Aku
terdiam. Tak bergerak. Saat polisi membawaku keluar dari rumahku, semua
mata memandangku dengan tatapan aneh. Ada juga teriakan yang menyebutku
gila. Aku memandangi mereka. Wajah-wajah yang aku kenal. Tapi mengapa
mereka tak tersenyum? Wajah mereka sangat aneh. Sepertinya aku habis
melakukan dosa besar. Mengapa mereka menyebutku gila? Aku sama sekali
tak gila. Aku waras. Kalau aku tak waras, aku tentu tak akan mengurus
anak-anakku dengan baik. Justru karena aku ibu yang baik dan waras
makanya aku memasak makanan untuk anakku.
Aku
setiap hari memasak ayam untuk mereka. Kalau kemudian anak-anakku
menghilang satu persatu, itu bukanlah kesalahanku. Aku sedang memasak
waktu mereka bermain. Saat malam mereka tak kembali mengapa aku yang di
salahkan? Aku menunggu mereka dengan hidangan di atas meja tapi mereka
tak kunjung datang. Padahal ayam yang tadi aku potong sudah aku masak
untuk mereka. Seharusnya anak-anakku segera makan malam ini. Seharian
mereka mengganggu dengan teriakan laparnya, hingga aku nekad memotong
ayam yang kebetulan masuk dalam rumahku. Apakah karena itu aku di
tangkap atau karena itu aku di anggap gila?.
Padahal
seharusnya orang-orang itu membantuku mencari anakku. Sudah dua hari
mereka menghilang. Aku panik. Aku hanya menemukan gelangnya yang
melingkar di sepotong tangan dekat panci. Kasihan anakku mengapa
gelangnya terlepas?
0 komentar:
Posting Komentar