Jumat, 03 Februari 2012

Cinta Dalam Kesendirian

0



Dalam ruangan yang ramai dengan suara canda dan tawa, aku merasa sendirian. Sendiri dalam hati karena harus terpaksa melihat sikapmu. Cukup. Berhentilah bersikap manis di depanku. Tak tahukah kamu sikapmu itu sangat menyakitkan. Membuat hatiku terluka. Seandainya mataku bisa berbicara, betapa banyak bulir-bulir airmata yang telah tumpah menggenangi bantal, membasahi saputanganku, namun semuanya hanya dalam diamku. Tersimpan rapi dan tak pernah kamu tahu. Mereka menjadi sahabatku dalam sepi, melewati malam-malam gelapku. Berbagi rasa sedih dan cemburu dengan bintang-bintang yang tampak dari jendela kamarku. Aku hanya bisa melihat mereka, meski ingin ku raih namun tanganku tak mampu merengkuhnya.

Aku akhirnya tak tahan dan tergesa keluar dari ruangan. Ku tarik tas lalu berjalan cepat. Aku tak peduli dengan pandangan heran teman-teman saat aku keluar.

” Kamu kenapa?” Tiba-tiba Hanif telah ada di belakangku. Menepuk bahuku lalu ikut berdiri di sampingku. Aku melihatnya sekilas lalu kembali menatap halaman yang penuh bunga dan rerumputan.

” Aku? kenapa denganku? apa terlihat aneh?” Aku balik bertanya.

” Mungkin hanya perasaanku saja. Kamu seperti tidak ingin kumpul bareng sama teman-teman.”

Aku terdiam. Dalam hati aku membenarkan tebakan Hanif. Aku memang sengaja keluar ruangan agar tidak melihat pemandangan yang menyakitkan hatiku.

” Aku lagi pengen sendiri saja. Di dalam juga tidak ada acara lagi kan? semua sudah kelar…”

” Tapi kan kamu bisa duduk-duduk ngobrol dengan kita-kita bukan malah menyingkir seperti ini. Nanti teman-teman kepikiran yang bukan-bukan.”

Untuk apa aku ada di dalam jika hatiku tersayat sembilu, Hanif? tanyaku dalam hati tanpa mampu aku keluarkan. Hanif tidak akan mengerti.

” Menurutmu apa aku salah keluar ruangan? teman-teman yang lain juga ada yang seperti itu?”

” Tapi mereka lain. Mereka keluar karena mengurus kegiatan ini. Kalau kamu, apa? setidaknya pamitlah pada siapa saja. Tadi saat kamu keluar Gilang memperhatikanmu.”

” Melihatku?” tanyaku heran.

” Iya. Sepertinya dia tidak suka. Kiran, tolong jangan buat kesal Gilang. Sudah cukup tempo hari dia menegurmu. Jangan ada lagi hal-hal yang bisa memicu kejengkelannya.”

Aku melihat sekilas Hanif.

” Dia marah? biar saja. Aku suka kalau dia marah. Aku ingin tahu reaksinya. Jangan hanya perhatian di depan orang-orang namun kenyataannya tidak.” kataku kesal.

” Jangan seperti ini. Aku tahu hubunganmu dengan Gilang sedang bermasalah. Tapi tolong jangan perlihatkan di depan teman-teman.”

Aku tak tahan lagi. Sejak tadi kutahan air mataku namun karena ucapan Hanif akhirnya jebol juga pertahananku. Kuraih sapu tangan sebelum air mata jatuh mengalir di pipiku.

” Sudahlah Hanif. Kamu tidak akan mengerti masalah kami. Cukup aku saja yang tahu. Justru karena itu aku keluar karena tak tahan berada di dalam.”

” Aku tahu masalahmu.” Aku menoleh kaget mendengar ucapan Hanif. Wajahnya terlihat tenang.

” Karena itu aku menyusulmu. Aku ingin kamu tahu kalau aku bisa jadi temanmu berbagi.” lanjutnya.

” Darimana kamu tahu?” tanyaku heran. Senyum manis menghiasi wajahnya.

” Tidak perlu ada yang memberitahu. Melihat sikap kalian saja aku bisa menebak, hubungan kalian seperti apa.”

Aku terdiam. Tidak terbiasa berbagi cerita dengan orang lain membuatku bingung hendak memulai dari mana. Aku tidak suka menceritakan masalah pribadi pada siapapun.

” Maaf Hanif. Kita ke dalam saja ya. Aku tidak ingin ada perbincangan yang aneh-aneh jika melihat kita berdua di sini.” Kataku akhirnya.

Hanif rupanya mengerti. Kami lalu berjalan beriringan masuk ke dalam ruangan.

*******

Kesendirianku. Bagaimana membahasakannya. Memiliki kekasih namun selalu sendiri. Tak ada perhatian penuh sayang layaknya seorang kekasih. Kemana perginya Gilang yang dulu ku kenal. Gilang yang penuh perhatian, penuh sayang dan cinta. Sikapnya yang berubah kuanggap sebagai tanda bakal perpisahan kami. Namun berbulan-bulan ku tunggu tak juga ada kata putus terlontar dari Gilang. Aku yang bingung, akhirnya protes karena tak tahan dengan sikapnya. Namun balasan dari Gilang hanya kata sibuk. Yah, dia sibuk dengan berbagai kegiatan yang tiba-tiba harus dia ikuti. Kesibukan yang menurutku hanya sebagai alasan. Entah apa keinginan Gilang. Aku hanya ingin kepastian. Melepaskan aku atau mengubah sikapnya.

Apa kamu ingin kita putus?

Sms meluncur manis dari hapeku. Kulihat laporan pengiriman, pesanku terkirim.

Sepuluh menit kemudian ada balasan dari Gilang.

Kamu selalu saja berpikir untuk putus.

Balasan yang singkat namun membuatku kesal.

Hubungan kita seperti ini apalagi namanya jika bukan putus yang kamu harapkan?

Pesanku terkirim dengan emosi yang amat sangat.

Aku tidak ingin kita putus.

Lepaskan aku atau ubah sikapmu yang menjengkelkan itu. Aku tidak suka.

Ku tarik nafas dalam-dalam untuk menetralisir amarah yang memuncak. Tak ada balasan sms lagi. Gilang selalu begitu. Meninggalkan rasa penasaran dalam hatiku. Tidak pernah menyelesaikan masalah kami hingga tuntas. Pasti besok dia akan bersikap manis padaku. Di depan teman-temannya, aku adalah ratunya. Tapi dalam kesendirianku, aku adalah putri yang terbuang. Tidak ada perhatian sama sekali.

**********

” Aku ingin hubungan kita berakhir. Kalau kamu menolak terserah kamu saja. Aku sudah muak. Aku tidak tahan lagi memiliki pacar seperti kamu.”

Kataku dengan rasa kesal saat aku tiba di depannya. Di hadapan teman-temannya aku tak ragu lagi untuk mengeluarkan kekesalanku. Seperti biasa aku berangkat sendiri ke kampus. Jangankan menjemput, menanyakan apakah aku ada kuliah hari ini juga tidak.

Wajah Gilang yang putih berubah menjadi rona merah terbalut kaget. Mungkin dia tidak menyangka aku akan berani melabraknya di depan teman-temannya. Tanpa ucapan dia berdiri lalu menarik tanganku menjauh menuju belakang kampus. Suasana belakang kampus memang sepi. Hanya beberapa mahasiswa yang nampak duduk sambil membaca buku.

” Kamu sadar gak sih? kelakuan kamu itu memalukan. Baik, kalau kamu mau kita putus. Kita putus saja. Aku juga muak punya pacar yang selalu menuntut perhatian lebih. Aku kurang perhatian padamu? sejak dulu kamu selalu aku perhatikan.”

Kata-katamu terucap dengan kamarahan yang tertahan. Mataku sudah berkaca-kaca. Aku sedih bukan karena mendengar kata putus  tapi karena perhatian yang Gilang katakan selalu tercurah padaku sama sekali tidak benar. Andai itu benar, aku tidak akan menderita sekian lama menjadi kekasihnya.

” Terima kasih, karena kamu akhirnya mengerti dan melepaskan aku. Tapi tolong ralat kata-katamu itu. Seharusnya kamu yang lebih tahu, bukan malah tidak jujur dengan diri sendiri. Kamu tidak lagi sama seperti Gilang yang ku kenal pertama kali. Aku sangat sedih.”

Aku berbalik meninggalkan Gilang. Setengah berlari aku menuju toilet gedung. Kutumpahkan semua kesedihan yang selama ini tertahan. Seharusnya aku lega karena terbebas dari hubungan yang tidak jelas, namun tetap saja hatiku sakit. Kehilangan Gilang ternyata tetap menyakitkan. Meski berulang kali aku ingin lepas darinya dan mempersiapkan batin untuk kehilangannya. Tetap saja pedih manakala kata putus itu akhirnya terucap juga.

Tak ada lagi cinta dalam kesendirian yang aku rasakan. Meski bersama namun merasa sendiri apa bedanya dengan sendiri menjalani hidup. Aku tak ingin kesepian menanti seseorang yang mencintaiku namun tak peduli padaku. Cinta bukan hanya untuk di ucapkan tapi juga di buktikan dengan perhatian yang penuh kasih pada orang yang kita sayangi.

*********

0 komentar:

Posting Komentar