Asih
menikmati segarnya air sungai. Jilbab dan baju sudah basah. Sayang
sekali dia tidak tahu berenang, jadi hanya bisa berdiri di tengah
sungai. Air sungai ini benar-benar jernih. Tak ada kotoran atau sampah
yang melintas. Hanya dedaunan kering yang sesekali lewat. Benar-benar
alami.
” Mbak Asih!” panggil seseorang. Asih berbalik. Nampak mas petani
sedang berdiri di atas bebatuan kecil, di pinggir sungai. Kedua
tangannya membawa beberapa biji buah kelapa. Sambil menunggu, mas petani
meletakkan bawaannya di pinggir sungai.
Asih menenggelamkan tubuhnya lagi untuk yang terakhir kali sebelum bergerak ke pinggir sungai. Mas petani tersenyum melihatnya.
”
Benar-benar rindu dengan sungai ya, mbak?” tanya mas petani sambil
memegang kembali buah kelapa yang tadi diletakkan di atas batu kerikil.
” Iya, mas. Tadi kemana, mas. Kok menghilang?” Asih mengikuti langkah mas petani yang berjalan pulang.
” Tadi dari manjat kelapa. Uleng lagi
pengen bikin acara kelapa muda. Ada sih di belakang rumah, tapi orang
rumah suka buah kelapa dari pohon yang tadi aku datangi. Katanya
rasanya enak. Jadi tiap kali buat acara atau lagi pengen makan kelapa
muda, aku ambilkan dari pohon itu.”
”
Enak, ya di sini. Semuanya serba segar. Mau masak sayur tinggal metik,
mau cabe,tomat tinggal ambil. Saya liat di halaman samping dan depan,
banyak tanaman juga. Lengkap, seperti apotik hidup”
”
Memang benar, mbak Asih. Tiap warga dianjurkan untuk membuat apotik
hidup di halaman mereka. Ini anjuran dari mommy. Mommy pernah menemani
Pak Kades meninjau desa teladan. Di desa itu tiap rumah warga, ada
apotik hidup. Pulang ke Rangkat, mommy langsung mempraktekkan apa yang
telah dilihatnya.”
” Mommy kreatif.”
” Sebagai istri kepala desa, mommy memang sangat memperhatikan warga. Jangan heran kalau warga sangat menyukai mommy.”
Mereka
terus berjalan melewati rute yang tadi mereka lalui. Sawah-sawah,
perkebunan jagung, pohon-pohon kelapa. Ada juga pohon nangka, Alpukat,
mangga, rambutan, jeruk, dan lain-lain. Asih membayangkan semua buah
itu tercampur jadi satu dalam gelas lalu di beri susu, sirup dan es
batu. Menikmatinya sambil duduk-duduk di bawah pohon mangga, depan
rumah Uleng. Ehm, nikmatnya.
Byarrr.
Asih
kaget dan tersadar. Ternyata dia terpeleset dan terjatuh dalam saluran
irigasi kecil. Mas petani berbalik kaget. Buah kelapa yang sedang dia
bawa, langsung diletakkan ditanah. Terburu-buru mas petani mendekati
Asih dan mengulurkan tangan untuk menariknya ke atas.
” Aduh, mbak Asih. Kenapa bisa jatuh dalam saluran? Hati-hati mbak kalau jalan.”
Asih
tersipu malu. Beginilah kalau jalan sambil melamun. Jalanan sudah
sempit, di sebelah kiri saluran irigasi. Memang rawan jatuh kalau tidak
hati-hati. Pelajaran pertama, jangan melamun di tengah jalan.
Asih
memegang tangan mas petani. Mas petani kemudian menarik Asih naik ke
pinggir saluran. Selamat. Kejadian ini benar-benar membuat Asih malu
sama mas petani. Apalagi saat melihat sekilas wajah mas petani yang
seperti berusaha menahan tawanya. Mungkin tidak ingin membuat Asih
tersinggung. Perjalananmereka kembali kerumah Uleng tidak seperti saat
menuju sungai.Asih lebih banyak diam. Mas petani juga. Kalau Asih diam
karena teringat insiden terjatuh di saluran irigasi. Rasa malu itu
masih ada. Terutama bila mengingat penyebab dia terjatuh karena sedang
membayangkan lezatnya menikmati es buah.
” Mas?”Asih memanggil mas petani yang berjalan di depan.
” Ada apa, mbak?” mas petani menyahut tanpa berbalik.
”
Nanti dirumah Uleng, jangan cerita-cerita ya, kalau saya habis
terjatuh di saluran irigasi. Saya malu. Untung habis mandi di sungai.
Jadi kalau baju saya basah, itu bukan hal aneh.”
Asih
meliihat mas petani mengangguk. Tapi dia tidak bisa menebak bagaimana
raut wajahnya. Apakah sedang menahan tawa karena mengingat kejadian
yang menimpa Asih tadi?
~
Tiba dihalaman rumah. Mommy yang sedang melihat apotik hidup di depan rumah, mengalihkan pandangannya ke arah mereka.
”
Asih habis mandi ya, di sungai?” tegur mommy begitu kami tiba di depan
rumah. Mas petani terus berjalan menuju pintu samping membawa beberapa
buah kelapa yang tadi dipetiknya.Asih mengangguk.
” Benar, Mommy. Ternyata sungainya indah dan bersih. Benar-benar sungai idaman saya.”
” Syukurlah kalau Asih senang dengan sungai di Desa Rangkat.”
” Iya, Mom. Mudah-mudahan saya dapat kerja disini atau setidaknya ada kegiatan yang bisa saya lakukan”
” Oh, iya. Ada lowongan kerja tuh di TV Rangkat. Itu kalau Asih berminat. Masukkan saja lamaran.”
” Benar, mom? Nanti saya masukkan lamaran”
”
Mommy juga mau sampaikan sesuatu, sih. Mommy mau pergi selama tiga
hari. Ada pertemuan kepala desa se propinsi. Jadi mommy menemani pak
Desa. Selama mommy pergi tolong jaga baik-baik rumah ya..ada yang lain
juga. Tapi ada baiknya kalau saling menjaga.” Asih mengangguk
” Sekarang Asih, bersihkan badan dulu. Ada mbak Deasy kok
di dalam. Oh, ya sudah kenal dengan Deasy?” Asih mengangguk cepat.
Bukan karena pertanyaan mommy, tapi karena dia teringat peristiwa saat
bangun tidur tadi pagi. Mommy masuk ke dalam rumah. Agak lama Asih
berdiri di depan pintu. Rasanya dia ragu untuk masuk. Bagaimana kalau
Deasy marah dan mengungkit kejadian tadi pagi. Wah bisa gawat!.
Perlahan Asih melangkah masuk ke dalam rumah Uleng. Masuk sambil mata
mengawasi sekeliling. Mudah-mudahan tidak ketemu dengan Deasy. Asih
masuk ke kamar. Dia bernafas lega. Sekarang dia tinggal mengambil
pakaian dan handuk. Selanjutnya dia pergi ke kamar mandi.
Asih
keluar dari kamar Uleng. Melangkah hati-hati menuju dapur. Kepalanya
mengintip lebih dulu dari balik gorden pintu. Tidak ada siapa-siapa.
Aman. Sekarang dia menuju kamar mandi. Asih berlari masuk ke dalam
kamar mandi. Menutup pintu lalu bersandar. Selamat-selamat.
” Siapa yang ada didalam? Cepetan dong, mau buang air, nih! Atau keluar saja dulu, udah kebelet!”
Asih
tersentak kaget. Suara perempuan tapi sepertinya bukan suara Uleng.
Uleng juga sudah pergi mengajar. Tidak mungkin dia ada dirumah. Atau
jangan-jangan……****
Bersambung…..
0 komentar:
Posting Komentar