Suatu malam di rumah Asih dan Elva.
Elva
sedang duduk di depan tivi. Acara sinetron favoritnya sedang diputar.
Tapi walau matanya ke arah tivi, pikirannya mengembara. Dia gelisah
memikirkan informasi yang tadi disampaikan Dewa. Informasi kalau pemuda
tampan yang baru saja membuatnya jatuh hati ternyata adalah polisi
gadungan. Bahkan Dewa menyebut, kalau si Kais, nama si pemuda adalah
hansip dari desa sebelah.
Berulangkali
Elva menghela nafas. Tingkahnya itu tak luput dari perhatian Asih,
kakaknya. Asih yang sedang menyetrika pakaian, memperhatikan adiknya
itu dari arah samping.
” Masih kepikiran si Kais, Va?” tanya Asih kemudian. Elva mengangguk lesu.
” Trus kang Inin bagaimana, Va? Mbak liat dia suka sama kamu. Perhatiannya itu loh. Jarang ada yang sebaik dia. “
” Tapi bagaimana ya, mbak. Saya nggak ada fil dengan kang Inin. Saya hanya anggap dia teman. “
”
Dengan Kais bagaimana? Kamu suka dia ya?” Elva mengangguk cepat.
Padahal dalam hati Asih berharap Elva lanjut dengan Kang Inin. Kang
Ini sudah mereka kenal dengan baik. Anaknya juga ramah.
”
Kalau hatimu seperti itu. Mbak hanya bisa mendukung. Semoga kali ini
kamu nggak patah hati lagi. Sekarang lebih baik kamu cari tahu, dimana
si Kais tinggal. Dia kan tidak mungkin tiba-tiba datang di Desa
Rangkat tanpa ada seseorang yang dia temui. Mungkin ada kenalannya
disini.” Elva mematikan tivi. Sepertinya malam ini sinetron favoritnya
tidak bisa meredam rasa gelisah dalam hati Elva.
” Tapi kira-kira siapa ya, mbak? Apa saya harus tanya sama pak kades?”
”
Lebih baik kamu tanya petugas arsip. Kan kalau ada warga baru atau tamu
yang menginap, harus melapor sama pak kades dan petugas arsip. Data
lebih lengkap ada sama mas Hikmat.”
” Betul, mbak. Kenapa Elva nggak kepikiran kesana ya..”
Elva
kemudian bergegas mendatangi rumah mas Hikmat. Tapi ditengah jalan dia
berpapasan dengan Zwan. Zwan sedang berjalan dengan riangnya.
” Elva? Mau kemana? Biasanya malam-malam begini kamu sudah diam di rumah?” tegur zwan.
” Eh mbak Zwan..ini mbak mau kerumah mas Hikmat.”
” Lho kita sama kalau begitu. Jalannya sama-sama saja.”
Mereka
berdua jalan beriringan. Sambil jalan mereka ngobrol hingga
tertawa-tawa. Tapi tawa mereka terhenti saat tiba di depan rumah mas
Hikmat. Zwan dan Elva tertegun. Zwan tidak menyangka mas Hikmat
sedang ada tamu. Sedangkan Elva tidak menyangka akan bertemu Kais si
pemuda ganteng. Dia sedang duduk berbincang dengan mas Hikmat,
disebelahnya duduk mas Lala. Elva merasa ragu. Begitu juga dengan Zwan.
Keduanya berniat untuk membatalkan rencana mereka bertemu dengan mas
Hikmat.
”
Hallo nona-nona manis..lagi ngapain disini?” Elva dan Zwan terlonjak
kaget. Tiba-tiba saja muncul cah ingusan alias mas Erwin dengan baju
putih dan sarung putih. Warna bajunya itu membuat Elva nyaris pingsan
karena kaget.
” Mas Erwin?!? bikin kaget saja. Saya kira hantu dari mana!” mas Erwin hanya tertawa.
” Apa
kalian tidak bisa bedakan mana hantu, mana manusia? Ckckck..sudah
ganteng begini. Lho kalian kok diam disini? Mau kerumah mas Hikmat ya?
Ayo tuh orangnya lagi ada..buruan..saya dengar mas Hikmat mau pergi.”
” Mas Hikmat mau pergi kemana?” Zwan terlihat cemas. Tapi mas Erwin tidak menjawab. Dia mendorong tubuh Elva dan Zwan.
”
Assalamu Alaikum.. malam mas..nih ada tamu dua gadis manis..” seru mas
Erwin hingga tiga orang yang duduk di teras menatap mereka.
Elva dan Zwan jadi kikuk. Degup jantung keduanya berpacu cepat.
” Wa Alaikum salam..mas Erwin, Elva, Zwan.. silahkan duduk. Ada apa ini, tiba-tiba rame-rame datang kemari?”
Elva
dan Zwan hanya tersipu. Elva gugup karena Kais menatapnya tak berkedip.
Sedangkan Zwan gugup karena teringat dengan surat cinta yang tadi
siang dia terima. Surat cinta dari mas Hikmat. Zwan merasa heran,
kenapa mas Hikmat terlihat biasa saja. Tidak ada kesan kalau ada
sesuatu yang telah dia kirimkan untuk Zwan.
”
Biasa mas..hanya mau ngobrol..mas Hikmat kan mau keluar daerah… jadi
kapan lagi bisa ngobrol bareng. Tapi Acik dan Zwan..sepertinya ada
masalah penting..” ucap mas Erwin lalu maju menggeser duduk di samping
mas Lala. Tanpa malu-malu mas Erwin langsung meminum kopi yang ada di
atas meja. Tangannya juga lincah mencomot gorengan yang ada di atas
meja.
”
Ayo…Zwan, Elva..ngomong saja…jangan malu-malu…” tegur mas Erwin sambil
mengunyah makanannya. Mendapat teguran seperti itu Zwan dan Elva malah
tidak bisa bersuara. Elva dan Zwan menyesali kedatangan mas Erwin yang
tiba-tiba mendorong mereka hingga masuk, padahal mereka sudah bersiap
pulang.
Sementara
itu di rumah Elva, Asih sedang memandang buah-buahan yang baru saja
diantarkan Inin. Inin sedang duduk di ruang tamu dengan hantaran
buah-buahan yang lengkap. Asih merasa tidak tega melihat kesungguhan
Inin pada Elva.
” Dik Elva kemana ya, mbak? Tumben keluar malam-malam sendirian..”
” Ehm…itu lagi kerumah mas Hikmat..”
“Oh, ya. Kebetulan. Saya langsung kesana saja mbak. Permisi”
Inin
pamit. Dengan semangat 45 dia berlari menuju rumah mas Hikmat yang
tidak terlalu jauh. Tapi saat tiba didepan rumah mas Hikmat. Hati Inin
serasa terbakar. Dia melihat Elva sedang duduk berdekatan dengan
seorang pemuda yang tidak dia kenal. Jadi benar gosip yang dia dengar,
kalau Elva tadi siang terlihat berduaan dengan seseorang di pinggir
sungai. Hati Inin bimbang. Apakah dia ikut bergabung dengan mereka di
rumah mas Hikmat ataukan dia pulang saja? Tapi hujan yang tiba-tiba
turun dengan deras memaksa Inin membuat keputusan. Inin berlari pulang
dalam guyuran hujan. Membawa hatinya yang mulai terasa sakit. **
> dengan hati berdebar-debar..saya posting cerita ini…<
0 komentar:
Posting Komentar