Siang itu aku masuk ke kamar Sheila. Aku tahu dia ada dalam kamarnya. Kulihat dia sedang tidur. Aku menggerakkan badannya.
“ Kamu gimana, sih. Aku kan lagi tidur” protes Sheila.
“ Hei, non. Sekarang sudah jam berapa? Jam setengah empat. Kamu nggak mau kursus?” tanyaku. Sheila berbalik. Dia kembali tidur.
“ Eh, bangun. Ntar bosmu mas Fandy ngamuk”
“ Biarin!
biarin!” Sheila berteriak. Aku yang dengar jadi kaget. Biasanya Sheila
yang paling rajin ke tempat kursus. Malah kalau aku merasa malas dialah
yang mendorongku untuk rajin datang. Memberikan semangat. Tapi sekarang?
“ Sheilla, kamu berantem ya dengan mas Fandy?”
“ Nggak usah tanya-tanya. Gih sana aku mau tidur!”
“ Lho, dulu kamu maksain aku masuk. Sekarang malah kamu yang malas-malasan”
“ Aku nggak mau pergi Mela. Sekalipun kamu memaksa, aku tetap tidak akan pergi”
“ Kamu kenapa, sih? Kenapa tidak mau pergi? Aku nggak enak ke tempat kursus sendirian”
Sheila
tidak berkata-kata lagi. Dia memeluk gulingnya lalu menutup mata. Aku
keluar dari kamarnya dengan perasaan kesal. Aku tidak bisa membayangkan
pergi sendirian ke tempat kursus musik. Andai teman-teman cowok yang
sekelas denganku tidak seganteng aktor-aktor korea, mungkin aku tidak
akan segugup ini. Tapi aku terpaksa harus pergi. Daya tangkapku yang
sangat lemah membuatku harus rajin mengikuti pelajaran. Kalau tidak
pasti mas Fandy akan mencecarku dengan kata-kata yang sangat halus namun
menikam.
_________
Tiba
di tempat kursus aku memarkir motorku. Badanku sudah gemetaran. Sejak
mulai kursus di tempat ini belum pernah sekalipun aku datang sendirian.
Sheila selalu bersamaku. Senyum mbak Vonny menyambutku begitu aku masuk.
“ Hei
Mela. Sheila mana?” tanyanya. Mungkin dia merasa aneh.Kami yang seperti
anak kembar karena selalu datang berdua, tiba-tiba datang seorang diri.
“ Lagi sakit, mbak” jawabku sekenanya. Aku bingung mau memberikan jawaban seperti apa.
“ Oh, gitu toh. Masuk deh sana. Anak-anak sudah sejak tadi di dalam”
Aku
melangkah meniti anak tangga satu persatu. Walau masih kesal dengan
Sheila, aku berusaha menenangkan diri. Aku tidak ingin karena Sheila
pelajaran kursus ku jadi berantakan.
Tiba dalam ruangan aku langsung duduk di tempatku. Mas
Fandy masih memberikan penjelasan di depan ruangan. Karena terlambat
aku agak bingung mau memulai dari mana saat Fandy selesai memberikan
penjelasan.
Fandy mendekatiku.
“ Sendirian, Mel? Sheila nggak masuk?”
“ Lagi sakit, mas” kataku.
“ Oh, lagi sakit. Oke, karena kamu agak telat datang, ntar kamu pulangnya belakangan”
Aku
tercengang. Belakangan? Ada kegiatan apa kenapa aku harus pulang
belakangan?. Tapi aku tidak berani bertanya. Sudah resiko siapa suruh
aku datang terlambat. Ini semua gara-gara Sheila, aku jadi terlambat.
__________
Waktu terus berlalu hingga pukul enam
tepat. Sesuai dengan yang mas Fandy katakan, aku tidak boleh pulang
dulu. Sementara teman-teman yang lain sudah pulang, aku masih tetap
menunggu dalam ruangan.
Mas Fandy mengajakku ke ruangannya.
“ Lho, kog nggak disini mas?” tanyaku heran. Aku mengira kami akan berlatih tambahan karena aku datang terlambat.
“ Apa bedanya non disini dengan di ruanganku. Ada yang mau aku bicarakan denganmu”
Mas Fandy berkata sambil melangkah menuju ruangannya.
Tiba dalam ruangan, mas Fandy memintaku duduk di sofa yang ada dalam ruangan.
“ Ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Ini mengenai Sheila”
“ Sheila kenapa, mas?” tanyaku heran. Mas Fandy mendekatiku.
“ Maafkan aku Mela, sebenarnya Sheila itu naksir sama aku” aku tersentak kaget. Benarkah?
“ Aku
memang begitu. Setiap ada murid baru, aku akan memprioritaskan mereka.
Kamu boleh tanya sama murid-murid yang lain, karena itu memang sudah
tugasku membimbing mereka. Tapi ternyata Sheila salah paham. Dia
memilih menanyakan lebih dulu padaku. Aku jawab saja apa adanya. Dia
ngambek. Dua kali pertemuan dia nggak masuk. Dan ini untuk ketiga
kalinya. Makanya aku mengajakmu bicara supaya kamu bisa memberikan
penjelasan ke Sheila. Kamu kan bisa merasakan kalau akhir-akhir ini aku
lebih memperhatikan kamu, karena kamu masuk belakangan. Si Sheila
rupanya nggak terima. Ya begitulah jadinya..”
Aku
termenung. Jadi selama ini Sheila cemburu sama aku? Aku tidak pernah
menyangka sama sekali kalau saudara sendiri mencemburui aku. Aku kaget
tiba-tiba saja mas Fandy menyentuh tanganku.
“ Andai
kamu bukan muridku, pasti aku mau jadi pacarmu. Tapi sayang sekali kamu
adalah muridku yang harus aku ajar sampai pintar. Nantilah kalau kamu
sudah keluar dari sini. Maukan Mela?”
“ Apa?” tanyaku gugup.
“ Jadi pacarku kalau kamu sudah kelar kursus”
Sungguh
aku tidak tahu perasaan apa yang aku rasakan saat ini. Bencikah,
bahagiakah atau malah sedih. Benarkah mas Fandy tidak memberikan harapan
pada Sheila. Kalau ingat sifat Sheila yang supel dan ceplas ceplos, aku
tidak heran kalau dia berani mengutarakan perasaannya. Tapi apa yang
dikatakan mas Fandy barusan membuatku ragu. Benarkah kejadiannya seperti
yang mas Fandy ceritakan?
Aku
pamit pulang. Tergesa-gesa aku aku keluar dari tempat kursus. Masih
kulihat mas Fandy menatapku dari jendela kaca lantai dua. Tapi aku hanya
melihatnya sekilas. Kujalankan motorku dan segera meninggalkan tempat
kursus. Sepanjang jalan aku terus memikirkan mas Fandy. Aku tiba-tiba
jadi benci dengan mas Fandy. Mengucap kata-kata gombal seperti itu
apalagi namanya kalau bukan play boy. Wajah seganteng dia tentu saja
sudah banyak yang jadi korbannya.
____________
Tiba di rumah Sheila menyambutku dengan wajah muram.
“ Enak ya, habis pacaran. Pantas aja pulangnya telat”
“ Sheila, siapa yang pacaran? Aku latihan kog” Sheila tersenyum sinis.
“ Bohong! Kamu pacarankan dengan mas Fandy. Ngaku aja”
“ Kamu kog menuduh aku seperti itu. Aku nggak pacaran dengan mas Fandy sekarang atau sampai kapanpun” Sheila menatapku heran.
“ Dengar,
aku menganggap mas Fandy sebagai guru. Terserah dia mau menganggap aku
seperti apa. Aku tidak punya perasaan istimewa terhadapnya. Aku bahkan
rencana mau keluar saja. Aku mau mencari tempat kursus yang lain.
Bagaimana? Kamu puaskan?
“ Benarkah? Lalu aku?”
“ Terserah kamu. Mau tetap atau mau keluar juga”
Aku
melangkah ke kamarku. Kutinggalkan Sheila yang masih bengong di depan
pintu. Aku tidak peduli lagi. Lebih cepat aku keluar lebih baik.
___________
Beberapa
hari kemudian saat pulang dari kampus, kudapati Sheila sedang termenung
di teras. Pandangan matanya kosong. Ku sentuh pundaknya.
“ Kamu ngelamunkan apa?”
“ Tadi
Vena kemari. Ternyata mas Fandy juga mengatakan hal yang sama padanya.
Mas Fandy mengatakan kalau dia juga menyukai Vena dan meminta Vena jadi
pacarnya. Dasar playboy brengsek!”
Aku
memandangi Sheila. Rasanya keterangan itu sudah cukup untuk membuatnya
sadar. Aku tidak perlu menambahkan kalau mas Fandy juga pernah
mengatakan menyukaiku. Aku tidak menyesal keluar dari tempat kursus itu.
Tempat itu tidak cocok untuk perempuan. Aku bersyukur tidak masuk ke
dalam perangkap mas Fandy.***
0 komentar:
Posting Komentar