Malam pementasan drama dimulai. Aula kampus yang tidak terlalu luas sudah dipenuhi para tamu. Selain rektor dan dosen serta para mahasiswa nampak orang tua Handy serta mama Chika. Acara ini diselenggarakan untuk mengucapkan selamat jalan kepada Pak Sardono yang akan pindah ke Sumatera. Pak Sardono yang selama ini banyak berjasa membimbing mahasiswa di bidang drama. Dia yang telah memberikan semangat dan kepercayaan kepada Handy untuk membuat sanggar khusus di dalam kampus.
Andai bukan Pak Sardono, mungkin cita-cita Handy belum terwujud hingga kini. Maka tidak heran jika Handy berusaha keras melatih teman-temannya untuk mempersembahkan drama yang istimewa. Drama sebagai pertunjukkan terakhir yang dapat dilihat Pak Sardono dari anak-anak asuhnya.
Sementara itu di belakang panggung terlihat ramai. Ada yang sedang dirias, ada yang membaca naskah, ada pula yang sedang melatih aktingnya agar lebih baik.
“ Oke teman-teman! Malam ini penampilan kita yang terakhir kali yang dapat di lihat oleh Pak Sardono. Jadi aku minta kalian bermain sebagus mungkin agar dia bahagia telah membina kita.” Pesan Handy ketika Rina memberi tanda bahwa pertunjukkan akan segera di mulai. Teman-temannya serempak mengangguk.
Pertunjukkan drama berlangsung. Waktu demi waktu terus bergulir. Penonton seolah terbuai dalam jalinan cerita yang dikemas sangat menarik. Tata panggung dan permainan cahaya yang mempesona membuat mata penonton betah untuk melihat setiap adegan. Para pemain juga nampak alami dengan akting mereka. Handy tersenyum lega dibalik panggung. Sampai sejauh ini dia puas dengan penampilan teman-temannya.
“ Chika, semoga sukses.” Bisik Handy sebelum Chika ke panggung.
Chika menarik nafas beberapa kali untuk menenangkan hatinya. Akhirnya tiba juga adegan terberat yang harus dia lakoni. Berperan menjadi dirinya sendiri. Walau dia berusaha untuk melupakan namun apa yang dia perankan sama dengan kenyataan yang ada pada dirinya.
Penonton tak sabar menanti kelanjutan adegan. Apalagi di babak inilah terungkap alasan mengapa Saras, tokoh yang diperankan Chika, menolak Dewangga, tokoh yang diperankan Handy.
Saras menangis, sementara Dewangga berdiri disampingnya. Dia berusaha membujuk Saras.
“ Dewangga, maafkan aku. Janganlah mencintai aku. Aku ini anak haram.” Dewangga terkejut. Disentuhnya dagu Saras dengan tangannya.
“ Mengapa kau berpikir aku tidak mencintaimu. Walau kamu anak jin, aku akan tetap mencintaimu.”
“ Jangan Dewangga, jangan! Kau akan malu!”
“ Aku tidak peduli! Aku mencintai kamu. Bagiku hanya satu wanita yang aku cintai, yaitu kamu. Aku tidak peduli pendapat orang lain.”
“ Tidak!! Jangan Dewangga. Kamu akan malu. Orang tua mu akan menolak aku!!” teriak Saras. Dan tiba-tiba saja Saras terkulai lemah. Beruntung Dewangga dengan sigap menahannya hingga dia nyaris terjatuh dilantai. Terlihat seperti sebuah akting padahal dalam hati, Handy sangat terkejut. Dalam naskah itu tidak ada adegan jika Chika harus pingsan. Tapi sekarang…
“ Saras! Saras! Maafkan aku, Saras. Aku sebenarnya tidak boleh tahu hal itu, tapi aku memaksamu. Maafkan aku, Saras.”
“ Kamu tidak salah Dewangga. Tapi kumohon jangan cintai aku.” Ucap Saras dengan suara lemah.
“ Mengapa? Aku akan tetap mencintai kamu walau apapun yang terjadi. Masa lalu adalah masa lalu, itu bukan kita yang melakukannya. Kamu adalah korban Saras. Maukah kamu menerima cintaku yang tulus ini?” pinta Dewangga. Improvisasi yang Handy dan Chika lakukan mampu menghipnotis penonton. Apa yang mereka lakukan sekarang bukan lagi berdasarkan naskah tapi kreatifitas mereka sendiri.
“ Saras, mintalah apa saja. Tapi jangan minta aku untuk berhenti mencintaimu. Aku tidak sanggup, Saras.” Saras menangis. Chika tiba-tiba mnyesal. Dia ingat Danu. Wajah Danu yang sedih membayang dipelupuk matanya.
“ Maafkan aku Dewangga. Aku juga mencintai kamu.” Dewangga merangkul Saras dengan diiringi tepuk tangan penonton terutama mama Chika. Airmatanya berderai sejak tadi. Tidak berbeda dengan Chika, dia seolah melihat dirinya di dalam cerita itu.
Layar ditutup.
“ Chika, kamu sakit ya?” tanya Handy cemas. Dia tahu adegan pingsan Chika bukan disengaja. Chika benar-benar terlihat lemah.
“ Kepalaku sakit, Han. Aku merasa pusing.” Selesai berkata Chika menyandarkan tubuhnya ke Handy. Teman-teman yang datang menghampiri mereka terlihat kaget dan cemas. Namun Handy segera memapah Chika ke belakang panggung. Handy memeinta teman-temannya untuk segera berbaris di belakang layar sebelum layar terangkat kembali dan mereka memberikan penghormatan. Dia kemudian menyusul setelah mengantarkan Chika ke pembaringan.
Layar terbuka. Handy dan teman-temannya membungkuk di tengah tepuk tangan penonton. Mereka mengucapkan terima kasih. Sementara di antara penonton, sepasang mata nampak terpaku menatap panggung. Wirya tidak menyangka tabir itu akhirnya terungkap juga. Dia yakin ucapan Chika itulah yang sebenarnya. Cerita yang dia buat tidak sampai sejauh itu. Chika dan Handy yang telah melanjutkannya.
Ketika Wirya melihat Chika pingsan dia menjadi gelisah. Wirya cemas saat melihat Chika tidak ada dibarisan teman-temannya yang memberikan penghormatan terakhir. Dia bergerak ke belakang panggung. Mencari disetiap sudut ruang belakang. Saat dia melihat tubuh Chika terbaring, hatinya menjadi tenang.
Dia menghampiri Chika. Menyentuh lengannya dan mengusap kepalanya dengan lembut.
“ Chika….Chika.” Panggilnya. Chika membuka matanya dan mata itu langsung membulat pertanda bahwa Chika terkejut. Bibirnya bergerak pelan.
“ Da..nu..” Ucap Chika dengan terbata. Dan Wirya yang ternyata adalah Danu langsung memeluknya. Chika menangis. Danu juga. Mereka berdua larut dalam tangis.
“ Aku sudah tahu Chika, jangan kamu jelaskan lagi. “ Bisiknya. Saat itu teman-teman Chika datang. Mereka sangat terkejut terutama Handy.
“ Mas Wirya, kenapa ada disini?” tanya Handy tanpa bisa mengendalikan rasa cemas dan cemburu dihatinya. Melihat Wirya dan Chika berpelukan di depan matanya, membuat hatinya terluka. Dia mulai curiga jika diantara Wirya dan Chika, pasti ada sesuatu yang istimewa.
“ Nanti aku jelaskan. Sekarang aku akan mengantarkan Chika pulang. Dia tidak enak badan.” Handy hanya memandang Wirya yang memapah Chika keluar ruangan. Dia terdiam diantara omongan teman-temannya yang heran melihat sikap Wirya pada Chika. Akhirnya karena tidak tahan dengan rasa cemburu dan amarah yang hadir bersamaan, handy berjalan menuju mobilnya. Dia menjalankan kendaraannya tanpa tujuan. Mengitari kota tanpa tahu akan kemana.
“ Chika, aku mencintaimu.” Ucapnya pedih. Handy menghentikan kendaraannya ditepi jalan. Menyandarkan tubuhnya di kursi. Melihat Wirya dan Chika tadi, dia sudah menduga kalau Wirya adalah kekasih Chika. Hati Handy pedih sekali. Sejak awal kuliah dia sudah jatuh cinta pada Chika. Walau telah lama memendam perasaan namun Handy belum pernah mengungkapkan perasaannya. Dia menanti saat yang tepat. Seperti yang dia rencanakan, malam ini dia akan mengungkapkan perasaannya pada Chika.
Namun kehadiran Wirya membuyarkan semua impian indahnya. Melihat Wirya dan Chika berpelukan, itu adalah kenyataan kalau itu bukan pelukan biasa. Handy bingung mau bersikap bagaimana lagi. Seandainya saja lelaki itu bukan Wirya dia pasti bisa menerima. Tapi ini Wirya, sepupunya sendiri. Seseorang yang menjadi tempatnya curhat tentang Chika. Handy selalu menceritakan tentang Chika pada Wirya. Itu yang membuatnya marah. Mengapa Wirya tidak berterus terang jika dia mengenal Chika. Bukan malah menyalipnya dari belakang.
Sampai pagi Handy tidak pulang. Wirya alias Danu yang baru saja mandi berpapasan dengan tantenya di tangga.
“ Handy belum pulang, Wirya?” tanya tantenya. Wirya menggeleng.
“ Tidak tahu, tante. Sehabis pentas tadi malam, aku kira dia langsung pulang.”
“ Anak itu, selalu saja begitu. Namanya saja punya rumah tapi jarang dirumah.” Omel tantenya.
Handy terus melangkah masuk ke kamarnya. Dia tahu mengapa Handy tidak pulang. Dia mengerti perasaan Handy. Tentu saat ini handy sedang sakit hati. Tapi dia benar-benar tidak sengaja. Wirya tahu Handy mencintai Chika, tapi dia tidak menyangka Chika yang dia maksud adalah Chika yang dicintainya juga. Wirya baru tahu ketika melihat Chika latihan. Adapun ramalan-ramalan yang dia berikan hanyalah asal tebak saja, sesuai yang ada pada Chika. Tapi tidak pernah terlintas dalam pikirannya jika Chika yang dimaksud adalah Chika Nilya Anindya, gadis yang dia cintai juga.
Suara mobil Handy terdengar memasuki halaman. Beberapa menit kemudian terdengar pintu kamar dibanting dengan keras. Wirya tahu itu Handy. Dia segera berpakaian dan keluar menuju kamar Handy. Kamar Handy tidak terkunci. Saat melihat Wirya, Handy memalingkan wajahnya. Wirya jadi serba salah.
“ Handy aku minta maaf.” Handy terus membelakangi Wirya.
“ Aku benar-benar tidak tahu kalau Chika yang selalu kamu ceritakan, itu adalah Chika yang aku kenal. Aku kira Chika yang lain.”
“ Mengapa baru sekarang kamu minta maaf? Bukankah sejak awal aku sudah ceritakan semua ciri-ciri Chika. Seharusnya kamu bisa menebak kalau itu Chika temanmu. Kamu memang sengaja ingin menyakiti aku,kan? Iya, kan?” Handy terlihat emosi. Tubuhnya bergetar dengan hebat menahan perasaan amarah.
“ Handy dengar dulu.”
“ Kamu yang dengar aku! Entah sudah berapa kali aku cerita tentang Chika. Tentang perasaanku padanya. Apa kamu bisa merasakan sakit hatiku sekarang ini? Seharusnya kamu katakan sejak dulu kalau Chika itu pacarmu.”
“ Handy, aku benar-benar tidak tahu. Sumpah. Aku baru tahu ketika melihat gladi resik kemarin. Aku kaget karena itu Chika. Tapi aku tidak sempat lagi memberitahu kamu karena kamu terlalu sibuk.” Handy membelakangi Wirya menghadap ke jendela. Dia belum bisa meredam amarahnya.
Wirya terdiam. Dia tahu tak ada gunanya berbicara dengan Handy saat ini. Dia lalu melangkah keluar. Namun sebelum menutup pintu dia berbalik menatap Handy.
“ Handy, aku sudah mencintai Chika sebelum kamu mengenalnya dan dia juga mencintai aku. Terserah kamu mau mengerti atau tidak. Yang bisa aku lakukan hanya minta maaf. Itu saja. Tidak ada yang lain.” Selesai berkata Wirya keluar. Dia terus melangkah keruang bawah, terus ke halaman. Dia masuk ke mobilnya kemudian berlalu dari rumah Handy.
Hingga malam Wirya belum juga kembali. Handy tidak peduli. Dia ingin cepat tidur malam ini. Namun hingga jam sebelas malam, matanya tidak juga mau terpejam. Beberapa menit kemudian Handy keluar dari kamarnya. Dia turun ke garasi menuju mobilnya. Kendaraannya melaju kencang menuju rumah….. Chika!
Apa yang dilihatnya kemudian membuat hatinya semakin pedih. Handy melihat mobil Wirya terpakir di depan rumah Chika. Handy tidak jadi menghentikan kendaraannya. Dia malah memacu kendaraannya dengan kencang. Dia ingin secepatnya menghilang dari rumah Chika. Tapi itu justru semakin membuat hatinya tersayat sembilu.***
T a m a t
____________________________________________
DESA RANGKAT menawarkan kesederhanaan cinta untuk anda, datang, bergabung dan berinteraksilah bersama kami (Klik logo kami)


0 komentar:
Posting Komentar