Suatu siang di sebuah restoran.
“ Mama.
Lebih baik kita pulang sekarang. Mama tidak usah bertemu mamanya Rifky.
Mama bisa berantem nanti. Kan malu, ma. Orang-orang akan melihat kita.”
Vita terus membujuk mamanya agar membatalkan pertemuan dengan mamanya
Rifky. Tapi mamanya tak bergeming. Sejak tadi sikap mamanya tidak
tenang. Dari ekspresi wajahnya terlihat kalau mamanya sedang menahan
amarah yang siap meledak. Vita panik. Dia sudah bisa membayangkan jika
dua wanita bertemu dalam emosi yang sama-sama tinggi pasti akan terjadi
keributan besar.
“ Nggak,
Vit. Mama nggak bakalan mundur. Harga diri mama sudah diinjak-injak.
Mama si Rifky itu sudah menyebut mama wanita tidak tahu diri. Lupa umur.
Masih merasa cantik. Liat tuh kerutan. Dia menyebut mama seperti itu?
Apa kamu nggak tersinggung, Vit? Mama kamu di hina seperti itu?”
Vita
terdiam disamping mamanya. Dia hanya menghela nafas. Sepertinya upaya
yang dia lakukan untuk membatalkan pertemuan itu tak membuahkan hasil.
Mamanya masih terlihat emosi.
“ Kalau
dia nggak datang. Tunggu saja. Mama bakalan datang kerumahnya. Mama
tidak ingin terjadi keributan antar tetangga, tapi kalau seperti ini apa
boleh buat. Terpaksa mama akan membuat perhitungan di depan rumahnya.
Biar saja semua tetangga tahu. Terlanjur basah, mandi sekalian.”
“ Tapi, ma. Apa benar mamanya Rifky mengatakan seperti itu?” mamanya melotot menatap Vita.
“ Kamu ini, dibilangin. Kamu pikir telinga mama tuli saat ibu Warman menyampaikan berita itu?”
“ Tapi kan bisa saja itu cuma gosip, ma.”
“ Jadi
maksud kamu, ibu Warman menyebarkan gosip? Begitu? Mama sudah mengenal
ibu Warman sejak kamu masih kecil. Bagaimana mungkin dia menyampaikan
berita yang tidak betul.”
Vita
lemas. Mamanya makin kuat dengan keinginannya untuk membuat perhitungan
dengan mamanya Rifky. Vita kemudian mengambil handphone dari dalam
tasnya. Dia memencet huruf-huruf di handphonenya. Membuat pesan
singkat. Terkirim ke seseorang..
Jam yang sama di sebuah mobil yang sedang melaju di jalan raya.
“ Kenapa
harus dilayani sih, ma? Mending sekarang kita pulang saja.” Ucap Rifky.
Wajahnya sejak tadi kusut. Sambil menyetir mobil dia berusaha membujuk
mamanya membatalkan pertemuan dengan mamanya Vita.
“ Kamu
gimana sih, ky? Mama kamu dituduh seperti itu, apa kamu nggak marah?
Mama tidak pernah mengucapkan kata-kata penghinaan sekarang malah ada
tuduhan seperti itu. Hati mama panas.” Tubuh Rifky terasa lemas. Sejak
tadi mamanya tidak mendengarkan bujukannya untuk membatalkan pertemuan
dengan mamanya Vita.
“ Mau
berantem kok, direstoran sih, ma? Dimana-mana orang kalo mau berantem,
dilapangan.” Ucap Rifky dengan rasa frustasi karena sikap keras mamanya.
“ Namanya
membuat perhitungan nggak pilih-pilih tempat. Kalau dilapangan, ntar
kulit mama jadi hitam. Percuma dong mama selalu ke salon. Mama kan tidak
boleh terkena cahaya matahari.”
Rifky tersenyum tipis. Dasar mamanya. Mau berantem masih memikirkan kulit.
“Jadi
bagaimana, ma. Nanti kalau mama jadi berantem, terus tarik-tarikan
rambut. Gimana tuh?” mamanya tidak menjawab. Handphone Rifky berbunyi
pesan masuk. Rifky tidak menyentuh handphonenya. Begitu tiba di lampu
merah dia membuka pesan dihandphonenya.
Rifky,
gimana nih? Aku nggak berhasil membujuk mamaku. Kamu bagaimana? Aku
takut kalau mamaku dan mamamu ketemu. Mamaku disini sudah seperti kompor
gas. Sudah panas sejak tadi.
Rifky
tak sempat membalas pesan sms karena lampu hijau tiba-tiba menyala.
Mobil bergerak kembali. Rifky membelokkan mobilnya memasuki sebuah
restoran. Dia makin tegang. Bagaimanapun kalau terjadi perkelahian
antara mamanya dan mama Vita, pasti akan berakibat pada hubungannya
dengan Vita. Hubungan yang baru terjalin dua bulan itu bakal berantakan.
Tidak mungkin dia bisa tenang menjalani hubungannya dengan Vita kalau
kedua mama mereka saling menyimpan rasa benci. Rifky tiba-tiba merasa
kisahnya seperti kisah Romeo and Juliet.
Setelah
memarkir mobil, Rifky buru-buru turun dan mengunci pintu mobil. Dia
berjalan cepat menyusul mamanya yang langsung berjalan menuju restoran
tanpa menunggunya.
“ Ma,
tolong ma. Apa pertemuan ini dibatalkan saja.” Ucap Rifky dengan wajah
memelas. Dia memegang lengan mamanya. Mamanya menghentikan langkah lalu
menatap Rifky dengan tajam.
“ Ini
harga diri mama, ky. Kehormatan mama dipertaruhkan. Kamu kok dari tadi
ketakutan begitu sih? Ikuti mama saja. Jangan banyak tanya.” ucap
mamanya lalu melangkah anggun memasuki restoran.
Suasana
restoran lumayan ramai, maklum hari minggu. Banyak keluarga
menghabiskan hari libur mereka dengan menikmati makanan restoran.
Mamanya Rifky berhenti sejenak. Dia memandang sekeliling. Senyum
langsung hadir di wajahnya saat melihat seorang wanita yang tengah duduk
berdua dengan seorang gadis.
Rifky
mengikuti mamanya dengan wajah pucat. Dari jauh Rifky sudah melihat
Vita menatapnya seperti melihat hantu. Wajah Vita terlihat cemas.
Menanti mamanya Rifky mendekati mejanya seperti menanti putusan hakim
yang akan menjatuhkan vonis. Langkah kaki mamanya Rifky kian pasti
mendekati meja Vita. Mamanya Vita juga sudah melihat kedatangan mamanya
Rifky. Tapi ada yang terasa aneh dalam sikap mamanya Vita. Vita
memperhatikan itu sejak melihat mamanya Rifky.
Wajah
mamanya penuh senyum tak lagi penuh emosi seperti tadi. Masih dengan
rasa penasaran yang tiba-tiba hadir, Vita dan Rifky harus menyaksikan
adengan yang membuat mereka tercengang. Mamanya Vita berdiri menyambut
kedatangan mamanya Rifky. Mereka berdua saling merangkul, cium pipi kiri
kanan. Saling menyapa dengan riang.
“ Udah lama, ya Jeng. Aduh, maaf nih telat. Lho, kok belum pesan makanan?” tanya mamanya Rifky saat melihat meja masih kosong.
“ Kan
nunggu, jeng dulu. Nggak enak nanti. Lho, Rifky, Vita? Kok kalian nggak
duduk? Malah berdiri disitu. Ntar dikirain pelayan. Ayo duduk.” Rifky
dan Vita duduk sambil memandang ke dua wanita di depan mereka. Rifky dan
Vita terkejut karena mama mereka tidak bertengkar. Padahal sejak tadi
mama mereka sudah terlihat siap berperang. Kenapa tiba-tiba berubah?
“ Ayo
pesan makanan. Pesan yang banyak. Hari ini kami mau mentraktir kalian.
Karena kalian telah berhasil mewujudkan cita-cita kami.” Vita dan Rifky
menatap bingung.
“Iya.
Kami baru tahu kalau kalian sudah pacaran. Makanya kami ingin memberi
kalian kejutan. Kami senang, akhirnya kami bisa saling menyebut besan.
Ya nggak jeng besan..ha..ha…” mamanya Rifky tertawa senang. Begitu juga
dengan mamanya Vita. Rifky dan Vita saling menatap. Mereka baru paham
kalau mereka baru saja dikerjain mama mereka. Tapi Rifky dan Vita tidak
marah.Mereka malah bersyukur mama mereka tidak jadi bertengkar. Itu
artinya hubungan mereka bakal lancar.***
0 komentar:
Posting Komentar