Senin, 27 Februari 2012

Kakek

0

“ Ma…ma…..” panggil Melia sambil menarik baju Rafika, mamanya. Rafika yang masih sibuk mengaduk sayur di wajan, melihat ke bawah, ke anaknya yang masih berusia tiga tahun.

“ Kenapa, sayang. Ade mau pipis, ya?” tanya Rafika. Ade adalah panggilan sayang untuk Melia sebagai anak kedua. Anaknya yang pertama Emi di panggil dengan sebutan kaka.

Melia menggeleng.

“ Trus, ade mau apa?”

“ Ada kakek, ma. Ada kakek di teras..”

“ Kakek? Kakek siapa? Kakek Tomo?”

Melia menggeleng. Rafika kemudian mematikan kompor gas sambil  menutup masakannya. Dia lalu menggantung celemeknya di tembok. Sambil memegang tangan Melia, Rafika melangkah ke luar menuju teras. Di teras tidak ada siapa-siapa. Rafika menuju pintu pagar. Pagarnya terkunci. Rafika merasa heran. Pintu pagar memang selalu dalam posisi terkunci. Kalau ada tamu, maka mereka akan membunyikan bell. Lalu kenapa Melia mengatakan ada kakek di teras? Rafika tidak habis pikir. Dia memandang melia yang menatapnya sambil berdiri di teras. Apa tadi ada pengemis di depan pintu pagar? Pikir Rafika lagi.

Kejadian siang itu begitu saja terlupakan. Rafika sibuk dengan kegiatannya sebagai ibu rumah tangga yang mengerjakan semuanya. Karena pembantunya Maimum minta ijin seminggu untuk menengok bapaknya yang sakit keras di kampung. Padahal kebiasaan Rafika kalau ada Maimun adalah membuka laptopnya. Membuat tulisan-tulisan, cerpen, yang merupakan hobinya sejak smp. Dan kegiatan itu semua di lakukannya di teras. Jadi dia bisa melihat hal-hal apa saja yang terjadi di depan rumahnya.

*

Rafika sedang tidur siang itu. Ketika bahunya di sentuh seseorang.Rafika membuka sedikit matanya. Tapi matanya langsung melebar begitu melihat siapa yang membangunkannya. Nampak Melia tengah menatapnya.

“Ma..ma.. bangun ma..” panggil Melia.

Rafika merenggangkan badannya. Rasanya lelahnya belum hilang. Dan seingatnya Melia tadi tidur bersamanya. Kenapa tiba-tiba anaknya terbangun?. Rafika lalu mengelus kepala Melia.

“ Kenapa sayang? Ade tadi bobo di samping mama kan? Kog bangun?”

“ Ada kakek, ma. Ada kakek di teras..” kata Melia sambil memegang tangan Rafika. Rafika tersentak. Dia lalu bangkit dari pembaringan. Sambil merapikan rambutnya dia berjalan ke luar dari kamar menuju teras. Melia mengikuti di belakangnya. Sampai di teras tidak ada seorangpun di sana. Rafika kembali menuju pintu pagar. Pagarnya terkunci. Aneh. Apa tadi Melia bermimpi? Kembali Rafika menatap Melia yang sedang berdiri di teras. Melia menatapnya dengan tatapan penuh arti. Entah karena perasaan Rafika belum stabil karena baru saja bangun dari tidur siangnya atau memang ada sesuatu yang terjadi?

Rafika lalu masuk ke dalam rumah. Dia menutup pintu ruang tamu.

*

Pagi itu, selepas suami dan anaknya berangkat ke kantor dan ke sekolah. Rafika langsung mengambil semua pakaian kotor. Dia bermaksud membawa pakaian kotor tersebut ke mesin cuci di teras belakang rumah. Tapi langkahnya  terhenti ketika dia melewati ruang tengah. Sayup-sayup dia mendengar suara tawa anak kecil dari teras. Tawa Melia. Rafika merasa heran. Anaknya tertawa sendiri? Kalau di depan TV bisa saja itu terjadi. Karena adegan-adegan lucu di TV bisa mengundang tawa. Tapi di teras? Apa yang membuat Melia begitu gembira sampai tertawa?

Karena mengingat pakaian kotor yang ada di tangannya, Rafika memutuskan untuk membawanya  ke belakang. Dia menaruh pakaian kotor diatas mesin cuci lalu bergegas ke teras. Sampai di teras dia hanya mendapati Melia seorang diri. Lalu apa yang menyebabkan Melia tertawa tadi?

Rafika lalu duduk di teras. Dia lalu menarik Melia kepangkuannya.

“ Ade tadi main dengan siapa sayang? kog kedengarannya senang sekali sampai tertawa..”

Melia tersenyum.

“ Tadi Ade main dengan kakek ma..” Rafika mengeluh. Kakek lagi. Kakek lagi. Itu saja yang selalu dikatakan Melia.

“ Lho, sekarang kakeknya mana, udah pulang?” Melia menggeleng.

“ Belum, ma. Tuh kakek lagi duduk di bawah pohon rambutan..” Rafika mengikuti arah telunjuk anaknya. Dia melihat ke arah pohon rambutan yang tumbuh lebat di halaman rumahnya. Tapi tidak ada siapa-siapa disana. Rafika mulai merinding. Tapi dia berusaha untuk tetap tenang.

“Ade, tidak ada orang di sana. Kenapa Ade bilang ada orang di situ?”

“ Ada kog!” Melia masih ngotot.” Tuh, kakeknya tersenyum. Kakek bilang mau pulang ma..”

Wajah Rafika langsung pucat. Dia tidak berani lagi melihat ke arah pohon rambutan. Dia langsung menggendong Melia masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu. Hari itu juga dia menelpon saudaranya untuk menemaninya sementara waktu sebelum Maimun pembantunya datang dari kampung.************

0 komentar:

Posting Komentar