Sore yang sejuk di desa Rangkat. Asih sedang menyiram bunga-bunga nan indah saat seseorang mengendap-endap memasuki halaman. Orang itu memegang pundak Asih yang langsung terperanjat karena kaget.
” Kang Inin?!?!?!!!” seru Asih dengan rasa kaget luar biasa. Penampakan yang ada di depan matanya hampir saja membuat jantungnya lemas. Kang Inin tiba-tiba muncul dengan memakai sarung untuk menutupi kepala dan tubuhnya.
” Ststststst..mbak Asih. Jangan keras-keras suaranya.” Kang Inin menaruh telunjuk di depan mulutnya.
” Kang Inin kenapa sih? Bikin kaget saja. Saya ini ada bakat jantungan.” protes Asih dengan wajah cemberut.
” Maaf..maaf mbak. Tapi sekarang saya butuh tempat untuk sembunyi. Makanya saya mengendap-endap seperti ini. Kalau boleh saya mau sembunyi di rumah mbak Asih dulu, ya.” Kang Inin melesat masuk ke dalam rumah. Asih bahkan belum sempat mengeluarkan pertanyaan yang sudah antri di otaknya.
Dengan rasa penasaran yang setinggi gunung Naras, Asih menyusul Kang Inin yang ternyata sudah duduk manis di depan tipi. Asih duduk di kursi dekat Kang Inin yang duduk di lantai. Didepannya sudah ada segelas jus jeruk dengan roti coklat. Asih heran, kang Inin begitu cepatnya mengambil jus jeruk di kulkas dan roti coklat di atas meja makan. Benar-benar lincah.
” Jangan sentuh jus jeruk dengan roti coklat itu sebelum kang Inin jelaskan. Kenapa kang Inin bertingkah seperti maling kesiangan?” Asih memasang wajah serius. Tapi kang Inin justru meminum jus jeruk itu.
” Maaf mbak Asih. Saya lagi panik. Apa mbak Asih tidak tahu kalau sekarang Rangkat sedang heboh karena kalung yang tempo hari saya ukir di pasar?” Asih mengangguk.
” Apa mbak Asih tidak tahu, kalau mas Hans sepanjang siang dan malam terus mencari saya? Mas Hans seperti polisi yang memburu penjahat. Rumah saya bukan lagi tempat yang aman. Kata orang tempat yang berbahaya adalah tempat yang aman. Karena itu saya memilih sembunyi di sini.”
” Tempat ini berbahaya?” mata Asih melotot seolah tidak senang rumahnya dikatakan berbahaya.
” Jelas mereka tidak akan percaya kalau saya bersembunyi di sini. Saya kan baru saja patah hati karena Elva. Tidak mungkin saya akan mendatangi tempat yang membuat saya patah hati. Jadi sesuai dengan ramalan saya, pasti mas Hans tidak akan terpikir untuk mencari ke sini. Seluruh rumah di Rangkat sudah mas Hans periksa. Saya yakin rumah mbak Asih akan lepas dari pemeriksaan.” ucap kang Inin kemudian memasukkan potongan roti ke dalam mulutnya.
” Tapi kang Inin harus menjawab pertanyaan saya juga. Sebenarnya kalung itu untuk siapa?”
” Sssst jangan bilang siapa-siapa ya, mbak. Sebenarnya kalung itu untuk De Rangkat.”
” Hah? De Rangkat kan Mommy?!?!?!
Kang Inin mengangguk cepat secepat potongan roti yang masuk kembali ke dalam mulutnya.
” Kang Inin sudah gila ya? Kenapa naksir sama Mommy. Mommy kan istri pak Kades, orang yang seharusnya kita hormati?” Kang Inin meringis karena Asih tiba-tiba memukul bahunya.
” Sudah..sudah..mbak Asih. Jangan memukul lagi. Saya datang kesini bukan untuk di pukul. Saya kesini mencari perlindungan.”
” Habis kang Inin sih. Kurang kerjaan ya, kok ada pikiran gila sampai naksir Mommy.”
” Yang naksir bukan saya, mbak.” kembali Asih terkejut dengan ucapan kang Inin.
” Jadi siapa? Kan yang memesan kalung itu kang Inin?”
” Saya cuma di suruh. Saya juga tidak tahu siapa yang menyuruh saya. Saya dapat surat di depan kamar kontrakan yang isinya, meminta saya untuk membuat kalung yang nantinya akan di berikan kepada bu Kades.”
” Tidak ada nama pengirimnya? Trus bagaimana kang Inin akan memberikan kalung itu kalau tidak tahu siapa orangnya?”
” Saya disuruh menyimpan kalung itu, tengah malam di belakang pos ronda.”
” Pos ronda? Jangan-jangan yang pesan itu mas Hans?”
” Belum tentu? Yang sering mangkal di pos ronda kan bukan hanya mas Hans.”
” Lalu siapa? Biasanya yang ada di sana tengah malam cuma dua orang. Mas Hans dan Dorma. Kan tidak mungkin kalau Dorma yang memesan?” Kang Inin berpikir keras.
“Terus kenapa kang Inin tidak klarifikasi? Kasi penjelasan. Jumpa pers untuk meluruskan masalah.”
” Meluruskan masalah? Yang ada malah tambah kusut. Bagaimana saya harus memberitahu kalau ada seseorang yang naksir mommy? Desa Rangkat bakal heboh tujuh turunan dan tercatat dalam sejarah perdesaan. Pak Desa bakal memecat saya jadi warga dan saya akan di lempar sejauh-jauhnya dari Desa Rangkat. Itu kan menakutkan? Saya belum melabuhkan hati sudah harus angkat kaki. Ibarat sudah jatuh ketimpa tangga.”
Asih manggut-manggut tanda setuju. Tiba-tiba dari arah luar terdengar suara Elva. Kang Inin sudah berdiri ketakutan. Bukan karena mendengar suara Elva tapi suara orang lain yang bersama Elva. Suara orang itu sangat menakutkan bagi kang Inin. Suara itu yang membuatnya tidak tidur nyenyak karena seolah-olah ada seseorang yang mengejarnya. Dan memang betul orang itu terus mencarinya. Kang Inin berlari masuk ke dalam kamar mandi saat langkah kaki Elva dan mas Hans mencapai teras. ****
___________________________________________________
DESA RANGKAT menawarkan kesederhanaan cinta untuk anda, datang, bergabung dan berinteraksilah bersama kami (Klik logo kami)


0 komentar:
Posting Komentar