Jumat, 03 Februari 2012

Hadiah Dari Nenek ( 2 )

0


Aku berangkat ke kampus dengan perasaan tidak nyaman. Tidak tidur semalaman membuat kepalaku pening. Aku akhirnya memejamkan mata sambil bersandar di jok mobil.

” Tidur saja, non. Nanti tiba di kampus saya bangunkan.”  Saran pak Husen, supir kami saat melihatku terkantuk-kantuk. Aku mengangguk meski kemudian kantukku malah hilang. Pembicaraan semalam dengan nenek tentang kekuatan cahaya yang kini aku miliki membuatku tidak tenang hingga saat ini. Apalagi  saat sarapan, nenek sempat berpesan agar aku serius menjaga warisan keluarga yang telah dia berikan padaku.

” Tolong cepat ya, pak Husen. Ada urusan yang harus Lita selesaikan.” kataku pelan.

Pak Husen tidak tahu kegelisahanku. Sebenarnya sejak bangun pagi dan melihat orang-orang dalam rumah aku merasa aneh sendiri. Sinar hijau  kulihat membayangi wajah-wajah yang kukenal entah apa maknanya. Saat di rumah yang terlihat hanya warna hijau namun setelah keluar  berbagai warna menghiasi orang-orang yang terlihat di jalan. Para pengendara motor dan mobil, pejalan kaki, pedagang warung hingga petugas lalu lintas semua memancarkan warna yang berbeda.

Apakah karena kurang tidur hingga migrenku kambuh dan melihat semua hal-hal yang aneh? pikirku bingung. Tak pernah terlintas dalam benakku jika kekuatan cahaya yang aku miliki membuatku mampu melihat semua warna yang ada dalam diri orang-orang di sekitarku.

Hingga hape ku berdering dan suara nenek terdengar, aku baru menyadarinya.

” Nenek lupa menyampaikan padamu, kemampuan yang kamu miliki bisa melihat warna yang ada pada seseorang. Masing-masing warna memiliki arti yang berbeda. Hijau pertanda baik, merah artinya emosi, jika hitam kamu harus hati-hati. Itu artinya sesuatu yang jahat tengah ada dalam pikiran orang yang di kelilingi warna hitam. Warna hitam ini yang harus kamu waspadai. Warna lain tidak terlalu mengkhawatirkan bagi nenek.”

Ku dengarkan suara nenek sambil melihat ke luar jendela. Pemandangan penuh warna yang ada di jalan membuatku bingung. Aku merasa belum siap dengan situasi yang ada di luar diriku. Sementara aku harus segera beradaptasi dengan kemampuan yang baru aku miliki.

” Macet, non. Sepertinya ada kecelakaan di depan.” suara Pak Husen mengagetkanku. Aku melihat ke depan ke arah kerumunan orang-orang.

” Ingat Lita, yang harus kamu waspadai warna hitam. Sebaik apapun orang yang kamu hadapi, jika warna yang ada pada dirinya adalah hitam, jangan mempercayainya.”

Nenek mengulang lagi kalimat yang tadi dia ucapkan. Sementara aku celingak celinguk melihat kemacetan yang menghambat laju mobil. Syukurlah kemacetan segera dapat di atasi. Aku belum sempat mengucapkan sesuatu pada nenek saat kulihat layar hape. Ternyata nenek telah mematikan sambungan telepon denganku.

*****

Tiba di kampus pikiranku makin tidak menentu. Semakin lama kemampuan yang aku miliki terasa seperti gangguan. Aku tidak fokus melihat teman-teman di kampus karena terpaku pada warna yang ada pada mereka. Meski aku belum menemukan warna yang menakutkan yaitu hitam, tetap saja warna-warna yang aku lihat mewakili perasaan mereka terasa memusingkan.

Jika ada yang iseng memperhatikanku, mungkin aku terlihat aneh pagi ini. Aku bahkan lupa menyapa teman hingga dia menepuk sendiri bahuku, menyadarkanku dari kesibukan melihat warna-warni yang terpancar dari para mahasiswa.

” Kamu mimpi apa semalam? kayak orang linglung?” Deta dengan riang menegurku. Aku tergagap kaget karena yang aku perhatikan pertama kali adalah warna yang mengelilingi Deta. Warna hijau. Artinya Deta orang yang baik. Dia tidak mempunyai maksud jahat. Aku menenangkan diri sejenak. Mengapa aku justru jadi berpikir yang aneh-aneh?

Nenek, aku tidak ingin memiliki kekuatan ini. Batinku tidak tenang! jeritku dalam hati. Sementara Deta memperhatikanku dengan wajahnya yang bulat. Mata hitamnya dengan bulu mata yang lentik menatap heran.

” Kamu sakit ya, Lita?” tanyanya membuatku bingung hendak menjawab apa.

” Aku panggilkan Adi ya, kamu duduk saja di sini. Tenang, aku segera kembali.” Ucapan Deta yang menyebut nama Adi kekasihku, memperlihatkan warna kecemasan dari wajahnya. Aku mengangguk meski tak paham dengan tindakanku sendiri.

Aku  lalu mengikuti saran Deta untuk duduk di teras kampus. Ku pandangi tubuhnya yang menghilang dengan cepat di antara lalu lalang mahasiswa. Benarkah aku tampak seperti orang sakit? mengapa Deta berpikir demikian? segera ku cari cermin kecil yang selalu aku bawa dalam tasku. Tanganku gemetar saat kutatap wajahku sendiri di dalam cermin. Kulit wajahku sangat pucat. Pantas saja Deta  menganggapku sakit.  Nenek tolong aku. Ada apa denganku?

Aku masih menatap cermin ketika suara Deta terdengar.

” Lita!” panggilnya dengan wajah cemas sementara kulihat Adi juga berlari di belakangnya. Tanganku yang memegang cermin makin gemetaran saat melihat Deta. Kedatangannya dengan wajah penuh kecemasan tidak membuatku takut, justru kehadiran Adi yang membuatku ketakutan. Wajah tampan Adi dengan tubuh atletis dan kulitnya yang putih ternyata di naungi warna hitam!

Aku gugup. Tanpa memperdulikan mereka aku berlari melintasi pelataran kampus. Terus berlari hingga ke pinggir jalan dan tanpa menengok  kebelakang aku menahan taksi. Aku benar-benar panik dan tak berani untuk melihat ke belakang. Hapeku yang berdering segera kumatikan saat kulihat nama Adi yang menelpon. Saat kulihat warna yang menaungi supir taksi adalah hijau, aku langsung bernafas lega.

Aku tak tahan lagi. Aku ingin hidup normal. Aku tidak ingin memiliki kemampuan ini. Biar saja nenek mencari orang lain. Jangan aku yang harus menjadi penerima warisan keluarga. Aku tidak sanggup menjalaninya. Terutama setelah melihat kenyataan yang menyakitkan hatiku. Kekasihku sendiri, Adi, ternyata di kelilingi warna hitam!

***********

Bersambung

0 komentar:

Posting Komentar