Sabtu, 26 November 2011

Di Ruang Tunggu Praktek Dokter

0


Aku memarkir motorku, lalu buru-buru masuk ke ruang tunggu praktek dokter. Hujan deras malam ini membuatku basah kuyup. Kuhapus air yang menempel di wajahku sambil berjalan mendekati petugas untuk mendaftar antrian.

Dia tersenyum menyambutku. Menanyakan nama lalu mempersilahkan aku duduk menunggu. Suasana tempat praktek yang sepi, membuatku yakin antrian tak akan lama. Hanya seorang wanita yang duduk disudut kursi, persis dekat pintu masuk ruang praktek dokter tersebut.

Saat namaku dipanggil, ada perasaan heran yang timbul dalam benakku. Mengapa aku yang dipanggil setelah pasien sebelumnya keluar? Bukankah wanita yang duduk dekat ruang praktek itu yang lebih dulu? Dia juga bukan mengantar pasien yang berobat tadi.

Aku beranjak ke ruang dokter. Dalam pikiranku, mungkin saja wanita itu tidak mau berobat atau hanya sedang menunggu seseorang.

Selesai diperiksa, aku keluar dan kudapati wanita itu masih ada dan tersenyum padaku. Wajahnya yang pucat membuatku yakin, pasti dia ingin berobat. Atau jangan-jangan dia tidak punya uang, hingga menunggu seseorang untuk menawarkan pengobatan.

Sebelum melangkah ke luar menuju apotik, kudekati sekali lagi petugas tersebut.

“ Maaf, ya bu. Apa wanita itu mau berobat? Dia terlihat sakit. Apa dia sudah minta nomor antrian?” tanyaku sambil menunjuk wanita itu. Ibu petugas terlihat bingung.

“ Siapa mbak? Mbak orang ke dua yang masuk ruangan ini. Dari tadi tidak ada seorangpun yang duduk.”

“ Tapi wanita itu…” aku melihat kembali ke tempat duduk wanita itu. Hilang. Tak ada siapa-siapa.

Aku bergegas ke ruang dokter. Ku buka pintu untuk memastikan kalau wanita itu ada dalam ruangan. Dokter yang melihatku, tersenyum kaget. Aku tersenyum juga lalu buru-buru menutup pintu. Tubuhku merinding saat melihat kursi yang kini kosong. Aku yakin tadi melihat wanita itu duduk di sana. ***

0 komentar:

Posting Komentar