Senin, 27 Februari 2012

Azir

0

Rinda sudah bersiap-siap berangkat ke tempat kerjanya. Sambil menenteng tasnya dia mencari ibunya yang lagi sibuk di dapur.

Rinda pamit ya, bu..” ucapnya sambil mencium tangan ibunya.

Bangunkan adikmu dulu, nda..” kata ibunya.

Azir..Azir..harusnya kan di nemani bapak..” keluh Rindah. Dia kemudian melangkah ke kamar adiknya yang berdekatan dengan dapur. Begitu pintu terbuka nampak Azir masih tertidur.. Tidurnya pulas sekali.

Azir…Azir…bangun” Rinda menggoyang tubuh adiknya. Azir hanya bergerak sedikit Lalu tidur lagi.

Azir! Bangun! Ini sudah jam tujuh..!” suara Rinda terdengar sampai ke dapur tapi Azir tidak juga bangun. Dia hanya mengibaskan tangan kakaknya.

Azir! Kamu harus bantu bapak di toko. Kasian bapak sendirian ngurus toko..”

Azir bergerak. Dia membuka sedikit matanya.

Kan ada yang bantuin bapak, udah ada dua orang yang kerja di sana..”

Lho, bukannya mereka udah berenti tiga hari yang lalu?” tanya Rinda heran.

Ada yang baru masuk, bapak bilang begitu tadi malam..”

Tapi kamu harus tetap bantuin bapak di toko. Daripada kamu tiduran saja di rumah. Ayo, bangun..” Rinda menarik tangan adiknya. Dengan malas Azir bangun dari pembaringan. Rinda kemudian menggantung lagi tas di bahunya. Dia lalu keluar dan pamit lagi ke ibunya sebelum meninggalkan rumah.

Setiap pagi kegiatan tambahan dari Rinda adalah membangunkan adiknya, Azir. Azir memang susah untuk bangun pagi. Dia terbiasa begadang sampai tengah malam dengan teman-temannya, jadi bangun pagi merupakan siksaaan buat dia.Tapi seperti biasa, Rinda selalu memaksanya untuk bangun pagi-pagi. Alasan yang paling sering Rinda gunakan adalah toko bapaknya yang ada dipasar. Bapaknya membuka toko yang menjual kebutuhan pokok sehari-hari. Dulu waktu Rinda belum bekerja, dia biasa membantu bapaknya di toko. Setiap hari pembeli yang datang sangat banyak. Karena merasa sudah tidak bisa lagi menangani sendirian, bapak Rinda kemudian merekrut tenaga tambahan. Sejak empat tahun lalu sudah beberapa karyawan yang keluar masuk. Berbagai alasan mereka untuk berhenti. Ada yang mau nikah, ada yang dapat kerjaan baru, malah ada yang harus jaga adiknya di rumah.

Tiga hari yang lalu karyawan yang membantu bapaknya selama tiga bulan berhenti. Akhirnya Azir yang harus membantu bapaknya di toko. Tapi setiap hari Rinda harus membangunkan adiknya. Ibunya sama sekali tidak bisa membujuk adiknya untuk bangun.

*

Pagi ini seperti biasa sebelum berangkat ke kantor, Rinda menengok sebentar ke kamar adiknya. Tapi begitu melihat ke dalam kamar, Rinda langsung tertegun. Azir sudah tidak ada di kamarnya. Tempat tidurnya malah tertata dengan rapi. Rinda kemudian berjalan ke luar menemui ibunya yang sedang membeli sayur di depan rumah. Ada penjual sayur keliling yang selalu lewat depan rumah mereka setiap pagi.

Ibu, Azir kemana, sih? Pagi-pagi udah ngilang?” ibunya asyik memilah-milah sayuran yang akan di belinya.

Tadi katanya mau bantu bapakmu di toko..” jawab ibunya. Rinda terdiam mendengar jawaban ibunya. Ada apa dengan adiknya? Kenapa tiba-tiba begitu rajin tanpa di suruh sudah bergerak sendiri ke toko.

Rinda ke tempat kerja dulu, ya bu..” pamit Rinda tak lupa mengambil tangan ibunya lalu menciumnya.

Saat mereka makan malam Rinda menanyakan perubahan sikap adiknya itu. Azir hanya tersenyum-senyum membuat Rinda makin penasaran. Tapi dia tetap bersyukur karena perubahan adiknya itu perubahan yang positif. Adiknya juga sudah dua malam ini tidak begadang. Dia cepat tidur dan cepat bangun.

*

Hari minggu karena tidak ada kegiatan lagi di rumah, Rinda bermaksud membantu bapaknya di toko. Sekalian refresing dia juga ingin membeli barang-barang kebutuhannya. Setelah berkeliling pasar Rinda kemudian mampir di toko bapaknya. Toko lagi ramai. Banyak pembeli yang mengantri. Rinda masuk dan langsung melayani pembeli. Sambil melayani pembeli Rinda mencari-cari Azir adiknya. Dari tadi dia tidak melihat wajah adiknya itu.

Azir kemana, pak? Katanya mau bantuin bapak disini?” tanya Rinda. Bapaknya lagi menghitung uang kembalian.

Lagi ke toko sebelah. Bentar juga balik..” ucap bapaknya.

Lima belas menit kemudian Azir muncul dengan membawa sebuah dos besar. Rinda terperangah melihat adiknya itu. Bukan karena Azir membawa dos, tapi karena gadis manis yang berjalan bersama Azir. Mereka berjalan masuk sambil tertawa-tawa. Arah mata Rinda terus mengikuti Azir dan gadis itu.

Fitri, tolong ambilkan gula di belakang.!” teriak karyawan baru bapaknya yang sedang sibuk mengambil barang di atas lemari. Dia berteriak sambil memandang ke arah gadis yang berdiri bersama Azir. Gadis itu kemudian bergerak ke gudang belakang. Rinda langsung tersenyum. Sekarang dia paham kenapa Azir jadi berubah pesat selama lima hari ini. Ternyata ada seseorang yang membuatnya bersemangat untuk datang ke toko membantu bapaknya.*****

0 komentar:

Posting Komentar