Azan
maghrib berkumandang seiring hujan yang mulai turun membasahi desa.
Suara hujan yang bergemuruh dari kejauhan seolah memberi tanda kalau
dalam hitungan detik mereka akan turun dengan derasnya. Kami bertiga
sedang dalam kamar merapikan pakaian-pakaian saat hujan itu itu
benar-benar deras menyentuh genteng rumah. Cuaca yang tadi terasa panas
perlahan-lahan mulai terasa dingin. Suara jatuhan air dari genteng
terdengar jelas saat menyentuh lantai samping. Suaranya seperti irama
yang begitu indah. Namun hanya sesaat. Angin kencang yang menyertai
hujan menimbulkan suara-suara aneh. Dari arah belakang terdengar suara
seolah pintu menutup. Lampu juga sedetik padam tapi menyala kembali.
Kami bertiga saling pandang. Jen berlari menutup pintu kamar..
“ Kenapa di tutup?” tanyaku heran. Wajah Jen menyatu antara cemas dan takut.
“ Apa kamu tidak mendengar suara tadi?”
“ Mungkin
suara kayu yang jatuh. Dibelakang kan banyak kayu-kayu yang disusun
dekat tembok” kataku mencoba menenangkan walau aku sendiri mulai merasa
takut. Aku berani kalau sudah terbiasa, tapi ini rumah baru. Aku belum
menyesuaikan diri dengan suasananya.
“ Kita
sama-sama kebelakang untuk wudhu” aku berdiri lalu melangkah menuju
pintu. Niar dan Jen masih duduk di tempat tidur. Aku berbalik menatap
mereka.
“ Kalian
pikir aku berani kebelakang sendirian? Kalian takut atau tidak mau
sholat? Tidak mungkin kan kita tayammum. Alasan kita tidak di terima
malaikat”
Mereka
lalu mengikutiku kebelakang. Suasana memang terasa menyeramkan. Saat
kami berjalan di lorong menuju dapur terdengar lagi suara kriik lalu duk
yang saling bergantian. Kami refleks merapatkan diri. Aku penasaran
dengan suara itu. Kami lihat pintu dapur tidak terbuka. Lalu suara
seperti pintu terbuka tadi itu apa?. Saat di dapur mata kami tertuju ke
kamar yang tak ada pintunya. Aku mulai berpikir untuk menutup kamar
itu. Toh kami juga tidak menempatinya.
Kubuka
pintu menuju teras belakang. Hembusan angin menyambut kami. Hujan yang
disertai angin kencang yang tidak beraturan arah membuat kami kecipratan
air hujan. Kami bergantian masuk ke dalam kamar mandi. Pintu kamar
mandi juga sengaja tidak kami tutup.
Sambil
menunggu, aku memperhatikan lokasi halaman belakang.Masih terdengar
suara kriik dan duk bergantian. Aku penasaran untuk mencari arah suara
itu. Aku baru mau melangkah, Jen menarik tanganku.
“ Kalau
kamu pingsan, kami yang duluan mati. Aku tahu kamu berani, tapi jangan
sekarang. Jantungku tinggal setengah, itu juga karena kamu ada disini.
Besok pagi saja kita periksa” kuurungkan niatku. Benar kata Jen. Apakah
aku bisa menjamin tidak pingsan saat melihat hal-hal yang menakutkan?
Dan kalau aku pingsan mungkin teman-temanku lebih panik lagi.
“ Kalian
liat apa?” tegur Niar saat melihat kami menghadap ke arah halaman di
teras belakang. Jen menyentuh tanganku. Itu isyarat untuk tidak
memberitahu Niar. Diantara kami bertiga, Niar yang paling penakut.
“ Tidak, cuma melihat hujan”kataku lalu masuk ke dalam kamar mandi. Setelah aku giliran Jen yang masuk untuk berwudhu.
“ Disini memang harus pasang lampu yang terang. Kalau malam begini suasana sangat gelap” kataku. Niar mengangguk.
“ Iya. “ baru saja Niar selesai mengucapkan kata-katanya terdengar suara hiiii.
Aku
dan Niar berpandangan. Suara apa itu? Niar sudah pucat. Jen yang ada di
kamar mandi buru-buru keluar. Ternyata dia mendengar suara itu juga.
Kami berlari masuk kedalam rumah. Aku yang menutup pintu karena Niar dan
Jen tidak berani. Sambil menutup pintu mataku melihat lagi kamar kosong
yang terlihat gelap dari luar. Tapi tidak lama karena kami langsung
berlari masuk ke kamar.
“ Kita
jangan keluar lagi..besok saja. Air minum kan ada disini kita tidak
perlu kebelakang” Jen bersuara dengan gemetar. Dia duduk di tempat
tidur.
“ Tapi
bagaimana dengan kamu, Niar? Kamu suka buang air kecil tengah malam.
Apa malam ini kamu bisa menahannya?” tanyaku. Aku sebenarnya tidak tega
karena itu sudah menjadi kebiasaannya. Wajah Niar tanpa ekspresi
memandangku. Aku tahu dia takut tapi rasa takutnya tertutupi dengan
masalah baru yang aku cetuskan. Dia tentu harus berusaha keras untuk
tidak buang air kecil malam ini. Dan itu perjuangan yang berat untuk
seorang Niar yang sejak kecil selalu buang air kecil tengah malam.
Selesai
sholat maghrib kami merapikan kembali barang-barang kami. Hujan masih
saja menunjukkan kekuasaannya. Sejak tadi tidak ada tanda-tanda hujan
akan mereda. Sementara suara-suara itu bukannya menghilang, bahkan
semakin sering kami dengar. Setiap kali suara itu terdengar kami bertiga
saling pandang.
“ Aku
bisa menerima suara yang lain tapi suara seperti pintu ditutup itu dan
suara hiiii, itu dari mana? Kita sudah liat tadi siang tidak ada pintu
yang tidak terkunci. Pintu halaman belakang juga terkunci” Jen bersuara
setelah beberapa saat kami saling diam karena di cekam rasa takut.
“ Jangan
sebut-sebut itu lagi. Besok saja” Niar sudah mengigil ketakutan.
Wajahnya tidak berubah tetap saja pucat. Kalau tadi dia merapikan
pakaiannya, sekarang sepertinya tenaganya tidak ada lagi. Dia berbaring
memeluk guling di tempat tidur.
“ Sehabis sholat Isya kita ke kamar sebelah” kataku sambil berdiri memasukkan pakaian yang sudah kami rapikan ke dalam lemari.
“ Kita
tidur disini saja. Aku sudah nggak mau keluar lagi” Niar menyambung
kata-kataku sambil menutup matanya. Dia memeluk erat gulingnya. Aku dan
Jen saling pandang. Tidak ada pilihan lain. Niar sudah tidak bisa
bergerak lagi karena takut. Biarlah malam ini kami tidur dulu disini.
Dikamar ini juga ada tempat tidur.
Tengah
malam aku terbangun karena suara keras dari teras samping. Suara
seperti benda jatuh. Aku membuka mataku. Saat itu kurasakan ada yang
menyentuh tanganku. Aku melihat kesamping. Dalam gelap kulihat bayangan
Niar menatapku.
“ Tin, aku mau buang air” Niar meringis seperti berusaha bertahan.
“ Kamu betul-betul sudah nggak bisa menahannya?” Niar mengangguk.
“ Sejak
tadi aku tahan. Aku nggak tega bangunkan kamu” aku jadi iba melihatnya.
Ternyata malam ini tetap saja Niar tidak bisa melewatinya dengan
tenang. Penyakit tengah malamnya kambuh. Malam-malam sebelumnya bukan
masalah karena musuh kami hanya rasa kantuk. Tapi malam ini bukan lagi
kantuk yang jadi masalah tapi rasa takut kami. Aku bangkit dari
pembaringan.
“ Aku
antar kamu. Kalau nggak sekarang, bisa-bisa sampai pagi kamu nggak
tidur” Aku berdiri dan berjalan menuju pintu lalu menyalakan lampu.
Mataku sesekali masih terpejam karena kantuk yang masih belum hilang.
Niar dengan cepat bangkit dari pembaringan. Dia berjalan di belakangku.
“ Kalian mau kemana?” Jen tiba-tiba bersuara membuat kami kompak berbalik ke belakang.
“ Niar mau buang air. Kamu mau buang air juga?” tanyaku.
Jen
bangun dan berjalan kearah kami. Matanya terpejam. Dia langsung memeluk
lenganku. Niar juga ikut-ikut memeluk lenganku yang satunya. Akhirnya
hanya aku yang membuka mata sambil berjalan. Baginilah nasib tiga wanita
yang penakut, batinku sambil tersenyum. Dalam kondisi ketakutan
ternyata masih ada hal lucu yang bisa membuat aku tersenyum.
Kami
berjalan melewati lorong menjuju dapur. Kedua temanku sama sekali tidak
membuka mata. Aku melirik lagi kamar kosong yang tidak ada pintunya.
Kenapa aku selalu melihat kekamar itu?
Aku
membuka pintu belakang. Suasana tetap dingin walau hujan sejak tadi
berhenti. Lampu yang temaram membuat suasana di teras belakang menjadi
remang-remang. Apalagi dengan cuaca sehabis hujan, halaman belakang
terlihat sangat gelap. Niar masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Jen
masih bergelayut di lenganku. Kepalanya di sandarkan di bahuku. Dia
memejamkan matanya. Tiba-tiba ada suara kriik yang lumayan keras. Jen
tersentak kaget. Matanya jadi membelalak karena kaget. Niar yang ada di
kamar mandi berlari keluar. Kami melihat arah datangnya suara kriik itu.
Tiba-tiba ada suara hiii. Niar dan Jen langsung memelukku. Kami
menahan nafas. Mata kami melihat di atas tembok pembatas.
“ Apa itu?” Niar nyelutuk.
Aku
lebih memusatkan mataku. Ada bayangan putih melintas. Aku tidak bisa
lagi berfikir. Pikiranku sudah tidak bisa berkoordinasi dengan hatiku.
Satu-satunya ajaran yang aku tahu adalah ambil langkah seribu. Jen dan
Niar tidak lagi memeluk lenganku. Mereka secepat kilat berlari masuk ke
dalam rumah meninggalkan aku di belakang. Aku terpaksa harus
memberanikan diri untuk menutup pintu karena mereka berdua sudah ngacir
masuk ke dalam kamar. Tanganku gemetar saat menutup pintu. Kembali aku
melihat kamar kosong itu namun hanya sekilas karena kemudian aku berlari
ke kamar. Sambil berlari terlintas dalam pikiranku kalau rumah ini
benar-benar angker.*******
Bersambung…..
0 komentar:
Posting Komentar