
Jam
sembilan pagi. Kami bersiap-siap hendak kekantor kelurahan. Aku
memeriksa keadaan rumah, menutup jendela kamar dan mengunci pintu. Jen
dan Niar sejak tadi duduk-duduk di teras. mereka sibuk dengan
handphonenya.
“ Kalian yakin kita harus pindah dari sini?” tanyaku sesaat setelah aku keluar ke teras. Aku memandang mereka satu persatu.
“ Sebenarnya
rumah ini sudah lumayan daripada kita harus numpang di rumah orang.
Kita tidak leluasa. Pak lurah juga bilang, ini satu-satunya rumah yang
kosong. Tidak ada lagi rumah yang ditinggal pemiliknya kecuali kita
ngontrak. Kalau alasan angker, mungkin karena kita baru jadi belum
terbiasa. Aku harap sebelum kita menyesal dengan keputusan yang kita
ambil, sebaiknya kita pikirkan lagi.” Jen dan Niar saling pandang.
Mungkin mereka tidak setuju dengan pendapatku.
“ Aku tidak akan memaksa. Kalau kalian tetap ingin pindah, ya aku ikut saja”
“ Kalau
kita terus menerus dipusingkan dengan urusan rumah, program kita tidak
akan jalan. Masih banyak pekerjaan yang menunggu kita. Kita sudah dua
minggu di sini tapi sosialisasi tingkat kelurahan belum kita lakukan.
Padahal teman-teman di kelurahan lain persiapan mereka sudah tujuh puluh
persen. Ada malah yang sudah menyebarkan undangan. Kalo kita nggak
cepat mulai, kita akan di kejar laporan”
Tengah
asyik membicarakan nasib kami, sebuah mobil memasuki halaman rumah.
Mobil Xenia hitam. Kami memandang dengan rasa penasaran. Siapa gerangan
tamu yang datang berkunjung. Syukurlah kami belum ke kantor kelurahan.
Seorang
pemuda keluar dari mobil. Dia melihat kami sambil tersenyum. Kami
membalas senyumnya di selingi rasa penasaran. Siapakah pemuda ganteng
yang muncul di tengah kegundahan hati kami?
“ Selamat
pagi” sapanya ramah sambil melangkah mendekati kami. Kami berdiri
menyambutnya. Dia mengulurkan tangan untuk berjabatan tangan.
“ Perkenalkan saya Idham, saya dari kantor pusat di Jakarta”
Kami mengulurkan tangan dan menyebutkan nama kami. Aku mundur untuk membuka pintu rumah.
“ Silahkan
mas, silahkan masuk..” aku masuk lebih dulu. Mas Idham melangkah sambil
melihat-lihat ruangan. Aku lihat Jen dan Niar saling memberi kode
dengan mata. Aku tahu maksudnya. Mas Idham kemudian duduk tapi matanya
masih melihat-lihat ruangan.
“ Begini
mbak-mbak semua. Mungkin kalian penasaran kenapa saya bisa datang
jauh-jauh dari Jakarta. Sebenarnya dari kantor pusat ada proyek baru
yang di jalankan bersamaan dengan yang kalian jalankan. Cuma proyeknya
skala kecil dan hanya mencakup satu kelurahan. Kebetulan kelurahan di
sini yang masuk dalam daftar. Jadi kebijakan kantor pusat saya yang
dikirim. Maksudnya biar kerjaan kalian tidak tumpang tindih.”
Aku masih bingung kemana arah pembicaran Mas Idham. Kulirik Jen dan Niar, mereka mengerutkan kening.
“ Nah,
sambil menjalankan tugas saya itu, mungkin saya bisa minta tolong sama
kalian supaya saya bisa tinggal di sini untuk sementara..ya mungkin
nggak lama..paling lama sebulan”
Aku bergidik. Tinggal disini? Alamak kenapa ada anugrah seindah ini?
“ Tapi
tunggu dulu, mas. Maaf ini bukan soal percaya atau tidak, cuma kami
bisa lihat surat tugas mas?” Mas Idham tersenyum. Dadaku langsung
berdesir. Senyumnya benar-benar maut. Dia mengeluarkan sesuatu dari
dalam tasnya lalu diberikan padaku.
“ Kalau
mbak masih nggak percaya, silahkan hubungi kantor pusat. Saya nggak
marah, justru sikap ini bagus untuk menjaga jangan sampai terjadi
hal-hal yang membahayakan kalian”
Aku
membaca kertas yang diserahkan padaku. Benar. Logo surat ini adalah
logo perusahaan kami. Namanya juga benar. Aku menyerahkan kembali kertas
itu.
“ Maaf mas, ini hanya untuk hati-hati saja”
“ Oh, nggak pa pa..”
“ Rencananya mau tinggal di sini kapan mas?”
“ Sekarang
kalau boleh. Saya sudah bawa tas saya. Jadi tadi nggak sempet booking
hotel lagi langsung kemari. Rencananya hari ini saya mau ketemu pak
lurah”
Aku
saling pandang dengan kedua temanku. Kuberi isyarat agar kami ke
menyingkir dulu ke kamar untuk merundingkan rencana mas Idham. Kami
bersorak waktu kami masuk ke dalam kamar. Tapi mungkin kegembiaraanku
berbeda dengan teman-temanku. Mereka gembira karena kedatangan mas Idham
yang berwajah ganteng. Sementara aku menganggap kedatangan mas Idham
sebagai berkah yang menghindarkan kami dari keinginan untuk pindah
rumah.
“ Kalo dia tinggal disini, berarti kita tidur dikamar yang ada pakaian kita saja”ucap Jen. Aku mengangguk.
“ Mau
yang mana lagi. Kamar yang rencana kita pake untuk tidur, ukurannya kan
lebih kecil. Jadi biar saja mas Idham disana. Kan nggak mungkin
tertukar. Bisa repot nanti” kataku.
Setelah
beberapa menit berunding, kami akhirnya setuju kalau mas Idham tidur di
kamar depan. Biarlah kami tidur di kamar nomor dua yang selama ini
menjadi tempat kami menyimpan pakaian. Kami keluar dengan wajah
sumringah.
“ Mas
Idham silahkan barang-barangnya di taruh di kamar ini” aku menunjukkan
kamar yang nanti akan dia tempati. Mas Idham keluar menuju mobilnya.
Tidak lama kemudian dia masuk lagi dengan membawa tas ukuran besar. Dia
langsung menuju kamar yang kami tunjukkan. Setelah itu dia kembali ke
ruang tamu menemui kami.
“ Saya
hanya nitip tas dulu karena sekarang mau ke tempat pak lurah. Oh, ya
kalian seperti mau keluar. Mungkin kita sejalan, kalian ikut saja di
mobil saya” mas Idham menawarkan tumpangan di mobilnya. Aku memandangi
Jen dan Niar.
“ Bagaimana?
Kita tetap dengan rencana kita?” aku bertanya dengan mata berkedip. Jen
dan Niar tersenyum. Aku juga jadi ikut tersenyum. Tapi aku pastikan
senyumku dan senyum kedua temanku berbeda makna.
“ Makasih
mas, kami ke arah yang berlawanan” kataku akhirnya. Mas Idham kemudian
pamit untuk menuju kantor kelurahan. Kami bertiga berdiri di
teras,memandangi mas Idham menjalankan mobilnya. Masing-masing kepala
kami mungkin memikirkan hal yang berlainan. Tapi aku bersyukur tidak
jadi pindah. Ini semua karena sang penolong yang berwajah ganteng..****
Bersambung…
0 komentar:
Posting Komentar