Wajahnya mudah diingat diantara pelanggan yang setiap hari datang. Wajar saja semua mengingatnya karena dia satu-satunya pelanggan di warnet ini yang wajahnya sangat tampan. Dengan postur tubuh tinggi dan tegap, sekali lihat orang akan susah untuk melupakan pesonanya. Sejak lima bulan yang lalu dia menjadi pelanggan di warnet ini. Hampir setiap hari dia muncul dengan sikap coolnya yang luar biasa. Walau sikapnya dingin namun dia telah menjadi idola diantara Nena dan Sari.
Terkadang sikap mereka malu-maluin tapi menurut mereka itu masih kategori normal. Daripada Billy yang mati-matian mencari perhatian dari cowok yang bernisial diam tersebut padahal dia adalah seorang laki-laki. Billy jatuh bangun karena terpesona dengan sosok cool tersebut. Lain dengan Edo. Dia sama sekali tidak tertarik untuk ikut bersaing dengan Nena dan Sari, apalagi dengan Billy. Edo merasa dia masih lelaki normal. Tidak mungkin mengejar si diam yang jelas-jelas seorang cowok.
Edo lebih tertarik untuk menanti Wulan yang berkulit putih dan beralis tebal. Wulan selalu datang dengan langkah gemulai. Bertanya dengan suara yang hanya bisa didengarkan orang yang lagi jatuh cinta karena begitu pelan dan kecilnya volume suara yang dia punya. Tapi semua itu bukan masalah bagi Edo. Cinta telah melebarkan mata dan memperbesar telinganya sehingga sekecil apapun suara Wulan tetap terdengar besar di telinga Edo.
Walau berbeda idola tapi ada satu yang menjadi kesamaan mereka berempat. Cowok yang berinisial diam dan Wulan, sama-sama suka memakai komputer nomor sepuluh. Sejak pertama kali menginjakkan kaki di warnet ini baru dua kali si diam memilih komputer nomor lain, karena komputer nomor sepuluh sedang terpakai. Itu juga tidak lama. Kalau komputer sepuluh sudah kosong dia langsung berpindah tempat menempati komputer sepuluh tersebut. Begitu juga dengan Wulan.
Walau sama-sama menyukai komputer nomor sepuluh, anehnya mereka belum pernah bersamaan datang. Sehingga tabrakan antara fans komputer sepuluh tidak pernah terjadi. Karena komputer sepuluh merupakan komputer favorit idola mereka, maka mereka berempat sangat memperhatikan komputer tersebut.
Setiap saat diantara mereka kalau lagi bertugas memperhatikan kondisi komputer sepuluh baik dari segi kebersihan atau kondisi komputer apakah masih layak pakai atau tidak. Terkadang mereka berempat juga bingung. Bahkan sering jadi obrolan diantara mereka. Apa kelebihan komputer nomor sepuluh? Kenapa mereka berdua begitu senang untuk internetan di komputer tersebut? Padahal semua komputer yang ada di warnet ini sama saja.
*
Malam minggu. Jam menunjukkan pukul tujuh. Warnet sejak pagi tadi ramai. Silih berganti orang yang datang. Edo dan Billy tengah asyik dalam obrolan ketika si diam muncul. Billy sudah merinding. Badannya terasa dingin. Jantungnya berpacu dengan hatinya yang berebut untuk menempati rasa dalam diri Billy. Penampilan si diam sangat tampan. Apalagi ketika dia mendekat, aroma dari parfum yang dipakainya membuat Billy serasa terbang ke langit ke tujuh. Billy sudah hancur lebur dengan rasa cintanya.
Lain dengan Edo dia tenang-tenang saja. Billy baru mau menunjukkan komputer yang kosong, ketika sosok lain hadir. Kali ini mata Edo yang nyaris melompat. Bidadari kesayangannya muncul dengan kaos warna pink. Rambutnya yang biasa terikat dibiarkan tergerai. Saat dia berjalan, rambutnya melambai satu persatu di terpa angin lembut.
Edo dan Billy sama-sama terpana. Mereka saling memandang. Kejadian luar biasa terjadi hari ini. Dua orang fans komputer sepuluh tiba di jam yang sama! Siapa yang akan mengalah? Billy dan Edo berbicara dengan berbisik. Edo meminta Billy untuk mengalah, dan memberikan komputer sepuluh ke Wulan. Tapi Billy tidak mau. Dia bertahan dengan alasan si diam lebih dulu datang. Siapa yang duluan dia yang dapat. Begitu katanya. Mereka sampai harus jongkok di depan meja supaya suara mereka tidak terdengar.
Mereka sibuk berdebat dan lupa kalau dua orang pelanggan mereka tengah menantikan mereka untuk menunjukkan komputer yang kosong. Soalnya ruang warnet ada di lantai dua. Tapi ketika mereka berdua berdiri karena telah mencapai kata sepakat, dua orang pelanggan setia mereka sudah tidak ada. Billy dan Edo panik. Mereka tidak mau kalau dua orang itu pergi dan tidak lagi menjadi langganan di warnet mereka.
Edo dan Billy saling menyalahkan. Mereka baru berhenti setelah melihat di billing komputer nama si diam sudah tercantum. Billy bernafas lega tapi tidak dengan Edo. Matanya terus mempelototi billing komputer mencari nama si Wulan. Tapi sudah sepuluh menit berlalu nama Wulan tidak muncul-muncul juga.
Edo panik. Dia meminta Billy untuk mengecek di lantai dua. Mungkin saja Wulan sedang menunggu dan memilih untuk tidak memakai komputer daripada harus menggunakan komputer lain. Billy bergegas naik. Dia senang luar biasa. Dia jadi punya alasan untuk bisa melihat si diam yang membuatnya gelisah siang dan malam. Edo menunggu di bawah dengan harap-harap cemas.
Lima menit. Tujuh menit. Billy muncul. Ekspresi wajahnya sulit untuk dilukiskan. Edo yang melihatnya jadi heran. Billy langsung terduduk di kursi. Badannya kaku, pandangan matanya kosong. Edo menepuk bahunya. Perlahan Billy menoleh. Dia memandang Edo dengan tatapan sedih. Waktu dia naik ke lantai dua, dia mendapati si diam dan si Wulan duduk berdampingan. Sangat dekat bahkan dengan rasa cemburu Billy mengakui kalau mereka duduk berdempetan. Ternyata si diam dan si Wulan adalah sepasang kekasih!. Malam itu Edo dan Billy sama-sama patah hati, bunga layu sebelum berkembang..****
0 komentar:
Posting Komentar