Acara yang membosankan dan menyebalkan.
Seharusnya aku tidak berada di sini. Ikut bergabung dalam acara mama dan
teman-temannya. Sekeliling memandang tak ada gadis seumuranku. Semua
yang hadir adalah ibu-ibu. Wajar saja ini adalah acara reuni mantan
teman-teman sekolah mama.
Seandainya saja mama mengijinkan aku ke
pergi, tentu sangat menyenangkan berada di toko buku. Aku akan betah
meski seharian berada di dalamnya. Tapi mama bersikeras menahanku.
Kebiasaan yang aneh. Baru kali ini mama mengajak aku ikut kegiatannya.
” Wajahmu jangan manyun begitu sayang. Gak enak sama teman-teman mama.”
Mama merengkuh bahuku.
” Plisss, ma. Biarkan Rena ke toko buku. Di sini membosankan.” kataku kesal.
” Sabar dulu, sayang. Kita juga gak bakal nginap di sini. Sabar, ya.”
Mama mengelus rambutku lalu masuk ke
dalam ruangan. Aku menoleh kesal apalagi saat kulihat mama tertawa
bersama teman-temannya. Wajahku rasanya sulit untuk tersenyum.
Aku memandang hapeku. Sejak tadi aku
hanya sibuk mengutak-atik hape, sekarang aku bosan. Benar-benar bosan.
Aku tidak suka berada di tempat ini! aku mau pergi mama!!!!
” Kamu siapa?”
Aku berbalik. Kaget mendengar suara
asing menyapa. Makin kaget lagi saat aku melihat orangnya. Mataku tak
berkedip. Wajah cowok di depanku mirip aktor korea, Kim Hyun Joong. Aku
menelan ludah. Suaraku serasa tertahan di tenggorokan.
” Hei, kok malah bengong. Kamu siapa?
anak teman mami ya?” cowok itu bertanya lagi sambil memamerkan
senyumnya yang membuatku gugup. Aku mengangguk pelan.
” Aku tebak, kamu pasti bosan berada di
sini. Iya, kan?” kusambut dengan anggukan cepat ucapannya. Saat ini aku
ingin segera kabur dari tempat ini. Acara ini hampir saja menghabiskan
seluruh stok rasa sabar di hatiku.
” Ikut aku saja. Aku jamin kamu bakal betah.”
Cowok itu kemudian menarik tanganku.
Anehnya, aku juga pasrah mengikuti langkahnya. Aku bahkan tidak protes
padahal namanya saja aku belum tahu.
Aku mengikutinya masuk ke dalam ruangan
melewati garasi. Kami terus naik ke lantai dua. Ruangan yang luas serta
perabotan yang ekslusif membuatku makin terpesona dan kagum. Ternyata
ruangan di lantai bawah yang aku lihat, tidak terlalu mewah di
bandingkan dengan perabotan yang ada di ruangan ini.
” Kamu suka nonton? kita ke theater mini.”
Aku makin penasaran mendengar ucapannya.
Ternyata selain perabotan yang mahal, rumah ini juga di lengkapi dengan
fasilitas bioskop. Dalam hati aku menyesali kehadiran cowok ini yang
terlambat. Seandainya sejak 2 jam yang lalu dia hadir, aku tentu tidak
akan bosan menunggu mama.
” Namamu siapa?” tanyaku ketika dia membuka pintu.
” Andrew. Panggil saja Andi. Kalo kamu siapa?”
” Rena.”
Pintu terbuka dan aku makin takjub.
Ruangan bioskop yang tidak terlalu luas namun sangat menarik menurutku.
Kalau aku tinggal di rumah ini, pasti akan sangat betah, batinku.
” Kamu duduk di sini dulu, ya. Oh, ya mau nonton film apa?”
Aku berpikir dan berusaha mencari judul film yang aku suka.
” Terserah saja deh, aku ikut nonton
saja.” Jawabku setelah gagal mencari judul film. Suasana yang baru saja
aku temui membuat otakku susah untuk berpikir.
Andi lalu berjalan ke depan. Entah apa
yang akan dia lakukan. Aku hanya mengamatinya dan sesekali memandang
ruangan yang benar-benar ekslusiv menurutku.
Layar lebar di depanku mulai
memperlihatkan gambar di ikuti suara yang keras memenuhi ruangan.
Fantastis, serasa berada di gedung bioskop!
Aku terus saja terkagum-kagum sambil
melihat film yang sudah memunculkan adegan pembuka. Tidak lama kemudian
Andi datang lalu duduk di sampingku. Dia menyerahkan minuman dingin dan
cemilan ringan. Aku tersenyum senang.
” Makasih, ya. Rumah kamu bikin iri. Lengkap semuanya.” kataku dengan suara keras. Andi hanya tertawa.
Kami berdua lalu asyik menonton sambil
menikmati minuman dan cemilan. Sesekali aku menoleh melihat Andi yang
serius menyaksikan film perang. Aku suka dengan suasananya, dengan
ruangannya, dengan minuman dan cemilannya, terlebih karena ada Andi,
cowok ganteng yang menemaniku. Tapi jujur, aku tidak suka dengan
filmnya! Aku tidak suka film perang. Ah, Andi bisakah kamu mengganti
filmnya? batinku penuh harap.
Tapi aku hanya bisa diam. Tak enak hati
mengganggu Andi yang terlihat sangat menikmati film tersebut. Akhirnya
aku tertidur karena bosan. Aku terlupa berapa lama aku tertidur. Aku
baru bangun ketika sentuhan lembut menyentuh bahuku.
” Andi, maaf filmnya sudah selesai ya?
aku….” kalimatku terputus. Yang nampak di depanku bukan wajah Andi
melainkan wajah mama. Di belakangnya nampak mami Andi menatapku penuh
kecemasan.
” Mama? kenapa mama bisa ada di sini?” tanyaku kaget. Mama tak menjawab tapi merangkulku lalu membawaku keluar ruangan.
” Acara mama sudah selesai. Kita pulang sekarang, sayang.” suara mama sangat tenang dan pelan.
” Tapi, Rena belum pamit sama Andi, ma. Dia tadi yang mengajak Rena nonton.”
Mama menutup mulutku. Aku makin bingung
dan gelisah. Aku ingin bertemu lagi dengan Andi. Aku ingin mama tahu
kalau aku suka dengan cowok itu. Tapi gerakan menutup mulutku membuatku
kaget. Tanpa memperdulikan ucapanku, mama terus menarikku masuk ke dalam
mobil.
” Rena mau ketemu Andi dulu, ma. Rena suka sama dia. Rena bahkan belum minta nomor hapenya.”
Aku nyaris menangis ketika tiba-tiba mama menghentikan mobilnya.
” Mama tidak ingin kamu kecewa tapi kamu
harus tahu kalau Andi itu sudah meninggal setahun yang lalu. Mama tidak
ingin membuat teman mama sedih karena itu mama tidak ingin memberitahu
kamu di depannya.”
Aku tersentak kaget.
” Meninggal? bagaimana bisa, ma? tadi
dia sendiri yang mengajakku ke ruangan bioskop. Dia juga yang memutar
film, membawa minuman dan cemilan untukku. Mustahil jika dia sudah
mati.”
Aku protes meski setengah hati sudah meragukan pikiranku.
” Sayang, dia sudah meninggal. Kamu
harus percaya. Mama akan senang sekali menjodohkan kamu dengannya jika
dia masih hidup. Makanya mama ngotot mengajakmu, agar kamu bisa bertemu
dengan Andi. Tapi ternyata dia sudah meninggal. Mama juga baru
mendengar tadi. Kasihan maminya Andi.”
Aku tak mendengar lagi cerita mama selanjutnya. Pikiranku hanya di penuhi bayangan wajah Andi yang tersenyum.
Andi, kehadiranmu yang sesaat membuatku
bahagia. Tenanglah di alam sana. Jangan hadir dan membuat sedih mami
kamu. Kasihanilah dia, pintaku. Kupandangi mama yang menyetir mobil.
Dalam hati aku berjanji, tidak akan menolak jika suatu saat mama
mengajakku lagi. Meski nasibku tak mujur kali ini semoga lain hari akan
lebih baik. Akh, hampir saja aku punya kekasih yang tampan mirip Kim
Hyun Joong!
**********
0 komentar:
Posting Komentar