
Sejak mengenal bangku sekolah, aku lebih senang duduk di kursi paling belakang. Sekolah dasar, lanjutan, tingkat atas bahkan hingga kuliah saat ini, posisi paling favorit bagiku adalah kursi pojok belakang. Begitu juga bila di tempat kursus atau pelatihan, aku akan memilih duduk di belakang.
Sahabat-sahabatku telah kenal kebiasaanku ini. Mereka maklum jika aku tak ikut bersama mereka duduk di deretan depan atau tengah saat kuliah. Walau kami akrab namun urusan posisi duduk tak ada yang bisa memaksaku.
Seperti hari ini, aku langsung mengambil posisi di kursi pojok belakang padahal deretan depan masih banyak yang kosong. Mereka hanya bisa mengangkat bahu lalu duduk membelakangiku. Aku tak merasa terabaikan, bagiku bukan masalah. Berteman tak berarti harus selalu berdekatan.
Beberapa menit menunggu, akhirnya dosen memasuki ruangan. Deretan kursi depan langsung terisi penuh sementara bagian belakang cuma aku seorang.
“Winda, pindah kemari..” tegur Yona menunjuk kursi di sebelahnya. Aku menggeleng enggan.
“Ayolah. Kamu keliatan aneh duduk sendiri disitu..” ucapnya lagi dengan wajah cemas. Tapi aku tetap tak bergeming. Yona akhirnya berbalik menghadap kedepan ketika dosen mulai membuka materi perkuliahan. Kami lalu serius mengikuti jalannya perkuliahan.
Beberapa saat aku yang semula serius mulai merasa tak nyaman. Rasa panas membuatku gerah. Kuraih buku dan mengipas tubuhku untuk mengurangi hawa panas yang menyengat. Tapi anehnya, teman-temanku terlihat tenang. Hanya aku seorang yang sibuk mengipas-ngipas buku untuk menghalau hawa panas yang tiba-tiba hadir.
Bulir-bulir keringat mulai menetes dan membasahi bajuku. Dari arah belakang, terasa hawa yang makin panas.
“Winda? Kamu kenapa?” Yona tiba-tiba menegurku. Tanpa sengaja dia menengok kebelakang dan heran melihatku telah bermandi peluh.
“Kamu sakit?” tanyanya berbisik, mengundang perhatian teman sebelahnya. Aku menatap heran. Yona terlihat nyaman tak ada kesan kepanasan dari wajahnya.
Aneh? Ada apa denganku? Mengapa aku merasakan hawa panas seperti ini? Batinku gelisah.
“Kamu pindah kesini! Ayo cepat!” panggil Yona dengan berbisik. Wajahnya makin cemas membuatku heran.
Aku akhirnya mengikuti saran Yona dan beringsut pindah ke kursi persis di sampingnya. Setelah duduk aku makin merasa heran. Hawa panas yang tadi sangat menyiksaku kini telah hilang. Aneh. Tapi rasa penasaranku tertunda karena dosen mulai memperhatikan kelakuan kami. Pandangan matanya menyiratkan teguran pada kami.
“Winda, kamu kepanasan ya tadi?” tanya Yona setelah kuliah selesai. Kami berjalan beriringan menuju ruangan kuliah berikutnya.
“Iya. Aku benar-benar nggak tahan tadi. Panas sekali. Kok kalian keliatan nyaman gitu, nggak merasa kepanasan?”
Yona tiba-tiba menarik tanganku, membawaku menjauh dari kelompok sahabat-sahabatku. Kami berdua menyepi di teras belakang gedung.
“Ada apa? Kok kamu ketakutan?”tanyaku heran. Yona menatapku lekat dan menarik nafas berulang-ulang sebelum berbicara.
“Kamu tahu mengapa aku tadi ngotot memanggilmu duduk disebelahku?”
Aku menggeleng.
“Itu karena tadi aku melihat kursi bagian belakang itu telah dipenuhi makhluk-mahkluk aneh dari api.”
“Apa!?!?” Aku terlonjak kaget dan merinding mendengar penuturan Yona.
“Sejak semester awal, aku sudah tahu keberadaan mereka. Hanya saja baru tadi aku melihat makhluk-mahkluk itu. Aku ketakutan, tapi tidak ingin mengundang perhatian. Ketika melihatmu mulai basah keringatan, aku tidak tahan lagi. Kamu harus pindah kalau tidak ingin mati kepanasan.”
Aku makin merinding ketakutan.
“Da..da..rimana kamu tahu ada mahkluk seperti itu di kampus kita?”
“Ada seseorang yang memberitahu, sama sepertimu. Aku juga merasakan hawa yang sangat panas. Dia kemudian cerita tentang makhluk-mahkluk itu padaku. Kita belum akrab waktu itu. Aku juga lalu mengabaikan karena kupikir itu hanya cerita belaka. Baru tadi aku benar-benar percaya kalau mereka ada.”
“Apa orang itu masih ada di kampus kita?”
“Mungkin dia sudah selesai.”
“Kamu kenal atau tahu namanya?”
“Tahu. Namanya Regina. Tapi aku tidak punya nomor handphone apalagi alamatnya.”
“Bukan masalah. Kita bisa bertanya di bagian administrasi. Aku penasaran ingin tahu, bagaimana asal-usul hingga ada mahkluk-mahkluk panas itu di kampus kita.”
Dari rasa takut berubah menjadi penasaran. Inilah yang membuatku sangat bersemangat. Aku ingin mendengar kisah yang lebih jelas lagi dari Regina.
***
Keesokan harinya, Yona tidak masuk kuliah. Dia tidak termasuk dalam kelompok sahabatku tapi aku lumayan akrab dengannya. Kukirim pesan via sms untuk tahu kabarnya namun tak ada balasan. Begitu juga ketika kutanyakan pada teman-teman yang selama ini selalu bersamanya, mereka juga tak tahu.
Akhirnya rencana ke ruang administrasi terpaksa ku tunda. Aku ingin bersama Yona melacak keberadaan Regina. Seorang diri rasanya sangat menakutkan. Bagaimana jika mahkluk-mahkluk itu tiba-tiba muncul sementara aku tak bisa melihatnya? Aku bergidik.
Karena pengalaman buruk kemarin, aku akhirnya memilih duduk paling depan. Tentu saja sahabat-sahabatku menatap heran tak berkedip. Tania bahkan memegang dahiku untuk memastikan aku dalam keadaan normal dan tidak sakit.
“Kamu mimpi apa semalam?” tanyanya dengan pandangan heran disertai gelengan kepala. Sahabatku yang lain hanya cekikikan yang kusambut dengan senyuman miris. Andai mereka tahu yang aku alami, pasti saat ini mereka enggan untuk kuliah!
Beberapa hari berlalu namun Yona tak kunjung masuk kuliah. Aku mulai gelisah. Akhirnya dengan tekad bulat dan semangat yang kupaksakan, aku mendatangi bagian administrasi.
“Regina? Nama lengkapnya siapa?” tanya staf administrasi. Aku bingung.
“Saya tidak tahu, bu. Hanya Regina yang saya kenal.”
“Angkatannya, tahun berapa?” Kembali aku menggeleng.
“Mungkin 2006, bu.” Kataku asal menebak.
“Ok, kita coba dulu ya..”
Tangannya lalu sibuk mengutak-atik komputer mencari file-file data mahasiswa.
“Disini ada tiga nama Regina. Regina Berlian, Regina Veronika dan Regina Yuanita.” Ucap staf itu kemudian.
“Yang angkatan 2006, hanya satu namanya Regina Yuanita. Dua yang lain masih kuliah.”
Aku bernafas lega.
“Boleh tahu alamat nya, bu? Saya hanya ingin memastikan apa benar dia yang saya cari.” kataku.
Si ibu lalu membacakan alamat Regina Yuanita sementara aku mencatatnya di note kecil milikku.
Setelah mengucapkan terima kasih, aku kemudian keluar ruangan. Niat kuliah hari ini terpaksa kubatalkan. Aku sangat ingin bertemu Regina meski tak bersama Yona.
Lama mencari dan berkeliling dengan motorku, akhirnya aku menemukan alamat Regina Yuanita. Lokasinya terletak di pemukiman padat penduduk. Rumah yang sangat sederhana namun nampak asri. Seorang wanita paruh baya membuka pagar sambil tersenyum menyambutku.
“Anak ini cari siapa, ya?” tanyanya ramah.
“Maaf, bu. Apa benar ini rumah Regina Yuanita?” wajah si ibu berubah tegang ketika aku menyebutkan nama tersebut.
“Kamu siapa? Kenapa mencarinya?” tanyanya dengan nada suara tak lagi ramah. Aku terperangah heran melihat perubahan sikapnya.
“Maaf, bu. Kebetulan saya satu kampus dengan mbak Regina..”
Wajah ibu itu terlihat sedih. Perubahan yang mencolok dari tegang menjadi sedih. Matanya berkaca-kaca dan nyaris menangis.
“Dia sudah lama meninggal. Apa kamu tidak tahu?”
Aku tertegun kaget.
“Meninggal? Maaf saya tidak tahu, bu. Maaf.”
“Dia meninggal dengan sekujur tubuh warna hitam..” Tangis si ibu akhirnya pecah. Kisah kemudian mengalir dengan derai air mata. Aku tak tahan dan ikut menangis bersamanya.
“Apa mbak Regina pernah bercerita tentang hal-hal aneh, bu?” tanyaku sambil menyeka air mata.
“Sehari sebelum kematiannya, dia bercerita melihat mahkuk aneh di ruangan kampus. Makhluk yang mengerikan dan panas. Tapi ibu tidak percaya dengan hal-hal seperti itu. Hanya ketika Regina meninggal dengan sekujur tubuh warna hitam, ibu mulai ragu.”
“Apa mbak Regina sering melihat mahkluk itu, bu?”
“Entahlah. Menurut pengakuannya baru kali itu dia melihatnya dan tiba-tiba saja dia meninggal....” si ibu kembali menangis.
Aku tersentak kaget. Tiba-tiba aku teringat Yona. Pikiran buruk mulai menghantuiku. Buru-buru aku mohon pamit dan bergegas meninggalkan rumah Regina. Rasa takut tiba-tiba menyergapku. Ketidak hadiran Yona beberapa hari ini semoga bukan pertanda buruk, pikirku cemas.
Motorku melaju kencang tanpa kusadari. Bukan kebiasaanku melaju dengan kecepatan diatas rata-rata setiap kali aku mengendarai motor. Aku gelisah dan tidak sabar untuk tahu kabar Yona. Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk padanya, doaku sepanjang jalan.
Tiba di rumah Yona, aku terpaku di atas motorku. Rumahnya lengang dan pintu pagar tergembok dari luar.
Kuhampiri tukang ojek yang mangkal tak jauh dari rumah Yona.
“Penghuninya kemana, pak?” tanyaku sambil menunjuk rumah Yona.
“Oh, rumah pak Habran. Mereka sekeluarga ke kampung..”
Aku bernafas lega. Syukurlah berarti Yona baik-baik saja.
“Mbak ini bukan temannya mbak Yona, ya?” tegur seorang lelaki yang memperhatikanku sejak tadi.
“Iya, saya temannya.”
“Loh, mbak nggak tahu ya kalau mbak Yona udah meninggal lima hari yang lalu, karena itu mereka sekeluarga membawa jenasahnya untuk di makamkan di kampung.”
Aku terhuyung dan hampir saja terjatuh andai tangan si bapak tak menyambar tubuhku. Pandanganku mulai mengabur. Terngiang ucapan ibu Regina dan ucapan Yona tentang makhluk mengerikan itu. Kepalaku pusing dan perlahan-lahan semua tampak gelap.
****
sumber gambar
disini
0 komentar:
Posting Komentar