Minggu, 06 Mei 2012

[Tiga Wanita]Rumah Ini Benar-benar Angker # 2 #

0



gambar www.google.com


Azan maghrib berkumandang seiring hujan yang mulai turun membasahi desa. Suara hujan yang bergemuruh dari kejauhan seolah memberi tanda kalau dalam hitungan detik mereka akan turun dengan derasnya. Kami bertiga sedang dalam kamar merapikan pakaian-pakaian saat hujan itu itu benar-benar deras menyentuh genteng rumah. Cuaca yang tadi terasa panas perlahan-lahan mulai terasa dingin. Suara jatuhan air dari genteng terdengar jelas saat menyentuh lantai samping. Suaranya seperti irama yang begitu indah. Namun hanya sesaat. Angin kencang yang menyertai hujan menimbulkan suara-suara aneh. Dari arah belakang terdengar suara seolah pintu menutup. Lampu juga sedetik padam tapi menyala kembali. Kami bertiga saling pandang. Jen berlari menutup pintu kamar..

“ Kenapa di tutup?” tanyaku heran. Wajah Jen menyatu antara cemas dan takut.

“ Apa kamu tidak mendengar suara tadi?”

“ Mungkin suara kayu yang jatuh. Dibelakang kan banyak kayu-kayu yang disusun dekat tembok” kataku mencoba menenangkan walau aku sendiri mulai merasa takut. Aku berani kalau sudah terbiasa, tapi ini rumah baru. Aku belum menyesuaikan diri dengan suasananya.

“ Kita sama-sama kebelakang untuk wudhu” aku berdiri lalu melangkah menuju pintu. Niar dan Jen masih duduk di tempat tidur. Aku berbalik menatap mereka.

“ Kalian pikir aku berani kebelakang sendirian? Kalian takut atau tidak mau sholat? Tidak mungkin kan kita tayammum. Alasan kita tidak di terima malaikat”

Mereka lalu mengikutiku kebelakang. Suasana memang terasa menyeramkan. Saat kami berjalan di lorong menuju dapur terdengar lagi suara kriik lalu duk yang saling bergantian. Kami refleks merapatkan diri. Aku penasaran dengan suara itu. Kami lihat pintu dapur tidak terbuka. Lalu suara seperti pintu terbuka tadi itu apa?. Saat di dapur mata kami  tertuju ke kamar yang tak ada pintunya. Aku mulai berpikir untuk menutup kamar itu. Toh kami juga tidak menempatinya.

Kubuka pintu menuju teras belakang. Hembusan angin menyambut kami. Hujan yang disertai angin kencang yang tidak beraturan arah membuat kami kecipratan air hujan. Kami bergantian masuk ke dalam kamar mandi. Pintu kamar mandi juga sengaja tidak kami tutup.

Sambil menunggu, aku memperhatikan lokasi halaman belakang.Masih terdengar suara kriik dan duk bergantian. Aku penasaran untuk mencari arah suara itu. Aku baru mau melangkah, Jen menarik tanganku.

Kalau kamu pingsan, kami yang duluan mati. Aku tahu kamu berani, tapi jangan sekarang. Jantungku tinggal setengah, itu juga karena kamu ada disini. Besok pagi saja kita periksa” kuurungkan niatku. Benar kata Jen. Apakah aku bisa menjamin tidak pingsan saat melihat hal-hal yang menakutkan? Dan kalau aku pingsan mungkin teman-temanku lebih panik lagi.

Kalian liat apa?” tegur Niar saat melihat kami menghadap ke arah halaman di teras belakang. Jen menyentuh tanganku. Itu isyarat untuk tidak memberitahu Niar. Diantara kami bertiga, Niar yang paling penakut.

Tidak, cuma melihat hujan”kataku lalu masuk ke dalam kamar mandi. Setelah aku giliran Jen yang masuk untuk berwudhu.

Disini memang harus pasang lampu yang terang. Kalau malam begini suasana sangat gelap” kataku. Niar mengangguk.

“ Iya. “ baru saja Niar selesai mengucapkan kata-katanya terdengar suara hiiii.

Aku dan Niar berpandangan. Suara apa itu? Niar sudah pucat. Jen yang ada di kamar mandi buru-buru keluar. Ternyata dia mendengar suara itu juga. Kami berlari masuk kedalam rumah. Aku yang menutup pintu karena Niar dan Jen tidak berani. Sambil menutup pintu mataku melihat lagi kamar kosong yang terlihat gelap dari luar. Tapi tidak lama karena kami langsung berlari masuk ke kamar.

“ Kita jangan keluar lagi..besok saja. Air minum kan ada disini kita tidak perlu kebelakang” Jen bersuara dengan gemetar. Dia duduk di tempat tidur.

“ Tapi bagaimana dengan kamu, Niar? Kamu suka buang air kecil tengah malam. Apa malam ini kamu bisa menahannya?” tanyaku. Aku sebenarnya tidak tega karena itu sudah menjadi kebiasaannya. Wajah Niar tanpa ekspresi memandangku. Aku tahu dia takut tapi rasa takutnya tertutupi dengan masalah baru yang aku cetuskan. Dia tentu harus berusaha keras untuk tidak buang air kecil malam ini. Dan itu perjuangan yang berat untuk seorang Niar yang sejak kecil selalu buang air kecil tengah malam.

Selesai sholat maghrib kami merapikan kembali barang-barang kami. Hujan masih saja menunjukkan kekuasaannya. Sejak tadi tidak ada tanda-tanda hujan akan mereda. Sementara suara-suara itu bukannya menghilang, bahkan semakin sering kami dengar. Setiap kali suara itu terdengar kami bertiga saling pandang.

“ Aku bisa menerima suara yang lain tapi suara seperti pintu ditutup itu dan suara hiiii, itu dari mana? Kita sudah liat tadi siang tidak ada pintu yang tidak terkunci. Pintu halaman belakang juga terkunci” Jen bersuara setelah beberapa saat kami saling diam karena di cekam rasa takut.

“ Jangan sebut-sebut itu lagi. Besok saja” Niar sudah mengigil ketakutan. Wajahnya tidak berubah tetap saja pucat. Kalau tadi dia merapikan pakaiannya, sekarang sepertinya tenaganya tidak ada lagi. Dia berbaring memeluk guling di tempat tidur.

“ Sehabis sholat Isya kita ke kamar sebelah” kataku sambil berdiri memasukkan pakaian yang sudah kami rapikan ke dalam lemari.

“ Kita tidur disini saja. Aku sudah nggak mau keluar lagi” Niar menyambung kata-kataku sambil menutup matanya. Dia memeluk erat gulingnya. Aku dan Jen saling pandang. Tidak ada pilihan lain. Niar sudah tidak bisa bergerak lagi karena takut. Biarlah malam ini kami tidur dulu disini. Dikamar ini juga ada tempat tidur.

Tengah malam aku terbangun karena suara keras dari teras samping. Suara seperti benda jatuh. Aku membuka mataku. Saat itu kurasakan ada yang menyentuh tanganku. Aku melihat kesamping. Dalam gelap kulihat bayangan Niar menatapku.

“ Tin, aku mau buang air” Niar meringis seperti berusaha bertahan.

“ Kamu betul-betul sudah nggak bisa menahannya?” Niar mengangguk.

“ Sejak tadi aku tahan. Aku nggak tega bangunkan kamu” aku jadi iba melihatnya. Ternyata malam ini tetap saja Niar tidak bisa melewatinya dengan tenang. Penyakit tengah malamnya kambuh. Malam-malam sebelumnya bukan masalah karena musuh kami hanya rasa kantuk. Tapi malam ini bukan lagi kantuk yang jadi masalah tapi rasa takut kami. Aku bangkit dari pembaringan.

“ Aku antar kamu. Kalau nggak sekarang, bisa-bisa sampai pagi kamu nggak tidur” Aku berdiri dan berjalan menuju pintu lalu menyalakan lampu. Mataku sesekali masih terpejam karena kantuk yang masih belum hilang. Niar dengan cepat bangkit dari pembaringan. Dia berjalan di belakangku.

“ Kalian mau kemana?” Jen tiba-tiba bersuara membuat kami kompak berbalik ke belakang.

“ Niar mau buang air. Kamu mau buang air juga?” tanyaku.

Jen bangun dan berjalan kearah kami. Matanya terpejam. Dia langsung memeluk lenganku. Niar juga ikut-ikut memeluk lenganku yang satunya. Akhirnya hanya aku yang membuka mata sambil berjalan. Baginilah nasib tiga wanita yang penakut, batinku sambil tersenyum. Dalam kondisi ketakutan ternyata masih ada hal lucu yang bisa membuat aku tersenyum.

Kami berjalan melewati lorong menjuju dapur. Kedua temanku sama sekali tidak membuka mata. Aku melirik lagi kamar kosong yang tidak ada pintunya. Kenapa aku selalu melihat kekamar itu?

Aku membuka pintu belakang. Suasana tetap dingin walau hujan sejak tadi berhenti. Lampu yang temaram membuat suasana di teras belakang menjadi remang-remang. Apalagi dengan cuaca sehabis hujan, halaman belakang terlihat sangat gelap. Niar masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Jen masih bergelayut di lenganku. Kepalanya di sandarkan di bahuku. Dia memejamkan matanya. Tiba-tiba ada suara kriik yang lumayan keras. Jen tersentak kaget. Matanya jadi membelalak karena kaget. Niar yang ada di kamar mandi berlari keluar. Kami melihat arah datangnya suara kriik itu. Tiba-tiba ada suara hiii. Niar dan Jen langsung memelukku. Kami menahan nafas. Mata kami melihat di atas tembok pembatas.

“ Apa itu?” Niar nyelutuk.

Aku lebih memusatkan mataku. Ada bayangan putih melintas. Aku tidak bisa lagi berfikir. Pikiranku sudah tidak bisa berkoordinasi dengan hatiku. Satu-satunya ajaran yang aku tahu adalah ambil langkah seribu. Jen dan Niar tidak lagi memeluk lenganku. Mereka secepat kilat berlari masuk ke dalam rumah meninggalkan aku di belakang. Aku terpaksa harus memberanikan diri untuk menutup pintu karena mereka berdua sudah ngacir masuk ke dalam kamar. Tanganku gemetar saat menutup pintu. Kembali aku melihat kamar kosong itu namun hanya sekilas karena kemudian aku berlari ke kamar. Sambil berlari terlintas dalam pikiranku kalau rumah ini benar-benar angker.*******

Bersambung…..

0 komentar:

Posting Komentar