Jumat, 13 April 2012

Cinta di Hati Chika ( 2 )

0

 

“ Chika, ada temanmu!” panggil mama Chika lembut sambil melangkah masuk ke dalam kamar. Chika baru saja selesai mandi dan sedang berdiri didepan jendela kamarnya. Dia sudah melihat mobil Handy memasuki halaman tapi malas untuk keluar dan membiarkan mamanya datang untuk memanggilnya.

“ Kamu seperti tidak bersemangat, sayang? Yang datang itu nak Handy, apa kamu tidak melihatnya? Kamu berdiri disitu sejak tadi kan?” Chika mengangguk. Mamanya membelai rambutnya dengan lembut.

“ Ayolah temui. Kalau sedang berantem jangan seperti ini. Ingat dia sudah capek-capek loh kemari. Apa kamu tega membiarkan dia menunggu?”

“ Iya, ma. Chika akan ke bawah.” Ucap Chika. Mamanya tersenyum lalu merangkul anaknya. Berdua mereka keluar dari kamar Chika.

Handy diam saja ketika melihat Chika turun dari tangga. Bahkan ketika Chika sudah duduk di depannya. Di rupanya tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya.


“ Sekarang aku ingin mendengar semua Chika. Terus terang aku tidak bisa menerima keputusanmu itu. Tidak bisa. Tinggal seminggu ka, waktu kita. Hari selasa kita sudah latihan. Kamu tahu itu kan?” Chika mengangguk pelan. Dia tidak berani memandang Handy.

“ Kenapa, ka? Kenapa mengundurkan diri?” Handy menatap lekat gadis yang ada dihadapannya.

“ Kamu tidak akan mengerti, Han?”

“ Aku tidak akan mengerti kalau kamu tidak menjelaskannya.”

“ Handy, jangan memaksa aku.” Chika menunduk. Dia berusaha menahan kesedihannya.

“ Cukup aku saja yang menanggungnya, jangan kamu tambah lagi, Han.” Handy terpaku menatap Chika. Perasaannya bercampur aduk. Rasa kasihan, penasaran dan kecemasan bercampur jadi satu. Dia menghampiri Chika dan duduk di sampingnya. Chika mulai menangis.

“ Chika, tolonglah. Aku ingin memberikan hadiah perpisahan untuk Pak Sardono. Dan hadiahnya ya…..pementasan drama kita. Makanya acara ini mendadak. Sekarang jika kamu mengundurkan diri, acara itu akan terasa lain tanpa kamu.”

“ Kenapa, Han?”

“ Karena hanya kamu yang aku anggap bisa memerankannya dan sudah disetujui teman-teman. Kalau diganti bisa kacau.”

Chika menghapus airmatanya. Dia berdiri dan melangkah ke depan jendela. Hatinya bimbang kini. Jauh dilubuk hatinya, dia ingin ikut pementasan itu sementara sudut hatinya yang lain masih belum mampu melupakan kenangan bersama Danu. Lama Chika mematung di depan jendela, Handy juga dengan sabar menunggu keputusannya.

“ Aku nggak bisa, Han.” Ucap Chika akhirnya tanpa berbalik.

“ Chika. Kamu kok tega amat, sih!” Handy berdiri mendekati Chika.

“ Itu sudah keputusanku.”

“ Chika…”

“ Hanya itu yang bisa aku katakan. Cobalah mengerti, Han.”

Handy menghela nafas.

“ Oke, aku mengerti.” Handy bergegas keluar tanpa pamit pada Chika. Chika juga tidak berusaha mencegahnya. Dia membiarkan suara mobil Handy menghilang. Tapi beberapa menit kemudian, Cika berlari ke kamarnya sambil menangis. Hatinya pedih sekali. Lama Chika berbaring hingga jemari halus mamanya menyadarkannya dari lamunan.

“ Sayang, keputusan yang kamu ambil itu jelas nggak betul.” Kata mamanya lembut. Chika terisak-isak dalam rengkuhan mamanya.

“ Kenapa, ma?”

“ Apa kamu lupa? Dulu kamu sudah berjanji akan melupakan semua masa lalu yang menyakitkan. Masa lalu yang suram. Tapi kok sekarang kamu kembali lagi.” Chika berbalik memandang mamanya.

“ Dari mana mama tahu?”

“ Naskah itu sudah mama lihat. Mama heran kenapa kamu menolak peran itu.”

“ Tapi ceritanya, ma..”

“ Mama ngerti. Tapi itu berarti kamu nggak bisa melupakan masa yang lalu. Ayolah, sayang. Sekarang adalah sekarang, bukan lagi kenangan yang menyakitkan. Dengan menerima peran itu kamu akan membahagiakan semua orang termasuk mama.”

Chika termenung mendengar kata-kata mamanya.

“ Ayo, semangat. Anak mama harus tegar menghadapi masalah.” Chika memeluk mamanya.

“ Terima kasih, ma. Mama orang yang paling baik. Sekarang Chika mau telpon Handy.”

Chika melepaskan pelukannya lalu berdiri mengambil handphone di atas meja. Dia tidak melihat mamanya yang keluar kamar sambil meneteskan air mata.

“ Ya, Allah ampunilah segala dosa-dosaku. Berilah kebahagiaan itu pada putriku. Dia tidak pantas mendapatkan hukumanmu. Jangan buat dia menderita ya, Allah.” Ucapnya sambil menyeka air mata.

****

Latihan di mulai. Nampak Chika ada diantara teman-temannya. Dia terlihat serius mendengarkan arahan dari Handy. Begitu juga ketika melakukan adegannya, dia terlihat sangat menghayati perannya itu. Teman-temannya memuji padahal tidak seorangpun tahu Chika sedang berusaha menenangkan dirinya. Dia berusaha kerasa meyakinkan dirinya kalau masa lalunya tidak sama dengan kisah yang sekarang dia perankan.

“ Kenapa, ka? Apa ada yang salah?” tanya Handy saat melihat Chika tengah memandangi naskah. Chika mengangguk.

“ Ini, Han. Kenapa dibagian akhir naskah ini, penyelesaiannya tidak tuntas.”

“ Coba aku lihat.” Chika menyerahkan naskah itu. Handy berpikir sebentar.

“ Tunggu ya, ka. Aku telpon sepupuku.” Handy merogoh handphone di saku celananya. Tidak lama dia terlibat dalam pembicaraan serius. Chika yang duduk disebelahnya hanya mendengarkan sambil sesekali melihat kegiatan teman-temannya diatas panggung.

“ Begini, Chika. Si Wirya, sepupuku itu memang sengaja mengosongkan bagian akhir. Dia berharap orang yang nanti memerankan tokoh itu yang mengisi kata-kata dibagian akhir.

“ Tapi itu bagian dialog ku, Han? Apa harus aku yang menulisnya?” Handy mengangguk.

“ Sepertinya begitu. Kenapa? Apa kamu tidak bisa?”

Wajah Chika muram. Sejak awal membaca naskah itu dia sudah khawatir dengan bagian terakhir dari naskah tersebut. Sekarang kecemasannya terbukti. Dia harus membuat sendiri dialog yang akan dia pentaskan. Haruskan dia mengucapkan kalimat itu diatas panggung. Kalimat yang dia sendiri takut untuk mendengarnya?

***

Dua hari lagi pementasan drama akan berlangsung. Siang itu Chika baru saja tiba dirumahnya dan melihat pintu kamarnya terbuka. Dia langsung masuk ke kamarnya.

“ Andre!” panggilnya saat melihat sepupunya tengah telengkup diatas pembaringan. Andre tidak berbalik. Chika lalu duduk di sebelahnya sambil mengelus-elus kepala Andre.

“ Andre kenapa? Ada masalah?” Andre masih terdiam.

“ Bertengkar dengan mama?” Andre berbalik.

“ Mbak Chika, apa mbak pernah menyakiti laki-laki yang menyukai mbak?” Chika tertegun mendapat pertanyaan dari sepupunya. Senyum tipis nampak diwajahnya.

“ Mbak,mbak pernah?” Senyum Chika melebar.

“ Kenapa menanyakan hal itu? apa sekarang kamu lagi patah hati?” Andre mengangguk.

“ Apa semua perempuan itu misterius mbak?” Chika menggeleng lalu pindah duduk didepan meja belajarnya.

“ Tidak semua. Tergantung keadaan. Ada juga yang terbuka. Seperti cowok, kan ada juga tuh yang kesannya misterius.”

“ Tapi kenapa dia melakukannya?”

“ Dia? Dia siapa?”

“ Gadis yang aku suka. Aku tahu sebenarnya dia juga cinta sama aku, tapi dia tidak mengakuinya dan selalu menghindar. Aku sedih dan sakit hati karena sikapnya itu.”

“ Dia tentu punya alasan yang mungkin tidak akan kamu mengerti.”

“ Maksud mbak Chika?”

“ Iya. Alasan yang tidak akan di terima oleh pikiran laki-laki.” Chika tersentak. Tanpa sadar dia telah mengatakan alasannnya sendiri kepada Andre. Alasan mengapa dia menolak Danu.

“ Alasan apa, mbak?” Chika tergagap. Dia bingung untuk melanjutkan kata-katanya. Mungkin gadis itu punya masalah yang sama denganku, batinnya melanjutkan ucapan yang seharusnya di dengar Andre.

“ Mbak. Mbak Chika. Alasan apa?” Andre mengulang pertanyaannya.

“ Mbak juga bingung, Ndre. Terlalu banyak alasan untuk menolak. Mbak tidak bisa menebaknya.”

Andre bangun lalu duduk disisi pembaringan.

“ Baiklah, mbak. Aku akan menunggunya hingga dia mau berterus terang. Sampai kapanpun.” Ucap Andre lalu keluar dari kamar Chika meninggalkan Chika yang termenung sendiri.

“ Apakah kamu juga seperti Andre, Danu?” tanya Chika dalam hati.

“ Dimana kamu sekarang? Apakah kamu masih di Makassar atau sudah pindah entah kemana. Maafkan aku.” Ucapnya lirih sambil menyeka embun di sudut matanya.

***

Sehari lagi pementasan di mulai. Chika dan teman-temannya sedang mengadakan gladi resik di aula kampus. Handy nampak sibuk sekali mengatur teman-temannya. Sejak tadi suaranya yang lantang terdengar memenuhi aula kampus

“ Ratih! suaramu bisa agak besar? Penonton nggak bakalan dengar dialog yang kamu ucapkan kalau suaramu seperti itu!” teriaknya ke Ratih yang sedang latihan. Ratih mengangguk tanda mengerti. Yudi teman Handy nampak menghampirinya.

“ Ada apa, Yud?”

“ Ada yang cari kamu. Katanya dia sepupumu. Namanya Wirya.” Yudi menunjuk ke pintu samping. Nampak seorang pemuda tampan sedang berdiri sambil tersenyum padanya. Bergegas Handy ke tempat Wirya setelah meminta Yudi menggantikan tugasnya sementara.

“Kenapa nggak bilang mas kalau mau kemari. Tadi kan bisa sama-sama dari rumah.” Wirya hanya tersenyum.

“ Kebetulan saja mampir, dari jalan-jalan.” Ucapnya.

“ Oh, ya mas. Kita kesana yuk melihat yang latihan.”

Handy melangkah disusul Wirya di belakangnya. Wirya terlihat tenang padahal dia sedang gelisah mencari seseorang. Sementara itu Chika yang mendapat peran utama masih ada dibelakang panggung. Dia sedang bersiap untuk memainkan perannya. Saat Handy memberikan aba-aba, Chika keluar. Dia langsung berakting. Dia tidak tahu seseorang sedang menatapnya tanpa berkedip. Dia adalah Wirya.

“ Chika.” Batinnya. Wirya bergegas meninggalkan aula. Handy yang kaget mengejar sepupunya itu.

“ Mas Wirya mau kemana?” tanya Handy heran.

“ Aku mau pulang. Capek.” Wirya terus melangkah meninggalkan aula. Hatinya lega kini. Apa yang dia cari selama ini telah dia temukan. Chika adalah gadis yang sedang dia cari. Dia sengaja pulang agar tidak mengganggu konsentrasi Chika. Sekarang dia tahu dimana bisa menemukan pujaan hatinya itu. ***

(Bersambung)

0 komentar:

Posting Komentar