“ Gimana mangganya mak, sudah ada yang masak?” tanya adikku via telpon dengan mama dua minggu sebelum kepulangan kami ke Makassar. Kami memang merahasiakan rencana untuk pulang. Diantara kami dan mama sebenarnya ada rahasia yang bukan rahasia…he..he…
Awal mula adanya rahasia itu ketika bulan tujuh yang lalu mama mengoperasi matanya. Walau banyak pertimbangan yang memberatkan karena kondisi kesehatan mama yang tidak mendukung untuk menjalani operasi, mama nekad untuk mengoperasi matanya. Selain karena sudah tidak tahan sekian lama dalam kondisi penglihatan yang buram cenderung buta, mama juga tidak betah berdiam diri di rumah. Mama mau berkunjung ke sanak saudara di kampung. Kalau kondisi matanya buta, itu adalah perjalanan yang menyiksa.
Akhirnya tanpa sepengetahuan kami, mama diantar kakak ipar yang kebetulan datang dari Papua, pergi mengoperasi matanya di salah satu klinik yang ada di makassar. Syukur alhamdulillah mama bisa melihat lagi. Tapi syarat yang mama berikan ke kakak ipar dan kakakku yang ada di rumah adalah jangan memberitahu kami. Mama ingin memberikan kejutan kalau kami pulang ke makassar. Padahal mama tidak tahu kami juga sedang merencanakan untuk pulang ke Makassar tanpa memberitahu karena ingin memberikan kejutan…
Walau sudah di wanti-wanti untuk tidak menyampaikan ke kami, kakakku tidak tahan juga. Dia memberitahu kami tentang mama yang sudah bisa melihat. Tentu saja dengan pesan di akhir kalimat kalau kami harus pura-pura tidak tahu…he…he..
Kakak ipar yang ada di Papua juga lama-lama tidak tahan. Informasi mengalir ke kami. Akhirnya rahasia itu hanya antara kami dan mama..he..he..
Apa hubungannya dengan mangga? Kunci jawabannya ada pada mangga. Di depan rumahku ada pohon mangga manalagi. Adikku suka sekali makan mangga. Sejak sebulan sebelum kami ke Makassar, adikku selalu menelpon menanyakan mangga yang ada di depan rumah. Mama tidak tahu kalau itu adalah pertanyaan basa-basi. Dibalik pertanyaan itu ada isyarat kalau kami akan pulang, tapi mama sama sekali tidak mengerti.
“ Tidak adaka mangga di Malang? Kenapa harus mangga disini di kirim kesana? Ka habis ongkos itu..” protes mama waktu adikku meminta dikirimkan.
“ Banyak mangga, tapi rasanya tidak sama..namanya juga lagi ngidam..” adikku berusaha menahan tawa..ah mama masih juga tidak mengerti.
“ Jadi kapan kamu mau dikirimkan?” tanya mama mulai merasa kalau alasan adikku masuk akal.
“ Nanti mak, tanggal sepuluh baru turunkan dari pohonnya. Saya kirimkan mama apel Malang juga…”
“ Oh, begitu. Nanti mama minta tolong anak kost untuk kasi turun itu mangga..”
Hari demi hari berlalu. Info dari kakak di Makassar kalau mama sudah menanyakan biaya pengiriman mangga. Mama ingin tahu berapa ongkosnya perkilo. Mama juga mulai merasa aneh. Kenapa harus tanggal sepuluh mangga di kirim? Kakakku berusaha mencari alasan yang masuk akal, apalagi kakak yang di Papua juga mulai menebar rasa curiga ke mama. Kakak di Papua juga tidak tahu kalau kami mau pulang. Pertanyaan dari kakak tentang mengapa harus tanggal sepuluh membuat mama makin merasa aneh. Apalagi tanggal sepuluh itu di ucapkan berulang-ulang oleh adikku.
Dua hari sebelum kepulangan kami, adikku membocorkan rahasia kepulangan kami ke mama. Kakakku yang di Makassar takut, kalau mama nanti kaget melihat kedatangan kami yang tiba-tiba. Adikku ikut-ikutan takut juga.
“ Kalo mama kena serangan jantung? Atau stroke? Bagaimana? Kadang terlalu gembira juga bisa membuat orang jadi jantungan karena kaget..” adikku memaparkan alasannya. Alasan yang masuk akal. Akhirnya kami pulang ke Makassar dengan aman tanpa ada kejutan atau suprise. Walau mama memberikan kejutan dengan matanya tapi kami pura-pura baru tahu saja..he..he..
Tiba di rumah mama menyambut kami dengan memperlihatkan mangga yang khusus di ambil untuk kami. Mangga manalagi yang rasanya sangat manis.*******
0 komentar:
Posting Komentar