” Demi?? Dua minggu ini kamu kemana?
Teman-temanmu resah mencarimu.” sambut mas Ivan saat aku muncul
dikantornya. Aku duduk di kursi di depan mejanya.
” Mencari ide, mas. Kadang ide harus dicari melalui beberapa petualangan.” kataku sambil tersenyum.
” Kamu bisa saja. Bagaimana? Kamu tentu kemari tidak untuk menyapa aku kan? ha..ha.. “
Mas Ivan tertawa. Tawa yang aku suka.
” Apa ini ada hubungannya dengan telponmu semalam?” aku mengangguk cepat.
” Benar, mas. Aku ingin mas menunda dulu
untuk menerbitkan novelku. Aku ingin mas membaca dulu naskah ini. Aku
yakin ini lebih keren dari tulisan-tulisan yang pernah aku buat.” aku
menyorongkan naskah itu ke mas Ivan.
” Pasti sesuatu yang istimewa hingga kamu rela menunda dua tulisanmu untuk diterbitkan.”
” Benar, mas. Ini proyek uji coba. Kalau
tulisan ini diterima masyarakat, maka akan terus berlanjut dengan
cerita-cerita yang lebih menarik.”
Mas Ivan membuka naskah yang aku
berikan. Kubiarkan dia tenang membacanya dengan cara tak mengajaknya
berbicara. Aku ingin mas Ivan menyimak tulisan itu sebelum memutuskan
menerimanya. Tapi berdasarkan pengalamanku, setiap tulisan yang aku
berikan, mas ivan selalu menerimanya dengan senang hati.
Perkiraanku tepat. Kulihat mas Ivan
tersenyum saat membaca tulisanku. Dia kemudian membaca bagian akhirnya
sebelum dia menutup naskah itu lalu menaruhnya diatas meja.
” Aku sudah membaca garis besarnya. Aku yakin, novelmu akan laris manis.”
” Jadi mas setuju? Menurut perkiraanku
juga begitu, mas. Syukurlah, karena mas juga sependapat denganku.
Baiklah sekarang aku permisi dulu, aku mau menemui teman-teman.”
Aku pamit dan meninggalkan ruangan mas
Ivan. Saat keluar tak sengaja aku menabrak tubuh seseorang . Kami berdua
kaget saat saling memandang.
” Demi?”
” Nando?”
” Aku ingin bicara denganmu. Penting.”
Nando menarik tanganku. Dia mengajakku ke parkiran. Diparkiran ada
sebuah pohon besar yang biasa di pakai untuk tempat berteduh. Bangku
kayu yang disediakan disana membuat nyaman siapapun yang sedang gerah
dan ingin menikmati sejuknya semilir angin yang berhembus.
” Kenapa seminggu ini kamu menghilang?
Aku mencarimu kesana kemari. Handphonemu juga tidak aktif. Apa kamu
marah karena kejadian hari itu?” Aku terdiam. Aku tidak merasakan lagi
emosi yang ada waktu itu. Ternyata ada gunanya juga menyepi. Amarah
dalam diri sirna juga.
” Waktu itu aku marah tapi sekarang tidak lagi. Aku pikir-pikir tak ada gunanya aku marah padamu.”
” Demi, aku mencarimu berhari-hari untuk
menjelaskan tentang masalah waktu itu. Aku ingin minta maaf karena
sudah berkata keras padamu. Padahal waktu itu aku tidak tahu masalah
yang sebenarnya. Setelah Retno menjelaskan aku baru mengerti. Sekarang
Yeni tidak bersama kita lagi. Aku memintanya mengganti semua uang yang
telah dia pakai, setelah itu dia harus keluar dari kelompok kita.”
” Keluar? Jadi Yeni sudah keluar? Kapan?”
” Sudah empat hari. Dia sudah minta maaf
tapi menurutku minta maaf saja tidak cukup. Yang kita butuhkan adalah
kepercayaan. Menangani keuangan tentu harus orang-orang yang jujur. Kita
akan terus khawatir kalau orang itu pernah berbuat salah.”
” Seharusnya dia tidak perlu keluar.” kataku. Aku jadi menyesal karena telah membuat Yeni keluar dari kelompok kami.
” Sudahlah, jangan menyesali keputusan yang sudah aku ambil.”
” Tapi Yeni kan pacarmu?” aku baru mengingat hal itu. Nando tertawa. Dia menepuk-nepuk pundakku.
” Kamu ini sahabat macam apa, sih? Masak
aku tidak mengenalkan pacarku sama kamu kalau memang aku memiliki
pacar. Aku hanya refleks waktu itu, karena aku kaget kamu tiba-tiba
menamparnya.”
” Jadi diantara kalian tidak ada hubungan special.”
” Ha..ha.. nasi goreng kali
spesial..jelas saja tidak ada, sudahlah jangan membicarakan itu lagi.
Aku ingin tahu, dua minggu menghilang ide apa yang sudah ada dikepalamu.
Semalam mas Ivan menelponku, katanya kamu punya cerita bagus. Katamu
ini bisa jadi best seller. Benarkah?”
” Mas Ivan bilang begitu? Padahal aku
menyampaikan itu untuk meyakinkan mas Ivan. Itu hanya dugaanku saja.
Kita lihat saja nanti. Sepertinya mas Ivan ingin langsung mencetak dan
menerbitkannya. Dia sama tak sabarnya denganku…ha..ha…..”
” Aku jadi penasaran. Seberapa dahsyatnya sih.ceritamu itu sampai mas Ivan pun terhipnotis.”
Aku hanya tersenyum. Kubiarkan Nando
dengan rasa penasarannya. Aku makin tidak sabar menunggu keluarnya novel
terbaruku. Apalagi baru saja mas Ivan mengirim pesan singkat di
hanphoneku. Dia menjanjikan dalam waktu satu bulan novelku itu akan
segera diterbitkan. Benar-benar fantastis. Padahal biasanya butuh waktu
dua bulan, untuk aku menunggu sebelum novelku benar-benar diterbitkan.
Hari-hari berlalu. Aku menjalankan
rutinitas harianku seperti biasa. Menggarap proyek novel berseri bersama
Hadi. Tapi kali ini kami tak hanya berdua. Aku mengajak serta
sahabatku, Nando. Bukan karena dia sahabatku sehingga aku mengajaknya.
Tapi karena cara dia memohon yang membuatku jatuh iba dan akhirnya
mengikutkan dia dalam kegiatan kami. Tapi tentu saja aku telah
mengultimatum agar dia merahasiakan kegiatan kami. Aku tidak
mempermasalahkan keuntungan yang nanti kami dapatkan akan kami bagi
tiga. Karena bukan itu tujuanku. Aku hanya kasihan melihat naskah
sebagus itu harus teronggok di gudang tua milik mama.
*
Akhirnya hari yang aku tunggu-tunggu pun
tiba. Novelku siap untuk di luncurkan. Mas Ivan begitu bersemangat
mempromosikan. Aku jadi terharu melihatnya. Ternyata naskah dari gudang
tua milik mama benar-benar membuat semua orang tertarik untuk membeli.
Aku tidak menyangka sambutan masyarakat begitu heboh.
Aku menunggu dengan cemas laporan dari
hasil penjualan novelku. Sambil menunggu, kami melanjutkan kegiatan
kami. Kadang seharian aku, Hadi dan Nando berada digudang mama. Karena
Naskah itu susunannya tidak teratur jadi membutuhkan waktu untuk
menyusunnya menjadi sebuah serial. Ruang perpustakaan dirumah mama
menjadi tempat kami mengetik naskah itu. Kami ingin agar seri kedua dari
novel itu siap saat mas Ivan memintanya.
Pagi itu saat sarapan di ruang makan handphoneku berdering. Telpon dari Nando.
” Demi, kamu liat tivi cepat.” pintanya
dengan nada cemas. Aku segera berlari ke ruang tengah melihat siaran
tivi. Nando mengucapkan nama stasiun tivi yang harus aku liat. Aku
segera mengubah channelnya. Berita kecelakaan beruntun ditengah kota.
” Kenapa, ndo? Apa ada teman kita yang kecelakaan?”
” Bukan! Kecelakaan itu terjadi di jalan yang sama dengan cerita di novelmu!”
” Masak sih?” aku memperhatikan lagi berita yang ada di tivi.
” Benarkan? Ceritanya sama. Hari, jam,
nama jalan, jumlah mobil, bahkan jumlah yang tewas dan terluka. Semuanya
sama. Aku baru memperhatikan ini, Mi. Kemarin ada juga berita yang sama
persis dengan isi dalam novelmu. Hanya kemarin aku menganggapnya
sebagai kebetulan. Tapi hari ini aku betul-betul cemas. Kenapa ceritanya
sama persis? Dalam novelmu juga, setelah kecelakaan hari ini, maka
besoknya terjadi kecelakaan lagi. Sama, mi. Persis!”
Aku mendengarkan ucapan Nando sambil terus menyimak berita di tivi.
” Demi!mi, kamu masih disitukan? Mi!”
” Ya. Aku masih mendengarkan.”
” Masih ada dua lagi kecelakaan dalam
novelmu. Itu terjadi tiga hari setelah hari ini. Nama jalan, berapa
jumlah mobil yang mengalami kecelakaan, jumlah korban sudah aku hapal
diluar kepala.”
” Jangan terlalu panik, ndo. Mungkin itu
hanya kebetulan. Kamu jangan membuat aku jadi panik. Mana mungkin
sebuah cerita dalam novel bisa mengakibatkan kecelakaan?”
” Aku juga tidak ingin menghubungkannya,
mi. Tapi aku tetap penasaran. Apa kamu lupa, naskah itu berasal dari
gudang. Naskah tua yang aneh bukan? Naskah tua tapi ceritanya baru.
Jangan-jangan naskah itu keramat.”
” Huss. Kamu makin ngaco. Kita lihat saja nanti. Mudah-mudahan ini hanya kebetulan saja.”
Aku menutup pembicaraan dengan Nando.
Segera kuselesaikan sarapanku dan bergegas ke ruang perpustakaan. Berita
dari Nando membuat ketenanganku terganggu. Aku bahkan tak bisa membaca
satupun tulisan. Pikiranku selalu tertuju ke kecelakaan yang terjadi.
Aku berdoa semoga saja naskah itu tidak keramat seperti perkataan Nando.
Tapi ternyata doaku tidak terkabul. Hari itu dengan menjerit-jerit Nando menelponku.
” Demi! Kecelakaan itu terjadi! Sama
persis, bahkan detiknya sama! Kita harus percaya kalau naskah itu
menyimpan misteri.” Aku yang baru saja terbangun dari tidur dipagi hari
serasa mendengar kabar kematian. Aku bangkit dari pembaringan dan menuju
meja di mana novel itu masih tergeletak dengan posisi terbuka. Semalam
aku membaca bagian yang berisi cerita kecelakaan yang menurut Nando
kemungkinan akan terjadi lagi.
” Mi, jalan yang sama, jam yang
sama.semua sama! Aku tidak perlu menjelaskan ke kamu kemiripannya. Kamu
baca sendiri. Kamu tidak perlu nonton berita. Cukup baca novel itu
saja.”
Aku terduduk lemah didepan meja. Benarkah ada kejadian seperti ini? Aku hampir-hampir tak bisa mempercayai.
” Mi, tunggu kecelakaan ke empat dalam
novelmu. Itu sebagai pembuktian terakhir. Kalau memang sama persis,
berarti semua naskah itu harus kita edit ulang. Jangan memasukkan
cerita-cerita yang berhubungan dengan kecelakaan atau musibah-musibah.”
Menunggu pembuktian kecelakaan keempat
dalam novelku, membuatku tidak nyenyak tidur. Selama tiga hari aku
kadang terbangun tengah malam. Aku sengaja istrahat selama tiga hari ini
karena aku tidak bisa konsentrasi. Sengaja aku memilih pulang kerumahku
agar aku bisa tenang. Hadi sempat menanyakan mengapa aku tiba-tiba
ingin istrahat. Tapi aku memberi alasan yang lain. Cukup aku dan nando
saja yang panik. Aku tidak ingin Hadi terganggu konsentrasinya
mengerjakan skripsi kalau mendengar masalah yang menimpa kami. Masalah
yang hanya kami yang tahu. Sejak kecelakaan pertama, tidak ada satupun
media yang menghubungkan kecelakaan itu dengan novelku. Aku bisa
bernafas lega untuk hal yang satu itu.
Jam lima subuh aku terbangun. Aku tidak
nyenyak tidur sejak tadi malam. Berkali-kali aku terbangun. Hari ini
adalah penentuan itu. Jam setengah tujuh sesuai jam di novel, kecelakaan
akan terjadi. Kuhubungi Nando. Ternyata dia sudah ada dilokasi. Dia
sama paniknya denganku. Bahkan mungkin lebih panik. Setelah menelpon
Nando aku masuk kekamar mandi, berwudhu lalu sholat. Syukurlah setelah
sholat batinku kurasakan tenang. Aku melangkah ke dapur. Membuat susu
panas lalu menyetel siaran tivi. Aku menonton tivi sampai susu digelasku
habis.
” Lho, mbak sudah bangun?” tegur pembantuku yang tiba-tiba muncul di belakangku. Aku berbalik kaget.
” Iya, May. Aku mau balik ke kamar,
mau mandi dulu.” Kataku lalu melangkah menuju kamarku. Setengah jam
dikamar mandi, aku kemudian keluar dengan terburu-buru karena
handphoneku berdering tiada henti. Segera kuraih handphoneku yang
tergeletak manis di atas meja. Panggilan dari Nando. Sambil menaruh
handphone di telingaku, aku melirik jam di dinding. Jantungku berdegup
dengan kencang. Jam di dinding menunjukkan jam setengah tujuh.
” Hallo, Mi. Gawat, mi. Benar-benar gawat. Di jalan ini baru saja
terjadi kecelakaan! Novel itu ada ditanganku sekarang. Pokoknya semua
naskah dari gudang itu harus segera kita revisi.Kamu tentu tidak ingin
menambah korban lagi bukan?”
Tanganku terjatuh di sampingku. Aku
tidak sanggup lagi mendengar kata-kata dari Nando. Karena panik, aku
segera berpakaian dan berkemas. Aku ingin segera kerumah mama. Aku ingin
melihat kembali naskah-naskah itu.
Setelah memberi pesan ke May aku
kemudian meninggalkan rumah. Ditengah jalan Nando menelponku. Dia ingin
ikut denganku.Aku mengubah jalur perjalananku ke arah yang Nando
tentukan. Kami lalu bersama-sama menuju rumah mama. Sepajang jalan nando
menceritakan betapa paniknya dia saat kecelakaan itu terjadi. Semua
terjadi begitu cepat. Nando bahkan tidak bisa memprediksikan kapan
persisnya kejadian itu, tiba-tiba semua terjadi didepan matanya.
Mendengar cerita Nando aku makin gugup.Aku tidak ingin menjadi penyebab
dari kecelakaan-kecelakaan yang mirip dengan cerita dari naskah yang aku
buat novel.
Sesampainya di rumah mama. Aku dan Nando langsung menuju ruang perpustakaan.
” Bagaimana dengan seri dua ini, Mi?
Didalamnya juga ada beberapa kejadian yang menurutku harus kita edit.
Ganti saja dengan kejadian lain atau kata-kata lain.” ucap Nando sambil
memperlihatkan naskah yang masih ada di file komputer. Kami memang
sengaja belum memprint semua naskah yang sudah kami ketik.
” Iya. Nanti aku edit lagi.
Mudah-mudahan mas Ivan belum meminta naskah lanjutannya. Tapi aku tidak
habis pikir, Ndo. Kenapa kecelakaan-kecelakaan itu bisa sama persis
dengan cerita didalam naskah itu?”
” Kita bikin uji coba dengan seri dua
nanti. Kalau setelah diedit ternyata kecelakaan atau musibah itu tidak
terjadi, kita harus bisa mempercayai kalau naskah itu keramat. Atau
mungkin juga mengandung kutukan.”
Aku mengangguk. Harus ada uji coba untuk meyakinkan kami.
~
Beberapa bulan kemudian.
” Demi, musibah itu terjadi!” aku kaget
ketika tengah malam Nando menelponku. Kurapatkan handphone ditelingaku.
Masih dengan kesadaran yang belum pulih, aku mencoba mendengarkan
kata-kata Nando.
” Ada apa, Ndo.”
” Musibah yang ada didalam novel seri dua.”
” Lho, bukankah sudah direvisi?” tanyaku heran.
” Benar, makanya aku tidak
memperhatikan. Aku tenang saja selama seminggu ini. Tapi aku curiga
setelah aku baca naskah sebelum kamu edit. Kok ceritanya sama.”
” Sama?”
” Iya. Kamu perhatikan lagi. Ada empat kejadian di dalam novel seri dua. Sama dengan seri pertama. Sudah tiga yang terjadi.”
” Lho kenapa bisa? Bukankah yang kita serahkan naskah yang sudah kita revisi?”
” Benar. Aku bahkan melihat kembali
filenya di komputer mas Ivan. Tapi kenapa kalimat yang sudah kita edit
masih tetap terjadi? Ada hal aneh juga, mi. Saat aku melihat novel ke
dua yang sudah diterbitkan. Kamu tahu apa yang membuat aku kaget
setengah mati?”
” Apa itu?”
” Kalimat yang sudah kita edit, ternyata
tetap ada! Sama sekali tidak hilang. Berarti saat naskah itu dicetak,
kalimatnya tetap sama. Tidak ada gunanya kita edit.”
” Kok bisa seperti itu?”
” Itulah. Makanya aku yakin, naskah itu keramat!”
Selesai menerima telpon Nando, aku
bangun dari pembaringan. Aku ingin membaca novel kedua yang telah
terbit. Aku belum sempat melihat lebih detil isinya karena kecemasanku
waktu itu sudah tidak ada. Aku merasa tenang karena kalimat-kalimat yang
mengundang musibah sudah kami edit. Tapi telpon Nando malam ini
membuatku membuka novel seri dua. Seluruh tubuhku terasa lemas saat aku
melihat kalimat-kalimat yang menurutku sudah aku edit. Ternyata
kalimat-kalimat itu masih lengkap. Tersusun dengan manisnya diantara
paragraf-paragraf dalam novel.
Aku bersandar di kursi. Pikiranku
teromang-ambing antara mempercayai atau tidak kalau naskah itu keramat.
Naskah itu seperti mengandung kutukan. Apakah benar-benar ada
hubungannya?
*
Pagi-pagi sekali, saat kabut masih betah
menghiasi bumi. Handphoneku berbunyi. Kulihat layarnya, dari mas Ivan.
Jantungku berdebar kencang. Semoga mas Ivan tidak mencurigai novelku ada
kaitannya dengan kecelakaan-kecelakaan yang ramai diberitakan.
” Pagi, Demi.” sapa mas Ivan.
” Pagi.” balasku dengan suara gugup.Aku berusaha bersikap tenang tapi tetap saja rasa gugup itu menguasaiku.
” Maaf, pagi-pagi sudah menghubungi
kamu. Begini, mi. Ada seseorang yang bertanya padaku. Dia dari media.
Dia mengatakan sesuatu yang menurutku mustahil.” aku menyimak perkataan
mas Ivan.
” Katanya, novel kamu berkaitan dengan kecelakaan yang terjadi akhir-akhir ini.”
Brukk. Aku merasakan tubuhku melemah. Aku terduduk di sofa.
” Maksud mas Ivan?” tanyaku. Kurasa
tanganku mulai berkeringat. Kebiasaanku kalau sedang gugup, tanganku
selalu basah oleh keringat dingin.
” Ini belum pasti. Tapi kalau ada
kalangan media yang mulai menghubungkan, aku jadi khawatir. Makanya aku
menelponmu. Aku tidak ingin kamu mengetahui ini dari orang lain. Aku
ingin kamu siap, kalau tiba-tiba ada pertanyaan seputar cerita dalam
novelmu dengan kejadian nyata yang ada diluar. Kamu harus siap dengan
jawaban yang tentu saja masuk akal. Sedikit saja salah dalam jawabanmu,
itu bisa mencemarkan namamu dan mungkin menghentikan peredaran novel
itu. Mungkin saja novel itu akan ditarik.”
Aku terhenyak, tak bisa berkata-kata.Akhirnya yang takutkan terjadi juga. Ada yang mulai memperhatikan isi cerita dalam novelku.
Handhoneku berdering lagi. Dari Nando.
” Ya, ndo. Ada apa?”
” Mi, hentikan saja proyek novelmu itu. Kalau perlu naskah tua itu kita bakar saja.”
” Apa??
” Aku khawatir ada orang lain yang nanti
memanfaatkan naskah itu. Kalau keadaannya seperti itu maka akan banyak
korban lagi yang berjatuhan. Sekarang lebih baik kita kerumah mamamu.
Kita harus melenyapkan novel itu.”
Saran Nando untuk segera menghilangkan
novel itu masuk juga dalam pikiran normalku. Mungkin sebaiknya novel itu
kami hilangkan agar tidak ada pihak lain yang menerbitkannya. Tapi
betapa kagetnya aku dan Nando. Begitu kami tiba digudang mama,
naskah-naskah itu sudah tidak ada. Aneh. Siapa yang sudah
memindahkannya?
” Kalian mencari naskah-naskah itu?” suara Hadi tiba-tiba terdengar dibelakang kami. Aku berbalik.
” Iya. Kemana naskah-naskah itu? Apa kamu yang telah memindahkannya?” Hadi mengangguk.
” Aku dan bapak sudah membakarnya.” jawab Hadi pelan. Aku dan Nando terperanjat.
” Kamu membakarnya?”
” Aku membakarnya setelah mendengar
cerita dari bapak. Selama ini bapak tidak tahu kalau kita bertiga sedang
menggarap naskah itu menjadi novel. Saat aku membaca novel itu dan
melihat berita-berita kecelakaan yang ada di tivi. Aku mulai meyakini
kalau naskah itu mungkin berisi kutukan.”
” Apa yang bapakmu ceritakan?”
” Tidak banyak. Bapak hanya mengatakan,
kalau sebelumnya gudang itu kosong. Kenapa tiba-tiba aku menemukan
banyak naskah-naskah tua di sana? Bapak merasa naskah itu mungkin akan
membawa petaka.”
Kami bertiga kemudian menuju lokasi
dimana Hadi membakar naskah-naskah tua itu. Asap hitam masih terlihat
mengepul dari kejauhan. Begitu dekat, aku lihat hampir seluruh
naskah-naskah itu telah terbakar. Aku terpana. Inikah akhir dari naskah
yang membuat aku terpesona dengan ceritanya.Awal yang aku harapkan akan
bersinar sekarang malah menjadi mendung. Redup seiring rasa ketakutan
kami akan musibah yang mungkin akan lebih parah.
Aku meninggalkan rumah mama dengan rasa
yang tak bisa aku lukiskan. Semua bercampur baur dalam pikiranku.
Pertama kalinya aku menggarap proyek naskah bersama, sekarang proyek itu
harus kami hentikan.Dan yang menyedihkan bagiku, adalah saat melihat
naskah-naskah itu terbakar. Karya indah yang harus berakhir dalam sebuah
kobaran api. Rasanya tak rela saat melihat asap-asap hitam itu mengepul
ke udara. Seperti melihat sebuah ritual yang mengantarkan roh ke alam
baka.
Malamnya aku bermimpi. Kami bertiga,
aku, Nando dan Hadi tengah berlari di sebuah taman yang sangat indah.
Tiba-tiba Hadi terjatuh ke sebuah rawa.Aku dan Nando berusaha
menariknya. Tapi anehnya semakin kami tarik, Hadi malah semakin
terbenam. Tiba-tiba dari arah belakang muncul Pak Haryo. Dia sekuat
tenaga berusaha menyelamatkan anaknya. Tapi malah Pak Haryo ikut
terjebak ke dalam rawa. Saat aku berusaha menarik Hadi, tangan Nando
menahanku. Dia tak ingin aku ikut terjebak ke dalam rawa.
Aku terbangun dengan rasa pening
dikepalaku. Mimpi yang berakhir tanpa aku tahu akhirnya. Keringat dingin
mengucur ditubuhku. Aku langsung teringat dengan naskah tua itu.
Mungkin karena terlalu memikirkannya, akhirnya terbawa dalam mimpi.
Karena perasaanku yang tidak nyaman, aku
kemudian beranjak dari pembaringan. Aku ingin minum segelas air,
rasanya tenggorokanku kering. Kunyalakan lampu kamar. Saat itulah
handphoneku berbunyi. Aku yang sudah hampir mencapai pintu, berbalik
lagi menuju meja di samping tempat tidur. Kuraih handphoneku yang masih
bergetar diatas meja. Panggilan dari mama. Aneh. Bukan kebiasan mama
menelpon tengah malam.
” Halo. Ma?” aku tidak mendengar suara mama. Aku hanya mendengar tangisan.
” Ma? Mama kenapa?” tanyaku makin penasaran. Yang terdengar tetap tangisan.
” Demi. Demi..Pak Haryo dan Hadi meninggal. Mereka terbakar di halaman belakang…huhuhu..”
” Apa, ma? Kenapa dengan Pak Haryo dan Hadi?” aku masih tidak percaya dengan pendengaranku.
” Pak Haryo dan Hadi terbakar di halaman belakang! Mereka tewas!”
Badanku langsung lemas. Tubuhku lunglai
menyentuh lantai. Handphoneku masih dalam genggaman. Suara mama masih
terdengar tapi aku tak sanggup lagi mengangkat handphoneku. Airmataku
menetes, mengalir dipipiku. Aku teringat mimpiku. Mungkin inilah arti
dari mimpiku. Mimpi yang membuat jantungku berdebar dan membangunkanku
ditengah malam. Aku teringat naskah itu. Benarkah Pak Haryo dan Hadi
terkena kutukan dari naskah tua itu. Kalau benar demikian, aku jadi
sangat menyesal. Karena ide yang aku usulkan, maka terjadi begitu banyak
musibah. Aku terus menangis dalam rasa sesal. Maafkan aku Pak Haryo.
Maafkan aku Hadi.
* TAMAT*
0 komentar:
Posting Komentar