Senin, 27 Februari 2012

Mencari Akhir Penantian

0

12900930711425410387

Badan rasanya masih pegal-pegal begitu aku turun dari angkot. Setelah setengah hari menempuh perjalanan dari kampung dengan menumpang bus menuju kota. Selanjutnya dengan angkot aku menyusuri kompleks pemukiman yang terletak di pinggiran kota. Perjalanan ini membuat badanku terasa sangat lelah. Aku terpaksa melakukan perjalanan ini karena ada tugas penting yang harus di kerjakan. Sambil menaruh tas di tanah aku merenggangkan badan biar pegal-pegal hilang. Aku kemudian mencari pohon untuk berteduh. Alam sedang dalam suhu terpanas hari ini. Matahari begitu berkuasa dengan sinarnya. Membayangkan ada penjual es teler atau es cendol yang lewat mungkin paling pas sekarang ini. Apalagi kalau ada penjual es kelapa dan teman-temannya.

” Ojek neng ?” tegur tukang ojek. Rasanya aku tadi tidak membayangkan tukang ojek? Kenapa dia yang muncul?. Aku menggeleng dengan lesu. Tukang ojeknya tidak menyerah. Dia malah tersenyum dengan manisnya.

” Sendirian, ya?”aku tersenyum kemudian melihat ke arah lain. Mataku mencari sosok yang sejak tadi belum muncul juga.

” Lagi nunggu jemputan ya…?” tanyanya kali ini tukang ojek itu turun dari motornya dan berdiri di dekatku.

” Abang tinggal dekat sini, ya?” tanyaku kemudian. Entah ide itu muncul tiba-tiba. Aku merasa jengah dengan kedekatan yang diciptakan tukang ojek itu. Dia mengangguk sambil memamerkan senyumnya yang pas untuk iklan produk.

” Abang pasti kenal dengan Bang Dirman..” tukang ojek itu menatapku dengan heran.

” Neng ada hubungan apa dengan bang Dirman?”

” Dia abangku. Saudaraku…” kataku. Tukang ojek itu mengambil tas yang aku letakkan di tanah.

” Ikut saya neng, saya antar ke tempat bang Dirman mangkal..” katanya sambil duduk di motornya lalu menaruh tasku didepannya. Tukang ojek itu masih memandangku.

” Ayo. Kalau neng tunggu disini, sampai hujan turun dan banjir, bang Dirman nggak bakalan muncul..”

” Apa hubungannya dengan hujan dan banjir..?”

” Jelas ada hubungannya. Kalau hujan trus banjir, jelas bang Dirman nggak bisa kesini, pasti dia ngojek di tempat lain..” Aku terdiam. Aku yakin telingaku masih normal. Tapi kalimat yang diucapkan tukang ojek itu, kalau bang Dirman ngojek di tempat lain membuat perasaanku tidak tenang. Apa maksudnya dengan ngojek di tempat lain? Apa bang Dirman tukang ojek?

” Ayo cepat, neng! Lagi panas nih..” Aku bergegas duduk di belakang tukang ojek yang belum mengenalkan namanya. Biarlah aku ikut saja daripada menghabiskan waktu berdebat dengannya lebih baik segera berlalu dari tempat itu.

Lima belas menit kemudian kami sampai di sebuah pangkalan ojek. Hanya beberapa motor yang parkir di tempat itu. Salah seorang bahkan mengeluarkan suara suitan begitu aku turun dari motor.

” Panas panas begini terasa sejuk ya, kalau ada yang manis-manis..” kata salah seorang diantara mereka. Aku mengambil tasku yang diturunkan tukang ojek itu.

” Wis, lo liat bang Dirman..?” tanya tukang ojek yang bersamaku sejak tadi. Salah seorang temannya berdiri menghampiri.

” Kalo jam segini, biasanya bang Dirman pulang ke tempat kost. Biasa tidur…”

” Lo ada urusan apa sih, Mat? Tumben kamu nyari-nyari bang Dirman….” tanya temannya yang lagi duduk.

Tukang ojek yang di panggil Mat itu memandangku.

” Ayo, neng. Kita kerumah bang Dirman..” ajaknya. Teman-temannya memandangku dengan heran.

Temannya yang tadi malah berdiri sambil memegang stang motor.

” Dia siapa? Kenapa lo cari bang Dirman?”

” Neng ini sodaranya bang Dirman, aku mau nganterin dia..”

Aku menaruh tasku di depan tukang ojek yang bernama Mat ini. Kemudian aku duduk di belakangnya. Setelah pamitan Mat menjalankan motornya.

” Nama abang siapa, sih?” tanyaku ketika kami sudah lumayan jauh dari pangkalan ojek.

” Rahmat, Neng. Tapi teman-teman biasa memanggil Mat ojek..he..he..”

Aku sebenarnya ingin bertanya banyak hal tentang bang Dirman. Tapi urung aku lakukan. Lebih baik aku tanyakan langsung kalau sudah bertemu dengan bang Dirman.

Kami tiba di sebuah rumah yang berpetak-petak. Rahmat menghentikan motornya tepat di depan pintu sebuah kamar kost. Aku kemudian turun dari motor. Rahmat lalu menurunkan tasku.

” Ini kamar kostnya bang Dirman, neng..” katanya lalu melangkah masuk sambil membawa tasku. Aku memilih duduk di tembok yang ada di teras. Rasanya kaki terasa sejuk setelah menginjak lantai rumah yang terbuat dari tegel.

Rahmat mengetuk pintu kamar. Beberapa saat kemudian pintu terbuka. Nampak seorang pemuda berambut cepak. Dia terlihat sangat mengantuk.

” Eh, kamu Mat. Ada apa lo kemari siang-siang gini?”

Aku hanya terdiam memandang bang Dirman. Terlalu lelah dari perjalanan jauh dan harus melihat kenyataan yang berbeda dengan yang dibayangkan membuat semangatku hilang. Rahmat belum menjawab pertanyaan dari bang Dirman ketika mataku dan mata bang Dirman bertemu. Bang Dirman langsung menghampiriku. Terlihat jelas di wajahnya kalau kedatanganku membuatnya sangat terkejut.

” Lina? Kenapa nggak ngomong kalo kamu mau datang?” bang Dirman memegang tanganku dengan wajah yang nyaris pucat. Kulepaskan tanganku dengan pelan.

” Kenapa abang terkejut? Abang seharusnya senang aku datang..” bang Dirman terlihat kikuk. Dia lalu duduk di sampingku. Rahmat yang melihat kami buru-buru pamit. Mungkin dia menyadari kalau sebentar lagi akan terjadi perang.

” Kenapa harus berbohong, bang? Abang bilang, abang kerja kantoran. Abang bilang, abang tinggal di perumahan. Abang bahkan mengirim gambar rumah yang sudah abang cicil. Tapi buktinya? Abang malah tinggal di sini, di kamar kost yang petak-petak begini?”

” Lina..biar abang jelaskan..”

” Abang nggak perlu bohong sama aku, biar abang jadi tukang ojek itu tidak apa-apa, asalkan halal pekerjaan apa saja tidak masalah. Tapi kenapa abang harus membohongi aku dan bapak, bahkan emak sudah sangat bangga dengan abang. Satu kampung sudah tahu kalau abang berhasil jadi pegawai kantoran..” bang Dirman tertunduk. Aku terdiam. Kalau tadi langit sangat terang dengan sinar matahari yang menyengat, sekarang malah terlihat separuh langit sudah di selimuti warna hitam. Aku terus memandangi langit. Rasanya beban yang ada dihatiku sekarang tidak akan hilang hanya dengan memandangi langit yang hitamnya mulai menyeluruh. Sebentar lagi hujan pasti akan berjatuhan dari langit dan mengganti hawa panas menjadi dingin. Namun hawa dingin itu tidak akan bisa menyejukkan hatiku yang di penuhi beban yang kubawa sejak dari kampung.Masih teringat kata-kata bapak, waktu aku mohon pamit menyusul bang Dirman ke kota.

” Ingat ya, Lina. Bilang sama si Dirman, lebih baik dia cepat pulang untuk melamar kamu. Sudah dua tahun bekerja, uang tidak akan pernah cukup kalau mau ditumpuk-tumpuk. Lebih baik kalian segera menikah, trus kamu ikut Dirman ke kota.Itu jauh lebih baik daripada dia sendirian di kota. Tidak ada yang mengurusnya. Kamu juga di sini, terkesan seperti gadis yang tidak laku. Umurmu sudah dua puluh lima tahun. Yang seumuran kamu, ada yang anaknya sudah masuk smp..”

Aku terdiam waktu bapak mengucapkan kata-kata itu. Benar yang dikatakan bapak umurku kian hari kian bertambah.Menunggu bang Dirman kembali dari kota mungkin tidak akan pernah jadi kenyataan. Surat-suratku tidak pernah di balas. Aku bahkan curiga kalau bang Dirman sudah menduakan aku. Makanya dengan tekad bulat, aku menyusul bang Dirman. Aku tidak sanggup menanti dalam ketidak pastian. Aku mungkin bisa bertahan, tapi bapak? Setiap saat ada yang datang menanyakan aku, meminta kesediaan bapak untuk bisa meminang aku. Tapi semuanya bapak tolak karena tidak ingin memaksaku menjalani pernikahan yang tidak aku inginkan. Tapi sampai kapan? Sampai tidak ada lagi yang berminat padaku? Sampai penyesalan menjadi satu-satunya teman menjalani hidup?

” Lina..” aku tersadar dari lamunan. Bang Dirman memegang tanganku.

” Besok kita pulang. Abang akan melamar kamu. Kita menikah kemudian tinggal di kampung. Abang akan membantu emak mengurus sawah dan ternak. Lebih baik abang membantu emak. Apalagi emak sudah tua. Maafkan kalau abang sudah membuatmu terlalu lama menunggu..”

Aku tertegun mendengar kata-kata bang Dirman. Aku tidak perlu membicarakan semuanya, bang Dirman sudah menjawab semua kegundahan hatiku.Kegundahan menantikan kepastian dari hubungan kami. Perlahan kupandangi bang Dirman. Mencoba mencari kesungguhan dari kata-katanya. Aku merasa yakin dengan kata hatiku. Saat ini aku benar-benar sangat percaya dengan apa yang diucapkannya. Aku harus percaya seperti mempercayai hujan yang mulai turun menemani kami, yang sedang duduk berdua membicarakan masa depan kami. Biarlah hujan turun. Aku yakin hawa dinginnya akan terasa sampai ke dalam relung hatiku.*****

0 komentar:

Posting Komentar