Selasa, 07 Agustus 2012

[ECR#5] Surat Ketiga Darimu...

0

“Assalamu Alaikum  mas Firman, saya datang sesuai pesan surat mas yang ketiga. Maaf baru berkunjung sekarang. Banyak masalah yang terjadi dalam keluarga kami. Sekarang masalah terberat sudah terlewati karena itu saya datang mengunjungimu.

Mas Firman tak ada lagi hal yang perlu mas Firman khawatirkan, saya dan Abi sekarang sudah menikah. Abi juga telah tahu siapa ibu kandungnya, keluarga kami kini makin lengkap. Ada mama Enggar dan adik Abi, Ve yang baru datang dari luar kota.

Mas Firman,  cinta dalam hatiku untukmu mungkin hanya sebatas kehadiran Abi saat itu. Tak ada lagi hakku untuk bisa mencinta seperti dulu. Bukan bermaksud melupakan. Dirimu utuh bersemayam dalam sudut hatiku  namun terlarang bagiku untuk leluasa menerbangkan angan jauh ke  masa lalu.

Cintamu dulu dan cinta Abi dalam kehidupanku kini, menempati ruangnya masing-masing. Kalian mencintai Allah dengan begitu sempurna hingga tak ada alasan bagiku untuk membedakan. Namun mas Firman, andaikan dirimu berada di posisi Abi saat ini, adakah saran atas apa yang akan saya lakukan? Saya tak mungkin menduakan cinta Abi, seseorang yang menerimaku, menyayangiku dan mengasihiku. Akan menyakiti hatinya jika saya memilihmu dalam kehidupannya kini.

Pesan dari mas yang mengharapkan saya  menjadi pendamping Abi, menerima segala ketulusannya dengan ikhlas telah saya penuhi. Tak ada keterpaksaan selain perasaan ikhlas demi menunjukkan cinta saya pada mas. Terima kasih mas, karena sudah mengenalkan saya  pada sahabatmu. Jangan sedih jika saya tak lagi mengingatmu sesering dulu, bukan karena tak lagi merindu. Setiap saat dalam dalam doaku, kumohon pada-Nya agar dimudahkan kehidupanmu di alam sana. 

Mas Firman, sekali lagi terima kasih karena telah menghadirkan cinta yang sangat indah. Cinta karena Allah menjadikan kehadiran Abi sangat berarti. Dia adalah imamku kini, tempat kasih sayang dan perhatian saya curahkan. Semua cintanya karena Allah seperti yang dulu mas Firman berikan.

Mas Firman, saya pamit dulu, tenanglah di alam sana. Tak ada yang melupakanmu, terlebih Mahar hingga kini dia masih mencintai dan terus memikirkanmu. Saya tak ingin mengusiknya, surat darimu untukku adalah pertanda cinta yang tak perlu diragukan. Biarkan dia menjadi pemilik hatimu kini.”

 

Asih  berdiri, menatap sejenak makam yang bertuliskan nama Firman. Setelah mengucapkan salam perpisahan kembali air matanya menetes. Dihapusnya air mata sambil melangkah menjauhi makam. Sementara di sana di bawah pohon kemboja, nampak Abi Rangkat menanti dengan wajah tenang. Senyum tipis hadir di wajahnya saat istrinya mendekat.

“Udah selesai, sayang?” tanyanya.

“Iya, mas. Mari kita pulang.”

Keduanya lalu melangkah beriringan meninggalkan pemakaman sepi.  Dalam rangkulan Abi Rangkat, Asih tak henti mengucapkan syukur. Dia bersyukur telah dipertemukan Allah dengan dua lelaki yang sangat baik padanya. Firman di masa lalu dan Abi Rangkat, di masa sekarang, Mereka anugerah terindah yang hadir di waktu yang berbeda namun tetap memberikan kebahagiaan dalam hati Asih.

************* 

sumber gambar disini



0 komentar:

Posting Komentar