Jam menunjukkan pukul 10 malam. Suasana sekitar parkiran sangat
sunyi. Kebetulan kantorku berada di ruko paling belakang berhadapan
dengan sawah-sawah yang masih tersisa beberapa petak. Mungkin beberapa
bulan lagi sawah-sawah itu juga akan berubah menjadi ruko. Aku mendorong
motorku, duduk di atas motor lalu memasang helm.
“ Luri!” panggil seseorang yang membuatku berbalik. Nampak Yoga berlari menghampiriku. Mesin motor akhirnya batal aku nyalakan.
“ Ada apa?” tanyaku saat dia tiba.
“ Kita pulang bareng ya?”
“ Kamu nggak jadi nginap di kantor?” aku balik bertanya.
“ Nantilah aku cerita. Helm mu mana?” Yoga meraih helm yang tergantung di motor.
“ Aku yang boncengin kamu.” Katanya. Aku mundur ke
belakang. Dia lalu duduk dan menjalankan motor. Angin malam menerpaku.
Kurapatkan jaket karena dingin mulai menusuk-nusuk kulitku.
“ Kenapa kamu batal nginap? Bukankah di sana ada Heru, Bian dan Nana?” tanyaku. Yoga melambatkan motor.
“ Tadinya
aku mengira Nana bakal balik sama kamu. Ternyata dia juga memilih untuk
nginap bersama kami. Aku kabur saja. Alasanku, ada sodara yang mendadak
mau nginap dirumah.” Aku makin penasaran.
“ Apa hubungannya dengan Nana?”
“
Kamu yang lugu atau pura-pura tidak tahu sih? Dia itu naksir aku.
Ngejar-ngejar aku sejak masuk ke kantor ini. Kamu nggak lihat
perhatiannya yang luar biasa padaku?”
“ Aku nggak lihat.”
“
Makanya jadi orang, pandangan sekali-kali di arahkan ke sekeliling.
Jangan hanya layar komputer dan laptop yang kamu perhatikan.” Aku
tertawa.
“ Tapi kan asyik kalau yang naksir kamu si Nana. Anaknya baik, ramah, supel, pintar lagi.”
“
Aku nggak suka karena aku sudah naksir orang lain, Ri.” Ucapan Yoga
membuat jantungku berpacu cepat. Aku tidak sabar menunggu dia
melanjutkan kata-katanya.
“ Kamu naksir siapa?” tanyaku cemas.
“ Wulan.” Jawab Yoga tenang namun membuat jantungku serasa berhenti berdetak.
Untunglah dia membelakangiku hingga perubahan wajahku tidak terlihat olehnya. Wajahku yang sendu hanya
menjadi milik malam. Kesedihanku hanya milikku. Hari ini benar-benar
memberikan pelajaran berharga buatku. Aku terluka karena cinta yang tak
berbalas. Cinta yang terpendam sekian lama hanya untuk Yoga. Sayang
sekali dia ingin melabuhkan hatinya pada orang lain bukan diriku.
Setelah
Yoga turun di rumahnya, aku melanjutkan perjalanan ke tempat kostku.
Sepanjang jalan aku terus merenung. Kejadian tadi siang masih saja
membayang di pelupuk mataku, saat Rizky teman kantorku, menyatakan cinta
dan ingin jadi kekasihku. Dengan halus kutolak niat baiknya. Kukatakan
aku menyukai orang lain. Walau tersenyum, kulihat dari sinar matanya
nampak kekecewaan yang teramat sangat. Aku bahkan tak melihat dia saat
makan siang. Aku yakin dia terluka dan tak ada nafsu untuk makan.
Sekarang
kejadian sama terulang lagi. Hanya bedanya aku yang merasa sedih dan
kecewa karena Yoga, pria yang kutaksir sejak lama ternyata mempunyai
pujaan sendiri. Beginikah rasanya kecewa karena cinta tak bersambut?
Tiba-tiba saja aku ingin Rizky berada didekatku. Aku ingin minta maaf
karena telah melukai perasaannya. Tapi apakah itu bukan tindakan bodoh
dan memalukan? Aku tidak mungkin menjilat ludah yang sudah kubuang.
Malam
terasa sangat panjang karena aku tak bisa memejamkan mata. Pikiranku
hanya dipenuhi bayangan Rizky. Rasa penyesalan membuatku tak sabar
menunggu esok. Semoga ada keajaiban yang membuat kejadian kemarin seolah
tak pernah terjadi. Seandainya bisa, aku ingin mengulang lagi dengan
jawaban yang berbeda pada Rizky.
**
Keesokan
harinya saat aku menyeduh kopi susu di dapur kantor, tiba-tiba saja
Rizky sudah berada disampingku. Aku yang mulai menyadari kekeliruanku,
mendadak jadi kikuk. Rasanya segan untuk menegurnya. Aku berbalik dan
berniat untuk segera keluar dari dapur. Namun sentuhan tangan Rizky
menahan langkahku.
“
Ntar malam, malam minggu. Kamu ada acara nggak?” suaranya terdengar
santai. Seolah kemarin tak ada kejadian yang membuatnya terluka. Aku
berbalik menatapnya.
“ Tidak ada. Memang kenapa?” tanyaku dengan debar kencang di dada.
“ Temani aku ya? aku pengen nonton, tapi gak enak kalo sendirian. Mau, ya?”
Batinku
seolah di aliri air dingin. Terasa sangat nyaman dan menyejukkan.
Teringat kisahku semalam. Tanpa berpikir lagi aku segera mengangguk
sambil tersenyum. Rizky segera keluar dari dapur. Wajahnya begitu cerah dan gembira tak seperti kemarin siang, saat kutolak pernyataan cintanya. Aku tak ingin melukai hatinya. Cukup semalam aku mendapat pelajaran berharga. Aku tidak ingin mengalaminya lagi.***
0 komentar:
Posting Komentar