Senin, 09 April 2012

Impian Dena ( 1 )

0

 

Aku duduk di sisi pembaringan dengan mata sesekali terpejam karena kantuk yang makin tak tertahankan. Kulirik Siska yang masih berurai airmata dengan BB yang sejak tadi menempel di telinganya. Tak lagi ada suara memohon penjelasan dari Gilang, kekasih yang baru saja memutuskan kisah kasih mereka. Sekarang yang terdengar hanya isak yang membuat hatiku semakin pilu.

“ Siska, aku tidur dulu ya, udah ngantuk.” Kataku seraya meluruskan kaki lalu menyandarkan kepala pada bantal empuk yang menggodaku untuk segera terlelap. Siska tak menjawab. Tatapan matanya menerawang.

“ Aku tahu, tapi tetap tidak mengerti mengapa kamu ingin kita berpisah..”

Suara Siska terdengar dengan kalimat yang berulang-ulang dia ucapkan. Meski kesal aku tidak sampai hati untuk menegurnya. Siska nampak shock atas keputusan Gilang dan terus ingin mendengar alasan mengapa Gilang memutuskan hubungan mereka.

“ Pokoknya aku tidak ingin kita putus! Aku tidak ingin kita berpisah....”

Tangis Siska membuatku terbangun. Aku beringsut mendekatinya. Kusentuh bahunya sambil bersandar di tembok. Aku ingin memberikan semangat agar dia tetap tegar. Sekuat tenaga aku melawan rasa kantuk. Rasa sayang membuatku urung terlelap. Melihat keadaan Siska sekarang ini membuatku iba. Patah hati membuatnya terpuruk hingga tak lagi peduli dengan dirinya.

Tiba-tiba dengan sekali gerakan, BB yang menempel di telinganya melayang lalu menyentuh lantai dengan suara keras. Aku hanya bisa terpaku melihat benda yang selama ini aku  impikan kini berserakan dan tak lagi utuh. Kupandangi Siska yang tak bergeming melihat BB miliknya hancur.

“ BB ini juga hadiah dari Gilang. Biar rusak sekalian. Aku tidak ingin menyimpan hadiah darinya..”

Siska bangkit lalu masuk ke dalam kamar mandi. Setelah menutup pintu, aku buru-buru memungut satu persatu bingkai BB yang terlepas. Sifat Siska yang cenderung tak bisa mengendalikan diri saat emosi kadang membuatnya menyesal setelah kesadarannya timbul. Aku tidak ingin dia menyesali BB yang rusak karena ulahnya. Aku bersyukur karena BB  miliknya masih aktif dan tak rusak seperti yang aku cemaskan.

“ Andai ada seseorang yang memberiku hadiah seperti ini.. tapi kapan???” gumamku sambil mengelus BB milik Siska.

“ Ambil saja. Aku tidak ingin menyimpan BB itu lagi.” Siska tiba-tiba keluar dari kamar mandi dan mendengar ucapanku.

“ Benarkah? Tapi apa kamu yakin? Jangan-jangan besok kamu menyesal trus ingin BB ini kembali?” kataku harap-harap cemas. Siska memandangku lalu mengangguk sebelum menarik selimut menutupi seluruh tubuh dan wajahnya.

“ Itu hadiah darinya. Aku tidak memerlukannya lagi. Besok aku beli yang baru.”

Aku ingin berteriak saking senangnya mendapat BB meski bekas dari Siska, namun keinginanku tertahan. Aku sadar saat ini Siska sedang berduka, tidak berperasaan jika aku gembira di atas penderitaannya.

****

Pagi yang mendung seperti pandangan mata Siska. Segelas teh dan roti rasa keju yang aku siapkan untuknya belum juga di sentuh. Dia hanya duduk menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi.

“ Gimana perasaan kamu? Udah baikan? Kalau gak fit, jangan masuk kantor dulu..” Kataku memecahkan sepi.

“ Aku akan ke kantor. Kalau gak masuk hari ini, bagaimana aku bisa cari tahu lowongan kerja untuk kamu.” Siska duduk tegak menatapku.

“ Tapi kalau keadaan kamu seperti ini, aku jadi gak enak hati. Hari ini aku berencana mendatangi salah seorang teman yang memiliki kios di pasar. Mungkin saja dia ada kenalan yang bisa menerimaku bekerja.”

“ Kita sama-sama berusaha saja. Aku tahu, saat ini kantorku tidak menerima karyawan, bahkan ada beberapa yang di PHK. Tapi setiap kemungkinan itu bisa saja menjadi kesempatan untuk kamu. Aku  berharap kita bisa kerja dalam satu perusahaan..”

Aku tersenyum getir sambil memasukkan potongan roti dalam mulutku. Ini adalah minggu ketiga sejak Siska berusaha mencarikan aku job di perusahaan tempat dia bekerja. Namun kabar gembira itu tak juga kunjung datang. Aku akhirnya memutuskan untuk ikut mencari sambil menunggu kabar dari Siska.

“ Semoga beruntung.” Ucap Siska yang melepasku keluar dari rumah.

“ Kamu juga, semoga kita berdua beruntung..” kubalas ucapannya sebelum melangkah menuju pinggir jalan raya untuk menahan angkot. Kupandangi langit yang kian gelap. Rintik hujan sudah mulai meretas satu-satu menyentuh kulitku. Segera kutahan angkot yang melintas demi menghindari hujan yang semakin deras.

“ Dena?! Apa kabar nih?” sambut Yani, teman sekolahku dulu ketika aku muncul di depan kios miliknya. Berulangkali melamar kerja di berbagai instansi dan perusahaan, namun selalu gagal, dia akhirnya lelah dan membuka kios kecil. Berdagang baju-baju muslim dengan dua karyawan, usahanya terbilang sukses. Di bandingkan pertemuan kami beberapa tahun silam, kondisi Yani sangat berbeda.

“ Kiosmu makin rame, Yan?” kataku. Yani tersenyum.

“ Lumayan, Dena. Sekarang aku sudah bisa bernafas lega karena kios ini bukan lagi kontrak. Aku sudah membelinya enam bulan yang lalu. Kredit juga dengan mudah aku dapatkan, jadi usahaku bisa berkembang. Ehm, ngomong-ngomong, kegiatan kamu sekarang apa?kamu kerja di mana? Tempo hari kamu kerja di travel. Sekarang apa masih di sana?”

Aku menggeleng cepat.

“ Aku sudah berhenti. Kantorku bangkrut karena  manajer kami korupsi. Aku sudah melamar kerja di mana-mana tapi tetap saja belum ada yang menerimaku.”

“ Jadi rencana kamu sekarang apa? Kamu sudah menikah?”

Kembali aku menggeleng.

“ Belum. Sekarang aku sedang butuh kerja. Apapun itu asal halal. Aku tidak enak hati menumpang di rumah Siska meski dia tidak keberatan. Aku juga sungkan meminjam uang padanya sementara tabunganku makin lama makin menipis..”

“ Kamu mau jadi penjaga kios?” suara Yani terdengar ragu.

“ Mau! Apapun itu asal aku bisa dapat duit.” Jawabku cepat. Yani menyentuh tanganku.

“ Kamu di sini dulu ya, aku ke kios mantan majikanku. Beberapa hari yang lalu dia memintaku mencari perempuan untuk menjaga tokonya.”

Yani kemudian keluar dari kios. Beberapa saat menunggu aku melihat aktivitas pembeli yang keluar masuk ke kios. Tiba-tiba hadir keinginan dalam hatiku untuk ikut berdagang seperti Yani. Tapi aku bisa mendapatkan modal dari mana?

“ Kabar baik, Dena.” Yani muncul dan merangkulku. Dia terlihat sangat gembira.

“ Mulai besok kamu kerja di  toko mantan bosku. Besok pagi kamu kemari lalu aku antar kamu ke tempatnya. Bagaimana? Kamu setuju?”

Aku tak menjawab tapi langsung memeluk Yani. Mendengar kabar yang dia sampaikan membuatku tak mampu berkata-kata. Aku sangat gembira hingga tak sadar mataku berkaca-kaca.

“ Makasih, Yani..” hanya itu kalimat yang mampu aku ucapkan.

“ Sama-sama, Dena. Sesama teman kita harus saling tolong. Mungkin kelak aku malah yang minta tolong padamu.”

Aku mengusap mataku. Rasanya terharu mendengar ucapan Yani. Aku lalu mohon pamit dan bergegas keluar dari pasar. Keinginanku untuk secepatnya meninggalkan pasar sedikit terhambat karena tiba-tiba di depan pasar nampak keramaian petugas keamanan. Mereka terlihat mengelilingi sebuah kendaraan yang baru saja tiba.

Aku akhirnya hanya berdiri menanti seperti orang-orang yang juga memandang dengan rasa penasaran.

“ Ada apa ya? Tumben banyak petugas?” ujar seorang bapak yang menurunkan kantong belanja karena tak bisa menembus barisan petugas yang menghalangi jalan. Kami masih menanti siapa gerangan yang turun dari mobil tersebut.

Tiba-tiba handphoneku berdering.

“ Halo! Siapa nih?” tanyaku karena nomor yang masuk tidak aku kenal.

Tidak ada suara. Aku berniat menaruh handphone di dalam tas ketika tiba-tiba suasana berubah sangat riuh. Aku tidak tahu penyebabnya. Tubuhku juga ikut terdorong oleh kerumunan massa yang tiba-tiba saja saling dorong.

“ Pelan-pelan dong!” teriakku namun percuma saja. Aku terlambat menahan tubuhku hingga aku terjerembab masuk ke selokan di depan pasar. Semua berlangsung cepat dan tak mampu kuhindari.

Beberapa saat kuanggap aku sedang bermimpi melihat kakiku terendam air selokan yang berwarna hitam pekat.

“ Ayo naik!” teriak abang becak yang menjulurkan tangannya. Warga yang melihatku hanya melongo namun sedetik kemudian mengalihkan pandangan mereka. Aku tidak peduli lagi. Perasaanku bercampur aduk antara marah dan kaget dengan kejadian yang baru saja menimpaku.

“ Hati-hati kalau jalan.” Ucap abang becak yang tadi menolongku. Kupandangi sepatuku yang penuh lumpur hitam.

“ Cuci muka di mesjid saja, mbak.” Tegurnya lagi. Aku terkesiap. Kaget mendengar sarannya. Cuci muka? Mengapa aku harus cuci muka?

Segera ku keluarkan cermin kecil dari dalam tasku. Hampir saja aku terjatuh lagi ke dalam selokan karena kaget melihat wajahku. Ternyata bukan hanya sepatuku yang terkena lumpur hitam, wajahku juga ikut kecipratan lumpur sialan itu!

( Bersambung ) 

Part  

 2  3   5  6   8  9  10  11  12  13  14  15  16  17  18  19  20

21  22  23  24  25  26  27  28 29


0 komentar:

Posting Komentar