Aku baru pulang dari kampus siang
itu ketika adikku berlari-lari di belakangku. Di dorongnya tubuhku, lalu
dia berlari masuk ke dalam rumah. Motorku yang baru saja hendak ku
parkir jadi condong ke samping karena tubuhku yang bergerak.
” Cuing! Kamu kenapa sih? Nggak liat
apa, kakak lagi nyandar motor?!” teriakku. Cuing adalah adik laki-lakiku
yang nomor tiga. Nama lengkapnya sebenarnya Zainuddin. Dia baru duduk
di kelas dua sekolah menengah pertama, kalau sekarang namanya kelas
delapan.
Setelah urusan motorku beres aku masuk
ke dalam rumah. Niatku hanya ingin menegurnya karena rasa kesalku belum
hilang. Aku cari di ruang tengah, dia tak ada. Di dapur juga tidak ada.
Aku berpikir mungkin dia di kamarnya, kususul ke kamarnya ternyata dia
juga tidak ada. Dimana anak itu? Otakku berpikir keras. Aku tersenyum.
Aku tahu di mana dia berada. Anak itu kalau ketakutan pasti ada disuatu
tempat untuk bersembunyi.
Aku ke gudang belakang. Pintu terlihat
sedikit terbuka. Kudorong tidak terkunci. Aku benar-benar yakin kalau
Cuing pasti ada di dalam.
” Cuing! Kamu di dalam?” teriakku. Di
dalam sunyi senyap. Tidak ada yang bergerak. Aku heran kenapa Cuing
begitu ketakutan sehabis mendorongku? Apa hanya karena itu?
” Cuing!” panggilku lagi. Lama berselang
kulihat kepala Cuing perlahan-lahan muncul dari balik dos-dos dan
kotak-kotak kayu yang tersusun rapat di tembok.
” Kamu kenapa? Kog ketakutan begitu?
Kakak nggak marah kog sama kamu, cuma kesal dikit” kataku sambil
mendekatinya. Dia menaruh telunjuk di bibirnya.
” Jangan ribut, kak” katanya dengan wajah pucat. Aku makin heran.
” Kamu kenapa, sih?” tanyaku makin penasaran. Cuing kemudian berdiri.
” Wali kelasku ada di depan, kak” pandangannya ke arah rumah tante Krisna.
” Lho memang kenapa kalau wali kelasmu ada di depan?”
” Aku nggak sekolah hari ini. Tadi aku
kirim surat sakit. Pas waktu pulang dari toko ternyata wali kelasku ada
di rumah tante Krisna, di depan” wajah Cuing terlihat masih ketakutan.
Aku baru sadar kalau adikku seharusnya ada di sekolah . Sekarang masih
jam sekolah.
” Kamu nggak sekolah? Pantas saja kamu
ketakutan. Makanya jangan sembarangan bikin surat sakit. Karena malas ke
sekolah kamu bikin surat sakit. Sekarang wali kelasmu ada di depan
rumah kita. Apa tadi kamu berpapasan?”
” Iya, kak. Rasanya aku malu banget.
Nggak mau lagi deh bikin alasan sakit. Wali kelasku malah
tersenyum-senyum, aku tambah malu.”
Aku hanya bisa memandangnya dengan rasa kasihan. Adikku memang lagi apes hari ini.****
0 komentar:
Posting Komentar