Hafid sebelum menikah dan mempunyai anak.
Keponakan Hafid yang jumlahnya dua belas orang ketakutan tiap kali Hafid pulang dari kantor. Mereka yang sedang bermain di rumah neneknya berlari pulang ke rumah masing-masing. Hafid masih tinggal di rumah dengan ibunya karena dia belum menikah. Dan semua ponakannya menjadikan rumah nenek sebagai tempat bermain ter Aman, ter Nyaman selama tidak ada Hafid.
Mereka takut dengan Hafid yang terkenal disiplin dan menakutkan. Tidak ada keponakannya yang berani bermanja dengan Hafid. Tapi kalau urusan pelajaran semua keponakan terutama yang sudah smp dan sma tidak bisa berkutik terhadap perintah orang tua mereka. Mereka harus mendapat pelajaran tambahan dari Hafid. Hafid terkenal yang paling pintar dalam keluarga. Maka tiga kali dalam seminggu lima ponakan yang sudah duduk di bangku smp dan sma harus mengikuti les gratis yang di pandu oleh Hafid. Jangan pikir karena yang mengajar adalah om sendiri mereka kemudian bisa bermain atau santai. Justru sebaliknya. Tidak jarang diantara mereka ada yang menangis karena kena teguran atau kena marah dari Hafid.
” Kenapa kalian bodoh sekali!” tegur Hafid dengan suara keras.
” Soal seperti ini tidak bisa di kerjakan! Ulangi! Jangan pulang kalau tidak selesai!”
Mereka semua tertunduk lesu.
Di lain hari mereka juga harus rela di marahi karena tugas dari sekolah tidak bisa mereka selesaikan.
” Mau taruh di mana muka Om? Om ini sudah terkenal di sekolah kalian, om paling pintar, paling rajin masuk sekolah, paling baik, nggak pernah nakal..dan paling ganteng…” Mereka tertunduk sambil berusaha menyembunyikan senyum mereka.
” Jangan senyum-senyum! Kalian boleh senyum kalau nilai kalian bagus!”
Lain lagi masalah pada saat penerimaan raport. Hafid harus lebih dulu melihat raport mereka kemudian baru orang tua mereka. Dan siap-siap saja menerima ceramah berjam-jam. Karena mereka berlima secara bergantian di evaluasi nilai raport lengkap dengan segala kekurangan yang harus mereka benahi. Pokoknya tidak ada hari tenang selama yang menyangkut Hafid. Maka ketika Hafid memutuskan untuk menikah, tidak ada yang lebih gembira selain semua ponakan Hafid. Apalagi Hafid kemudian memilih tinggal di rumah mertuanya karena kantornya berdekatan dengan rumah mertuanya. Jadilah rumah nenek menjadi benar-benar surga bagi mereka….
Hafid setelah menikah dan punya anak.
Istri Hafid sudah mengomel sejak pagi. Setiap pagi seperti itu.Semua karena Randi anak mereka. Setiap pagi Randi selalu membuat repot ibunya untuk mencari semua perlengkapan sekolahnya. Mulai dari PR yang lupa di kerjakan jadi pagi itu harus di selesaikan. Kaus kakinya entah di taruh dimana. Bukunya entah hilang di mana. Belum lagi kalau sarapan Randi harus di suap karena tidak bisa makan sendiri. Benar-benar membuat ibunya kewalahan.
Tapi apa kata Hafid
” Jangan marah-marah, ma. Saya juga seperti itu waktu masih kecil…nanti juga bisa sendiri..”
Atau kalau Randi pulang sambil menangis karena mendapat nilai jelek di sekolah..
” Ndak apa-apa nak, bapak dulu juga begitu.. namanya juga baru sekolah. Pertama kali tidak mungkin langsung pintar..bodoh dulu baru bisa pintar…”
Tiba saat penerimaan Raport. Randi tidak mendapat rangking. Malah dari empat puluh jumlah murid Randi menempati urutan empat puluh.
Tapi apa kata Hafid …
” Tenang nak. Bapak dulu juga paling bodoh di kelas, paling tidak rapi. Jadi kamu jangan menangis. Nanti lama-lama juga kamu jadi pintar…”
Sama sekali tidak ada kemarahan. Anak-anaknya lebih suka dengan Hafid daripada dengan ibu mereka. Kata mereka ibunya pemarah.*****
0 komentar:
Posting Komentar