Umur 10 tahun
“ Mak,
Sassya mau sepeda seperti Yuli. Kemana-mana enak bisa rame-rame” pinta
Sassya pada mamanya. Mamanya sedang sibuk menyiapkan makan malam di
dapur. Mendengar permintaan putrinya yang entah sudah ke berapa kalinya
membuat mamanya merengut.
“ Sassya,
mak sudah minta sama bapak kamu, tapi tidak ada duit nak. Kamu kan bisa
dibonceng sama temanmu” ucap mamanya tanpa berpaling.
Sassya
meninggalkan mamanya dengan wajah cemberut. Dia masuk ke dalam kamarnya
lalu menangis. Mamanya tidak tahu sejak beberapa hari ini tak ada lagi
yang bisa memboncengnya. Yuli sudah punya teman baru. Ada murid baru di
kelas mereka. Murid baru itulah yang selalu dibonceng bukan lagi
dirinya.
Umur 25 tahun
“ Sassya!
Untuk apa kamu belikan Valen sepeda? Dia baru tiga tahun” protes
mamanya saat Sassya datang dari pasar sambil membawa sepeda baru. Sepeda
kecil yang cantik. Valen berlompatan sejak mamanya muncul di ujung
gang. Dipegangnya sepeda itu seakan tak ingin berpisah. Dia juga
melarang orang lain menyentuh sepeda itu. Anak-anak tetangga tidak boleh
menyentuhnya. Valen akan langsung memukul tangan mereka jika menyentuh
sepedanya.
Sassya
hanya terdiam mendengar omelan mamanya. Dipandanginya wajah anaknya.
Dia bahagia melihat wajah Valen yang terlihat gembira. Valen duduk di
atas sadel sepedanya. Dia mengayuh sepedanya dalam rumah. Dengan
tertawa-tawa dia mengelilingi ruang tamu yang tidak seberapa luas. Dua
roda kecil yang menyangga di belakang menjaga posisinya hingga dia
tidak jatuh.
“ Buang-buang
uang! Kamu tahukan adikmu sudah mau daftar sekolah, kenapa kamu malah
beli sepeda?” mamanya masih terus mengomel. Sassya berusaha menenangkan
dirinya. Dia tidak ingin terpancing emosi karena omelan mamanya. Dia
terus mendorong sepeda anaknya.
”
Kasihan Valen, ma.Anak-anak tetangga semuanya punya sepeda. Hanya dia
yang belum. Saya tidak tega melihatnya hanya menatap dari teras” kata
Sassya dengan suara pelan.
” Jangan diikuti. Sekarang musim sepeda. Nanti apalagi. Apa semua harus diikuti? lama-lama dia juga lupa”
Sassya
termenung mendengar perkataan mamanya. Apa mama tidak tahu, sampai
sekarang saya masih merasa sedih karena dulu mama tidak bisa membelikan
saya sepeda? Batin Sassya ingin berteriak. Saya tahu alasannya. Karena
waktu itu bang Zaenal masuk sma. Sekarang haruskah Valen yang memendam
kesedihan karena saya tidak bisa membelikan dia sepeda? hanya karena
Nana, adik bungsu akan masuk sma? Biarkan saya menikmati kebahagiaan
saya melalui Valen, walau hanya dengan sepeda kecil, Sassya terus
berbicara dalam hati.****
0 komentar:
Posting Komentar