Agnes
menghapus peluh yang ada di wajahnya. Untuk beberapa saat dia
menghentikan kegiatan mengepelnya. Dia berdiri sambil menatap seluruh
ruangan yang belum semuanya di pel. Baru sebagian tapi sudah hampir
menghabiskan seluruh tenaganya. Dia benar-benar lelah dan lapar. Tadi
sewaktu mau sarapan, Suni menghampirinya. Suni adalah pembantu di rumah
tante Riska. Dia menyuruh Agnes untuk mengepel karena hari ini dia mau
melakukan perawatan diri. Pacarnya mau datang melamarnya. Dia harus
terlihat cantik dan menarik. Padahal walau di make over, penampilan Suni
tidak akan sejelita Rose, putri tante Riska. Agnes tersenyum
membayangkan bagaimana tampang Suni sepulangnya dari salon.
“ Agnes?! Kenapa kamu mengepel? Mana Suni? Inikan tugas dia?”
Agnes
kaget mendengar suara tante Riska yang tiba-tiba menggema di seluruh
ruangan. Agnes melihat arah suara, ternyata tantenya muncul dari ruang
tamu. Dengan dandanan yang serba tebal pada seluruh wajah terutama
bagian mata. Membuat mata tante Riska terlihat menyeramkan saat dia
melotot. Tante Riska mendekat. Dia melepaskan tangan Agnes dari gagang
kain pel.
“ Mana Suni? Kenapa kamu yang mengepel?” Agnes terdiam ketakutan. Dia tidak tahu mau menjawab apa.
“ Mbak Suni ke.. ke…sa..sa….salon..” Agnes menjawab dengan terbata-bata.
“ Apa?
Dia ke salon? Mbok! Mbok!!!!!!!!” tante Riska memanggil mbok Saren,
salah seorang dari tiga pembantu yang mereka miliki. Mbok Saren muncul
dari arah dapur. Wajahnya sudah terlihat ketakutan. Suara Tante Riska
memang terdengar menakutkan.
“ Pel
ruangan ini, jangan biarkan Agnes yang mengepel.” perintah tante
Riska. Mbok Saren buru-buru mengambil alat pel dari samping Agnes. Dia
lalu melanjutkan mengepel seluruh ruangan. Sementara Agnes masih
berdiri dengan perasaan bingung.
“ Agnes,
kamu ikut tante..” Tante Riska kemudian melangkah menuju kamar Rose,
putri keduanya yang sangat cantik. Agnes mengikuti dibelakangnya. Agnes
belum mengerti apa yang akan di lakukan Tante Riska. Ada apa dengan
tantenya hari ini? Kenapa sikapnya jadi seperti ini?
Mereka masuk ke dalam kamar Rose. Tantenya membuka lemari pakaian Rose. Mengeluarkan baju kaos dan celana jeans.
“ Pakailah..” tante Riska meletakkah pakaian dan jeans itu di atas pembaringan.
“ Tapi, inikan punya Rose, tante..”
“ Pakai saja. Nanti Rose tante belikan yang baru…”
Agnes
mengambil baju dan jeans tersebut. Dia berganti pakaian di dalam kamar
mandi. Begitu keluar, terlihat tante Riska mengerutkan kening. Dia
menatap Agnes dari ujung kaki ke ujung rambut. Dia juga memegang tangan
Agnes. Melihat kulit Agnes.
“ Kita
ke salon saja. Sepertinya kamu perlu perawatan lengkap. Tampangmu sudah
seperti gadis gunung….” katanya sambil menyisir rambut Agnes yang
berantakan. Tante Riska juga menaruh bedak di wajah Agnes. Agnes makin
bingung. Tapi dia tidak berani bertanya. Dia hanya menurut saja apa
yang dikatakan tante Riska.
Pagi
itu Agnes dan tante Riska mendatangi salon langganan tante Riska.
Begitu mereka masuk ke dalam salon, seorang ibu yang sangat cantik
langsung menyambut mereka.
“ Jeng Riska, silahkan masuk. Mau yang lengkap lagi?” tanya ibu pemilik salon.
“ Nggak
kog, Jeng Sari. Kan udah kemarin. Nih, aku anter ponakanku. Hari ini
dia yang butuh perawatan..” Ibu yang bernama Jeng Sari itu melihat
Agnes dengan tatapan heran. Mungkin dalam pikirannya, antara Rose yang
selalu datang ke salon ini dengan Agnes kenapa begitu berbeda. Seperti
langit dan bumi.
“ Jeng
Sari, aku titip Agnes dulu, ya. Aku ada urusan sedikit, kalau sudah
kelar telpon ke handphoneku saja..” Jeng Sari tersenyum menggiyakkan.
Tante Riska pamit kemudian keluar dari Salon. Jeng Sari lalu meminta
Agnes mengikutinya ke sebuah ruangan. Pintu kemudian tertutup.
**
Beberapa
jam kemudian Tante Riska tiba di Salon Jeng Sari. Sambil melepaskan
kacamata hitamnya dia melangkah dengan anggun memasuki salon. Karyawan
salon menyambutnya dengan ramah. Mereka mengatakan kalau sebentar lagi,
Jeng Sari akan muncul dengan Agnes.
Sambil
menunggu Agnes, tante Riska mengambil majalah yang ada di atas meja.
Dia membuka selembar demi selembar. Sesekali matanya melihat ke arah
ruangan tempat Agnes mendapatkan perawatan. Beberapa menit kemudian
Tante Riska tertegun menatap Agnes yang keluar dari ruangan dengan Jeng
Sari. Agnes terlihat berbeda. Rambutnya tetap panjang tapi sudah
dirapikan dengan potongan yang lebih mengesankan remaja. Kulitnya yang
kuning langsat terlihat lebih bersih. Wajahnya terlihat lebih segar.
Tante Riska berdiri, dia menghampiri Jeng Sari dan Agnes. Dengan
tersenyum puas tante Riska mengelus rambut Agnes.
“ Terlihat sangat berbeda kan, Jeng Riska?” Tante Riska tersenyum.
“ Terima kasih, Jeng Sari. Padahal tadi aku sangat bingung. Ternyata Agnes bisa juga di ubah..”
Kedua
wanita itu masih ngobrol sambil tertawa-tawa. Agnes memilih untuk duduk
di sofa. Dia masih tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Rasanya saat ini dia tidak sedang bermimpi tapi kenapa semuanya terlihat
seperti mimpi. Apakah dunia sudah mau kiamat? Kenapa tante Riska jadi
berubah seratus delapanpuluh derajat?
**
Agnes
keluar dari kelas. Kakinya belum menginjak halaman sekolah, saat
matanya melihat Pak Rusman berdiri dekat mobil. Pak Rusman adalah sopir
tante Riska. Agnes heran ada urusan apa Pak Rusman datang kesekolahnya.
Hal yang tidak biasa.
“ Pak Rusman, kog bisa ada disini?” tanya Agnes sambil mendekati Pak Rusman.
“ Mau
jemput, non Agnes. Ayo, non. Sudah ditunggu nyonya di rumah..” kata Pak
Rusman lalu membuka pintu mobil. Agnes masuk ke dalam mobil. Mobil
kemudian melaju menyusuri siang yang terik. Agnes terdiam dalam rasa
herannya. Sejak enam bulan lalu tinggal di rumah tante Riska baru kali
ini dia naik mobil tante Riska. Rasa heran yang belum hilang sejak
kemarin.
Saat melewati halte bis, Agnes melihat teman-temannya sedang
berdiri menanti bus. Walau terasa panas tapi Agnes suka. Dia merasa
bahagia. Dia bisa tertawa, bercanda saling kejar-kejaran dengan temannya
sambil menunggu bis. Agnes hanya melihat. Dia ingin melambaikan tangan
menyapa teman-temannya tapi dia tidak tahu cara membuka kaca mobil yang
berwarna gelap.Dia juga sungkan untuk bertanya ke pak Rusman. Sejak
tadi pak Rusman hanya sibuk dengan handphonenya. Menjawab telpon dari
tante Riska. Akhirnya Agnes menyandarkan tubuhnya di jok mobil. Dalam
pikirannya masih diliputi tanda tanya yang masih bergelayut. Entah kapan
akan terjawab.
**
Mereka tiba dirumah. Agnes kemudian turun dari mobil.
“ Non
Agnes ke ruang tamu. Nyonya menunggu di sana..” Agnes memandang pak
Rusman dengan tatapan tidak mengerti. Belum sempat bertanya, nampak
tante Riska muncul di teras. Disampingnya berdiri seorang lelaki paruh
baya yang memakai jas warna hitam. Lelaki itu tersenyum menatap Agnes.
“ Agnes,
ke sini sayang. Kenalan sama om Dani..” panggil tante Riska. Agnes
melangkah dengan ragu. Dia mendekati tante Riska dan om Dani. Tante
Riska merangkulnya dengan lembut. Kasih sayang yang membuat Agnes
merinding. Om Dani menjabat tangan Agnes.
“ Makin cantik ya…sudah kelas berapa?” tannyanya. Bukan Agnes yang menjawab melainkan tante Riska.
“ Kelas delapan mas…” Agnes makin tidak mengerti.
Setelah
tanya jawab setengah jam lebih. Agnes kemudian masuk ke dalam rumah.
Dia terus melangkah menuju kamarnya. Tapi begitu hendak membuka pintu
kamarnya yang ada di samping dapur. Nampak mbok Saren berjalan
menghampirinya.
“ Kamar non Agnes di atas. Bukan di sini..”
“ Maksud mbok, apa? Kenapa kamarku pindah?” tanya Agnes heran.
“ Iya. Non Agnes pindah kamar. Bukan di sini lagi, tapi dekat kamar non Rose..”
Agnes
terus bertanya tapi mbok Saren langsung menarik tangannya. Mengajaknya
ke kamar yang baru di lantai atas. Tiba di dalam kamar, Agnes takjub.
Inikah kamarnya? Kenapa begitu mirip dengan kamar Rose. Mbok Saren
meninggalkan Agnes, dia ingat masih banyak pekerjaan yang harus dia
kerjakan.
Agnes
berdiri memandang sekeliling kamar. Dia kemudian membuka lemari. Dia
terlonjak kaget. Lemari penuh dengan pakaian yang masih baru dan
indah-indah. Ada satu lagi lemari yang kemudian dibukanya. Matanya
tertegun. Lemari itu penuh dengan aneka macam tas dan sepatu. Agnes
menjauh dari lemari. Dia duduk disisi pembaringan. Matanya menatap dua
lemari yang masih dalam posisi terbuka.
Apakah dia sedang bermimpi?
Apakah dia cinderella yang saat jam berdentang dua belas kali akan
merubah dirinya kembali menjadi Agnes. Agnes yang tidur dekat dapur.
Agnes yang sejak subuh membersihkan seluruh ruangan. Mencuci piring
makan. Semua pekerjaan yang kadang terlalu berat untuk dia jalani. Tapi
sekarang sudah jam setengah tiga. Berarti sejak tadi jam dua belas sudah
lewat. Itu artinya dia tidak bermimpi. Tapi bukankah Cinderella berubah
saat jam dua belas malam? Apakah nasibnya akan seperti itu?
Agnes
masih dalam rasa bingung dalam kamarnya. Sementara di ruangan lain di
kamar tante Riska.Nampak tante Riska tersenyum senang menatap dokumen
yang baru saja dia tanda tangani. Dia mewakili Agnes karena usia Agnes
belum tujuh belas tahun. Tante Riska membaca kata demi kata sambil
senyumnya tetap tersungging. Matanya berubah seperti terangnya sang
mentari saat melihat angka-angka yang tertera di kertas itu. Angka-angka
yang jumlahnya fantastis. Itu adalah tunjangan yang akan di terima
Agnes setiap bulan.
Agnes baru saja menerima warisan dari kakeknya yang
meninggal. Karena orang tua Agnes dulu menikah tanpa restu kedua orang
tua, maka Agnes tidak mengenal siapa kakek dan neneknya. Sejak orang
tuanya meninggal karena kecelakaan, Agnes dititipkan di rumah tante
Riska. Ayah Agnes adalah supir dari suami tante Riska. Sampai sekarang
dia belum mengetahui kalau dia adalah pewaris satu-satunya dari kekayaan
kakeknya yang kaya raya.
Tante
Riska tersenyum penuh kemenangan. Dia tertawa mengingat pengacara yang
datang tadi. Pengacara yang sudah tertipu dengan akal liciknya. Tante
Riska kemudian bangkit. Dia teringat Agnes. Sekarang sudah waktunya
Agnes kembali seperti semula. Kembali kekamarnya yang di dekat dapur.
Bagaimana bisa dia menjadi seorang cinderella? Pikir tante Riska.
Istanamu hanya ada dalam lukisan tak akan pernah jadi kenyataan……..****
0 komentar:
Posting Komentar