Senin, 07 Mei 2012

[Tiga Wanita] Jen Menebar Pesona #11#

0



gambar www.google.com

Mas Idham menatapku. Dia seperti menanti jawaban lewat tatapan matanya. Aku menghindar. Kualihkan pandanganku pada Jen.

“ Jen, ada mas Idham” Kataku. Jen langsung berbalik karena kaget. Kami bertiga salah tingkah.  Mas Idham menatap kami.

“ Kenapa kalian ada di sini? Maaf, ini memang rumah kalian tapi kamar ini sejak dua hari yang lalu saya tempati. Tidak seharusnya kalian masuk dan memeriksa tanpa sepengetahuan saya. Sekarang mohon kalian keluar” tanpa menunggu aba-aba kami segera keluar dari kamar mas Idham. Mas Idham kemudian menutup pintu. Kutarik tangan kedua temanku masuk ke dalam kamar.

“ Bagaimana? Kita telpon polisi sekarang?” Niar sudah sangat cemas. Wajahnya terlihat pucat.

“ Jangan dulu. Bagaimana kalau mas Idham tahu trus dia kabur?” aku tak menanggapi kata-kata temanku. Aku justru khawatir mas Idham mendengar kata-kata Jen tadi. Bagaimana kalau mas Idham benar-benar mendengarnya?

“ Hastin? Kamu dengar nggak?” Jen mengibaskan tangannya ke wajahku. Aku tergagap.

“ Biarkan saja mas Idham pergi. Kita jangan ikut campur. Kalaupun dia ditangkap setidaknya bukan karena kita” kataku. Kedua temanku menatap tak percaya.

“ Kamu kenapa? Pesan polisi itukan sudah jelas. Kita harus menelpon mereka kalau kita bertemu mas Idham atau kalau mas Idham kembali ke rumah ini”

“ Tapi polisi itu tidak tahu kita bertemu atau mas Idham kembali kalau bukan kita yang memberitahu.” Niar terlihat bingung.

“ Kamu mau kita jadi korban, tin? Bagaimana kalau mas Idham berbuat jahat terhadap kita?”

Kami bertiga serentak berbalik begitu terdengar suara pintu menutup. Aku berlari keluar dari kamar. Jen dan Niar menyusul dibelakangku. Kubuka pintu kamar mas Idham.Kosong. Barang-barangnya sudah tidak ada. Aku segera berlari menuju jendela. Kusingkap tirai jendela. Nampak mas Idham sedang memasukkan tasnya kedalam mobil. Terburu-buru dia masuk ke dalam mobil. Mobil itu kemudin melaju meninggalkan halaman. Aku menatap tak percaya. Benarkah mas Idham pergi dengan cara seperti ini? Pergi tanpa pamit? Tapi aku lega. Setidaknya aku tidak perlu melaporkan mas Idham. Mulutku rasanya terkunci tiap kali membayangkan harus menelpon polisi. Aku tidak siap menerima tatapan dari mas Idham saat mengetahui kalau aku yang memberitahukan keberadaannya. Jen berlari keteras. Pandangan matanya terlihat sedih. Mungkin dia sadar, ini terakhir kali dia bisa melihat mas Idham.

“ Benarkah dia sudah pergi?” gumamnya. Aku hanya memegang lengannya.

“ Sudahlah Jen. Sekarang kita aman. Kita tidak perlu cemas lagi. Ingat, pertama kali kita juga cuma bertiga. Ada mas Idham atau tidak, itu sama saja. Toh dia juga tidak selamanya bersama kita. Suatu saat dia pasti pergi” aku berusaha membujuk Jen yang terlihat sedih. Niar juga memegang lengan Jen. Dia tidak berbicara hanya menepuk-nepuk bahu Jen. Kebiasaan Niar memang seperti itu. Dia tidak bisa berbicara saat melihat orang sedih. Biasanya dia langsung merangkul untuk menenangkan. Siang yang kelabu. Walau lega tapi kami juga tidak bisa menepiskan perasaan Jen. Dia sedih kehilangan seseorang yang baru dia kenal. Cinta yang harus mati sebelum berkembang.

*****

Dua hari sudah kepergian mas Idham. Sejak siang itu kami tidak tahu lagi kabar tentangnya. Kami bukan melupakannya tapi karena kami sedang sibuk mempersiapkan pekerjaan kami juga. Pagi yang sibuk. Hari ini kami akan mengadakan sosialisasi tingkat kelurahan Sejak pagi kami sudah mempersiapkan diri. Rencananya sosialisasi akan di mulai pukul sembilan pagi. Saat masuk ke kamar mataku menatap Jen yang sudah kelihatan rapi. Disampingnya berdiri Niar yang masih sibuk berdandan. Mereka berdua menghadap ke cermin. Ada yang lain dari penampilan Jen. Aku mendekati mereka.

Jen berbalik. Dia bergaya bak seorang model.

“ Gimana, cantikkan?” aku mengangguk cepat. Penampilan Jen memang berbeda. Biasanya kami berpakaian bebas tapi sekarang kami berpakaian resmi. Memakai celana kulot dan kemeja putih. Supaya terlihat lebih keren kami mengenakan blaser. Kalau aku dan Niar mengenakan celana kulot maka Jen sebaliknya. Dia memakai rok sebatas lutut. Aku sudah membayangkan bagaimana wajah orang-orang dalam pertemuan nanti. Seperti kegiatan sebelumnya, setiap habis pertemuan pasti ada yang mengejar Jen.

“ Apa kamu tidak ingin memakai celana kain saja, Jen. Biar kita terlihat kompak” aku menyarankan. Jen memandangku.

“ Kenapa? Toh setiap pertemuan aku selalu pakai rok” Niar tertawa.

“ Apa kamu lupa kejadian setiap kali habis pertemuan? Selalu ada yang mengejarmu. Kamu siap menolak mereka? Kita hanya akan sibuk mengurusi orang-orang itu bukan mengurusi pekerjaan kita”

“ Tapi kan itu masalah mereka.Yang penting aku tidak menanggapi” jawaban Jen membuat aku dan Niar saling pandang. Tidak ada gunanya membujuk Jen. Dia tetap bersikeras memakai rok. Kami bertiga meninggalkan rumah dengan semangat. Akhirnya proses kedua akan kami lewati. Setelah sosialisasi maka kami akan bertambah sibuk. Seperti kegiatan sebelumnya. Tapi kami gembira. Menjalani hari-hari dengan penuh kesibukan. Waktu tak terasa terlewati.

Seperti yang sudah aku duga. Begitu tiba di kantor kelurahan puluhan mata menatap kami. Terutama Jen. Jen yang mengenakan rok makin memperlihatkan betisnya yang sangat indah. Betis putih mulus dengan bentuk yang sempurna. Mudah-mudahan kami selamat setelah acara ini, doaku.

Masuk dalam ruangan kami bertemu dengan utusan dari kantor pusat. Pak Suhendar. Beliau menginap di hotel. Sejak semalam pak Suhendar terus menghubungi kami untuk menanyakan tentang sosialisasi yang kami adakan.Senyum pak Suhendar menyambut kami. Beliau mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.

“ Gimana? Sehat-sehat semua? Sudah siap dengan kegiatan baru?” tegurnya. Aku menelan ludah. Pak Suhendar memang cakep. Usianya masih muda. Mungkin seumuran mas Idham. Dia selalu saja terlihat mempesona. Mengenakan kemeja ungu dia terlihat menawan. Setiap kali kami sosialisasi, pasti Pak Suhendar yang menjadi wakil dari perusahaan. Ada desiran aneh dihatiku tiap kali bertemu dengan Pak Suhendar. Tapi tiap kali aku merasakan desiran itu, aku akan langsung memalingkan wajah. Aku tidak ingin degup jantungku terbaca di wajahku. Aku tidak ingin sepanjang acara terus merasakan perasaan aneh. Tapi tetap saja aku harus berjuang karena Pak Suhendar duduk di sebelahku. Aku mendapat tugas sebagai wakil dari kedua temanku untuk mengenalkan tim kami. Sedangkan Jen bertugas sebagai pembawa acara. Adapun Niar mendapat tugas memotret kegiatan kami dan membuat dokumentasi kegiatan. Dia nanti yang akan mengatur laporan kami ke kantor pusat.

Acara di mulai. Jen sejak tadi sudah berdiri di depan mikropon. Posisinya yang ada didepan membuat kepala orang-orang yang hadir sedikit berubah arah. Aku tersenyum dalam hati. Ini pasti karena pesona wajah dan betis Jen. Tapi yang jadi magnet adalah betis Jen. Aku saling pandang dengan Niar yang tengah asyik memotret Jen. Niar masih sempat mengirim kode ke arahku. Semua kepala tetap melihat ke arah Jen. Bahkan saat Pak Lurah memberikan sambutan. Benar-benar pengaruh Jen luar biasa. Jen, Jen akukan sudah sarankan kamu pakai celana kain saja, batinku.*****

Bersambung….

0 komentar:

Posting Komentar