Senin, 07 Mei 2012

Cinta Rifky dan Vita

0



Ilustrasi google.com

Suatu siang di sebuah restoran.

Mama. Lebih baik kita pulang sekarang. Mama tidak usah bertemu mamanya Rifky. Mama bisa berantem nanti. Kan malu, ma. Orang-orang akan melihat kita.” Vita terus membujuk mamanya agar membatalkan pertemuan dengan mamanya Rifky. Tapi mamanya tak bergeming. Sejak tadi sikap mamanya tidak tenang. Dari ekspresi wajahnya terlihat kalau mamanya sedang menahan amarah yang siap meledak. Vita panik. Dia sudah bisa membayangkan jika dua wanita bertemu dalam emosi yang sama-sama tinggi pasti akan terjadi keributan besar.

Nggak, Vit. Mama nggak bakalan mundur. Harga diri mama sudah diinjak-injak. Mama si Rifky itu sudah menyebut mama wanita tidak tahu diri. Lupa umur. Masih merasa cantik. Liat tuh kerutan. Dia menyebut mama seperti itu? Apa kamu nggak tersinggung, Vit? Mama kamu di hina seperti itu?”

Vita terdiam disamping mamanya. Dia hanya menghela nafas. Sepertinya upaya yang dia lakukan untuk membatalkan pertemuan itu tak membuahkan hasil. Mamanya masih terlihat emosi.

Kalau dia nggak datang. Tunggu saja. Mama bakalan datang kerumahnya. Mama tidak ingin terjadi keributan antar tetangga, tapi kalau seperti ini apa boleh buat. Terpaksa mama akan membuat perhitungan di depan rumahnya. Biar saja semua tetangga tahu. Terlanjur basah, mandi sekalian.”

Tapi, ma. Apa benar mamanya Rifky mengatakan seperti itu?” mamanya melotot menatap Vita.

Kamu ini, dibilangin. Kamu pikir telinga mama tuli saat ibu Warman menyampaikan berita itu?”

Tapi kan bisa saja itu cuma gosip, ma.”

Jadi maksud kamu, ibu Warman menyebarkan gosip? Begitu? Mama sudah mengenal ibu Warman sejak kamu masih kecil. Bagaimana mungkin dia menyampaikan berita yang tidak betul.”

Vita lemas. Mamanya makin kuat dengan keinginannya untuk membuat perhitungan dengan mamanya Rifky. Vita kemudian mengambil handphone dari dalam tasnya. Dia memencet huruf-huruf di handphonenya. Membuat pesan singkat. Terkirim ke seseorang..

Jam yang sama di sebuah mobil yang sedang melaju di jalan raya.

Kenapa harus dilayani sih, ma? Mending sekarang kita pulang saja.” Ucap Rifky. Wajahnya sejak tadi kusut. Sambil menyetir mobil dia berusaha membujuk mamanya membatalkan pertemuan dengan mamanya Vita.

Kamu gimana sih, ky? Mama kamu dituduh seperti itu, apa kamu nggak marah? Mama tidak pernah mengucapkan kata-kata penghinaan sekarang malah ada tuduhan seperti itu. Hati mama panas.” Tubuh Rifky terasa lemas. Sejak tadi mamanya tidak mendengarkan bujukannya untuk membatalkan pertemuan dengan mamanya Vita.

Mau berantem kok, direstoran sih, ma? Dimana-mana orang kalo mau berantem, dilapangan.” Ucap Rifky dengan rasa frustasi karena sikap keras mamanya.

Namanya membuat perhitungan nggak pilih-pilih tempat. Kalau dilapangan, ntar kulit mama jadi hitam. Percuma dong mama selalu ke salon. Mama kan tidak boleh terkena cahaya matahari.”

Rifky tersenyum tipis. Dasar mamanya. Mau berantem masih memikirkan kulit.

Jadi bagaimana, ma. Nanti kalau mama jadi berantem, terus tarik-tarikan rambut. Gimana tuh?” mamanya tidak menjawab. Handphone Rifky berbunyi pesan masuk. Rifky tidak menyentuh handphonenya. Begitu tiba di lampu merah dia membuka pesan dihandphonenya.

Rifky, gimana nih? Aku nggak berhasil membujuk mamaku. Kamu bagaimana? Aku takut kalau mamaku dan mamamu ketemu. Mamaku disini sudah seperti kompor gas. Sudah panas sejak tadi.

Rifky tak sempat membalas pesan sms karena lampu hijau tiba-tiba menyala. Mobil bergerak kembali. Rifky membelokkan mobilnya memasuki sebuah restoran. Dia makin tegang. Bagaimanapun kalau terjadi perkelahian antara mamanya dan mama Vita, pasti akan berakibat pada hubungannya dengan Vita. Hubungan yang baru terjalin dua bulan itu bakal berantakan. Tidak mungkin dia bisa tenang menjalani hubungannya dengan Vita kalau kedua mama mereka saling menyimpan rasa benci. Rifky tiba-tiba merasa kisahnya seperti kisah Romeo and Juliet.

Setelah memarkir mobil, Rifky buru-buru turun dan mengunci pintu mobil. Dia berjalan cepat menyusul mamanya yang langsung berjalan menuju restoran tanpa menunggunya.

Ma, tolong ma. Apa pertemuan ini dibatalkan saja.” Ucap Rifky dengan wajah memelas. Dia memegang lengan mamanya. Mamanya menghentikan langkah lalu menatap Rifky dengan tajam.

Ini harga diri mama, ky. Kehormatan mama dipertaruhkan. Kamu kok dari tadi ketakutan begitu sih? Ikuti mama saja. Jangan banyak tanya.” ucap mamanya lalu melangkah anggun memasuki restoran.

Suasana restoran lumayan ramai, maklum hari minggu. Banyak keluarga menghabiskan hari libur mereka dengan menikmati makanan restoran. Mamanya Rifky berhenti sejenak. Dia memandang sekeliling. Senyum langsung hadir di wajahnya saat melihat seorang wanita yang tengah duduk berdua dengan seorang gadis.

Rifky mengikuti mamanya dengan wajah pucat. Dari jauh Rifky sudah melihat Vita menatapnya seperti melihat hantu. Wajah Vita terlihat cemas. Menanti mamanya Rifky mendekati mejanya seperti menanti putusan hakim yang akan menjatuhkan vonis. Langkah kaki mamanya Rifky kian pasti mendekati meja Vita. Mamanya Vita juga sudah melihat kedatangan mamanya Rifky. Tapi ada yang terasa aneh dalam sikap mamanya Vita. Vita memperhatikan itu sejak melihat mamanya Rifky.

Wajah mamanya penuh senyum tak lagi penuh emosi seperti tadi. Masih dengan rasa penasaran yang tiba-tiba hadir, Vita dan Rifky harus menyaksikan adengan yang membuat mereka tercengang. Mamanya Vita berdiri menyambut kedatangan mamanya Rifky. Mereka berdua saling merangkul, cium pipi kiri kanan. Saling menyapa dengan riang.

Udah lama, ya Jeng. Aduh, maaf nih telat. Lho, kok belum pesan makanan?” tanya mamanya Rifky saat melihat meja masih kosong.

Kan nunggu, jeng dulu. Nggak enak nanti. Lho, Rifky, Vita? Kok kalian nggak duduk? Malah berdiri disitu. Ntar dikirain pelayan. Ayo duduk.” Rifky dan Vita duduk sambil memandang ke dua wanita di depan mereka. Rifky dan Vita terkejut karena mama mereka tidak bertengkar. Padahal sejak tadi mama mereka sudah terlihat siap berperang. Kenapa tiba-tiba berubah?

Ayo pesan makanan. Pesan yang banyak. Hari ini kami mau mentraktir kalian. Karena kalian telah berhasil mewujudkan cita-cita kami.” Vita dan Rifky menatap bingung.

Iya. Kami baru tahu kalau kalian sudah pacaran. Makanya kami ingin memberi kalian kejutan. Kami senang, akhirnya kami bisa saling menyebut besan. Ya nggak jeng besan..ha..ha…” mamanya Rifky tertawa senang. Begitu juga dengan mamanya Vita. Rifky dan Vita saling menatap. Mereka baru paham kalau mereka baru saja dikerjain mama mereka. Tapi Rifky dan Vita tidak marah.Mereka malah bersyukur mama mereka tidak jadi bertengkar. Itu artinya hubungan mereka bakal lancar.***

0 komentar:

Posting Komentar