Yuli meremas-remas saputangannya. Airmatanya sejak tadi ingin mengalir tapi Yuli berusaha untuk menahannya. Pantang baginya menangis di depan wawan. Hari ini Wawan ingin bertemu dengannya di sebuah cafe. Dengan suka cita Yuli berdandan. Bersiap bertemu sang pujaan hati yang baru saja tiba dari tugas kemiliteran. Mengenakan baju pemberian dari Wawan, Yuli berangkat menuju tempat janjian mereka di sebuah cafe..
Wawan tiba lebih dulu dari Yuli. Dia menunggu Yuli sambil duduk di kursi yang ada teras cafe. Tempat mereka duduk agak tersembuyi dan berada di lantai dua, jadi mereka bisa lebih leluasa untuk berbicara.
“ Aku minta maaf, Yul. Tapi sepertinya itulah keputusan yang aku ambil. Sebaiknya kita berhenti pacaran saja. Aku tidak bisa seperti ini terus”
Bibir Yuli gemetar. Dia tidak bisa berbicara. Dia berharap kalau saat ini telinganya sedang mengalami gangguan jadi apa yang didengarnya hanya kesalahan pendengaran. Tapi saat dia menatap Wawan, wawan mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Wawan tidak ingin memandangnya. Apakah telah ada orang lain? Bisik Yuli dalam hati. Kenapa setelah sekian lama merindukan perjumpaan ini, dia malah harus patah hati. Apakah di sana Wawan menemukan pengganti dirinya? Yang lebih dari dirinya hingga membuat Wawan lupa padanya?
“Yuli, kamu tidak ingin tahu kenapa aku ingin kita putus?” Yuli menggeleng. Dia tidak sanggup lagi untuk berada di sana bersama dengan Wawan. Airmatanya sudah seperti pintu bendungan air yang akan di buka. Sebentar lagi derasnya bahkan tidak bisa Wawan kendalikan. Yuli kemudian berdiri. Dengan cepat dia melangkah menuju tangga cafe.
Yuli belum mencapai bibir tangga ketika Wawan menarik tangannya.
“ Kamu tidak ingin tahu kenapa aku ingin kita putus?” Yuli menggeleng cepat.
“ Aku tidak mau tahu. Dan tidak ada gunanya aku tahu, kalau hanya untuk membuat hatiku sakit. Aku mau pulang!” Yuli bergerak menepis tangan Wawan tapi Wawan dengan kekuatan lelakinya mencengkram bahu Yuli. Dia berusaha menenangkan Yuli yang histeris.
“ Lepaskan aku! Biar aku pulang. Tidak ada gunanya aku di sini!”jerit Yuli. Untung saja saat itu cafe sedang sunyi. Di lantai dua hanya ada mereka berdua. Jadi suara histeris Yuli tidak mengundang perhatian orang-orang sekitarnya. Wawan langsung menutup mulut Yuli dengan tangannya.
“ Dengarkan aku dulu! Apa kamu tidak ingin tahu kenapa aku ingin kita putus?” Wawan menatap tajam mata Yuli yang seperti mata anak kucing yang terjebak di dekat derasnya arus air. Yuli tersentak kaget mendengar suara Wawan yang sangat keras. Dia jadi takut Dalam pandangan matanya saat ini Wawan tidak ingin di abaikan. Yuli terpaksa diam melihat Wawan yang menatapnya dengan tajam.
“ Dengarkan baik-baik. Aku ingin kita putus dan berhenti pacaran karena…karena…aku ingin..kita..menikah” Suara Wawan bergetar saat mengucapkan kata-kata itu. Mata Yuli yang tadi seperti mata anak kucing yang ketakutan sekarang berubah menjadi sinar matahari. Sinar matahari yang tiba-tiba turun hujan, karena air mata Yuli mengalir seperti bendungan.
“ Selamat ulang tahun sayang” ucap Wawan lalu mencium kening Yuli.
Wawan memeluknya dengan erat. Yuli menangis tapi bibirnya tersenyum. Dia lupa kalau hari ini ulang tahunnya dan Wawan ingin memberikan suprise padanya dengan melamarnya. Wawan berhasil. Yuli nyaris pingsan karena kaget dengan kata-kata Wawan.***
0 komentar:
Posting Komentar