Menik duduk di tempat tidur. Hatinya gundah. Dia menangis sejak tadi. Polesan bedak di wajahnya jadi luntur karena tetesan air mata yang mengalir. Masih terisak-isak dia membayangkan nasibnya yang malang. Kenapa nasib buruk ini menimpanya…
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Nampak ibunya memandangnya dengan tatapan cemas. Ibunya langsung menghampirinya. Dari desah nafas ibunya, menik tahu kalau ibunya seperti menahan beban batin yang mungkin sama dengannya.
“ Ibu, bagaimana ini? Menik belum mau nikah sekarang, Menik masih enam belas tahun. Kenapa bapak tega sama Menik..” ucap menik sambil menatap ibunya yang langsung menghapus air mata di pipi Menik.
“ Kita ikuti saja kemauan bapakmu. Ibu juga tidak bisa menahan keinginan bapakmu. Lagipula kamu belum nikah sekarang. Haji Masrif hanya mau melihatmu. Itu saja.”
“ Tapi nanti menikah juga,kan? Apa tidak ada lelaki lain yang lebih muda yang bisa bapak terima? Kenapa harus Haji Masrif yang umurnya lima puluh tahun….” ibu Menik langsung menutup mulut anaknya dengan tangannya. Dia takut kalau kata-kata Menik terdengar sampai ke ruang tamu. Hatinya juga pedih membayangkan suaminya tega menyerahkan anak gadisnya yang masih belia ke lelaki yang sebenarnya pantas jadi bapak anaknya. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa diam begitu melihat kedatangan haji Masrif hari ini. Kedatangan Haji Masrif yang enam bulan lalu kehilangan istrinya yang meninggal karena sakit, membuatnya resah. Apalagi saat Haji Masrif menanyakan Menik. Batinnya langsung bergejolak. Dalam keraguan dia mengikuti perintah suaminya untuk mendandani Menik secantik mungkin. Sekarang melihat anaknya yang berlinang airmata makin membuat hatinya sakit. Apalagi kalau mengingat dirinya yang sama sekali tidak berdaya menolak keinginan suaminya.
“ Ayo, bangunlah. Nanti bapakmu marah. Kita sudah sejak tadi di sini. Jangan biarkan Haji Masrif menunggu lama..” ibunya menarik tangan Menik yang kelihatan enggan untuk keluar dari kamarnya. Menik kemudian berdiri. Dia menatap cermin di depannya. Hatinya makin pedih melihat sosok di depannya. Seorang gadis belia bersanding dengan seorang duda yang sudah umuran. Inikah nasib buruk yang harus dijalaninya?
*
Menik telengkup di pembaringan. Tangannya beberapa kali memukul bantal yang ada didepannya seolah kesal dengan apa yang terjadi. Dia masih mengingat kejadian tadi pagi. Saat keluar dari kamarnya dan matanya melihat Haji Masrif, rasanya dia ingin menjerit. Kenapa dia harus menikah dengan lelaki yang sudah pantas di sebut kakek karena sudah punya cucu itu?. Menik memang sudah lama tidak bertemu dengan Haji Masrif. Terakhir Menik melihat Haji Masrif sewaktu pernikahan anak ketiganya, empat tahun yang lalu. Tapi saat itu tidak pernah terbayangkan dalam benak Menik kalau hari ini lelaki itu akan datang untuk melihatnya. “ Melihat” dalam pengertian warga di desa ini adalah bahasa halus dari keinginan melamar. Pasti setelah hari ini akan di lanjutkan dengan proses lamaran.
Padahal beberapa hari yang lalu Menik baru saja merasakan debar-debar yang aneh di hatinya. Dia bertemu dengan seseorang di pintu gerbang masuk ke desa. Seorang pemuda yang menyapanya dengan senyuman manis. Pemuda itu terlihat seperti baru berkunjung ke desa ini. Sewaktu pemuda itu menghampirinya, Menik hanya bisa terpana memandangnya. Sepeda yang ada dalam pegangan Menik untung saja tidak terlepas. Pemuda itu menanyakan apa Menik bersedia mengantarkan dia ke kantor desa karena dia tidak tahu dimana letaknya . Menik kemudian mengantarkan pemuda itu. Sepanjang perjalanan yang mereka tempuh dengan jalan kaki itu, mereka terlibat dalam obrolan. Menik kemudian tahu nama pemuda itu Ilham. Ilham menanyakan banyak hal ke Menik Termasuk nama, keluarga, sekolah, bahkan alamat rumah Menik. Walau pertama kali berjumpa, hati Menik berbunga-bunga. Mungkin ini pesona pada pandangan pertama. Jarak yang mereka tempuh lumayan jauh tapi itu bukan masalah. Hamparan sawah yang menghijau serta hembusan angin membuat Menik serasa berjalan di taman yang sangat indah. Apalagi tiap kali mata mereka bertatapan makin membuat hayalan Menik terbang mengitari sawah, gunung-gunung, desanya dan selanjutnya naik ke awan-awan putih yang hari ini tidak mendung. Mereka terus berjalan sampai ke kantor desa. Sebelum berpisah Ilham mengucapkan terima kasih dan rasa senangnya karena sudah di temani Menik. Dia berharap bisa bertemu lagi dengan Menik. Menik tersenyum mendengar kata-kata Ilham. Sepulang dari kantor desa Menik mengayuh sepedanya dengan perasaan riang yang tak terkira. Menik sedang bermimpi. Mimpi akan rasa yang ada di hatinya. Mimpi tentang cinta dan masa depannya.
Tapi hari ini Menik harus menghentikan mimpinya. Kedatangan Haji Masrif membuyarkan semua lamunannya. Impian masa remaja yang harus musnah di tangan seseorang yang sebenarnya baik tapi karena tujuannya untuk melamar Menik, membuat Menik merasa Haji Masrif adalah lelaki terjahat yang ada di muka bumi ini. Kebenciannya makin menjadi-jadi kalau ingat bapaknya yang tidak perduli dengan perasaannya.
*
Hari minggu yang cerah. Langit di hiasi awan-awan yang putih bersih. Suasana pagi di rumah Menik terlihat lumayan sibuk. Paman dari ayahnya beserta istrinya sejak tadi berada di rumah Menik.Mereka sibuk mempersiapkan acara hari ini. Lamaran untuk si Menik. Menik hari ini memang akan secara resmi di lamar oleh Haji Masrif seorang tuan tanah yang sawahnya tidak terhitung luasnya. Belum lagi dengan kebun dan ternak yang luar biasa banyaknya. Sesekali terdengar tawa dari bapak dan pamannya yang sedang asyik mengobrol sambil menunggu kedatangan Haji Masrif.
Namun di samping mereka. Tepatnya di kamar Menik. Terlihat Menik sedang duduk di depan cermin. Dia sudah di rias ibunya. Hari ini wajah Menik terlihat cantik. Tapi tidak dengan matanya.Menik berusaha menahan beban batinnya agar dia tidak menangis. Sejak di rias tadi, ibunya sudah mewanti-wanti agar Menik jangan menangis. Karena kalau itu terjadi Menik akan membuat malu keluarga. Semua tamu tentu akan melihat matanya yang merah sehabis menangis. Itu akan memberi kesan yang tidak baik terutama untuk Haji Masrif. Menik teringat Ilham. Bayangan Ilham melintas dalam pikirannya. Dimanakah dia saat ini? Apakah dia tahu kemalangan yang tengah menimpaku? Menik membatin.
“ Menik, Haji Masrif sudah datang. ..” ucap ibunya yang masuk ke dalam kamar dan memegang pundaknya. Menik menarik nafas panjang seolah ingin melepaskan beban berat yang ada dihatinya.
“ Sabarlah, nak. Mungkin ini takdir yang harus kamu jalani..” ibunya mencoba menyabarkan.
Menik terdiam di tempatnya. Dia sudah pasrah. Kalau ini sudah nasibnya maka dia akan menghadapinya. Dia siap walaupun harus menyimpan rasa pedih dalam hatinya. Ibunya kemudian keluar dari kamar. Menik mendekat ke pintu. Dia ingin mendengarkan pembicaraan yang terjadi di ruang tamu.
Bapak Menik kemudian membuka pembicaraan setelah itu giliran Haji Masrif berbicara. Dari kata-kata yang diucapkan Haji Masrif, Menik merasa ada keanehan. Perlahan-lahan dia menyingkap sedikit kain gorden pintu. Pandangannya mengitari ruangan. Tiba-tiba dia menghentikan tatapannya pada seseorang yang ada disamping Haji Masrif. Ilham!. Kebetulan saat itu pandangan Ilham sedang ke arahnya. Ilham tersenyum memandangnya. Menik menatapnya dengan bingung. Dia merasa aneh dengan kehadiran Ilham. Ada hubungan apa Ilham dengan Haji Masrif?
“ Atas nama anak saya, Ilham irfandi Masrif.., saya Haji Masrif bermaksud melamar anak Bapak Arfan untuk …” kata-kata selanjutnya Menik tidak mendengarkan lagi. Menik tidak melihat ekspresi kedua orang tuanya yang sangat terkejut, terutama ibunya.Dia larut dalam tatapan dengan Ilham. Beberapa menit kemudian matanya di penuhi embun tapi dia tersenyum. Menik bahagia atas kejutan yang diterimanya. Dalam pandangannya sekarang Haji Masrif terlihat begitu mengagumkan. Menik tiba-tiba menyadari kalau Haji Masrif tidak sejahat yang dia kira. Dia bersyukur bisa menjadi menantu dari lelaki itu.**********
0 komentar:
Posting Komentar