Asih duduk terpaku di bawah sebuah pohon. Matanya menatap Erwin si bocah ingusan yang duduk disebelahnya dengan tubuh menggigil. Erwin sedang berbalut selimut pemberiannya. Mata Asih berkaca-kaca saat melihat Erwin yang berusaha meminum teh hangat walau dengan tangan gemetaran. Gelas yang berisi teh hangat itu ikut bergetar.
Asih sengaja datang membawa teh hangat dan makanan karena tidak tega melihat Erwin duduk sendiri di bawah pohon di pinggir sungai. Tadi saat pulang dari sungai, Asih melihat Erwin dari kejauhan sedang melamun sambil memeluk lututnya. Karena merasa kasihan, tanpa pikir panjang Asih bergegas pulang ke rumah lalu menyiapkan minuman dan makanan untuk Erwin. Dalam pikirannya yang ada hanya seseorang yang sedang menderita dan tengah menanti pertolongan.
Benar saja, saat Asih menyelimuti Erwin, tiba-tiba Erwin terbangun dari tidurnya dan mendongak melihat Asih. Matanya sayu dan wajahnya terlihat sangat pucat. Dengan lembut tangan Erwin menyentuh tangan Asih yang sedang menyelimutinya.
“ Terima kasih, mbak Asih.” Ucap Erwin dengan bibir bergetar. Asih hanya menatap pilu sambil duduk di sebelah Erwin. Saat melihat minuman dan makanan yang Asih hidangkan di depannya, air mata Erwin mengalir pelan di kedua pipinya. Asih tak kuasa menahan air matanya agar tak ikut menetes.
“ Kenapa mas Erwin bisa seperti ini?” tanya Asih sambil menghapus air matanya. Erwin hanya tertunduk sedih.
“ Nasib manusia tidak ada yang bisa menduga mbak Asih. Sebelumnya saya adalah orang yang sangat bahagia dengan hidup. Ada dua wanita yang hadir menemani, tapi sekarang saya sebatang kara. Mantan istriku tak lagi peduli. Mereka sudah menemukan kebahagiaan masing-masing.” Erwin tak meneruskan kata-katanya. Sangat berat saat harus mengucapkan kenangan indah di masa lalu. Asih membiarkan Erwin dengan kesedihannya. Asih mengerti terlalu berat beban yang harus Erwin pikul karena itu dia tak bertanya lagi.
Erwin makan dengan lahap seperti baru saja melihat makanan. Kadang karena terlalu terburu-buru hingga dia tersedak. Asih segera menyorongkan gelas berisi air. Dan sekali lagi Erwin menatap haru sebelum menerima gelas itu dari tangan Asih.
“ Jadi rencana mas Erwin selanjutnya apa?” tanya Asih setelah Erwin selesai makan. Erwin melap mulutnya dengan kain yang di bawa Asih.
“ Belum tahu, mbak. Tempat tinggal tidak ada. Jangankan rumah, uang saja saya tidak punya.”
“ Ehm..bagaimana kalau untuk sementara, mas Erwin tinggal bersama kami. Di rumah masih ada kamar kosong. Mas Erwin tak usah khawatir soal makan. Selama mas masih mencari pekerjaan dan belum mempunyai penghasilan untuk bisa mengontrak rumah, mas tinggal saja bersama kami.”
Wajah Erwin tak lagi pucat. Terlihat keharuan yang membuat wajahnya memerah.
“ Tapi bagaimana dengan adik mbak, si Acik. Mbak Asih kan tahu, Acik tidak suka kalau saya dekat-dekat dengan mbak Asih. Sepertinya dia ketakutan saya akan merebut mbak.”
“ Kalau itu biar nanti saya bicarakan dengan Acik. Semoga dia bisa mengerti.”
Asih kemudian berdiri.
“ Sekarang mas ikut saya kerumah. Kalau di sini terus sampai malam, mas bisa sakit.”
Erwin berdiri dengan balutan selimut pink yang harum. Karena masih pusing, dia tiba-tiba saja limbung dan hampir saja jatuh seandainya Asih tidak segera menahannya. Tapi kejadian itu tak berlangsung lama, Asih buru-buru melepaskan pegangannya pada tubuh Erwin, wajahnya bersemu merah. Terlebih saat Erwin melihatnya dengan tatapan penuh arti. Jantung Asih tiba-tiba berdebar cepat. Dia segera berbalik untuk melangkah tapi langkahnya terhenti karena Erwin meraih tangannya.
“ Mbak Asih, bisakah selimut ini terus saya pakai? Saya merasa nyaman dengan selimut ini.”
“ Kalau mas Erwin suka, selimut itu bisa mas ambil.” jawab Asih dengan wajah masih bersemu merah. Itu adalah selimut yang selalu menemani tidur malamnya. Sekarang setiap malam akan menyelimuti tubuh seseorang yang telah membuat hatinya tak tenang. Rasa apakah ini? Apakah aku jatuh cinta? Tanya Asih sambil berjalan. Erwin mengikuti di belakangnya. Asih tidak tahu, Erwin memetik sekuntum bunga berwarna merah. Bunga kecil yang biasa tapi sebentar lagi akan mempunyai nilai sejarah sekiranya Erwin bisa mengungkapkan rasa dalam hatinya.***
0 komentar:
Posting Komentar