saja.

" Aku tidak ingin membela siapapun diantara kalian. Karena status kalian sama. Sama-sama punya kekasih. Kalau kemudian mas Idham menyukai Niar dan Niar menerimanya. Kamu harus menerima kenyataan."

Aku kemudian keluar kamar. Kulihat mas Idham tengah menuntun Niar mencari sesuatu di depan laptopnya. Tingkah mereka seperti sepasang kekasih. Aku melangkah mendekati mereka.

" Niar" panggilku. Niar mendongak.

" Jen memanggilmu" kataku sambil duduk. Niar segera berdiri. Dia melangkah masuk ke kamar. Mas Idham kembali menyandarkan tubuhnya di kursi sambil memandangi Niar.

Aku kembali menulis.

" Mbak nggak suka ya dengan saya?" tiba-tiba mas Idham menatapku. Aku merasa aneh dengan pertanyaannya.

" Nggak kog mas, kenapa mas bicara seperti itu?" mas Idham tersenyum.

" Hanya menebak. Temanmu lebih dulu masuk, lalu menyusul satu lagi. Apa kamu yang menyuruh mereka" Aku menyandarkan tubuhku di sofa.

" Itu hanya perasaan mas Idham saja. " kataku sambil tersenyum. Pandangan mas Idham masih terlihat ragu. Apa yang dia katakan ada benarnya. Jen sama sekali tidak memanggil Niar. Akulah yang tiba-tiba mendapat ide itu saat kulihat tingkah mereka sudah berlebihan.Aku menghentikan menulisku. Atau jangan-jangan aku yang merasa cemburu? Akh, buru-buru kutepiskan pikiran seperti itu.

***

Tengah malam aku terbangun karena perasaan ingin buang air kecil yang tiba-tiba datang. Aku melihat ke samping ke arah Jen dan Niar. Mereka terlihat lelap dalap tidurnya. Tidak tega rasanya membangunkan mereka. Aku beringsut turun dari tempat tidur, lalu melangkah sempoyongan menuju pintu. Sengaja tidak kunyalakan lampu kamar, takut mengganggu lelapnya tidur mereka. Begitu juga saat membuka pintu. Aku membukanya dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan bunyi.

Saat pintu terbuka dan baru kepalaku yang bisa melewati pintu, kulihat sekelebat bayangan menuju ke belakang. Bayangan itu melintas melewati lorong menuju dapur. Kututup pintu dengan cepat. Aku terdiam beberapa saat, mencoba mengembalikan kesadaranku karena pengaruh kantuk yang masih tersisa. Bayangan apa itu? Apakah bayangan orang ataukah hantu? Apakah aku tetap akan kebelakang? Bagaimana kalau bayangan yang aku lihat itu bayangan hantu? Ihh. Bulu kudukku merinding.

Tapi rasa penasaranku lebih besar. Tak ada lagi keinginan untuk buang air kecil. Rasa itu hilang saat aku melihat sekelebat bayangan itu. Keberanianku tiba-tiba muncul. Mungkin bukan keberanian tapi lebih tepatnya perasaan nekad. Kubuka lagi pintu dengan perlahan lalu aku keluar. Kakiku melangkah pelan seolah enggan menyentuh lantai. Kususuri lorong menuju dapur dengan degup jantung berpacu dengan cepat. Mataku kurasakan tak berkedip menatap ke depan. Makin dekat ke dapur, makin terdengar suara-suara aneh. Tapi suara itu tidak membuatku takut justru membuatku makin penasaran.

Diujung lorong aku berhenti. Aku memajukan kepalaku sedikit untuk mengintip di balik tembok. Arah suara itu dari kamar kosong yang ada dekat dapur. Kutajamkan pandanganku karena lampu dapur menyilaukan mataku yang baru saja dari ruang gelap. Suara itu terdengar makin jelas dan arahnya benar dari kamar kosong. Setelah beberapa menit berdiri. Aku melangkah mendekati kamar kosong itu. Rasanya aku ingin berhenti tapi kakiku terus berjalan. Tiba dekat pintu aku berhenti. Sekilas kadang muncul cahaya dari dalam ruangan seperti cahaya senter.

Aku mengintip ke dalam ruangan. Mataku membelalak. Kulihat mas Idham tengah mencari sesuatu. Dia meneranginya dengan senter yang ada di tangannya. Sesekali senter itu tak terarah karena mas Idham sibuk dengan tangan yang satunya. Aneh. Apa yang dicari mas Idham dalam ruangan kosong ini? Bukankah dia baru datang tadi pagi? Apa yang dia cari di rumah yang baru saja dia datangi? Kalau dia membutuhkan sesuatu kenapa tidak menunggu esok hari saat hari terang, bukannya tengah malam seperti ini? Kudengar mas Idham berbicara sendiri.

" Dimana dia menaruhnya? gadis sialan. Awas kalau tidak ketemu"

Aku memasang telingaku baik-baik. Masih terdengar suara mas Idham yang berbicara sendiri. Memang benar mas Idham mencari sesuatu. Apa mas Idham tidak takut berada dalam ruangan itu? Rasa curiga memenuhi pikiranku. Kenapa mas idham seolah sudah terbiasa dengan rumah ini? Dia bahkan tidak takut untuk memasuki ruangan yang dia tahu angker. Tiba-tiba mas Idham berbalik. Dia mengarahkan senternya ke arah pintu. Mungkin dia curiga atau dia merasa ada sesuatu di dekat pintu.

Aku secepatnya berlari dengan menahan kaki agar tak terlalu menghentak lantai. Aku kembali ke kamarku. Kututup pintu dengan cepat. Nafasku tidak beraturan. Kulihat Jen dan Niar masih terlelap. Kuatur nafasku. Malam ini terasa lebih menyeramkan dari pada malam kemarin. Karena malam ini yang aku hadapi adalah manusia. Manusia yang datang dengan senyuman dan tatapan yang manis. Sama sekali tidak mengundang kecurigaan.

Aku membuka pintu sedikit. Nampak bayangan mendekat, muncul di lorong dari dapur. Kututup pintu. Lewat lubang pintu aku mengintip. Langkah kaki mas Idham nyaris tak terdengar. Mungkin dia menjaga langkahnya agar kami tidak terbangun.Kudengar pintu kamar terbuka lalu menutup kembali. Aku baru saja hendak naik ketempat tidur ketika terdengar suara mengagetkanku.

" Tin, kamu bangun ya? Anterin aku buang air kecil" suara Niar membuat jantungku nyaris lepas.***

Bersambung....

0 komentar:

Posting Komentar