Pagi
itu Retno datang ke kantor. Seperti biasa setelah memarkir motornya dia
melangkah menyusuri halaman kantor. Sambil menebar senyum ke arah
teman-teman kantor yang kebetulan berpapasan, Retno melangkah masuk ke
dalam gedung. Satu persatu teman-teman yang melihatnya langsung
menghampiri, mencium pipi kanan kiri sambil mengucapkan selamat. Retno
merasa aneh.
Dia mencoba mengingat-ingat ada kejadian apa yang berkaitan
dengannya hari ini. Hari ini tanggal empat Desember, bukan hari ulang
tahunnya karena dia lahir 30 Juni. Dia juga tidak sedang dalam promosi
jabatan. Lalu ada kejadian apa? Pikir Retno. Dia mencoba melihat ke
papan pengumuman. Di papan ini biasa menempel pengumuman-pengumuman
penting seputar pekerjaan.
Nama-nama pegawai yang naik golongan atau
jabatan akan tertempel di sini. Retno membaca satu persatu tidak ada
satupun yang berkaitan dengannya. Atau mungkin ada informasi yang
terlewati yang tidak diketahuinya berhubung dia baru saja balik dari
kampung setelah cuti dua minggu.
“ Hai.. ngelamun!” seseorang menepuk bahunya. Retno berbalik. Teman seruangannya Dita tengah tersenyum menatapnya.
“ Selamat
sayang, ya” katanya lalu cium pipi kanan kiri. Retno hanya tersenyum
tipis. Dalam hati dia ingin bertanya. Tapi pertanyaannya hanya tersimpan
di langit-langit hatinya. Retno masih menerka-nerka gerangan apa yang
terjadi hingga pagi ini dia menerima ucapan selamat yang tiada henti?
Retno
berjalan beriringan dengan Dita menuju ruangan mereka. Dita terus
berbicara. Dia menceritakan kisah-kisah selama Retno pulang kampung.
Retno menyimak dengan serius. Dia mencoba mencari informasi dari setiap
kata yang terucap dari bibir Dita. Tapi tidak ada satupun jawaban yang
bisa menjawab rasa penasarannya akan misteri ucapan selamat yang terus
menyambutnya sejak datang pagi ini.
Pintu
ruangan terbuka. Mata teman-temannya langsung tertuju padanya. Suara
riuh membahana dalam ruangan mereka yang lumayan luas.
“ Mbak
Retno… selamat datang… selamat ya” teriak salah seorang dari mereka.
Ada juga beberapa yang bergerak maju menghampiri Retno.Bergantian
memeluk sambil mengucapkan selamat. Retno terkesima. Seingatnya ini
bukan pertama kalinya dia pulang kampung dan seingatnya juga dia tidak
pernah mendapat sambutan semeriah ini setiap kali dia kembali. Retno
larut dalam rasa penasaran. Tapi ada satu yang membuat Retno lebih
penasaran lagi. Sejak tadi dia tidak melihat Dodi. Dodi adalah pegawai
yang selama ini menjadi rekannya dalam tugas. Mereka selalu bersama-sama
setiap kali ada tugas lapangan.
“ Dodi nggak masuk, Dit?” tanyanya. Dita yang sedang merapikan isi laci mejanya mendongak.
“ Dodi? Ada tuh. Tadi aku liat dia ada diruangan Yonas”
Retno
melangkah menuju ruangan Yonas. Ruangan Yonas sangat kecil. Hanya ada
dua kursi di ruangan itu. Retno membuka pintu. Dilihatnya Dodi sedang
mengetik sesuatu di depan komputer. Dodi diam saja. Dia tidak
terpengaruh dengan kehadiran Retno.
“ Lagi
ngetik apa sih, Do?” tanya Retno membuka percakapan dengan Dodi. Dia
merasa kikuk dengan sikap diam Dodi. Biasanya setiap dia kembali dari
kampung, Dodi yang lebih dulu menyambutnya. Matanya penuh dengan sinar
kebahagiaan saat melihat Retno. Tapi sekarang dia terlihat biasa-biasa
saja. Tidak terlihat kegembiraan bisa bertemu lagi dengan Retno.
“ Laporan
biasa, mbak” jawabnya singkat tanpa berbalik. Retno mengeluarkan
sesuatu dari saku bajunya. Diletakkannya di depan Dodi. Dodi
menghentikan kegiatan mengetiknya. Diambilnya kotak pemberian Retno lalu
di taruh di dalam saku celananya. Dia melanjutkan kegiatan mengetiknya.
“ Kamu tidak ingin melihat isi kotak itu?” Retno merasa aneh melihat Dodi tidak melihat oleh-oleh yang dia berikan.
“ Nanti saja. Isinya suvenir pernikahan kan?” Retno mengangguk.
“ Tapi untuk kamu suvenirnya lain. Aku memesannya sendiri. Itu khusus untuk kamu”
“ Nanti
saja aku lihat” Dodi tetap tidak bergeming. Dia nyaris tak pernah
menoleh untuk melihat Retno yang duduk di kursi sebelahnya. Retno mulai
merasa gerah. Setahunya Dodi orangnya tidak seperti ini.
“ Kamu kenapa, Do? Apa kamu tidak senang aku sudah kembali?”
“Nggak ada pengaruhnya kan sama mbak? Aku senang atau sedih mbak juga nggak bakalan peduli”
“ Kog kamu ngomongnya gitu? Apa kamu ada masalah?” Retno masih berusaha bertahan.
“ Nggak
ada. Bisa tidak mbak tinggalkan aku sendiri.Laporan ini nggak bakalan
selesai kalo mbak masih disini” Retno terdiam. Dia tidak beranjak dari
kursi.
“ Kamu sepertinya marah sama aku” ucapnya setelah beberapa menit mereka saling diam.
“ Aku
nggak mungkin bisa marah sama mbak. Kenapa aku harus marah kalau mbak
memilih menikah dengan orang lain?kita toh tidak ada hubungan apa-apa”
“ Menikah? Aku menikah? Kapan aku menikah?” tanya Retno. Dia bingung campur terkejut. Dodi menoleh melihatnya.
“ Mbak
pulang kampung kan untuk menikah. Semua orang sudah tahu kecuali aku.
Aku baru tahu tadi. Aku tidak ada alasan untuk marah. Aku memang pernah
bilang suka sama mbak, tapi mbak belum pernah memberikan jawaban. Kalau
sekarang ternyata mbak sudah menikah, maka itu bukan salah mbak”
Retno
terdiam. Dia paham sekarang. Ternyata dia pulang kampung dianggap
pulang menikah oleh teman-temannya di kantor. Pantas saja sejak tadi dia
banyak menerima ucapan selamat. Tapi siapa yang menyebarkan gosip itu?
Sedikitpun dia tidak pernah mengucapkan kata-kata tentang pernikahan.
Lalu kenapa bisa berhembus gosip kalau dia sudah menikah?
“ Buka kotak itu sekarang” Retno berkata sambil memegang tangan Dodi.
“ Bukalah
kalau kamu ingin tahu kenyataan sebenarnya” Dodi mengikuti kata-kata
Retno. Ditariknya kotak itu dari saku celananya. Lalu perlahan tangannya
membuka bungkusan kotak itu. Dia mengeluarkan sebuah suvenir berbentuk
merpati. Ada kertas kecil yang menempel pada suvenir tersebut. Danang
dan Rani. Dodi membaca nama itu lagi. Bukan nama Retno. Itu artinya
bukan Retno yang menikah. Dipandanginya Retno yang masih menatapnya
dengan tatapan penuh arti.
“ Bukan
aku yang menikah. Kamu tidak marahkan sekarang? Dan merpati itu, apa
kamu lupa artinya?” Dodi teringat saat dia menyatakan perasaannya pada
Retno. Retno berjanji akan memberikan jawaban. Kalau jawabannya sebuah
kipas itu artinya dia menolak Dodi menjadi kekasihnya. Tapi kalau Retno
memberikah hadiah berbentuk merpati itu artinya dia menerima Dodi
menjadi kekasihnya. Sekarang dalam genggaman Dodi ada suvenir berbentuk
merpati. Berarti saat ini Retno menerimanya sebagai kekasih. Dodi
tersenyum. Wajahnya kini berubah cerah. Retno juga. Walau dia masih
penasaran siapa penyebar gosip yang menyebarkan berita pernikahannya.
Tapi Retno bahagia. Dia jadi tahu kalau Dodi benar-benar suka
padanya.******
0 komentar:
Posting Komentar