Senin, 07 Mei 2012

[Tiga Wanita] Sebuah Rahasia #7#

0




gambar www.google.com

Sejak kejadian semalam aku mulai memperhatikan tingkah laku mas Idham. Pagi hari saat kusingkap tirai jendela, kulihat dia tengah berolah raga di halaman.Tanpa aku sadari, Niar ternyata tengah berdiri di belakangku.

Ck..ck..pantas aja badannya atletis, suka olah raga” ucapnya seolah menanggapi pandanganku keluar.

Jangan terlalu mudah percaya sama penampilan, bisa kualat kamu” aku meninggalkan Niar menuju dapur. Saat melangkah sempat kulirik Jen di dalam kamar. Dia tengah menyiapkan baju untuk di pakai hari ini. Niar terus mengikutiku.

Maksudmu, mas Idham nggak bisa di percaya?” tanyanya sambil duduk di kursi makan. Aku menyalakan kompor lalu mengambil panci kemudian mengisinya dengan air dari kran. Siap-siap untuk menyeduh teh.

Kuletakkan panci diatas kompor. Niar masih menunggu jawabanku.

Lebih baik kamu mandi cepat, sekarang kita berempat loh. Antri di kamar mandi. Rencana hari ini kita kan mau ke kelurahan trus nyebar undangan”

Tapi jawab dulu, kenapa kamu bilang mas Idham nggak bisa di percaya?”

Lho, aku nggak bilang begitu”

Tapi tadi..” Niar tidak melanjutkan kata-katanya karena mas Idham tiba-tiba muncul dengan senyum manisnya.

Gimana mas tidurnya?” Niar mengalihkan kata-katanya ke mas Idham.

Nyaman disini. Pantas saja kalian tidak ingin pindah. Saya malah tidur nyenyak nggak bangun-bangun semalaman” tenggorokanku rasanya tercekat mendengar kata-kata mas Idham. Tidur nyenyak? Jadi yang bangun semalam? Yang mencari sesuatu di kamar belakang itu siapa? Ada - ada saja mas Idham.

Nggak ada perasaan takut?” mas Idham tertawa.

Rumah ini nggak angker kog. Kalian tenang saja. Selama saya disini kalian pasti aman” Aku mengalihkan pandanganku ke panci diatas kompor. Mas Idham kemudian minta ijin untuk mandi lebih dulu karena sudah janji dengan seseorang. Untunglah Niar lupa untuk melanjutkan pertanyaan tentang mas Idham. Dia malah pergi membeli kue di toko sebelah.

***

Eh, mbak bertiga.. ada yang bisa saya bantu” sapa Pak Suwandi,salah seorang pegawai kelurahan. Dia menyapa kami dengan senyumnya yang ramah.

Pak lurah ada?” tanyaku sambil mendekati mejanya.

Ada. Mau ketemu?” Aku mengangguk. Niar dan Jen memeriksa map yang mereka bawa.

Bisa minta tolong, pak. Undangan kami ini apa sudah benar?” tanya Niar sambil memperlihatkan undangan-undangan yang telah kami susun semalam.

Aku berjalan ke ruangan pak lurah setelah sebelumnya memberi kode ke Niar dan Jen kalau aku akan ke ruangan pak lurah. Kuketuk pintu lalu kubuka.

Assalamu Alaikum” ucapku. Pak lurah kulihat tengah membaca sesuatu. Dia menatapku lalu tersenyum.

Wa alaikum salam.” pak lurah membalas salamku.

Aku melangkah masuk. Pak lurah berdiri dan melangkah menuju kursi tamu yang ada di ruangannya.

Bagaimana? Ada yang bisa bapak bantu? Persiapannya sudah sampai dimana?” tanya pak lurah.

Hari ini rencana menyebarkan undangan. Pegawai bapak sudah ada yang bersedia membantu kami menyebarkan. Kami berterima kasih karena sudah membantu kami”

Inikan untuk warga disini juga. Rencananya hari sabtu ini kan?” aku mengangguk.

Benar pak. Untuk konsumsi, ibu Darma, pegawai bapak yang akan mengurusnya”

Berikan saja sama ibu Darma, dia pakarnya. Sudah terbiasa” katanya sambil tertawa.

Bagaimana rumahnya? Betah?” aku tersenyum.

Betah pak, walau angker” jawabku tanpa ragu lagi karena pak lurah sudah tahu kalau rumah itu angker. Tapi diluar dugaanku wajah pak lurah jadi berubah. Kalau tadi wajahnya penuh keceriaan tapi kini berubah serius.

Angker? Rumah itu angker? Benarkah?” tanyanya dengan wajah  terkejut. Aku jadi heran karena yang aku tahu, pak lurah lebih dulu  tahu daripada kami.

Benar pak. Bapak tidak tahu? Kan bapak yang beritahu mas Idham kalau rumah itu angker”

Mas Idham? Siapa dia?” aku makin bingung. Ada apa ini. Sejak tadi pak lurah terlihat tidak nyambung dengan ucapanku.

Mas Idham yang tinggal bersama kami. Bukankah bapak kemarin bertemu dengan dia. Mas Idham kemarin ke sini, katanya bertemu dengan bapak” pak lurah terdiam. Dia mencoba mengingat.

Kemarin nggak ada yang namanya Idham”

Mungkin namanya lain, orangnya tinggi, putih. Bodinya atletis seperti olahragawan.”

Pak lurah mencoba mengingat lagi.

Kemarin tidak ada anak muda yang bapak temui. Semua orang tua.”

Jadi kemarin bapak sama sekali tidak bertemu dengan mas Idham?”

Idham siapa? Bapak jadi bingung”

Aku penasaran. Jadi kemarin mas Idham bertemu siapa? Terus cerita yang dia sampaikan, yang katanya di ucapkan pak lurah. Apakah itu benar?

Maaf pak, apa benar bapak tidak tahu kalau rumah yang kami tempati itu angker?”

Jelas bapak nggak tahu. Kalau bapak tahu, mana mungkin bapak tempatkan kalian di sana. Kalian kan perempuan”

Ucapan pak lurah membuatku makin yakin kalau ada sesuatu yang tidak beres dengan mas Idham. Sesuatu yang mungkin berhubungan dengan rumah yang kami tempati. Tapi apa?

Setelah berbincang dengan pak lurah, aku kemudian keluar dari ruangannya. Masih dengan rasa penasaran yang kian menguasai pikiranku, aku melangkah mendekati Niar dan Jen. Mereka terlihat sibuk membantu pak Suwandi mengatur undangan.

Aku tidak meneruskan langkahku. Aku memilih ke teras. Ada ide yang tiba-tiba muncul dikepalaku dan harus aku laksanakan. Aku mengambil handphone dalam tas lalu mencari nomor telpon kantor pusat. Rasa gugup menyerangku. Semoga saja berita yang aku dengar tidak seperti yang aku pikirkan.

Hallo..selamat pagi” suara dari seberang terdengar kecil hingga aku harus mengulang beberapa kali.

Ya..hallo” akhirnya suara itu terdengar jelas.

Hallo selamat pagi, benar ini kantor Mandiri Putra Cemerlang?”

Iya. Benar.”

Bisa bicara dengan bapak Idham Khalid?”

Tunggu sebentar” aku menunggu dengan rasa cemas yang luar biasa. Cemas menunggu jawaban yang nanti aku dapatkan.

Hallo” suara dari seberang terdengar lagi.

Iya.. bagaimana pak?”

Bapak Idham Khalid sudah tidak bekerja disini.”

Bagaimana pak?”

Pak Idham Khalid sudah dipecat dua minggu yang lalu”

Apa? Benar pak? Apa bapak tidak salah orang?”

Hanya satu orang yang bernama Idham Khalid, itupun sudah dipecat”

Aku berdiri dengan tegang. Ternyata yang aku takutkan terbukti. Apa yang aku pikirkan benar adanya. Mas Idham bukan pegawai kantor kami lagi. Lalu mengapa dia masih memiliki surat tugas dari kantor? Aku terhenyak. Bukankah itu hal biasa. Terkadang surat tugas kami lewat dari waktu yang seharusnya. Karena berbagai kendala yang membuat jeda antara keluarnya surat tugas dan saat kami memulai kegiatan.

Aku berbalik.Kupandangi Jen dan Niar yang masih sibuk. Haruskah aku memberitahu mereka ataukah aku menyimpan sendiri rahasia ini?****

Bersambung…..

0 komentar:

Posting Komentar