Sejak
kejadian semalam aku mulai memperhatikan tingkah laku mas Idham. Pagi
hari saat kusingkap tirai jendela, kulihat dia tengah berolah raga di
halaman.Tanpa aku sadari, Niar ternyata tengah berdiri di belakangku.
“ Ck..ck..pantas aja badannya atletis, suka olah raga” ucapnya seolah menanggapi pandanganku keluar.
“ Jangan
terlalu mudah percaya sama penampilan, bisa kualat kamu” aku
meninggalkan Niar menuju dapur. Saat melangkah sempat kulirik Jen di
dalam kamar. Dia tengah menyiapkan baju untuk di pakai hari ini. Niar
terus mengikutiku.
“ Maksudmu,
mas Idham nggak bisa di percaya?” tanyanya sambil duduk di kursi makan.
Aku menyalakan kompor lalu mengambil panci kemudian mengisinya dengan
air dari kran. Siap-siap untuk menyeduh teh.
Kuletakkan panci diatas kompor. Niar masih menunggu jawabanku.
“ Lebih
baik kamu mandi cepat, sekarang kita berempat loh. Antri di kamar
mandi. Rencana hari ini kita kan mau ke kelurahan trus nyebar undangan”
“ Tapi jawab dulu, kenapa kamu bilang mas Idham nggak bisa di percaya?”
“ Lho, aku nggak bilang begitu”
“ Tapi tadi..” Niar tidak melanjutkan kata-katanya karena mas Idham tiba-tiba muncul dengan senyum manisnya.
“ Gimana mas tidurnya?” Niar mengalihkan kata-katanya ke mas Idham.
“ Nyaman
disini. Pantas saja kalian tidak ingin pindah. Saya malah tidur nyenyak
nggak bangun-bangun semalaman” tenggorokanku rasanya tercekat mendengar
kata-kata mas Idham. Tidur nyenyak? Jadi yang bangun semalam? Yang
mencari sesuatu di kamar belakang itu siapa? Ada - ada saja mas Idham.
“ Nggak ada perasaan takut?” mas Idham tertawa.
“ Rumah
ini nggak angker kog. Kalian tenang saja. Selama saya disini kalian
pasti aman” Aku mengalihkan pandanganku ke panci diatas kompor. Mas
Idham kemudian minta ijin untuk mandi lebih dulu karena sudah janji
dengan seseorang. Untunglah Niar lupa untuk melanjutkan pertanyaan
tentang mas Idham. Dia malah pergi membeli kue di toko sebelah.
***
“ Eh,
mbak bertiga.. ada yang bisa saya bantu” sapa Pak Suwandi,salah seorang
pegawai kelurahan. Dia menyapa kami dengan senyumnya yang ramah.
“ Pak lurah ada?” tanyaku sambil mendekati mejanya.
“ Ada. Mau ketemu?” Aku mengangguk. Niar dan Jen memeriksa map yang mereka bawa.
“ Bisa
minta tolong, pak. Undangan kami ini apa sudah benar?” tanya Niar
sambil memperlihatkan undangan-undangan yang telah kami susun semalam.
Aku
berjalan ke ruangan pak lurah setelah sebelumnya memberi kode ke Niar
dan Jen kalau aku akan ke ruangan pak lurah. Kuketuk pintu lalu kubuka.
“ Assalamu Alaikum” ucapku. Pak lurah kulihat tengah membaca sesuatu. Dia menatapku lalu tersenyum.
“ Wa alaikum salam.” pak lurah membalas salamku.
Aku melangkah masuk. Pak lurah berdiri dan melangkah menuju kursi tamu yang ada di ruangannya.
“ Bagaimana? Ada yang bisa bapak bantu? Persiapannya sudah sampai dimana?” tanya pak lurah.
“ Hari
ini rencana menyebarkan undangan. Pegawai bapak sudah ada yang bersedia
membantu kami menyebarkan. Kami berterima kasih karena sudah membantu
kami”
“ Inikan untuk warga disini juga. Rencananya hari sabtu ini kan?” aku mengangguk.
“ Benar pak. Untuk konsumsi, ibu Darma, pegawai bapak yang akan mengurusnya”
“ Berikan saja sama ibu Darma, dia pakarnya. Sudah terbiasa” katanya sambil tertawa.
“ Bagaimana rumahnya? Betah?” aku tersenyum.
“ Betah
pak, walau angker” jawabku tanpa ragu lagi karena pak lurah sudah tahu
kalau rumah itu angker. Tapi diluar dugaanku wajah pak lurah jadi
berubah. Kalau tadi wajahnya penuh keceriaan tapi kini berubah serius.
“ Angker?
Rumah itu angker? Benarkah?” tanyanya dengan wajah terkejut. Aku jadi
heran karena yang aku tahu, pak lurah lebih dulu tahu daripada kami.
“ Benar pak. Bapak tidak tahu? Kan bapak yang beritahu mas Idham kalau rumah itu angker”
“ Mas Idham? Siapa dia?” aku makin bingung. Ada apa ini. Sejak tadi pak lurah terlihat tidak nyambung dengan ucapanku.
“ Mas
Idham yang tinggal bersama kami. Bukankah bapak kemarin bertemu dengan
dia. Mas Idham kemarin ke sini, katanya bertemu dengan bapak” pak lurah
terdiam. Dia mencoba mengingat.
“ Kemarin nggak ada yang namanya Idham”
“ Mungkin namanya lain, orangnya tinggi, putih. Bodinya atletis seperti olahragawan.”
Pak lurah mencoba mengingat lagi.
“ Kemarin tidak ada anak muda yang bapak temui. Semua orang tua.”
“ Jadi kemarin bapak sama sekali tidak bertemu dengan mas Idham?”
“ Idham siapa? Bapak jadi bingung”
Aku
penasaran. Jadi kemarin mas Idham bertemu siapa? Terus cerita yang dia
sampaikan, yang katanya di ucapkan pak lurah. Apakah itu benar?
“ Maaf pak, apa benar bapak tidak tahu kalau rumah yang kami tempati itu angker?”
“ Jelas bapak nggak tahu. Kalau bapak tahu, mana mungkin bapak tempatkan kalian di sana. Kalian kan perempuan”
Ucapan
pak lurah membuatku makin yakin kalau ada sesuatu yang tidak beres
dengan mas Idham. Sesuatu yang mungkin berhubungan dengan rumah yang
kami tempati. Tapi apa?
Setelah
berbincang dengan pak lurah, aku kemudian keluar dari ruangannya. Masih
dengan rasa penasaran yang kian menguasai pikiranku, aku melangkah
mendekati Niar dan Jen. Mereka terlihat sibuk membantu pak Suwandi
mengatur undangan.
Aku
tidak meneruskan langkahku. Aku memilih ke teras. Ada ide yang
tiba-tiba muncul dikepalaku dan harus aku laksanakan. Aku mengambil
handphone dalam tas lalu mencari nomor telpon kantor pusat. Rasa gugup
menyerangku. Semoga saja berita yang aku dengar tidak seperti yang aku
pikirkan.
“ Hallo..selamat pagi” suara dari seberang terdengar kecil hingga aku harus mengulang beberapa kali.
“ Ya..hallo” akhirnya suara itu terdengar jelas.
“ Hallo selamat pagi, benar ini kantor Mandiri Putra Cemerlang?”
“ Iya. Benar.”
“ Bisa bicara dengan bapak Idham Khalid?”
“ Tunggu sebentar” aku menunggu dengan rasa cemas yang luar biasa. Cemas menunggu jawaban yang nanti aku dapatkan.
“ Hallo” suara dari seberang terdengar lagi.
“ Iya.. bagaimana pak?”
“ Bapak Idham Khalid sudah tidak bekerja disini.”
“ Bagaimana pak?”
“ Pak Idham Khalid sudah dipecat dua minggu yang lalu”
“ Apa? Benar pak? Apa bapak tidak salah orang?”
“ Hanya satu orang yang bernama Idham Khalid, itupun sudah dipecat”
Aku
berdiri dengan tegang. Ternyata yang aku takutkan terbukti. Apa yang
aku pikirkan benar adanya. Mas Idham bukan pegawai kantor kami lagi.
Lalu mengapa dia masih memiliki surat tugas dari kantor? Aku terhenyak.
Bukankah itu hal biasa. Terkadang surat tugas kami lewat dari waktu yang
seharusnya. Karena berbagai kendala yang membuat jeda antara keluarnya
surat tugas dan saat kami memulai kegiatan.
Aku
berbalik.Kupandangi Jen dan Niar yang masih sibuk. Haruskah aku
memberitahu mereka ataukah aku menyimpan sendiri rahasia ini?****
Bersambung…..
0 komentar:
Posting Komentar