Tanggal sepuluh november kemarin saya dan adik saya pulang ke Makassar. Begitu tiba di bandara Juanda Surabaya dan mengurus segala keperluan, kami kemudian menuju ruang tunggu keberangkatan nomor tujuh. Setelah agak lama menunggu di luar, kami kemudian di perbolehkan masuk dan duduk di ruang tunggu. Suasana di dalam ruang tunggu sangat ramai. Saya dan adik saya kemudian memilih duduk di dekat tembok mengarah ke jendela.
Karena salah informasi, saya dan adik saya bergegas menuju pintu mengira itu adalah panggilan untuk kami.Ternyata salah. Itu panggilan untuk jurusan Surabaya Jakarta. Akhirnya saya dan adik saya kembali duduk, tapi kali ini kami duduk tidak jauh dari pintu. Setelah beberapa menit duduk, saya kemudian memandang sekeliling. Sepertinya wajah-wajah yang ada di dekat kami bukan wajah-wajah yang berasal dari pulau Jawa. Karakter wajah mereka seperti dari Makassar. Mereka kemudian berbicara. Saya jadi yakin mereka benar-benar dari Makassar setelah mereka berbahasa bugis.
Saya merasa heran dengan jumlah mereka yang sangat banyak dan rata-rata berusia lanjut. Saya kemudian bertanya ke salah seorang ibu yang kelihatannya lebih paham dengan situasi.
“ Ibu, dari Makassar ya?”
“ Iye,ndi..”
“ Saya orang makassar juga, kita dari kabupaten mana?”
“ Sidrap, tidak jadiki berangkat, anu..jemaah haji yang gagal berangkat…ada banyakki pulang..”
Ibu itu berbicara tanpa saya tanyakan. Mereka adalah penumpang yang transit dari Jakarta. Saya jadi penasaran apa maksudnya dengan gagal berangkat.
“ Kenapaki tidak jadi berangkat? Batal? Atau tertunda nanti tahun depan baru berangkat?”
“ Tidak dapat visa ki ndi, jadi tidak jadiki berangkat. Dua minggu ka di Jakarta, sekarang pulang me ki, ka tidak ada visa di dapat..”
“ Kenapaki bisa tidak dapat visa? padahal kita sudah berangkat dari makassar to?” ibu itu hanya tersenyum getir. Kelihatan dia juga bingung dengan masalahnya.
“ Jadi ongkos pulang ta, siapami yang tanggung?”
“ Kita sendiri..”
Obrolan kami terhenti karena terdengar suara memanggil nama mereka satu persatu. Kemudian datang seseorang menyerahkan kartu berdasarkan nama mereka. Rasanya saat itu saya tidak berada di Surabaya, tapi berada di tengah pasar di salah satu kabupaten di Sulawesi selatan. Jumlah mereka yang banyak dengan logat daerah yang kental lengkap dengan bahasa daerah bugis Sidrap makin meramaikan suasana ruang tunggu.
Begitu juga ketika kami sudah dalam pesawat. Pramugari terlihat kewalahan mengatur rombongan yang gagal berangkat haji tersebut. Minimnya pengetahuan serta mereka yang sebagian besar sudah lanjut usia makin membutuhkan perhatian ekstra. Seorang bapak tua duduk di sampingku. Terbatuk-batuk dia memperbaiki posisi duduknya. Saya jadi termenung disampingnya. Terlintas pertanyaan kenapa mereka tidak jadi berangkat?. Kalau karena visa, apa memang prosedurnya seperti itu? harus ke Jakarta dulu baru dapat visa?
Saya tidak paham dengan urusan yang berhubungan dengan sistem pemberangkatan jemaah haji. Saya cuma membayangkan bagaimana keluarga mereka yang telah mengantar mereka dengan sukacita karena mengira mereka telah pasti untuk menunaikan ibadah haji, tiba-tiba harus melihat mereka kembali?. Saya perhatikan lagi wajah-wajah mereka sama sekali tidak ada keceriaan, semua terlihat berduka….
0 komentar:
Posting Komentar