Minggu, 06 Mei 2012

Sepeda

0

Umur 10 tahun

Mak, Sassya mau sepeda seperti Yuli. Kemana-mana enak bisa rame-rame” pinta Sassya pada mamanya. Mamanya sedang sibuk menyiapkan makan malam di dapur. Mendengar permintaan putrinya yang entah sudah ke berapa kalinya membuat mamanya merengut.

Sassya, mak sudah minta sama bapak kamu, tapi tidak ada duit nak. Kamu kan bisa dibonceng sama temanmu” ucap mamanya tanpa berpaling.

Sassya meninggalkan mamanya dengan wajah cemberut. Dia masuk ke dalam kamarnya lalu menangis. Mamanya tidak tahu sejak beberapa hari ini tak ada lagi yang bisa memboncengnya. Yuli sudah punya teman baru. Ada murid baru di kelas mereka. Murid baru itulah yang selalu dibonceng bukan lagi dirinya.

Umur 25 tahun

Sassya! Untuk apa kamu belikan Valen sepeda? Dia baru tiga tahun” protes mamanya saat Sassya datang dari pasar sambil membawa sepeda baru. Sepeda kecil yang cantik. Valen berlompatan sejak mamanya muncul di ujung gang. Dipegangnya sepeda itu seakan tak ingin berpisah. Dia juga melarang orang lain menyentuh sepeda itu. Anak-anak tetangga tidak boleh menyentuhnya. Valen akan langsung memukul tangan mereka jika menyentuh sepedanya.

Sassya hanya terdiam mendengar omelan mamanya. Dipandanginya wajah anaknya. Dia bahagia melihat wajah Valen yang terlihat gembira. Valen duduk di atas sadel sepedanya. Dia mengayuh sepedanya dalam rumah. Dengan tertawa-tawa dia mengelilingi ruang tamu yang tidak seberapa luas. Dua roda kecil yang menyangga di belakang menjaga posisinya hingga dia tidak jatuh.

Buang-buang uang! Kamu tahukan adikmu sudah mau daftar sekolah, kenapa kamu malah beli sepeda?” mamanya masih terus mengomel. Sassya berusaha menenangkan dirinya.  Dia tidak ingin terpancing emosi karena omelan mamanya. Dia terus mendorong sepeda anaknya.

” Kasihan Valen, ma.Anak-anak tetangga semuanya punya sepeda. Hanya dia yang belum. Saya tidak tega melihatnya hanya menatap dari teras” kata Sassya dengan suara pelan.

” Jangan diikuti. Sekarang musim sepeda. Nanti apalagi. Apa semua harus diikuti? lama-lama dia juga lupa”

Sassya termenung mendengar perkataan mamanya. Apa mama tidak tahu, sampai sekarang saya masih merasa sedih karena dulu mama tidak bisa membelikan saya sepeda? Batin Sassya ingin berteriak. Saya tahu alasannya. Karena waktu itu bang Zaenal masuk sma. Sekarang haruskah Valen yang memendam kesedihan karena saya tidak bisa membelikan dia sepeda? hanya karena Nana, adik  bungsu akan masuk sma? Biarkan saya menikmati kebahagiaan saya melalui Valen, walau hanya dengan sepeda kecil, Sassya terus berbicara dalam hati.****

gambar www.google.com

0 komentar:

Posting Komentar