Minggu, 15 April 2012

Luka Hati Bersama Hujan ( ECR 2 )

0

Ilustrasi google.com

Suatu malam di rumah Asih dan Elva.

Elva sedang duduk di depan tivi. Acara sinetron favoritnya sedang diputar. Tapi walau matanya ke arah tivi, pikirannya mengembara. Dia gelisah memikirkan informasi yang tadi disampaikan Dewa. Informasi kalau pemuda tampan yang baru saja membuatnya jatuh hati ternyata adalah polisi gadungan. Bahkan Dewa menyebut, kalau si Kais, nama si pemuda adalah hansip dari desa sebelah.

Berulangkali Elva menghela nafas. Tingkahnya itu tak luput dari perhatian Asih, kakaknya. Asih yang sedang menyetrika pakaian, memperhatikan adiknya itu dari arah samping.

” Masih kepikiran si Kais, Va?” tanya Asih kemudian. Elva mengangguk lesu.


” Trus kang Inin bagaimana, Va? Mbak liat dia suka sama kamu. Perhatiannya itu loh. Jarang ada yang sebaik dia. “

” Tapi bagaimana ya, mbak. Saya nggak ada fil dengan kang Inin. Saya hanya anggap dia teman. “

” Dengan Kais bagaimana? Kamu suka dia ya?” Elva mengangguk cepat. Padahal dalam hati Asih berharap Elva lanjut dengan Kang Inin. Kang Ini sudah mereka kenal dengan baik. Anaknya juga ramah.

” Kalau hatimu seperti itu. Mbak hanya bisa mendukung. Semoga kali ini kamu nggak patah hati lagi. Sekarang lebih baik kamu cari tahu, dimana si Kais tinggal. Dia kan tidak mungkin tiba-tiba datang di Desa Rangkat tanpa ada seseorang yang dia temui. Mungkin ada kenalannya disini.” Elva mematikan tivi. Sepertinya malam ini sinetron favoritnya tidak bisa meredam rasa gelisah dalam hati Elva.

” Tapi kira-kira siapa ya, mbak? Apa saya harus tanya sama pak kades?”

” Lebih baik kamu tanya petugas arsip. Kan kalau ada warga baru atau tamu yang menginap, harus melapor sama pak kades dan petugas arsip. Data lebih lengkap ada sama mas Hikmat.”

” Betul, mbak. Kenapa Elva nggak kepikiran kesana ya..”

Elva kemudian bergegas mendatangi rumah mas Hikmat. Tapi ditengah jalan dia berpapasan dengan Zwan. Zwan sedang berjalan dengan riangnya.

” Elva? Mau kemana? Biasanya malam-malam begini kamu sudah diam di rumah?” tegur zwan.

” Eh mbak Zwan..ini mbak mau kerumah mas Hikmat.”

” Lho kita sama kalau begitu. Jalannya sama-sama saja.”

Mereka berdua jalan beriringan. Sambil jalan mereka ngobrol hingga tertawa-tawa. Tapi tawa mereka terhenti saat tiba di depan rumah mas Hikmat. Zwan dan Elva tertegun. Zwan tidak menyangka mas Hikmat sedang ada tamu. Sedangkan Elva tidak menyangka akan bertemu Kais si pemuda ganteng. Dia sedang duduk berbincang dengan mas Hikmat, disebelahnya duduk mas Lala. Elva merasa ragu. Begitu juga dengan Zwan. Keduanya berniat untuk membatalkan rencana mereka bertemu dengan mas Hikmat.

” Hallo nona-nona manis..lagi ngapain disini?” Elva dan Zwan terlonjak kaget. Tiba-tiba saja muncul cah ingusan alias mas Erwin dengan baju putih dan sarung putih. Warna bajunya itu membuat Elva nyaris pingsan karena kaget.

” Mas Erwin?!? bikin kaget saja. Saya kira hantu dari mana!” mas Erwin hanya tertawa.

” Apa kalian tidak bisa bedakan mana hantu, mana manusia? Ckckck..sudah ganteng begini. Lho kalian kok diam disini? Mau kerumah mas Hikmat ya? Ayo tuh orangnya lagi ada..buruan..saya dengar mas Hikmat mau pergi.”

” Mas Hikmat mau pergi kemana?” Zwan terlihat cemas. Tapi mas Erwin tidak menjawab. Dia mendorong tubuh Elva dan Zwan.

” Assalamu Alaikum.. malam mas..nih ada tamu dua gadis manis..” seru mas Erwin hingga tiga orang yang duduk di teras menatap mereka.

Elva dan Zwan jadi kikuk. Degup jantung keduanya berpacu cepat.

” Wa Alaikum salam..mas Erwin, Elva, Zwan.. silahkan duduk. Ada apa ini, tiba-tiba rame-rame datang kemari?”

Elva dan Zwan hanya tersipu. Elva gugup karena Kais menatapnya tak berkedip. Sedangkan Zwan gugup karena teringat dengan surat cinta yang tadi siang dia terima. Surat cinta dari mas Hikmat. Zwan merasa heran, kenapa mas Hikmat terlihat biasa saja. Tidak ada kesan kalau ada sesuatu yang telah dia kirimkan untuk Zwan.

” Biasa mas..hanya mau ngobrol..mas Hikmat kan mau keluar daerah… jadi kapan lagi bisa ngobrol bareng. Tapi Acik dan Zwan..sepertinya ada masalah penting..” ucap mas Erwin lalu maju menggeser duduk di samping mas Lala. Tanpa malu-malu mas Erwin langsung meminum kopi yang ada di atas meja. Tangannya juga lincah mencomot gorengan yang ada di atas meja.

” Ayo…Zwan, Elva..ngomong saja…jangan malu-malu…” tegur mas Erwin sambil mengunyah makanannya. Mendapat teguran seperti itu Zwan dan Elva malah tidak bisa bersuara. Elva dan Zwan menyesali kedatangan mas Erwin yang tiba-tiba mendorong mereka hingga masuk, padahal mereka sudah bersiap pulang.

Sementara itu di rumah Elva, Asih sedang memandang buah-buahan yang baru saja diantarkan Inin. Inin sedang duduk di ruang tamu dengan hantaran buah-buahan yang lengkap. Asih merasa tidak tega melihat kesungguhan Inin pada Elva.

” Dik Elva kemana ya, mbak? Tumben keluar malam-malam sendirian..”

” Ehm…itu lagi kerumah mas Hikmat..”

“Oh, ya. Kebetulan. Saya langsung kesana saja mbak. Permisi”

Inin pamit. Dengan semangat 45 dia berlari menuju rumah mas Hikmat yang tidak terlalu jauh. Tapi saat tiba didepan rumah mas Hikmat. Hati Inin serasa terbakar. Dia melihat Elva sedang duduk berdekatan dengan seorang pemuda yang tidak dia kenal. Jadi benar gosip yang dia dengar, kalau Elva tadi siang terlihat berduaan dengan seseorang di pinggir sungai. Hati Inin bimbang. Apakah dia ikut bergabung dengan mereka di rumah mas Hikmat ataukan dia pulang saja? Tapi hujan yang tiba-tiba turun dengan deras memaksa Inin membuat keputusan. Inin berlari pulang dalam guyuran hujan. Membawa hatinya yang mulai terasa sakit. **

> dengan hati berdebar-debar..saya posting cerita ini…<

0 komentar:

Posting Komentar