Jumat, 11 Mei 2012

Karena Surat Sakit

0

12925540691937276727

Aku baru pulang dari kampus siang itu ketika adikku berlari-lari di belakangku. Di dorongnya tubuhku, lalu dia berlari masuk ke dalam rumah. Motorku yang baru saja hendak ku parkir jadi condong ke samping karena tubuhku yang bergerak.

” Cuing! Kamu kenapa sih? Nggak liat apa, kakak lagi nyandar motor?!” teriakku. Cuing adalah adik laki-lakiku yang nomor tiga. Nama lengkapnya sebenarnya Zainuddin. Dia baru duduk di kelas dua sekolah menengah pertama, kalau sekarang namanya kelas delapan.

Setelah urusan motorku beres aku masuk ke dalam rumah. Niatku hanya ingin menegurnya karena rasa kesalku belum hilang. Aku cari di ruang tengah, dia tak ada. Di dapur juga tidak ada. Aku berpikir mungkin dia di kamarnya, kususul ke kamarnya ternyata dia juga tidak ada. Dimana anak itu? Otakku berpikir keras. Aku tersenyum. Aku tahu di mana dia berada. Anak itu kalau ketakutan pasti ada disuatu tempat untuk bersembunyi.

Aku ke gudang belakang. Pintu terlihat sedikit terbuka. Kudorong tidak terkunci. Aku benar-benar yakin kalau Cuing pasti ada di dalam.

” Cuing! Kamu di dalam?” teriakku. Di dalam sunyi senyap. Tidak ada yang bergerak. Aku heran kenapa Cuing begitu ketakutan sehabis mendorongku? Apa hanya karena itu?

” Cuing!” panggilku lagi. Lama berselang kulihat kepala Cuing perlahan-lahan muncul dari balik dos-dos dan kotak-kotak kayu yang tersusun rapat di tembok.

” Kamu kenapa? Kog ketakutan begitu? Kakak nggak marah kog sama kamu, cuma kesal dikit” kataku sambil mendekatinya. Dia menaruh telunjuk di bibirnya.

” Jangan ribut, kak” katanya dengan wajah pucat. Aku makin heran.

” Kamu kenapa, sih?” tanyaku makin penasaran. Cuing kemudian berdiri.

” Wali kelasku ada di depan, kak” pandangannya  ke arah rumah tante Krisna.

” Lho memang kenapa kalau wali kelasmu ada di depan?”

” Aku nggak sekolah hari ini. Tadi aku kirim surat sakit. Pas waktu pulang dari toko ternyata wali kelasku ada di rumah tante Krisna, di depan” wajah Cuing terlihat masih ketakutan. Aku baru sadar kalau  adikku seharusnya ada di sekolah . Sekarang masih jam sekolah.

” Kamu nggak sekolah? Pantas saja kamu ketakutan. Makanya jangan sembarangan bikin surat sakit. Karena malas ke sekolah kamu bikin surat sakit. Sekarang wali kelasmu ada di depan rumah kita. Apa tadi kamu berpapasan?”

” Iya, kak. Rasanya aku malu banget. Nggak mau lagi deh bikin alasan sakit. Wali kelasku malah tersenyum-senyum, aku tambah malu.”

Aku hanya bisa memandangnya dengan rasa kasihan. Adikku memang lagi apes hari ini.****

0 komentar:

Posting Komentar