Senin, 07 Mei 2012

[Tiga Wanita]Penolongku # 4 #

0

 

Jam sembilan pagi. Kami bersiap-siap hendak kekantor kelurahan. Aku memeriksa keadaan rumah, menutup jendela kamar dan mengunci pintu. Jen dan Niar sejak tadi duduk-duduk di teras. mereka sibuk dengan handphonenya.

Kalian yakin kita harus pindah dari sini?” tanyaku sesaat setelah aku keluar ke teras. Aku memandang mereka satu persatu.

Sebenarnya rumah ini sudah lumayan daripada kita harus numpang di rumah orang. Kita tidak leluasa. Pak lurah juga bilang, ini satu-satunya rumah yang kosong. Tidak ada lagi rumah yang ditinggal pemiliknya kecuali kita ngontrak. Kalau alasan angker, mungkin karena kita baru jadi belum terbiasa. Aku harap sebelum kita menyesal dengan keputusan yang kita ambil, sebaiknya kita pikirkan lagi.” Jen dan Niar saling pandang. Mungkin mereka tidak setuju dengan pendapatku.

Aku tidak akan memaksa. Kalau kalian tetap ingin pindah, ya aku ikut saja”

Kalau kita terus menerus dipusingkan dengan urusan rumah, program kita tidak akan jalan. Masih banyak pekerjaan yang menunggu kita. Kita sudah dua minggu di sini tapi sosialisasi tingkat kelurahan belum kita lakukan. Padahal teman-teman di kelurahan lain persiapan mereka sudah tujuh puluh persen. Ada malah yang sudah menyebarkan undangan. Kalo kita nggak cepat mulai, kita akan di kejar laporan”

Tengah asyik membicarakan nasib kami, sebuah mobil memasuki halaman rumah. Mobil Xenia hitam. Kami memandang dengan rasa penasaran. Siapa gerangan tamu yang datang berkunjung. Syukurlah kami belum ke kantor kelurahan.

Seorang pemuda keluar dari mobil. Dia melihat kami sambil tersenyum. Kami membalas senyumnya di selingi rasa penasaran. Siapakah pemuda ganteng yang muncul di tengah kegundahan hati kami?

Selamat pagi” sapanya ramah sambil melangkah mendekati kami. Kami berdiri menyambutnya. Dia mengulurkan tangan untuk berjabatan tangan.

Perkenalkan saya Idham, saya dari kantor pusat di Jakarta”

Kami mengulurkan tangan dan menyebutkan nama kami. Aku mundur untuk membuka pintu rumah.

Silahkan mas, silahkan masuk..” aku masuk lebih dulu. Mas Idham melangkah sambil melihat-lihat ruangan. Aku lihat Jen dan Niar saling memberi kode dengan mata. Aku tahu maksudnya. Mas Idham kemudian duduk tapi matanya masih melihat-lihat ruangan.

Begini mbak-mbak semua. Mungkin kalian penasaran kenapa saya bisa datang jauh-jauh dari Jakarta. Sebenarnya dari kantor pusat ada proyek baru yang di jalankan bersamaan dengan yang kalian jalankan. Cuma proyeknya skala kecil dan hanya mencakup satu kelurahan. Kebetulan kelurahan di sini yang masuk dalam daftar. Jadi kebijakan kantor pusat saya yang dikirim. Maksudnya biar kerjaan kalian tidak tumpang tindih.”

Aku masih bingung kemana arah pembicaran Mas Idham. Kulirik Jen dan Niar, mereka mengerutkan kening.

Nah, sambil menjalankan tugas saya itu, mungkin saya bisa minta tolong sama kalian supaya saya bisa tinggal di sini untuk sementara..ya mungkin nggak lama..paling lama sebulan”

Aku bergidik. Tinggal disini? Alamak kenapa ada anugrah seindah ini?

Tapi tunggu dulu, mas. Maaf ini bukan soal percaya atau tidak, cuma kami bisa lihat surat tugas mas?” Mas Idham tersenyum. Dadaku langsung berdesir. Senyumnya benar-benar maut. Dia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya lalu diberikan padaku.

Kalau mbak masih nggak percaya, silahkan hubungi kantor pusat. Saya nggak marah, justru sikap ini bagus untuk menjaga jangan sampai terjadi hal-hal yang membahayakan kalian”

Aku membaca kertas yang diserahkan padaku. Benar. Logo surat ini adalah logo perusahaan kami. Namanya juga benar. Aku menyerahkan kembali kertas itu.

Maaf mas, ini hanya untuk hati-hati saja”

Oh, nggak pa pa..”

Rencananya mau tinggal di sini kapan mas?”

Sekarang kalau boleh. Saya sudah bawa tas saya. Jadi tadi nggak sempet booking hotel lagi langsung kemari. Rencananya hari ini saya mau ketemu pak lurah”

Aku saling pandang dengan kedua temanku. Kuberi isyarat agar kami ke menyingkir dulu ke kamar untuk merundingkan rencana mas Idham. Kami bersorak waktu kami masuk ke dalam kamar. Tapi mungkin kegembiaraanku berbeda dengan teman-temanku. Mereka gembira karena kedatangan mas Idham yang berwajah ganteng. Sementara aku menganggap kedatangan mas Idham sebagai berkah yang menghindarkan kami dari keinginan untuk pindah rumah.

Kalo dia tinggal disini, berarti kita tidur dikamar yang ada pakaian kita saja”ucap Jen. Aku mengangguk.

Mau yang mana lagi. Kamar yang rencana kita pake untuk tidur, ukurannya kan lebih kecil. Jadi biar saja mas Idham disana. Kan nggak mungkin tertukar. Bisa repot nanti” kataku.

Setelah beberapa menit berunding, kami akhirnya setuju kalau mas Idham tidur di kamar depan. Biarlah kami tidur di kamar nomor dua yang selama ini menjadi tempat kami menyimpan pakaian. Kami keluar dengan wajah sumringah.

Mas Idham silahkan barang-barangnya di taruh di kamar ini” aku menunjukkan kamar yang nanti akan dia tempati. Mas Idham keluar menuju mobilnya. Tidak lama kemudian dia masuk lagi dengan membawa tas ukuran besar. Dia langsung menuju kamar yang kami tunjukkan. Setelah itu dia kembali ke ruang tamu menemui kami.

Saya hanya nitip tas dulu karena sekarang mau ke tempat pak lurah. Oh, ya kalian seperti  mau keluar. Mungkin kita sejalan, kalian ikut saja di mobil saya” mas Idham menawarkan tumpangan di mobilnya. Aku memandangi Jen dan Niar.

Bagaimana? Kita tetap dengan rencana kita?” aku bertanya dengan mata berkedip. Jen dan Niar tersenyum. Aku juga jadi ikut tersenyum. Tapi aku pastikan senyumku dan senyum kedua temanku berbeda makna.

Makasih mas, kami ke arah yang berlawanan” kataku akhirnya. Mas Idham kemudian pamit untuk menuju kantor kelurahan. Kami bertiga berdiri di teras,memandangi mas Idham menjalankan mobilnya. Masing-masing kepala kami mungkin memikirkan hal yang berlainan. Tapi aku bersyukur tidak jadi pindah. Ini semua karena sang penolong yang berwajah ganteng..****

Bersambung…

0 komentar:

Posting Komentar