” Mbak, pergi dulu ya, Va. Assalamu
Alaikum..” Asih kemudian melangkah meninggalkan rumah. Elva menatap
kepergian kakaknya dengan penuh harap. Elva dan Asih sedang
mempersiapkan sebuah kejutan dalam rangka kampanye untuk pemilihan
KATAR. Berbagai rencana kampanye telah hadir dalam kepala Elva.
Sementara itu setelah sampai di kota, Asih kemudian
menuju pasar. Dia akan membeli sarung untuk kampanye Elva. Sarung itu
harus sarung yang bukan sembarang sarung. Kali ini Asih ingin, sarung
yang jadi hadiah Elva untuk para calon pemilihnya adalah kain songket
dari Palembang. Dua hari yang lalu Asih sudah menelpon penjual
langganannya. Sesuai janjinya kain itu tiba hari ini.
” Assalamu Alaikum, haji.” sapa Asih sambil berjalan
masuk ke dalam kios. Deretan sarung-sarung yang tertata rapi memenuhi
etalase di kios Haji Wana. Haji Wana berdiri menyambutnya.
” Waalaikum Salam, mbak Asih. Pesanannya sudah tiba,
baru saja.” katanya sambil berjalan menuju etalase di ruangan yang lain.
Kios haji Wana terdiri dari dua ruko yang saling terhubung dengan
sebuah pintu. Asih mengikuti haji Wana.
” Jumlah total pesanan mbak Asih semuanya ada 110
buah. Tapi karena mbak Asih pesannya banyak, saya kasih bonus deh. Lima
biji.” Asih terbelalak kaget.
” Makasih, haji. Aduh jagi nggak enak nih sama haji.”
ucap Asih dengan wajah penuh senyum. Dia tidak bisa menutupi rasa
gembiranya.
Selesai urusan di toko Haji Wana, Asih kemudian
menuju tempat konveksi. Asih juga sudah berbicara dengan pemilik
konveksi tersebut. Asih membeberkan rencananya. Dan sepertinya pemilik
konveksi mengerti.
Dengan semangat Asih memanggil becak. Abang becak kemudian membantu mengangkat dos berisi kain songket.
” Konveksi Makmur ya, bang.” ucap Asih. Abang becak
hanya manggut-manggut tanda mengerti. Diperjalanan Asih terus menerima
pesan sms dari Elva. Rupanya Elva sudah tidak sabar untuk mengetahui
kabar tentang kiriman sarungnya. Wajar kalau Elva tidak sabar. Dia sudah
merencanakan kampanye ini dengan matang. Kan sayang kalau hanya karena
kiriman kain songket yang tertunda, kampanyenya jadi batal.
Tapi wajah Asih yang ceria berubah seperti gelapnya
malam yang pekat. Asih melompat turun dari becak padahal becak belum
berhenti. Asih terkaget-kaget melihat toko konveksi yang akan di
datanginya ternyata tertutup. Wajah Asih langsung berubah jadi pucat.
” Kog bisa begini? Kan sudah janjian? Kenapa tokonya
tutup?” tanyanya panik. Asih berbicara sendiri. Tukang becak yang
berdiri di belakangnya terheran-heran.
” Mbak. Dosnya saya turunkan disini, ya.” ucapnya
sambil melihat ke arah Asih. Tapi Asih seolah tidak mendengar. Asih
sibuk dengan rasa paniknya. Sudah terbayang dalam kepala Asih rencana
Elva akan gagal total. Tidak ada waktu lagi untuk mencari konveksi yang
lain. Satu-satunya usaha konveksi yang terkenal karena kualitasnya yang
bagus, hanya di toko makmur. Tapi sekarang toko Makmur tutup. Apa yang
harus saya lakukan?” batin Asih dengan panik yang luar biasa.
” Mbak!?!? gimana nih? Saya mau narik lagi.” teriak
abang becak sudah tidak sabar. Asih rupanya sadar. Dia mendekati abang
becak.
” Tunggu, ya bang. Saya tanya orang itu dulu.” Asih
kemudian melangkah menuju warung kecil yang ada di depan toko konveksi
makmur. Jawaban penjual di warung itu membuat Asih lemah lunglai.
” Oh, koko lagi kedukaan mbak. Ibunya meninggal tadi pagi. Tokonya tutup sejak pagi.”
Asih melangkah lesu meninggalkan warung kecil itu.
Matanya sendu menatap abang becak yang juga menatapnya. Tentu saja
tatapan keduanya berbeda. Satu ke arah barat, yang satu kearah timur.
Asih makin bingung. Bagaimana dia harus memberitahu Elva tentang kabar
buruk ini?
Handphone Asih berbunyi. Asih terperanjat. Nama Elva
muncul dengan tulisan Calling. Asih menatap lama layar handphonenya.
Bibirnya tak kuasa untuk berbicara. Dia hanya terdiam. Sementara abang
becak sudah tak sabar menunggu. Dia berdiri dengan gelisah. Asih
perlahan mengangkat handphonenya yang kembali berbunyi nada panggil.
Dari Elva.
” Tenang, Va. Mbak sudah urus semuanya. Kamu jangan
khawatir semua beres.” ucap Asih. Suaranya sengaja di buat riang agar
Elva tak curiga. Setelah menerima telpon, Asih mendekati abang becak.
Dia duduk kembali di dalam becak.
” Kemana lagi,mbak?” tanya abang becak dengan peluh bercucuran.
” Bawa saya ke tempat penjual es kelapa muda, bang. Saya butuh penyegaran supaya bisa berpikir.” jawab Asih dengan lesu.***
< untuk adikku Elva..tetap semangat...>
0 komentar:
Posting Komentar